KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN

KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN
Kunti Minta Maaf


__ADS_3

Betapa berat Arjuna membuat pengakuan yang cukup mengejutkan Pandu. Laki ini tak pernah menyangka kalau Arjuna akan mengingkari punya hubungan khusus dengan Kunti. Lalu apa artinya kebersamaan mereka selama 8 tahun. Sekedar persahabatan yang sangat indah? Bisa juga mereka tak ingin melibatkan diri dalam satu ikatan yang kadang bisa mempersulit diri sendiri. apa Mungkin Kunti bersedia dijadikan bayangan yang tak pernah bisa menyatu dengan pemiliknya.


"Kalau kau tidak memiliki hubungan apa-apa mengapa kalian seperti amplop dan perangko?"


"Sudah kubilang aku tak pernah beri harapan selain rekan kerja dan hargai orang tua Kunti."


"Sekarang Srikandi telah kembali... kau tak ingin melakukan sesuatu untuk merebutnya kembali?"


"Aku ingin sekali pa tapi Srikandi sangat membenciku. Dia seperti membangun tembok antara kami. Melihatku saja tampak rasa jijik terlukis di wajahnya."


"Kalau kau menyayangi Srikandi mengapa kamu melakukan hal tak senonoh dengan Kunti delapan tahun yang lalu. Kau tahu betapa hancur hati Srikandi melihat orang yang paling dia sayangi bermain di belakangnya."


"Berapa kali sudah kubilang kalau kami tidak melakukan hal yang tak senonoh. Itu hanya kebetulan Kunti meminjam kamar mandi dan pakaian Srikandi karena kami mengalami kecelakaan. Apa yang dilihat oleh Srikandi dan Arimbi itu bukanlah hal sesungguhnya. Kalau aku dan Kunti melakukan hal-hal buruk maka dia sudah menuntutku. Terbukti Kunti tidak berani melakukan apa-apa karena aku memang tidak pernah berbuat yang tidak-tidak kepadanya. Apa papa pikir Kunti akan tinggal diam bila aku telah melakukan sesuatu padanya?"


Pandu manggut-manggut walaupun tak dilihat oleh Arjuna. Apa yang dikatakan Arjuna sangat masuk akal karena menurut sifat Kunti pasti tidak akan tinggal diam bila telah berhubungan intim dengan Arjuna. Wanita itu pasti akan mengejar Arjuna walaupun sampai ke lubang semut sekalipun.


"Lalu mengapa kamu tidak mengejar Srikandi dan menjelaskan semuanya."


"Aku mempunyai alasan tersendiri untuk hal ini. Suatu saat pasti aku akan mengatakannya secara langsung kepada Srikandi mengapa aku tidak memberi penjelasan kepadanya mengenai kejadian ini. Papa pikir aku hidup bahagia selama 8 tahun ini? Aku sangat tersiksa namun tidak pernah mengatakannya karena menganggap semua ini memang salah aku."


Baru hari ini Pandu mendengar suara hati putranya yang menanggung derita akibat kesalahpahaman 8 tahun lalu. Entah mengapa Pandu merasa kalau Arjuna tidak sedang bersandiwara untuk mengelabui mata tuanya. Mengapa mereka semua tidak pernah terpikir Arjuna tidak menikah Kunti di masa 8 tahun ini. Ternyata di balik semua ini tersimpan rahasia yang belum diungkap oleh Arjuna seutuhnya.


"Baiklah... itu terserah kamu mau bicara dengan Srikandi. Papa dan Mama sangat berharap kalau Srikandi bisa kembali di lingkungan kita. apalagi sekarang dia berada di depan mata kamu. Apa kamu akan membiarkan dia pergi begitu saja?"


"Tentu saja tidak... Papa tidak usah kuatir aku akan menekan Kunti untuk melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Sampaikan salam sayangku untuk Arimbi. Aku sangat rindu kepadanya juga."


"Akan papa sampaikan. Begitu ada kabar Papa harap kamu segera menghubungi papa."


"Baik... kalian di mana biar aku menyusul karena aku juga ingin berkumpul dengan kalian semua."


