KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN

KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN
Teman Baru


__ADS_3

Arjuna bukan orang bodoh tak tahu tatapan tak bersahabat dari bocah Nakula. Tapi sebagai dokter dia tetap harus laksanakan tugas periksa pasien kendati ada rintangan.


"Kamu Nakula...sini pak dokter periksa. Ayo berbaring!"


Perawat tanggap membantu bocah itu berbaring dan menaikkan baju agar bisa diperiksa bagian dada dan perut. Arjuna menempelkan stetoskop ke bagian dada Nakula mendengar detak jantung juga bagian perut. Berulang Arjuna dengar untuk yakin semua aman. Jantung bocah ini belum stabil betul akibat alergi berat. Masih perlu pemantauan lebih lanjut takut sesak balik lagi.


"Nakula masih sesak ya? Tarik nafas dada terasa sakit?" tanya Arjuna lembut agar bocah itu simpatik.


"Sesak tapi tidak sakit...cuma agak capek. Kami boleh pulang pak Dokter?" Nakula menatap Arjuna penuh harapan bisa segera pulang ke rumah.


"Pak dokter rasa kamu mesti dirawat sampai pulih seratus persen. Nanti pak dokter tambah obat lagi biar hilang sesaknya. Nah sekarang Sadewa! Kamu kelihatan segar tapi tetap harus dicek." Arjuna memutar badan ke bed satu lagi di mana Sadewa memperhatikan cara kerja Arjuna.


Sadewa melorotkan badan berbaring tanpa dibantu. Anak ini lebih mandiri menaikkan baju sendiri menunggu Arjuna sentuh dia. Tatapan mata Sadewa lebih bersahabat agak jenaka. Arjuna lebih suka pada Sadewa yang lebih manis. Namun Arjuna juga tak bisa abaikan keberadaan Nakula bila memang putranya.


Sadewa sudah pulih seratus persen. Anak itu bisa pulang tapi apa dia mau dipisahkan dari saudara kembarnya. Satu tinggal satu pulang. Arjuna tak ingin memaksa biarkan keduanya menentukan apa Sadewa mau tetap temani saudaranya.


"Nah...Sadewa sudah sehat. Mau pulang tapi Nakula tak bisa pulang. Detak jantung belum normal. Pak Dokter mau ambil sampel darah untuk cek apa masih ada bakteri dalam aliran darah. Nakula berani diambil darah?" Arjuna hendak menyentuh tangan anak itu namun Nakula cat menggeser tangan tak mau disentuh oleh Arjuna. Anak itu seperti alergi pada Arjuna.


"Silahkan!" kata Nakula gagah tak takut kena jarum suntik. Mereka sudah terlalu sering mendapatkan pengobatan sampai hilang takut terhadapku alat medis.


Arjuna acung jempol puji nyali Nakula. Arjuna beri kode pada perawat untuk ambil sampel darah Nakula. Arjuna memang bertujuan cek lab mengapa Nakula masih sesak sedangkan saudaranya cepat pulih. Yang satu ini kekurangan zat apa. Mesti cek lab baru ketahuan sumber sesak Nakula. Di samping itu Arjuna memiliki misi lain dengan sampel darah salah satu anak ini. Apalagi kalau bukan test DNA.


Arjuna tak lihat kehadiran Arimbi dan kedua orang tuanya. Mengapa mereka meninggalkan kedua anak ini tanpa didampingi keluarga. Apa mungkin mereka mengetahui kalau Arjuna akan datang sehingga bersembunyi lagi.


"Mana keluarga kalian? Kok ditinggalkan?"


"Bukan ditinggalkan pak tapi penjaganya rakus cari cemilan. Kami yang sakit dia yang rajin makan." Sadewa berkata lebih mirip mengomel.


Arjuna tersenyum ramah tahu siapa yang dimaksud Sadewa. Siapa lagi kalau bukan Arimbi. Hanya gadis itu suka jajan.


"Apa perlu pak dokter temani sambil menunggu keluarga kalian datang?"


