KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN

KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN
Si KEMBAR JAHIL


__ADS_3

Kunti berkacak pinggang tidak menerima keputusan yang diberikan oleh pihak rumah sakit yang diwakilkan oleh Pak Wardana. Kunti merasa apa yang dia lakukan tidaklah sepadan dengan hukuman yang diberikan kepadanya. Keputusan Rumah sakit terlalu memberatkan dia yang selalu ingin berada di samping Arjuna.


Dokter Alam dan Baladewa saling berpandangan tidak memahami apa yang ada di pikiran wanita itu. Jelas-jelas dia telah berbuat kesalahan yang sangat fatal menghina orang lain dan memintanya pergi secara tidak langsung. Rasa simpatik yang baru terbangun untuk Kunti langsung runtuh akibat sifat arogan wanita itu.


Srikandi benar-benar malu melihat kelakuan Kunti. Srikandi yang seorang wanita merasa turut terpojok oleh sikap sikap Kunti yang merasa dialah pemilik Rumah sakit. Menurut Srikandi apa yang dilakukan oleh pihak rumah sakit sudah mengikuti prosedur hukum berlaku. Kalau Kunti tidak diberi sanksi maka akan terjadi kejadian sama bila tidak tertangani dengan baik. Kunti akan menjadi salah satu contoh peringatan buat dokter-dokter lain yang arogan di rumah sakit.


"Dokter Kunti..kita sebagai dokter harus punya etika. Menghargai dan menghormati orang lain adalah salah satu tugas kita. Bukan hanya sekedar memberi kesembuhan kepada pasien." Arjuna tak peduli amarah Kunti. Arjuna harus menegakkan keadilan agar memberi tahu semua orang dia seorang pemimpin yang tegas.


"Itu kata mu...ya sudah! Aku tak mau tahu skorsing model apa. Aku tetap datang kerja walau tak jadwal...kamu jangan lupa mas! Aku punya saham di rumah sakit ini. Kalau aku mau aku bisa menggeser kedudukanmu sebagai seorang pemimpin. Aku bisa saja membeli semua saham rumah sakit ini." Kunti makin meninggikan posisinya agar semua mata tertuju pada harganya yang sangat mahal. Kunti lupa kadang ada sesuatu yang tak bisa dibeli dengan uang. Yakni moral seseorang.


"Silahkan kalian selesaikan masalah internal kalian. Kami pamitan dulu."


Baladewa mulai jenuh dengan kesombongan Kunti. Baladewa mengira Kunti akan berubah setelah mendapat pelajaran berharga dari keteguhan Baladewa ingin keluar dari rumah sakit. Ternyata apa yang dilakukan Kunti hari ini hanyalah sekedar pemanis mulu untuk menahan mereka. Namun Baladewa memilih untuk tetap tinggal mengingat ketegasan Arjuna yang tidak memandang bulu menghukum seseorang.


Baladewa sangat salut pada jiwa pemimpin yang diperlihatkan oleh Arjuna. Baladewa bersedia tinggal demi memberi kehormatan kepada Arjuna yang telah berusaha menahan mereka termasuk menekan Kunti untuk meminta maaf.


Arjuna menjadi tak enak adu mulut dengan Kunti di depan orang yang baru saja berdamai dengan pihak rumah sakit. Belum satu jam berlalu Kunti buat ulah lagi mempermalukan diri sendiri juga Arjuna.


"Maaf...sekali lagi maaf! Nanti malam kita akan bertemu di restoran. Aku akan share lokasi pada anda semua." Arjuna kembali dibuat tak enak hati gara-gara ulah Kunti yang kayak anak kecil.


"Baik...kami akan tunggu kabar!" Dokter Alam dan Baladewa mengikuti jejak Srikandi meninggalkan ruang rapat rumah sakit. Ketiga orang itu berjalan jauh dengan pemikiran masing-masing. Yang paling geram dengan sikap Kunti adalah Srikandi. Antara mereka memang sudah terbentang jurang pemisah dan sekarang semakin melebar. Tak ada jembatan yang bisa menghubungkan mereka berdua untuk saling bertemu lagi.