Pandu sangat kaget mendengar permintaan Arjuna ingin bergabung dengan mereka. Kehadiran Arjuna pasti akan membongkar keberadaan Nakula Sadewa. Ini berarti telah ingkar janji dari Srikandi tidak memperlihatkan kedua anak itu kepada Arjuna. Paling tidak sampai Srikandi bersedia kembali ke keluarga barulah mereka bisa mengatakan pada Arjuna bahwa dia memiliki anak.


"Jangan datang!!! Kami bertiga sedang menikmati kebahagiaan jadi kamu tidak perlu ikut-ikutan dulu." Pandu langsung menolak kehadiran anaknya walaupun tahu itu akan menyakiti hati Arjuna. Lebih baik Arjuna sakit hati ketimbang Dia kehilangan kedua cucunya.


"Pa... jangan bilang Papa ingin mencoret namaku dari daftar keluarga! Aku bukan anak dari Pandawa lagi melainkan hanya orang luar. Yang menjadi penerus adalah Arimbi."


"Terserah kamu mau omong apa! Pokoknya kami tak mau kamu datang. Merusak acara kami. Sudahan... Papa menunggu kabar darimu. assalamualaikum..." Pandu cepat-cepat menutup ponsel sebelum Arjuna protes lebih panjang.

__ADS_1


Pandu tak dapat membayangkan bagaimana suasana hati Arjuna ditolak secara langsung kehadirannya dalam keluarga. Itu harga yang harus dia bayar akibat menyakiti menantu kesayangan Dewi Madri. Pandu tak sempat berpikir panjang bagaimana perasaan Arjuna. Yang penting dia nisa habiskan akhir pekan bersama anak cucu.


Arjuna termenung sendirian di kantor rumah sakit. Laki ini tak habis pikir seberapa marah keluarganya sampai menolak kehadiran dia di antara keluarga. Sedih juga diabaikan oleh orang tua. Arjuna seperti anak buangan tak diinginkan oleh keluarga.


Arjuna punya tugas lebih penting harus bisa yakinkan Kunti untuk minta maaf pada Baladewa. Banyak sekali yang dipertaruhkan bila Baladewa tak terima maaf dari Kunti. Yang paling utama adalah Srikandi akan ikut meninggalkan rumah sakit bila Baladewa telah pergi. Bagaimanapun Arjuna sangat ingin melihat Srikandi berada di sekitar rumah sakit walaupun tidak bisa mendekatinya. Melihat dari jauh Arjuna cukup puas.


Arjuna harus bicara dengan Kunti agar cepat melakukan tugas menahan kepergian Baladewa. Arjuna cukup miscall Kunti. Wanita itu pasti segera muncul seperti arwah gentayangan.


Tepat dugaan Arjuna karena tak lama berselang Kunti sudah muncul di ruang kantornya. Wanita datang menebar keharuman semerbak. Orang pilek pasti akan segera sembuh bila terhirup bau minyak wangi mahal Kunti. Arjuna yakin parfum Kunti dibeli gunakan hitungan dolar.


Siapa tak kenal dokter paling bergaya di rumah sakit ini? Selalu tampil perfect bikin para cewek iri hati.


"Panggil aku?" Kunti memberi senyum iklan pasta gigi. Gigi putih bersih bebas plak.


Arjuna bersikap biasa saja walau Kunti telah dandan habisan demi mencuri hati laki itu. Arjuna melekatkan mata ke wajah full make up bersiap perang urat suara. Kali ini Arjuna harus sukses tekan Kunti minta maaf pada Srikandi dan Baladewa. Kalau tidak resikonya maha dahsyat.


"Duduklah Kunti..!" kata Arjuna datar.


Kunti terlihat kecewa dengan sambutan Arjuna yang biasa saja. Tak ada kesan terkagum di Mata Lelaki itu melihat penampilannya yang telah super mewah. Kunti sengaja tanggalkan pakaian putih dokter supaya Arjuna kagum pada penampilannya.


"Kau sudah siap minta maaf pada Srikandi dan Baladewa?"


Kunti bagai kesengat lebah mendengar permintaan Arjuna menyuruhnya meminta maaf kepada Srikandi. Itu adalah permintaan paling tabu harus dia hindari. Kunti mana mau tunduk pada Srikandi?


