
"Dasar apa kalian perintah kami?" bentak Kunti tak tahu sedang menghadapi anak-anak super jenius.
"Dasar kami adalah orang sakit... seorang dokter yang baik tidak akan mempersulit pengobatan pasien. Dan lagi seorang dokter yang baik tidak akan memperburuk kondisi pasien. Ibu dari tadi berteriak dan membentak kami, bagaimana kalau kami memiliki riwayat penyakit jantung? Apakah ibu mau bertanggung jawab?" mulut ceriwis Sadewa kembali memojokkan Kunti yang kehabisan kata.
Kunti benar-benar terpojok oleh ulah kedua bocah ini. Kalau bukan berarti di tempat umum ingin sekali Kunti mencekik leher Sadewa agar menghentikan suara dari kerongkongan. Setiap kalimat yang keluar dari mulut anak itu seperti jarum menusuk-nusuk hati Kunti.
Nona perawat menganggap perdebatan ini sudah tidak sehat buat kedua anak yang sedang mengalami sesak dan mimisan itu. Dia harus segera menghentikan perdebatan ini agar kondisi kedua anak ini tidak bertambah buruk.
"Adik-adik...kalian istirahat. Kita tunggu dokter anak sesuai permintaan kalian... kalian anak baik kan? Kalau kalian anak baik patuhi perkataan kakak perawat ya!" Perawat itu berkata dengan lembut kepada kedua bocah yang sedang melontarkan tatapan nanar ke arah Kunti. Mereka berdua tampak sangat berang kepada Kunti.
Untunglah tak lama kemudian Utari dan Arjuna hadir di ruang IGD. Utari sengaja mendatangkan Arjuna yang merupakan seorang dokter anak untuk menangani alergi kedua anak ini. Utari tidak berani sembarangan memberi obat mengingat kedua anak ini masih di bawah umur. kalau salah salah memberi obat bukannya bertambah sembuh malam memperburuk kondisi keduanya.
Arjuna tertegun melihat kedua bocah yang duduk bersandar di brankar rumah sakit. Kedua pasang mata itu juga menatap tajam kepada Arjuna tanpa berpindah dari wajah Arjuna. Mereka berdua seperti sedang meneliti bagaimana sosok dokter yang akan menangani mereka. Walaupun sedang sakit tetapi tidak mengurangi tatapan mata elang milik kedua anak itu.
"Dok..." Utari menyadarkan Arjuna agar segera periksa kedua bocah ini. Waktu terus berlalu akan memperburuk kondisi keduanya bila tidak segera ditangani.
"Oh maaf...kalian kembar?"
"Iya pak...kami kembar dari mami yang sama." sahut Sadewa. Anak ini tidak sesak maka mulutnya bisa lancang. Nakula sesak maka malas bersuara.
"Kalian makan apa di sekolah?"
"Kami dikasih money sama onty dan coba beli makanan pantangan kami yakni es krim."
Hati Arjuna tercekat. Mengapa kedua anak ini mengalami nasib sial memiliki penyakit yang sama dengan dirinya yaitu alergi terhadap makanan dingin. Raut wajah mereka hampir mirip dan sekarang memiliki riwayat penyakit yang sama. Apa di dunia ini banyak hal kebetulan?
"Apakah kalian sering kumat?" Arjuna memeriksa denyut jantung Nakula karena anak itu lebih parah dibanding saudaranya.
"Hampir tak pernah karena kami anak baik... entah mengapa hari ini kami di bisikin setan untuk mencoba makanan dingin itu. Nyatanya kami belum sembuh dari penyakit alergi ini." Sadewa berkata sambil menghela nafas dan menundukkan kepala seperti menyesal. Mulutnya yang mungil berdecak beberapa kali seperti benar-benar ingin tobat. Entah benar-benar menyesal atau sekedar bersandiwara biar dikasihani.