Dalam perjalanan keluar dari rumah sakit Srikandi bertemu dengan kelompok Mahesa. Calon muridnya nanti begitu senang jumpa calon tutor mereka yang cantik. Punya tutor cantik menambah semangat belajar mereka. Coba bayangkan kalau memiliki tutor yang wajahnya seperti kayu diukir tak ada perasaan. Apalagi jumpa yang orangnya sulit diajak adaptasi.


Untunglah mereka mendapat seorang tutor yang sempurna. Sudah cantik, baik, ramah dan murah senyum. Kesempatan ini tak ada dua kali. Tahun ini mereka beruntung mendapat seorang bisa membawa mereka menjadi dokter terbaik di kota ini. Sebelumnya ada rekan mereka mendapat dokter yang cerewetnya minta ampun, ada yang kejam dan jorok, bahkan ada yang genit terhadap mahasiswi. Semoga saja Srikandi ada akan membawa mereka mendapat gelar tanpa halangan.


Mahesa dan Wirata mengangguk sopan kepada calon tutor mereka yang seperti adik kelas mereka saja. Srikandi lebih cocok di dudukan bersama mahasiswi-mahasiswi yang sedang menimba ilmu di bangku kuliah ketimbang menjadi dokter spesialis.


"Kalian sudah mulai magang di sini?" tanya Srikandi melihat kedua anak itu sudah pakai snelli berarti sudah pegang pasien.


"Sudah Bu... kami sudah bantu-bantu di IGD ini. Kalau Ibu sudah praktek maka kami akan menyeberang ke tempat ibu." jawab Maesa sopan tak berani konyol. Srikandi memang ramah bukan berarti mereka boleh bertindak sembarangan.


"Aku akan segera praktek tapi sebelumnya aku harus hadiri seminar di Jawa Tengah. Andai kata kalian belum mulai praktek bisa ikut denganku pergi melihat betapa luasnya dunia kedokteran. Tapi tak apa kesempatan itu pasti akan ada lagi. Kalian yang semangat ya! Kalau kalian mendapat pasien gawat jangan sekali-kali panik! Gunakan akal sehat dan tetap dinginkan kepala agar tidak salah menangani pasien. Oke?"


"Iya Bu...ibu mau ke mana?"

__ADS_1


"Pulang dong!" sahut Srikandi kalem membuat Maesa makin gregetan ingin menyentuh bibir tipis yang selalu menyinggung senyum. Srikandi berbicara dengan lugas begitu ceria seolah dunia ini tidak ada masalah padahal di dalam hati berton-ton kesedihan bercokol di situ.


"Ibu pulang dengan apa?"


"Kayaknya taksi...kalau mau irit bisa panggil motor ojek.."


Mahesa dan Wirata kasihan pada kulit halus Srikandi harus melawan panas matahari dan debu berterbangan di sepanjang jalan bila pulang dengan motor ojek online. Kalau bukan mereka sedang bertugas ingin sekali mereka menawarkan tumpangan pada Srikandi untuk pulang ke rumahnya. Mereka juga bisa mengetahui di mana tempat tinggal tutor mereka. Sekali dayung dua pulau terlampaui. Bisa menanam jasa pada Srikandi juga mengetahui rumah tutor mereka.


"Gimana kalau kuantar?" tawar Maesa nekat kabur dari tugas demi menyenangkan Srikandi. Mahesa yakin kalau Wirata akan membantunya menutupi kepergian mengantar Ibu tutor mereka.


"Huuusss.. Itu namanya curi waktu kerja. Jangan sekali-kali berpikir kabur dari tugas kalau memang kita sedang mendapat piket! Itu contoh sangat buruk. Aku bisa pulang sendiri dengan selamat sampai di rumah. Orang segede gini siap mana mungkin tiba-tiba menghilang begitu saja. Aku pergi dulu ya!! Eh mana teman kalian satu lagi?" tiba-tiba Srikandi teringat pada teman Maesa yang satu lagi. Srikandi sangat heran tidak melihat lelaki yang satu lagi yang memberi kesan kocak.


"Sedang berkabung Bu..."