"Jangan bercanda mas! Dasar apa aku minta maaf!" bentak Kunti merasa terhina diminta lakukan hal tak sesuai kata hati.


"Dasar mulutmu lancang. Kau tak tahu tinggi gunung. Kau hanya lihat dari jauh tak tahu seberapa kokoh gunung itu. Kau sedang mengancam gunung menjulang. Kau mau tahu akibatnya? Kamu bisa terbakar bila itu gunung api."


"Aku tak paham maksud mas. Apa Srikandi sehebat gitu sampai aku harus tunduk?"


"Aku tak menyuruhmu tunduk tapi tanggung jawab atas kesalahanmu. Mereka adalah wakil JCI yang sudah kita tunggu sejak lama. Di antara mereka bertiga salah satunya adalah perwakilan JCI yang ingin audit lingkungan rumah sakit kita. Kami menduga Baladewa orangnya."


Kesadaran Kunti telah kembali mengingatkan dia telah membuat rusuh cari masalah. Tujuan Kunti bukan Baladewa namun dokter itu yang tersinggung menganggap Kunti menghina mereka.


"Aku akan jumpai dokter itu. Serahkan padaku! Aku jamin dia akan betah."


Arjuna kehabisan kata melihat keangkuhan Kunti. Arjuna mau Kunti meminta maaf kepada Srikandi dan Baladewa. Bukan cuma hanya Baladewa saja tapi juga pada Srikandi.

__ADS_1


Kelihatannya Kunti sangat menganggap remeh kehadiran Srikandi. Di mata Kunti Srikandi itu hanya setitik debu bikin sakit matanya.


"Kunti... Kapan kamu mau belajar dewasa? Kita ini bukan anak remaja yang bisa berbuat sesuka hati. Kita sudah hampir mendekati kepala empat jadi harus sadar diri. Jangan seperti anak kecil tak tahu betapa lebar dunia ini. Nanti sore aku akan undang ketiga dokter hadir di sini dan kamu mesti minta maaf secara terbuka. Gimana?"


Kunti putar bibir kiri kanan menimbang perasaan sendiri apa sanggup merendahkan martabat memohon maaf pada Srikandi. Tapi melihat wajah Arjuna tak sedap dipandang membuat nyali Kunti menciut.


Kunti tak tahu itu karena Srikandi akan pergi atau karena perjuangkan nasib rumah sakit. Daripada bikin mood Arjuna makin parah Kunti terpaksa mengangguk setuju. Arjuna kelihatan sangat lega telah berhasil memaksa Kunti meminta maaf. Kini dia tinggal hubungi Baladewa dan bicara baik. Semoga Baladewa mau terima pernyataan maaf dari Kunti.


"Well...aku sudah laksanakan kemauan kamu dan kamu harus beri aku hadiah."


Arjuna sedang menimbang mau bawa Kunti ke psikiater untuk periksa kejiwaan. Sudah melakukan kesalahan masih berani minta hadiah. Apa wanita ini lupa umur yang kian hari kian mendekati lubang kubur. Umur Arjuna sudah tak muda. Sudah tiga puluh delapan sedangkan Kunti tiga enam. Masa mereka untuk bergaya anak sudah sudah lewat. Herannya Kunti tak menyadari hal itu.


"Belajar lebih dewasa Kunti! Tak semua masalah bisa dinilai dari uang. Belajarlah dari pengalaman kita. Aku harap kau ingat umur. Carilah pasangan yang tepat untuk berumah tangga!"


"Iya aku mau...aku menunggumu sudah cukup lama. Sekarang kau sudah cerai dari Srikandi jadi beri aku peluang untuk dampingi sisa hidupmu. Aku pasti akan penuhi semua keinginan kamu. Aku janji..." Kunti berkata tanpa tahu makna dari kata malu.


"Kunti...kau tahu mengapa aku sengaja tak beri penjelasan pada Srikandi mengenai kejadian hari itu. Aku cuma mau dia maju..."


Kunti malas mendengar alasan Arjuna yang tetap mengaju pada Srikandi. Kalau punya ilmu sihir maunya sihir Srikandi lenyap dari pandangan mata Arjuna. Sekian lama menghilang Kunti tak menyangka kalau suatu saat Srikandi diadakan akan kembali ke sini. Ini merupakan tanda bahaya buat Kunti yang ngotot ingin mendampingi Arjuna.


