
Beginilah resiko kalau mengkhianati keluarga. Bukannya mendapat kebahagiaan malah mendapat kebencian seumur hidup. Arjuna belum memiliki rencana tepat untuk mendapat kembali kehangatan dari keluarganya. Tapi dia tak boleh menyerah walau sebesar apapun resikonya. Arjuna sudah bisa membayangkan betapa terjal tebing yang harus dia panjat untuk mendapatkan pengakuan dari kedua bocah itu. Arjuna mengingat tatapan tajam dari Nakula seakan ingin menembus ulu hatinya. Anak itu menyimpan dendam kepada Arjuna.
Matahari sudah bersinar dengan lembut memanggil mereka yang harus segera bertugas. Ini kesempatan bagi mereka untuk meraup rezeki sebanyak-banyaknya. Bagi mereka yang masih betah di tempat tidur maka rezeki sudah duluan dipatok ayam. Rezeki sudah habis dikais yang duluan.
Rumah sakit mulai diwarnai kegiatan banyak terlihat hiruk pikuk orang lalu lalang dengan berbagai keluhan. Ada yang antri datang berobat, ada yang antar sarapan untuk keluarga yang dirawat. Para medis juga satu persatu datang untuk bekerja ganti teman yang semalaman piket.
Arjuna yang nampak lesu segera membersihkan wajah untuk memulai kegiatan sebagai seorang dokter penyakit anak-anak. Tugasnya hari ini adalah melihat kondisi si kembar. Semoga saja keduanya mulai membaik dan bisa pulang ke rumah walaupun Arjuna tidak rela anak-anak itu pergi. Arjuna ingin bisa lebih lama bersama anak-anak itu untuk mengenal mereka lebih dekat namun Arjuna tak bisa menahan mereka karena berada di rumah sakit bukanlah tempat yang baik untuk anak-anak. Kalau sudah pulih mereka harus segera meninggalkan rumah sakit.
Seperti biasa Arjuna mengajak seorang perawat untuk mengontrol bagaimana kondisi si kembar. Arjuna yakin di sana dia pasti akan berjumpa dengan kedua orang tuanya dan adiknya. Suasana canggung pasti akan mewarnai perjumpaan ini terutama dengan Arimbi yang sudah lama tidak pernah bertemu. Arjuna sendiri tidak tahu berapa lama dia tidak bertemu dengan Arimbi.
Arjuna ke sana tanpa mengisi perut duluan walaupun hanya segelas teh manis maupun segala cangkir kopi. Arjuna tak sabar ingin segera melihat kesehatan kedua anak itu untuk meyakinkan diri sendiri bahwa keduanya dalam kondisi stabil. Dalam perjalanan ke ruang rawat Nakula Sadewa Arjuna sedang menatah perasaan sendiri agar tidak nampak kaku di hadapan kedua orang tuanya.
Sesampai di depan ruang rawat Nakula Sadewa Arjuna memberi kode kepada perawat untuk mengetuk pintu. Mereka tetap harus menghormati privasi orang lain walaupun dia seorang dokter. Seorang dokter pun tidak boleh berbuat semena-mena di rumah sakit.
Arimbi yang membuka pintu dan langsung terdiam melihat siapa yang datang. Gadis ini masih terpaku di depan pintu bingung harus mempersilakan Arjuna masuk atau melarangnya masuk karena mereka semua lengkap di situ. Arjuna pasti akan menduga siapa kedua bocah ini sampai kedua orang tuanya bersedia menjaga mereka sampai pagi.
"Mas Juna???" lirih Arimbi belum memindahkan badan beri jalan pada Arjuna untuk masuk. Arjuna dan perawat masih berdiri di luar menunggu akses masuk ke dalam. Namun lama berdiri Arimbi belum bergeming beri jalan. Ntah gadis ini syok lihat abangnya mendadak muncul atau kangen pada abangnya itu.
"Nona...kami mau cek pasien!" sang perawat menyadarkan Arimbi dari bengong.
"Oh maaf..." Arimbi bagai tersadar dari mimpi menyingkir ke samping beri ruang pada Arjuna dan perawat untuk masuk ke dalam.