"Innalilahi rojiun..siapa meninggal?"


Maesa dan Wirata tertawa kecil Srikandi menanggapi guyonan mereka dengan serius. Padahal mereka hanya bercanda mengalahkan Salya sedang berkabung. Anak itu kebetulan tak dapat jadwal piket dan sedang patah hati ditinggal kabur sama pacar. Salya mengurung diri merenungi hari berkabung matinya api cinta dalam dada.


"Pacar Salya digondol buto ijo Bu..."


"Kalian ini ada-ada saja. Emang ada buto ijo doyan gadis muda? Ibu pergi dulu ya. Yang rajin.." Srikandi segera meninggalkan anak-anak yang tersenyum-senyum sendiri. Mata mereka baru saja di sejukkan oleh pemandangan indah dari seorang dokter spesialis. Sudah berhari-hari mereka melihat kegersangan di rumah sakit ini karena semua rata-rata serius mengerjakan pekerjaan masing-masing.


Bila Srikandi mulai praktek maka hari hari baik mereka telah tiba. Srikandi pasti akan menjaga mereka dengan baik bila dilihat karakter Srikandi yang sangat lembut dan baik hati.


Arjuna melihat Srikandi dari jauh menunggu transportasi di depan pintu gerbang rumah sakit. Niat hati mau dekati wanita itu tapi takut kena semprot wanita yang punya dendam segunung itu. Pijaran kebencian jelas terpancar dari sorot mata Srikandi. Arjuna tak tahu kapan dia akan berani ngobrol dengan Srikandi. Arjuna KO sebelum berperang.


Hati Arjuna makin sedih lihat Srikandi pergi dengan ojek online. Betapa beruntung tukang ojek yang antar Srikandi. Bisa merasakan terpaan angin penuh polusi bersama wanita yang masih bertahta dalam hatinya. Jujur Arjuna iri pada tukang ojek itu.


Srikandi berangkat ke Jawa Tengah dengan pesawat yang telah disediakan oleh panitia. Srikandi meninggalkan kedua bocahnya pada Arimbi dan kedua orang tua Arimbi. Kini Srikandi tidak ragu lagi mempercayakan kedua bocahnya kepada keluarga Pandawa. Mereka telah pegang janji tidak membocorkan keberadaan Nakula Sadewa kepada Arjuna. Srikandi sangat menghargai sikap kesatria Pandu tidak berpihak kepada putranya sendiri. Mereka lebih memilih berpihak kepada kedua cucunya yang ganteng-ganteng.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ruang IGD dihebohkan oleh kehadiran dua bocah keracunan es krim. Satu sesak nafas dan satunya lagi mimisan. Keduanya memiliki riwayat alergi terhadap makanan dingin. Mereka ke rumah sakit diantar oleh guru sekolah yang panik melihat kedua anak ini mendadak kolaps setelah konsumsi es krim dijual di kantin sekolah.


Anak lain makan tak ada masalah tapi kedua anak ini langsung berubah begitu makanan favorit anak-anak sampai ke mulut. Kedua anak ganteng itu tampak sangat menderita akibat konsumsi makanan pantangan mereka.

__ADS_1


Nakula Sadewa segera ditangani oleh dokter ruang IGD. Keduanya mendapat asupan oksigen untuk tindakan pertama. Walaupun dalam kondisi sedang kurang fit mata keduanya jelatan menatap setiap dokter yang tangani mereka. Terutama Nakula yang hanya sesak sedangkan Sadewa mimisan. Hidung Sadewa terusan keluarkan darah segar bikin baju seragamnya penuh kotoran darah.


Kunti yang kena skorsing masih keliaran di sekitar IGD tempat biasa dia bertugas. Kunti mana bisa ke ruang spesialis karena tak punya skill di salah satu bidang spesialis. Paling main sekitar IGD lihat rekan mengobati orang.


Kunti sangat tertarik pada dua bocah tampan ini karena mengingatkan dia pada seseorang. Raut wajah juga tatap elang Nakula seperti dicetak langsung dari profil aslinya.