"Aku pergi dulu...masih ada pasien. Kabari aku bila mereka sudah tiba. Kita makan malam bersama ya! Kau boleh ajak ketiga dokter itu." Kunti melangkah pergi dengan anggun. Gayanya persis peragawati papan atas. Harusnya Kunti tak usah ada di rumah sakit. Dia lebih cocok berada di catwalk pamer keindahan tubuh dalam balutan busana mahal. Sayang karena cinta dia abaikan bakat menjadi peragawati. Terdampar di tempat tak cocok dengan panggilan jiwa.


Arjuna menggeleng tak paham sifat wanita. Sudah berkali Arjuna katakan takkan beri kesempatan pada Kunti namun wanita itu masa bodoh tetap kejar Arjuna tanpa lelah. Pada akhirnya Arjuna juga lelah mengingatkan Kunti bahwa mereka tak mungkin bersatu.


Arjuna harus gercep hubungi dokter Baladewa mengundang dia datang ke rumah sakit untuk dengar permohonan maaf dari Kunti. Arjuna juga hubungi Dokter Alam. Sayang Arjuna tak punya nyali hubungi Srikandi. Dan lagi wanita itu sudah blokir semua nomor kontak Arjuna. Tak ada akses hubungi Srikandi. Jalan satu-satunya adalah minta tolong pada Baladewa undang Srikandi.


Baladewa yang tak menyadari ada sesuatu antara Arjuna dan Srikandi dengan senang hati menerima tugas mengundang Srikandi. Baladewa mengira Arjuna kurang mengenal Dokter wanita itu maka ia bersedia mengundang Srikandi untuk bertemu.


Arjuna melakukannya dengan cepat karena waktu terus berjalan. Telat sedikit mungkin saja dia akan kehilangan kesempatan meraih predikat lebih baik untuk rumah sakitnya. Kunti mana ngerti semua itu, dia hanya tahu gimana pamer harta dan sok hebat di rumah sakit dengan status dokter umum. Spesialis tak ada arti di mata Kunti saking sombongnya.


Srikandi yang masih bersama Utari dan Bisma menerima telepon dari Baladewa. Baladewa menyampaikan keinginan Kunti untuk meminta maaf. Baladewa bukannya orang tak memiliki perasaan maka ingin memberi kesempatan kepada Kunti klarifikasi semua omongan dia.


Srikandi mengetahui ini pasti ulah Arimbi dan Pak Pandu menekan Arjuna untuk meminta Kunti meminta maaf. Mereka bukannya takut kehilangan Srikandi melainkan takut kehilangan kedua bocah tengil itu. Srikandi menduga mereka pasti sedang bersenang-senang di suatu tempat yang tidak diketahui oleh Srikandi. Srikandi tidak meragukan kasih sayang kedua orang tua Arimbi kepada kedua bocahnya. Arimbi juga ada di situ maka Srikandi tidak kuatir sedikit kedua bocahnya pergi tamasya. Dia bisa tenang menyelesaikan masalah yang mulai berdatangan satu persatu.


Srikandi tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti saran Baladewa untuk memenuhi undangan dari pihak rumah sakit. Srikandi telah menjelaskan semua masalah perusahaan papanya kepada Bisma. Bisma seorang lelaki simpati memiliki tatapan setajam maat elang. Laki ini cocok sekali menjadi pengacara karena memang memiliki kharisma sebagai seorang pembela.


Keputusannya kalau Srikandi ada sempat pergi mengambil dokumen di bank untuk dipelajari oleh Bisma. Bisma berjanji akan membantu Srikandi setelah masalah Utari selesai. Kini Bisma ingin fokus pada perceraian Utari dan Duryudana. Utari tak mau Duryudana mendapat harta dari pihaknya karena laki itu sudah kelewatan. Duryudana terlalu yakin pada diri sendiri mengira Utari tidak akan mampu berpaling darinya. Siapa sangka Utari tak beri nilai pada laki itu malah sengaja beri dia istri lain untuk mengaburkan posisi Prita. Tunggu tanggal main jadi duda kere.

__ADS_1


__ADS_2