
Ratih benar-benar tidak terima kalau dia harus pulang ke rumah orang tuanya. Kariernya sebagai istri Tuan Yudistira pengusaha kaya raya akan segera tamat. Dia akan dipecat secara resmi dari kedudukan sebagai ratu di istana mewah Yudistira. Pasti tidak tahu apa yang harus dia katakan kepada kedua orang tuanya kalau Yudistira sedang marah padanya. Orang tuanya pasti sangat berang bila tahu dia telah melangkah terlalu jauh dari lingkaran yang dibuat Yudistira. Seharusnya Ratih bersyukur mendapat suami kaya raya dan sebaik Yudistira. Sayang Ratih lupa suaminya bukan orang ramah punya segudang amat walaupun dia jauh lebih muda dari laki itu.
"Mas... apa kata ayah dan ibu bila aku disuruh pulang ke rumah. Mereka pasti akan sangat kecewa pada mas." Ratih mencoba menggunakan kedua orang tuanya sebagai perisai untuk melindungi dirinya. Selama ini Yudistira sangat menghormati kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai guru. Mungkin dengan menggunakan nama kedua orang tuanya Yudistira akan menarik kembali ultimatum.
"Kurasa kau salah Ratih...orang tuamu pasti akan kecewa punya anak tak tahu terimakasih." Yudistira tidak kendor sedikitpun tetap menginginkan Ratih merenungi kesalahannya.
"Mas...aku sudah tahu salah... maafkan aku sekali ini! Aku bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."
Sayang sekali Yudistira sudah terlanjur ilfil kepada istrinya sehingga tidak mempedulikan permohonan maaf dari Ratih. Bagaimana mungkin Yudistira bisa memaafkan Ratih yang telah berbohong membahayakan nyawa ayahnya. Bukan cuma itu saja wanita itu tega mengkhianati suami hanya demi mencari kesenangan pribadi. Lelaki mana rela melihat istrinya main gila walaupun hanya sekedar iseng.
Baru saja Yudistira hendak menjawab tiba-tiba Srikandi keluar bersama seorang dokter lain. Srikandi melepaskan maskernya agar lebih leluasa ngobrol dengan Yudistira mengenai kesehatan orang tuanya. Seraut wajah yang cantik langsung terpapar di hadapan Yudistira dan Ratih. Wajah itu begitu lembut menawan hati membuat hati sangat cemburu kepada dokter itu.
"Ooo ini dokter yang menjelekkan aku ya!" tiada badai tiada angin berarti langsung menyerang Srikandi tanpa konfirmasi apa yang telah terjadi.
Srikandi yang baru saja keluar dari ruang tindakan terhenyak kaget karena diserang secara mendadak. Srikandi tidak pernah menyangka akan diserang oleh keluarga pasien tanpa mengetahui kesalahannya apa.
Ratih bermaksud maju hendak menampar Srikandi namun Yudistira lebih cepat bergerak meraih Srikandi jauhi Ratih dengan cara memeluk dokter itu melindungi dengan tubuhnya yang tegap. Srikandi auto berada dalam pelukan laki itu menempel di dada bidang Yudistira.
Ratih semakin marah melihat Yudistira begitu gencar melindungi Srikandi. Ratih menganggap Srikandi yang telah menghasut Yudistira untuk membencinya memberi laporan yang tidak-tidak mengenai dirinya.
"Ratih...jaga sikapmu!" bentak Yudistira merasa malu dengan kelakuan istrinya itu.
Sandra tersadar segera menjauhi Yudhistira dengan sedikit malu. Srikandi sangat malu mendadak dipeluk oleh keluarga pasien. Srikandi adalah seorang dokter mana mungkin membawa masalah pada keluarga pasien. Tidak pernah terpikir oleh Sandra untuk menggoda keluarga pasien mencari keuntungan. Tujuannya hanyalah memberi kesembuhan kepada pasien.
Yudistira juga merasa jengah telah berani melakukan perbuatan kurang terpuji kepada seorang dokter walaupun hanya sekedar ingin melindunginya. Gimanapun mereka bukan teman maupun kenalan yang bisa bergaul dengan intim.