Arjuna melihat kondisi di dalam masjid dalam keadaan berantakan. Papa dan mamanya masih bergolek walaupun sudah bangun sedangkan kedua bocah itu sudah duduk di atas tempat tidur tidak melakukan apa-apa selain memandang Arjuna dan perawat. Tampaknya mereka juga baru tersadar dari alam mimpi.
"Papa...mama...ngapain di sini?" Arjuna pura-pura terkejut melihat kehadiran orang tuanya padahal dia sudah mengetahui kalau mereka telah ada dari semalam. Mereka pandai bersandiwara Arjuna juga harus pandai imbangi permainan kedua orang tuanya.
"Ini...papa dan mama temani adikmu jaga anak temannya. Arimbi tak berani jaga sendirian." Dewi Madri asal jawab karena sudah tidak memiliki alasan lain.
"Anak teman???? Teman yang mana? Setahu aku Arimbi sudah lama tidak berada di tanah air apa tiba-tiba bisa membawa anak temannya."
__ADS_1
"Itu anak teman lama...sejak kapan seorang dokter cerewet? Mau periksa keduanya bukan? Cepat periksa!" ketus Dewi Madri galak duluan sebelum Arjuna bertanya lebih jauh. Kalau orang bersalah memang begitu, menyerang duluan sebelum diserang.
"Kok mama jadi ketus? Aku makin curiga pada kalian. Sebenarnya ada apa ini? Atau ini anak-anak Arimbi?" Arjuna menoleh ke arah adiknya dengan tatapan mata menuduh.
"Hei sembarangan ya!!! Kapan aku melahirkan? Tanya anak-anak ini siapa induk mereka!" Arimbi naik darah dituduh menghasilkan anak di luar nikah. Arjuna hanya sekedar iseng kata demikian padahal di dalam hati Arjuna tahu hal ini jauh dari kemungkinan.
"Oh gitu ya!! Oke bocah...di mana induk kalian?" Arjuna berjalan ke arah Nakula yang semalam kondisinya lebih parah dari Sadewa. Keduanya memang mirip tetapi Arjuna bisa membedakan kedua anak ini dari sorot mata. Yang satu tatapan matanya setajam elang dan satunya lagi lebih lembut menenangkan hati orang.
"Induk kami? Tuh!!!!" Nakula menunjuk Dewi Madri yang baru saja hendak bangkit dari kasur di lantai. Semua terdiam sesaat lantas Dewi Madri tertawa terbahak-bahak Arjuna kena batu bertanya secara spontan pada Nakula. Keduanya anak cerdas mana mungkin menjerumuskan Srikandi dalam suasana tak enak.
Arimbi dan Pak Pandu juga tidak bisa menahan tawa karena merasa sangat lucu dengan jawaban Nakula yang menuduh Dewi Madri adalah ibu mereka. Sedikitpun mereka tak menyangka kalau Nakula akan memberi jawaban yang sangat menggelikan.
Giliran Arjuna dan perawat itu bengong karena Nakula mengaku anak dari Dewi Madri padahal kalau dilihat dari umur tak mungkin Dewi Madri melahirkan anak sekecil mereka.
"Kau sudah dengar mereka anak siapa. Tunggu apa lagi segera periksa mereka!" Dewi Madri berkata dengan keras agar Arjuna segera melaksanakan tugasnya dan pergi dari situ.
"Terserah kamu mau bilang apa! Kau lihat apa mereka sudah bisa dibawa pulang?" Dewi Madri tidak mau menanggapi ocehan putus asa Arjuna. Arjuna pikir bisa dengan gampang mengorek keterangan dari mereka mengenai kedua bocah ini. Sampai kapanpun Dewi Madri tidak akan mengkhianati Srikandi.
Arjuna tidak bisa berbuat apa-apa selain memeriksa kedua bocah yang tampak sudah lebih sehat. Seharusnya mereka sudah bisa meninggalkan rumah sakit hari ini. Kondisi mereka tidaklah separah yang dia bayangkan. Arjuna memeriksa dengan seksama karena yakin kedua anak ini memiliki ikatan batin dengan dirinya. Arjuna tidak ingin terjadi sesuatu kepada kedua bocah ini walaupun kelak terbukti bukan anaknya. Seorang dokter Arjuna tetap mengharapkan kesehatan sang pasien.