"Lain kali kalian tidak boleh mencoba-coba pantangan kalian karena ini akan merenggut nyawa kalian. Masih untung kalian belum mengalami alergi parah." Arjuna mencoba memberi pengertian kedua bocah ini jangan bercanda dengan maut. Arjuna yang memiliki penyakit yang sama mengetahui bagaimana susahnya bila sedang kumat.
"Dia tuh yang parah! Aku hanya memakan dua suap sedang dia habiskan semuanya." Sadewa menunjuk Nakula yang mulai agak tenang setelah mendapat asupan oksigen.
"Apakah kalian memiliki riwayat alergi terhadap obat tertentu?" tanya Arjuna berharap ada informasi. Namun Arjuna segera sadar tak ada gunanya bertanya kepada kedua bocah ini. Mana mungkin mereka mengetahui jenis-jenis obat yang tak boleh masuk ke tubuh mereka. Mereka hanya anak kecil yang baru tumbuh besar mana ngerti soal pengobatan.
"Tahu pak...kami ini alergi terhadap semua obat mengandung penisilin dan antihistamin. Kami punya obat khusus yang hanya diketahui oleh mami kami. Kayaknya sejenis chlorpheniramine."
__ADS_1
Utari syok mendengar anak sekecil ini mengerti sekali jenis obat. Apa karena sering sakit sehingga hafal jenis obat. Sungguh anak luar biasa. Arjuna tak kalah salut sama seperti Utari. Lain dengan Kunti pilih bungkam karena hampir membuat kesalahan fatal mau beri injeksi antihistamin pada kedua bocah ini. Untung tidak terjadi karena akan bawa akibat fatal.
"Terimakasih informasinya. Sekarang kalian tiduran biar cepat sembuh. Mana mami kalian?"
"Mami kami...." Sadewa mau menjawab namun dipatahkan oleh Nakula. Nakula sengaja berdehem kencang beri kode pada Sadewa untuk tutup mulut.
Arjuna melirik Nakula yang lebih pendiam. Nakula tampak lebih dewasa dari Sadewa dengan sikap cool. Sadewa tahu kode Nakula segera menutup mulut pakai tangan menyatakan takkan bicara.
"Mereka diantar gurunya pak Juna..." perawatnya masih mendampingi Nakula Sadewa memberi laporan pada Arjuna.
"Aku akan beri resep dan berikan obat sesuai dosis. biarkan mereka dirawat semalam untuk lihat perkembangan kesehatan mereka. Aku akan bicara dengan guru mereka. Dan kalian anak-anak jangan banyak ngobrol. Nanti di antar ke ruangan dan tidur ya! Aku akan lihat kondisi kalian satu jam ke depan."
Nakula Sadewa kelihatan sangat gelisah mendengar mereka harus dirawat di rumah sakit. Keduanya sudah membayangkan kuku runcing Arimbi menjewer kuping mereka. Dari awal Arimbi sudah wanti-wanti pada mereka tidak boleh membeli jajanan yang berupa makanan dingin. Dan mereka langsung melanggar peringatan yang diberikan oleh Arimbi. Masih untung mami mereka tidak berada di tempat karena sedang seminar di kota lain. Kalau tidak keduanya pasti mendapat hukuman berlipat ganda.
"Pak..kami pulang saja ya! Kami janji tidak akan makan es krim lagi. Kami akan sembuh bila mendapatkan suntikan obat." pinta Sadewa memelas pada Arjuna agar diijinkan pulang. Anak itu merangkapkan tangan di dada memohon Arjuna melepaskan mereka pulang.
"Adik kecil... selama kalian masih belum pulih kalian tetap harus menginap di sini. Jadi kalian harus patuh tak boleh melanggar perintah dokter." Arjuna menepuk tangan yang masih berada di dada. Arjuna merasakan kehangatan tangan mungil itu. Ada perasaan aneh tatkala menyentuh tangan mungil itu. Perasaan Arjuna seperti kena siraman air surga menunjukkan hati.