"Nona...kamu sudah salah sangka...aku ini dokter yang akan menangani ayah kalian! Kenapa kamu begitu marah padaku? Memangnya aku mengenal kamu?" tanya Sandra setelah menguasai diri. Sandra harus bertindak elegan agar tidak dilecehkan sebagai pelakor.
"Papa kami baik-baik saja mengapa mendadak jadi buruk setelah kamu rawat. Apa kamu sengaja racuni papa kami agar suamiku bisa jumpa kamu?" Ratih nyerocos bak petasan.
"Nona... kami sudah mengabari anda kondisi Papa kalian tetapi kamu tidak memberi tanggapan. Kami sudah meminta izin padamu supaya papamu ditindaklanjuti tapi kamu mengatakan sudah cukup sekian dan biarkan dia istirahat saja. Kami memiliki bukti percakapan kita karena direkam oleh perawat kami untuk menjadi bukti bahwa bukan kami tidak mau merawat Papa kalian melainkan kamu yang menolak. Sekarang kamu melimpahkan kesalahan pada kami. Kau tahu kami bisa menuntut kamu untuk tuduhan tidak beralasan." dokter yang menemani Srikandi membuka suara karena sudah gemes pada kelakuan Ratih yang menyusahkan mereka.
Sudah berkali-kali mereka mengabarkan pada Ratih bahwa Papa mereka memiliki penyakit lain selain jantung tetapi Ratih tidak mau memperdulikan apa yang dikatakan oleh pihak rumah sakit. Dan sekarang wanita itu menyalakan para dokter dan menuduh yang bukan-bukan.
__ADS_1
Yudistira makin geram pada kelakuan istrinya sampai tak ingin melihat ke arah wanita itu lagi. Sudah berbuat salah masih berani menuduh orang lain. Manusia model apa istrinya itu?
"Maaf Bu dokter..pak dokter...aku akan mengurus istriku! Sekarang bagaimana dengan kelanjutan pengobatan ayahku?" Yudistira menyampingkan masalah dengan Ratih dulu karena lebih mementingkan keselamatan ayahnya. Yudistira menganggap istrinya sudah gila tidak pantas diladeni. Pantasnya dikirim ke rumah sakit jiwa bergabung dengan teman-temannya di sana.
"Begini Pak... dari awal aku sudah curiga kalau paru-paru ayah kalian memiliki masalah. Ternyata dugaanku tidak meleset... paru-paru ayah kalian memiliki massa cairan cukup banyak sehingga membuatnya sesak. Istilahnya efusi pleura...kita harus segera mengeluarkan cairan itu sebelum makin menumpuk bisa akibatkan kematian."
Wajah Yudistira menegang mendengar penjelasan dari Srikandi. Dokter yang dianggap oleh Yudistira sebagai anak kecil ternyata memiliki wawasan cukup luas. Srikandi berbicara dengan gaya seorang dokter berpengalaman meyakinkan Yudistira kalau dia mampu menangani ayahnya.
"Apakah tindakan ini berbahaya bagi nyawa ayahku?"
"Kita berusaha semampu kita... selama bapak mempercayakan orang tua bapak kepada kami kami pasti akan memperjuangkan dia agar bisa kembali pada keluarga. Kami menunggu izin dari bapak untuk melakukan tindakan."
Srikandi berhenti sejenak memberi kesempatan pada Yudistira untuk berpikir. Srikandi tidak bisa memaksa Yudistira harus memberi izin seketika karena ini menyangkut nyawa orang tua dia. Srikandi hanya bisa berjanji semaksimal mungkin memberi pengobatan yang terbaik kepada pasien. Srikandi tentu saja ingin menyelamatkan nyawa orang tua Yudistira karena ini juga menyangkut nama baiknya sebagai seorang dokter.
Ratih yang ikut mendengar sekarang tutup mulut karena menyadari dia telah berada di pihak yang salah. Menyerang profesi seorang dokter tanpa mempedulikan harga diri seorang dokter adalah satu kesalahan yang besar. Kalau Srikandi ingin memperkarakan masalah ini dia bisa dipenjara beberapa bulan.
"Lakukanlah yang terbaik!" akhirnya Yudistira memberi jawaban pasti kepada Srikandi dan rekan kerjanya.