Sebenarnya Sadewa sangat ingin ngobrol lebih panjang dengan Arjuna tetapi melihat tampang Nakula yang sangat seram Sadewa tidak berani mengutarakan keinginan hati. Sadewa mau korek keterangan mengapa Arjuna tega meninggalkan istri yang sedang hamil untuk wanita lain. buat Sadewa itu perbuatan lelaki pengecut menganiaya istri demi seorang pelakor.


"Tidak perlu...kami sudah dewasa tak perlu merepotkan orang lain." ketus Nakula melirik tak senang pada Arjuna.


Arjuna mengangguk menyadari kalau Nakula terangan ajak perang. Kelihatannya kedua bocah ini kenal siapa Arjuna namun pura-pura tak kenal. Dari awal mereka sudah serang Arjuna dengan kalimat menyindir. Arjuna harus bertahan tebalkan kuping bila ingin berdamai dengan kedua bocah ini. Jalannya tak mudah tapi tetap harus ditempuh.

__ADS_1


"Pak dokter lupa kalian sudah besar. Ok...pak dokter mau tahu riwayat penyakit alergi kalian. Oya nona perawat..bawa sampel darah untuk cek ke lab. Sini kubuat catatan bagian apa harus masuk lab."


Nona perawat menyodorkan map riwayat penyakit pada Arjuna agar bisa buat catatan ke laboratorium. Arjuna mencoret beberapa kalimat yang hanya diketahui oleh para analis. Selanjutnya perawat itu mengundurkan diri meninggalkan Arjuna bersama kedua bocah.


Nakula tidak senang Arjuna di antara mereka sedangkan Sadewa senang karena sangat rindu pada sosok laki yang disebut ayah. Cuma Sadewa tak berani katakan secara langsung takut pada Nakula yang keras.


"Pak dokter tak ada pasien lain?" Nakula bertanya mengusir secara halus.


"Sudah lepas piket maka bisa temani kalian...pak dokter mau katakan kalau pak dokter juga punya penyakit alergi makanan dingin. Kalian percaya?" Arjuna menatap kedua bocah bergantian. Laki ini berharap ada reaksi dari kedua. Sadewa menunduk tak berani jawab. Salah jawab bisa kena semprot Nakula. Srikandi sudah sering ingatkan Sadewa mesti hormat pada Nakula karena dia lebih dua delapan menit.


"Di dunia banyak penyakit pak...siapa saja bisa sakit jadi tak perlu heran ada orang sakit seperti penyakit kami."


Hati Arjuna kena cubit kalimat tajam Nakula tidak mau akui kalau penyakit alergi ini penyakit keturunan. Anak itu malah bawa dunia dipenuhi penyakit. Anak itu mau katakan hanya kebetulan penyakit mereka sama tapi tak ada hubungan apa-apa. Mulut kecil yang tajam.


"Kau benar nak... siapa saja bisa sakit. Dan kau Nakula jangan terlalu banyak bicara. Nanti makin sesak.."


Nakula patuh membalik diri memunggungi Arjuna. Satu gerakan permusuhan kurang suka Arjuna ada di sekitar mereka. Sadewa menghela nafas prihatin pada nasib Arjuna telah jumpa musuh bebuyutan. Nakula takkan maafkan Arjuna kendatipun laki itu berusaha baik pada mereka. Nakula selalu anggap Arjuna pangkal kehancuran keluarga mereka. Arjuna tak pantas diakui walau memang terbukti kedua bocah ini adalah darah dagingnya.


Arjuna menekan dada merasa sakit. Gimana rasanya diabaikan padahal Nakula masih berstatus pasien tapi Arjuna seperti kena hantaman Godam gede pas di ubun kepala. Mungkin beginilah rasa sakit Sirik melihat dia bersama Kunti delapan tahun lalu. Tanpa protes wanita itu pilih mundur beri kesempatan pada Arjuna memilih wanita lain.


"Kau makan sesuatu nak?" Arjuna menawarkan makanan pada Sadewa lihat anak itu lebih bersahabat. Arjuna tak bosan memandang wajah tampan Sadewa. Wajah itu sangat familiar mencetak rupa Arjuna di masa kecil. Siapa akan meragukan kedua bocah itu bila ngaku anaknya.