Arjuna sama sekali tidak tahu kalau kedua bocah di depannya adalah darah dagingnya. Arjuna hanya merasakan kalau kedua bocah ini memiliki 80% kemiripan dengan dirinya. Namun siapa orang tua anak ini masih menjadi pertanyaan buat Arjuna.
Utari benar-benar dibuat geli oleh kelucuan Sadewa. Orang tua mana beruntung memiliki anak calon pelawak masa depan. Utari gemes bukan main pada sepasang anak kembar itu. Bagaimana lah orang tuanya bisa punya anak seperti Nakula Sadewa.
"Nginap boleh tapi kami mau tanya apa rumah sakit ini bebas dari makhluk gaib penggoda iman manusia? Kami paling takut makhluk bernama setan terutama yang namanya kuntilanak. Konon suka mangsa anak kecil dan goda imam lelaki. Lelaki yang tak punya iman cepat terlena dan lupa daratan. Lupa pada keluarga, lupa punya anak istri. Itulah bahayanya setan keliaran." Nakula nyeletuk membuat Utari dan perawat mau ketawa. Kalimat Nakula seakan ditujukan pada Kunti yang pasang muka kecut. Lebih kecut dari cuka asli.
Arjuna tertegun merasa kalimat Nakula dihujamkan pada dirinya. Padahal mereka tak saling kenal mengapa anak kecil ini mengeluarkan kata-kata seolah tahu masa lalu Arjuna. Arjuna menepis pikiran jelek dari mulut Nakula. Mungkin anak beneran takut pada setan. Anak ini kelewat banyak nonton film horor sehingga terbawa ke alam nyata.
"Di sini tak ada setan...di dunia mana ada setan? Itu hanya karangan orang untuk mencari keuntungan dari penakut. Kalian anak pemberani mana takut setan. Kalian nginap ya!"
"Siapa bilang tak ada setan...kami pernah dengar kisah setan goda seorang lelaki sehingga tinggalkan keluarga ikut setan itu pergi. Kami yakin setan itu ada bahkan ada di sekeliling kita. Setan itu seram, sok tahu dengan otak seupil. Hanya bisa berkoar tak ngerti mana benar dan salah." sambung Nakula ngotot pertahankan argumentasi ada setan.
"Bukan berkoar Nakal...tapi menjerit. Kuntilanak itu menjerit menyedihkan kecewa karena sukses menjerat mangsa tapi tak bisa mendekat. Ada sekat alam manusia dan setan maka mereka tak bisa bersatu." Sadewa menambah kisah setan bikin kepala Arjuna makin puyeng. Anak siapa ini punya mulut runcing menyindir orang. Arjuna tak tahu apa yang pernah dialami kedua anak ini sampai begitu benci pada setan.
Kunti merasa punggungnya ditusuk ribuan jarum karena setiap perkataan kedua anak itu seolah-olah ditusukkan ke punggungnya. Kunti tak tahu kebetulan namanya Kunti sehingga dihubungkan dengan kuntilanak. Lalu apa hubungannya dengan kedua anak itu sampai mengeluarkan kalimat tak sedap tentang kuntilanak.
"Adik kecil...kalian istirahat saja! Aku yakin di sini tak ada setan. Aku akan bicara dengan orang tua kalian agar kalian dirawat sampai benar-benar hilang gejala alergi. Kalian pantau keduanya sampai masuk ruang rawat." Arjuna pilih pergi dari situ sebelum tenggelam dalam sindiran kedua bocah itu.
Setiap kalimat yang keluar dari mulut kedua anak itu seolah ditujukan kepada Kunti dan dirinya. Kunti dianggap seperti setan dan dirinya adalah lelaki tak beriman.Mengapa di dunia ini banyak sekali kemiripan dan kebetulan. Wajah mirip, penyakit mirip dan sekarang karang cerita mirip kisah hidupnya. Siapa sebenarnya kedua bocah itu.