"Terimakasih... kami akan mempersiapkan segalanya agar segala dilakukan tindakan mengeluarkan cairan.Ini bukan satu operasi yang besar karena kami hanya akan membuat rongga untuk mengeluarkan cairan dari paru-paru orang tua bapak. Sebaiknya bapak ikut dengan perawat kami untuk menandatangani persetujuan melakukan tindakan. Kami permisi dulu untuk mempersiapkan diri." Sandra melangkah pergi memberi lirikan tajam ke arah Ratih yang menunduk tak berani menatap wajah dokter cantik itu. Ratih bukannya tidak tahu kalau dia telah berbuat salah menambah kekesalan Yudistira.
"Kau pulanglah kalau masih memiliki harga diri! Setelah Papa selesai dioperasi aku akan menemui kamu di rumah orang tuamu. Aku akan menjelaskan semuanya kepada kedua orang tuamu agar aku tidak dipersalahkan bila terjadi sesuatu diantara kita."
"Mas...aku gelap mata. Bisakah kita bicara lagi? Mas marah padaku karena dokter itu?" Ratih tak bisa hilangkan rasa cemburu pada Srikandi.
Yudistira ingin merobek mulut Ratih agar jaga mulut. Dari mana dia bisa duga Yudistira punya hubungan khusus dengan Srikandi. Jumpa baru kali ini dan belum kenal dekat. Gerakan reflek Yudistira tadi hanyalah ingin melindungi dokter itu dari serangan Ratih. Itu salah diartikan oleh Ratih.
"Ratih...dia itu seorang dokter! Punya harga diri tak murahan. Orang tahu jaga diri bukan seperti kamu terbawa nafsu. Kau pikir aku ini tong sampah mau tampung sampah? Aku tak tahu sedang menyimpan limbah di rumah."
Kata-kata yang keluar dari mulut Yudhistira terasa panas di kuping Ratih. Ratih tak bisa membantah karena memang telah berbuat curang membohongi Yudistira. Ratih tak tahu harus bagaimana mendapatkan ampunan dari Yudistira. Yudistira bukan orang ramah walau tak pernah marah kendatipun Ratih suka hambur uangnya. Yang penting Ratih patuh tak berbuat macam-macam Yudistira sudah puas. Kini Ratih telah ciptakan kekacauan besar hampir saja mengantar ayahnya ke alam baka. Apa Yudistira masih bisa menahan diri untuk berdiam saja.
"Mas...apa yang harus kulakukan agar mas tidak marah lagi?"
"Tak perlu lakukan apapun. Cukup pulang ke rumah orang tuamu dulu. Aku akan minta supir antar kamu... seharusnya aku yang mengantar kamu agar jangan dibilang tidak bertanggung jawab. Tetapi papaku sekarang dalam kondisi kurang menguntungkan maka kamu terpaksa pulang sendiri. Jangan sebut aku kejam karena kamu sendiri yang meminta aku berbuat begini!"
__ADS_1
Seluruh tubuh Ratih kontan lunglai hilang daya. Segala keangkuhan telah ditekan oleh Yudistira. Ratih tak tahu bagaimana teman-teman akan menilai dia karena telah dipulangkan oleh suaminya ke rumah orang tua. Secara tak langsung Yudistira telah mengutarakan ingin berpisah. Ini merupakan hukuman paling berat buat Ratih karena dia akan kehilangan segalanya. Gaya hidup hedon akan segera meninggalkannya.
Ratih masih berharap kalau Yudistira akan berbicara baik-baik dengan orang tuanya dan memberinya nasihat agar bertobat. Ratih berjanji akan menggunakan kesempatan ini dengan baik dan kembali menjadi istri yang manis buat Yudistira. Semoga saja apa yang diangankan oleh Raden terwujud setelah operasi ayah Yudistira berjalan baik.
Yudistira meneleponi sopirnya agar mengantar Ratih pulang ke rumah orang tuanya untuk sementara waktu. Paling tidak sambil menunggu kehadiran Yudistira ke rumahnya untuk berbicara dengan keluarga Ratih. Saat ini Ratih tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti apa yang dikatakan oleh Yudistira.