Nakula tertawa kecil senang Sadewa bisa juga mempersulit Arjuna. Betapa puas Nakula berhasil mencubit laki itu dengan kalimat. Mereka tak berdoa adu fisik dengan lelaki itu cukup memainkan kalimat yang membuat dokter itu menyesal setengah mati.


Arjuna makin seperti orang bodoh berada di antara anak luar biasa ini. Ke mana dokter Arjuna yang biasanya bijak sanggup handel satu rumah sakit. Giliran jumpa bocah kecil dia jadi tak ada arti. Harganya jadi minim banget.


"Baiklah...pak dokter pamit kalau kalian bisa jaga diri. Kalau ingin sesuatu panggil saja nona perawat di depan sana. Atau pencet saja bell di atas kepala kalian. Perawat akan datang. Oke..." Arjuna harus segera pergi sebelum dipermalukan lebih jauh. Arjuna sudah kehabisan kata untuk membujuk kedua bocah ini berdamai dengannya. Dalam posisi sebagai dokter saja mereka berdua asik menyerangnya. Bagaimana kelak kalau ketahuan dia adalah bapak biologis kedua bocah ini.


"Oke dok... terimakasih sudah datang. Tapi percayalah kami akan baik-baik saja!" Sadewa turun dari tempat tidur bermaksud mengantar Arjuna keluar dari ruang rawat mereka. Sadewa merasa lebih baik Arjuna meninggalkan mereka karena Nakula pasti akan menyerangnya habib-habisan.


Arjuna mengelus kepala bocah ini sebelum melangkah pergi. Sadewa lebih ramah mau menerimanya walaupun tetap saja tidak dengan setulus hati. Arjuna meninggalkan ruang rawat kedua bocah itu dengan hati remuk redam. Arjuna sangat marah kepada diri sendiri yang tidak mampu menjadi seorang suami dan ayah yang baik buat keluarga. Arjuna juga sangat menyesali mengapa Srikandi tidak mau berterus terang sedang hamil sewaktu mereka berpisah. Kalau saja Srikandi mau jujur keadaan tidak akan serunyam ini.


Untuk sementara ini Arjuna tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu hasil tes DNA. Arjuna juga tidak tahu apa yang dia akan lakukan bila betul-betul kedua bocah itu adalah miliknya. Memohon pada Srikandi mengijinkan dia mengenal kedua anak itu atau melupakan kedua anak itu selamanya. Apapun yang dia lakukan pasti tidak akan mendapat tanggapan yang baik dari wanita itu. Arjuna harus menerima nasib akibat kesalahannya di masa lalu.


Sadewa menatap iba kepada Arjuna yang melangkah pergi dengan langkah gontai. Apakah rasa iba ini bisa diganti dengan sakit hati mami mereka? Sadewa juga tak ingin berkhianat dari mami mereka yang telah membesarkan mereka berdua dengan susah payah. Srikandi adalah prioritas utama kedua bocah ini.


Sadewa berdiri cukup lama merenungi nasib Arjuna. Semoga saja Arjuna menemukan kebahagiaan dia sendiri tanpa kehadiran anak-anak. Itu harga yang harus dibayar seorang lelaki pengkhianat.

__ADS_1


Telinga Sadewa yang sangat tajam mendengar tangisan dari seberang ruang rawat dia. Sadewa sangat tertarik mendengar tangisan seorang anak kecil menolak obat yang diberikan oleh perawat. Dari suaranya Sadewa menduga kalau itu adalah seorang anak perempuan yang dirawat di situ.


Didorong oleh rasa penasaran Sadewa menyeberang ke depan untuk melihat apa yang terjadi. Pintu kamar perawatan juga tidak tertutup rapat membuat kepala kecil bisa Sadewa bisa melongok ke dalam. Mata indah Sadewa melihat di dalam seorang gadis kecil duduk di atas tempat tidur didampingi oleh seorang perawat dan seorang penjaga.


Gadis kecil itu menutup mulutnya menolak obat yang diberikan oleh penjaganya. Sadewa tak tahu apa yang terjadi pada gadis itu menolak obat tetapi yang pasti itu adalah perbuatan salah. Kalau sakit tetap harus diobati. Tidak diobati penyakitnya makin bertambah parah.