Arjuna menyimpan kembali stetoskop ke dalam kantong baju mengakui kalau keduanya sudah pulih bisa pulang. Mereka tidak boleh sembarangan konsumsi obat bila tidak dalam kondisi kumat karena mereka memiliki riwayat alergi berat maka Arjuna tidak memberi resep obat.
"Well... kedua putra Mama sudah bisa pulang. Kalau mereka adalah anak-anak mama berarti mereka adalah adik-adik aku. Kurasa aku boleh membawa mereka pergi bermain-main kalau lagi liburan. Kalian mau bocah?" Arjuna menatap kedua wajah anak itu satu persatu. Dan makin yakin kalau mereka adalah darah dagingnya. Arjuna biarkan saja mereka berkata apa-apa sampai keterangan DNA keluar.
"Tak boleh... jadwal sekolah mereka sangat padat jadi tak boleh pergi bermain-main." Arimbi langsung mematahkan niat Arjuna ajak kedua anak ini pergi jalan. Ketahuan Srikandi bisa terjadi perang dunia.
"Kini aku ngerti...kalian sering liburan bawa kedua bocah ini bukan? Kalian menolak aku karena adanya kedua anak ini. Apa papa rencana hapus status aku sebagai keturunan Pandawa?" Arjuna menghakimi keluarganya yang mulai berat sebelah sejak kehadiran Nakula Sadewa. Arjuna benar-benar tersingkir dari kehidupan berkeluarga.
"Kamu terlalu banyak pikir yang bukan-bukan... Papa dan Mama tidak mau mengganggu pekerjaan kamu maka tidak mengizinkan kamu mengambil liburan. Bukankah kamu sedang ingin menaikkan akreditas rumah sakit kamu maka kamu harus lebih rajin. Kamu sudah bukan anak kecil lagi Juna. Lakukan apa yang pantas kamu lakukan bukan digentayangi arwah penasaran." tegas Pandu menohok hati Arjuna. Ke sana kemari bicara ujung-ujungnya tetap jatuh kepada Kunti.
__ADS_1
Arjuna tidak tahu seberapa bencinya keluarga dia pada Kunti. Pandangan negatif selalu diarahkan kepada wanita itu padahal Kunti juga sedang memperjuangkan cintanya. Mencintai seseorang itu adalah kemerdekaan dan hak orang itu. Kunti juga berhak mencintai Arjuna cuma dibalas atau tidaknya tergantung pada Arjuna sendiri. Orang lain tak boleh menghakimi Kunti yang telah berjuang untuk bertahan di sisi Arjuna.
"Papa sudah ikutan sama mama... oke kalian berdua sudah boleh pulang dan jangan coba-coba mengulangi kesalahan yang sama. Hari ini kalian masih termasuk alergi ringan. Besok-besok belum tentu akan pulih secepat ini kalau kalian masih melanggar pantangan kalian." Arjuna menyentuh kepala Nakula karena ingin lebih dekat dengan anak ini. Perasaan Arjuna mengatakan kalau anak ini sulit didekati karena jiwanya sangat keras.
"Kami pasti akan datang lagi pak dokter. Sebagai apa kamu belum tahu. Dan terimakasih sudah rawat kami. Petualangan kami kali ini sangat membuahkan hasil dan kami sangat puas." Nakula berkata tanpa menatap Arjuna matanya mengarah ke depan menghadap tembok. Arjuna mencoba memahami apa yang dikatakan Nakula sebagai petualangan. Apakah masuk rumah sakit merupakan satu permainan mengasyikkan buat kedua bocah ini? Apa yang ada di pikiran mereka sampai mempermainkan nyawa sendiri.
"Rumah sakit bukan tempat bermain yang aman buat anak-anak. Pak Dokter tak mengharap kehadiran kalian lagi di sini kecuali data menjenguk seseorang."