"Kenapa bocah ini?" tanya Kunti tak bisa diam mau tahu kenapa kedua bocah ini dibawa ke sini.


"Katanya keracunan es krim..." perawat menjawab sopan mengingat Kunti punya hubungan baik dengan Arjuna. Kena skorsing masih bisa keliaran di sekitar rumah sakit tentu saja punya koneksi lancar dengan orang dalam.


"Kasih obat alergi...mana orang tuanya?"


"Tapi harus tunggu hasil lab...mereka diantar pihak sekolah. Pihak sekolah sudah hubungi keluarga anak ini."


"Lakukan saja sebelum anak ini tewas...apa kau tak lihat mereka sudah sangat sesak." bentak Kunti merasa dirinya sudah benar. Padahal dokter sedang menganalisa penyebab utama Nakula dasar dewa keracunan. Mereka tak berani sembarangan memberi obat karena kedua anak ini memiliki riwayat alergi. Salah memberi obat bukannya bertambah sempurna malam memperparah kondisi kedua anak ini.


"Tapi Bu...dokter Utari sedang cek lab." perawat itu tampak gelisah untuk beri suntikan pada Nakula Sadewa.


"Aku yang tanggung jawab. Anak tanpa orang tua hanya andalkan BPJS tak perlu dikuatirkan. Kalau makin parah ya kita lakukan test percobaan obat lain."


Perawat itu semakin bingung. Kunti sedang mendorongnya masuk ke jurang. Mereka tak boleh sembarangan menggunakan obat walaupun kedua orang tua anak ini tidak hadir di sini. Tetapi guru sekolah mereka telah berjanji akan bertanggung jawab membayar seluruh biaya pengobatan. Mereka mana boleh sembarangan memberi obat bila tidak mengetahui kedua anak ini alergi apa.


Sadewa yang tidak sesak menjadi kesal pada penghinaan Kunti anggap mereka anak buangan tanpa orang tua. Ini dokter atau orang gila nyasar dibrumah sakit. Dari segi manapun Kunti tidak menunjukkan dia seorang dokter.


"Kalau ibu ini dokter mengapa tidak ikuti prosedur kesehatan. Pertama tak gunakan masker, kedua rambut riap-riapan mengandung bibit penyakit ketiga bertindak tanpa memeriksa pasien. Apa ini disebut dokter? Betapa buruk pelayanan rumah sakit ini." Sadewa masih sempat protes kurang suka pada kesombongan Kunti.


"Adalagi...kuku panjang seperti kuntilanak cari mangsa anak bayi.. Kurasa ibu ini tak cocok jadi dokter. Cocoknya jadi tukang buka kulit kuaci." Nakula ikut nimbrung walau sesak.


Sadewa tergelak-gelak lupa dia juga sedang mengalami alergi akut. Perawat itu mau ikut ketawa namun ditahan. Kunti punya link di rumah sakit ini tak boleh cari masalah dengan dokter itu. Tapi apa yang dikatakan oleh kedua anak ini tidak ada salah. Kunti memang tak seperti dokter. Cuma perumpamaan Nakula terlalu ekstrim minta Kunti jadi pembuka kulit kuaci.


Wajah Kunti memerah diprotes oleh kedua anak yang sedang sekarat itu. Sudah sekarat masih juga berani melontarkan perkataan yang mencubit kuping Kunti. Perawat itu menduga kalau kedua anak ini dekat dengan ilmu kedokteran karena sangat paham prosedur seorang pekerja medis.


"Dasar anak kurang ajar...kalian bocah tengil tak tahu terimakasih. Aku datang bantu kalian." Kunti memarahi kedua bocah itu. Kunti memperlihatkan wajah geram pada kedua bocah Srikandi. Untung Kunti tak tahu kalau kedua bocah ini anak Srikandi. Ntah apa yang akan terjadi bila Kunti tahu siapa keduanya. Pasti langsung buka kancah perang dengan Srikandi.


"Kami mau ditangani oleh dokter Pediatric..kami masih anak-anak jadi harus dokter spesialis anak." Sadewa kembali bikin ulah pancing emosi Kunti.

__ADS_1


__ADS_2