Sadewa makin penasaran melihat gadis kecil itu makin kuat menggeleng menolak bujuk semua bujukan yang dilontarkan oleh penjaganya dan Nona perawat. Entah apa yang mendorong Sadewa masuk ke dalam untuk ikut menjadi pahlawan bagi gadis kecil.


Teriakkan gadis kecil itu seketika berhenti begitu melihat kehadiran Sadewa. Tangannya masih menutup mulut namun dia tak nangis lagi. Mungkin malu pada anak lajang yang tiba-tiba nyelonong masuk tanpa ijin.


"Maaf aku tak sengaja masuk...aku hanya heran ada suara orang menangis! Aku Sadewa di rawat di ruang seberangan." Sadewa memperkenalkan diri dengan gagah. Seorang lelaki sejati harus bersikap tegas walau telah salah masuk tanpa ijin.


"Kau juga sakit?" tanya anak cewek itu mulai reda tangisnya. Matanya tampak cekung dilingkari bayangan hitam. Tergambar kelelahan di mata kecil itu.


Sadewa mengangguk, "Aku dan saudaraku dirawat di sini. Aku sudah baikan sedangkan saudaraku masih kurang sehat. Kenapa nangis dek?" Sadewa sok dewasa coba membujuk gadis kecil itu.


"Obatnya pahit..." gadis itu menunjuk obat yang dipegang penjaganya.


Orang yang ditunjuk meringis sedih anak kecil itu selalu buat ulah kalau disuruh minum obat. Kapan bisa sembuh bila selalu menolak semua obat-obatan dari rumah sakit.


"Adek pernah ngak dengar? Yang pahit itu obat, yang manis itu racun. Coba lihat kami! Gara pingin makan enak kami masuk rumah sakit. Kami mempunyai penyakit langka yang tak ada obatnya. Seumur hidup kami tetap begini kalau salah makan tapi kami patuh pada pengobatan maka kami cepat pulih. Adek juga harus patuh biar cepat sehat. Bisa sekolah berkumpul dengan teman-teman. Bukankah itu menyenangkan?" Sadewa berkata panjang lebar membuka mata anak kecil ini untuk melawan penyakitnya.


Perawat dan penjaga anak itu sangat kagum pada Sadewa yang tampak sangat dewasa walaupun mungkin umurnya hampir sama dengan gadis kecil itu. Cara penyampaian Sadewa membangkitkan semangat anak itu untuk melawan penyakit di tubuh dengan memberi perumpamaan penyakit mereka yang tak bisa disembuhkan seumur hidup selain menjaga diri.


Gadis kecil itu sangat tertarik pada cerita Sadewa sehingga lupa kalau dia baru saja membuat ulah menolak pengobatan.


"Sakit apa?"


"Kami alergi makanan dingin. padahal kami sangat ingin mencoba yang namanya es buah, es krim, es serut, es mambo. Itu adalah pantangan kami padahal kita paling menyukai makanan itu." Sadewa makin dekat dengan ranjang gadis itu.


Kedua orang dewasa yang berada di ruangan membiarkan kedua anak ini ngobrol karena Sadewa menunjukkan obrolan positif yang bisa meredakan sifat egois anak kecil itu. Semoga saja Sadewa bisa membujuk anak itu untuk patuh pada pengobatan.


"Masa sih gitu? Aku sih bisa makan tapi sekarang tak boleh karena sedang sakit."


"Kalau gitu kamu harus bersyukur bisa menikmati makanan kesukaan anak-anak seperti kita. Jangan menolak obat bila mau kembali berkumpul dengan teman-teman! Sekarang minum obatmu! Kalau kamu sudah enakan kita bisa main ular tangga bersama di kamar aku nanti. Di sana ada saudara kembar aku yang bernama Nakula. Namamu siapa?"


"Aku Savitri..." Tangan kurus kering itu terulur minta jabatan dengan Sadewa. Sadewa tersenyum sejenak lalu terima tangan kurus itu.

__ADS_1


"Aku Sadewa...namamu indah. Gadis manis tak boleh suka cemberut nanti hilang cantiknya."


__ADS_2