"Kami pasti datang karena ada teman kamu juga dirawat. Namanya Safitri penderita leukemia... Pak Dokter harus berusaha menyembuhkan Safitri karena dia anak yang baik. Dia sudah berjanji pada kami akan kuliah bersama-sama jadi Pak Dokter harus berusaha menyembuhkannya. Bukankah di sini ada seorang dokter ahli penyakit kanker yang baru? Pak Dokter harus rekomendasikan Om Baladewa buat Safitri. Dia pasti akan menyembuhkan Safitri." Sadewa menimpali tak sadar telah mengungkap jati dirinya. Sadewa sangat mengenal Baladewa tentu saja ada hubungannya dengan Srikandi. Mereka datang barengan kedua anak ini pasti mengenal mereka.
"Pasti...pasti...teman kalian pasti sembuh asal mau ikuti pengobatan. Kami sedang mencari donor sumsum untuk membantunya keluar dari penyakit ini. Kalian berdua tidak perlu kuatir kalau akan terjadi sesuatu pada Safitri. Dia akan baik-baik saja!" Arjuna menepuk pipi gembul Sadewa bangga pada jiwa welas anak itu. Anak sekecil gini telah memiliki rasa empati yang sangat tinggi. Orang yang menempa minta mereka pastilah orang yang memiliki moral yang sangat tinggi.
"Terimakasih pak dokter...give me a bih hug!" Sadewa sangat bahagia mendengar Arjuna berjanji akan membantu Safitri. Anak ini tak sabar ingin memeluk Arjuna sebagai ungkapan terima kasih. Padahal sejujurnya Sadewa ingin merasakan pelukan seorang papi. Hati kecilnya tidak bisa pungkiri kalau dia merindukan kehadiran sosok seorang papi namun dia juga tidak bisa mengkhianati mami mereka yang telah membesarkan mereka dan susah payah tanpa didampingi seorang lelaki.
Arjuna pun tidak sabar ingin merasakan pelukan dari anaknya. Naluri ke bapak kan Arjuna mengatakan kalau bocah yang berada dalam pelukannya adalah darah dagingnya. Namun sebelum keluar bukti Arjuna tidak bisa klaim kalau kedua bocah ini adalah anaknya. Arjuna masih harus bersabar untuk mendapat pengakuan dari kedua anak ini.
Pandu dan Dewi Madri memalingkan wajah agar tidak meneteskan air mata menyaksikan putranya dan cucu mereka sedang melakukan kontak fisik. Bagaimanapun keduanya menginginkan Arjuna dan kedua bocah itu saling mengenal walaupun telah terbangun tembok tebal antara mereka.
Arimbi tak kuasa menahan air mata menyaksikan Sadewa begitu bahagia mendapat pelukan hangat dari papinya. Satu pelukan yang sudah diidam-idamkan Sadewa dari dulu. Kini dia telah mendapatkannya dengan alasan Arjuna bersedia membantu Safitri.
Secara diam-diam Arimbi menyusut air mata agar Arjuna tidak tahu kalau dia sangat terharu menyaksikan adegan menyentuh hati ini. Andai saja Srikandi mau mengalah sedikit membiarkan kedua bocah ini mengenal Arjuna semua akan lebih baik. Sayang Srikandi telah menutup hati buat Arjuna.
Arjuna tak ingin melepaskan pelukan hangat dari Sadewa. Rasanya dia ingin selalu bersama bocah tampan ini. Arjuna sangat merindukan Srikandi dan dia telah temukan Srikandi dalam diri Sadewa.
Nakula sangat tidak suka Sadewa memeluk Arjuna sehingga pura-pura batuk untuk menyadarkan Sadewa agar melepaskan pelukan yang sangat dia benci.
"Kita bersiap untuk pulang! Kita laki sejati tak boleh cengeng." Nakula berkata tajam seakan mengejek Sadewa anak cengeng. Beda dengan dirinya yang kuat dan tegar.
Sadewa yang hanyut dalam kerinduan sosok papi cepat-cepat melepaskan Arjuna sebelum Nakula nyerocos makin tak sedap. Sadewa pasti akan jadi bulan-bulanan Nakula bila terbawa emosi melankolis. Kata banci tak segan disematkan di depan namanya. Sadewa kenal mulut judes Nakula.
__ADS_1