Insiden yang terjadi di ruang tindakan terdengar juga sampai ke kuping Arjuna. Arjuna sangat menyesal terjadi insiden ini karena hari ini hari pertama Srikandi membuka praktek. Hari pertama bekerja sudah mendapat tekanan dari keluarga pasien. Semoga saja ini tidak akan menjatuhkan mental Srikandi membuatnya makin tidak nyaman berada di rumah sakit ini. Perlakuan Kunti saja sudah cukup menyusahkan Srikandi ditambah pula dengan kekerasan yang dilakukan oleh keluarga pasien. Apa sekali sanggup melanjutkan pekerjaan melayani pasien di rumah sakit ini.
Kalau diberi kesempatan Arjuna ingin sekali menghibur Srikandi. Memberinya semangat abaikan tantangan yang pasti akan datang pada setiap dokter. Namun Arjuna belum mampu meruntuh tembok pemisah antara mereka maka tak punya kesempatan dekati dokter cantik itu. Jauh di lubuk hati Arjuna ingin dekat tapi tak punya akses untuk dekati Srikandi.
Kehadiran Srikandi di rumah sakit ini cukup menyita perhatian Arjuna. Arjuna mau tahu semua gerak gerik Srikandi namun tak bisa mendekat. Paling lihat dari jauh saja dibarengi rasa kangen melebih tinggi gunung Himalaya.
Ketukan pintu kembali bergema di ruang kerja Arjuna. Tanpa melihat Arjuna langsung menyahut. Orang yang berani ketuk pintu ruang kerjanya pasti punya kepentingan. Tak sembarangan orang berani usik Arjuna bila tak penting.
"Masuk..."
Satu kepala bulat dengan rambut hitam ikal menyembul membuat Arjuna membuang muka. Perusuh telah nongol lagi di tempat kerja dia. Bima menggeser badan pindah ke dalam sambil tersenyum manis. Gayanya genit bikin Arjuna mau muntah darah. Arjuna heran mengapa adiknya bisa suka pada manusia model gini. Katanya dokter tapi kelakuan kayak anak jalanan.
"Mau bikin rusuh lagi?"
Bima tidak segera duduk di kursi melainkan duduk di meja kerja Arjuna dekatan dengan dokter anak itu. Gerakan laki ini mencurigakan membuat Arjuna hati-hati takut dikerjain dokter gigi ini.
"Tak kusangka Srikandi memang sehebat ini. Hari pertama kerja dia sudah menyelamatkan nyawa seorang pasien. Analisanya jitu." Bima bercerita membayangkan nama Srikandi bakalan naik daun di rumah sakit. Hari pertama kerja sudah ciptakan prestasi gemilang.
"Aku sudah baca rekam jejak dia. Semua full nilai A. Cuma aku dengar tadi dia mendapat masalah dari keluarga pasien. Aku tidak rela dia disakiti."
"Tidak rela atau takut dia kabur dari rumah sakit ini. Aku memuji minta Srikandi tidak terpengaruh oleh insiden tadi. Dia tetap profesional menyelesaikan pekerjaannya. Aku angkat salut kepadanya."
"Kita butuh dokter seperti dia... kau datang ke sini hanya ingin mengabarkan berita ini?"
"Oh hampir lupa... Aku ingin memberikan ini kepadamu." Bima mengeluarkan amplop putih yang berstempel rumah sakit. Hasil laporan ini yang ditunggu-tunggu oleh Arjuna untuk membuktikan status kedua anak kembar itu. Bima telah membantunya mengambil hasil tes DNA.
Arjuna tidak segera menerima amplop dari tangan temannya melainkan menatap dalam dalam benda itu seperti mengandung virus mematikan yang akan menghentikan detak jantungnya. Arjuna yang biasanya sangat tenang menghadapi semua masalah kini seperti orang hilang akal sehat tidak berani menghadapi kenyataan. Arjuna sangat takut kalau hasilnya tidak sesuai dengan harapan dia.
__ADS_1
Bima menyadarkan sekali lagi amplop itu ke depan wajah Arjuna agar lelaki itu mau menerima kenyataan. Apapun hasilnya tetap tak bisa merubah keadaan yang telah ada. Arjuna harus siap menerima hasil test.