__ADS_1
Kunti yang melihat Arjuna meninggalkan ruang IGD segera mengikut dari belakang. Kunti juga merasa tidak enak di sejajarkan dengan kuntilanak padahal kedua anak itu tidak menunjuk dirinya. Hanya perasaan Kunti sendiri yang merasa dianggap seperti kuntilanak.
Utari segera memeriksa kembali kondisi kedua bocah itu. Utari yang merasa sangat suka kedua bocah ini bersikap lebih ramah dan lembut agar mereka tidak menyamakan dia dengan setan. Pemahaman anak-anak kan berbeda dengan pemahaman orang tua. Mereka bicara berdasarkan jiwa polos mereka. Apa dirasa itu yang ditumpahkan.
"Bagaimana perasaan kalian sayang?" tanya Utari sambil membelai kepala Nakula. Utari membelai Nakula karena dia lebih parah dari saudaranya Sadewa. Sadewa sudah tampak sehat setelah mimisan berhenti sedangkan Nakula masih tersisa berat bernafas.
"Sudah enak Bu dokter...bolehkah kami pulang bersama guru kami? Onty kami itu galak banget..." tanya Nakula berharap Utari lebih lembut hati mau bebaskan mereka dari penjara rumah sakit.
"Begini anak ganteng...kalian istirahat dulu di sini beberapa jam. Kalau sesak hilang samasekali kalian boleh pulang. Berhubung di sini banyak kuman maka kalian harus dipindahkan ke ruang lebih bersih. Kalian akan ditempatkan di ruang lebih nyaman. Ok?"
Nakula dan Sadewa tak bisa merengek lagi. Utari sudah maksimal membantu mereka tapi bila sesak berulang maka keduanya harus tetap berada di rumah sakit.
"Iya deh Bu dokter...kami patuh."
"Ibu kalian mana? Mengapa harus onty yang urus kalian?"
"Mami sibuk seminar jadi onty yang jaga kami. Bu dokter sangat cantik seperti mami kami. Apakah Bu dokter punya anak seperti kami?" Sadewa bertanya sambil menatap bola mata Utari. Kali ini mata Sadewa menampilkan mata lugu yang bening tanpa kilatan emosi. Sadewa menyukai Utari yang baik pada mereka.
"Bu dokter tidak seberuntung mami kalian mempunyai anak-anak lucu kalian. Apakah mami kalian juga seorang dokter?"
Sadewa mengangguk membenarkan tebakan Utari. Anggukan kepala Sadewa memperkuat dugaan Utari kalau orang tua anak-anak ini juga seorang dokter karena keduanya sangat memahami pengobatan. Keduanya telah diperkenalkan dengan kedokteran sejak dini.
"Di mana mami kalian? Kok tidak datang?"
"Lebih baik tidak datang...kami bisa dihukum bila ketahuan melanggar perintah beliau. Onty kami galak tapi masih ada toleransinya."
"Oh gitu...mulai saat ini jangan melanggar lagi ya! Sudah tahu tak boleh makan tapi dimakan. Itu sama saja kalian sengaja membantah. Bu dokter antar kalian ke ruang rawat ya! Apa kalian mau jumpa guru kalian dulu?"
Sadewa cepat-cepat angguk. Dia harus memohon pada sang guru untuk tidak lapor pada maminya kejadian ini. Sadewa takut melukai hati Srikandi punya anak pembangkang. Di hukum berat tak masalah asal Srikandi tak bersedih.
"Baik..." Utari segera keluar mencari guru yang antar kedua bocah itu. Utari yakin guru itu juga ketakutan setengah mati lihat kondisi muridnya. Baru kali ini mereka menemukan kasus begini selama bekerja sebagai guru.
Guru wanita berhijab tampak lega melihat kondisi Keduanya membaik. Semula dia mengira bakal menemukan masalah besar. Untunglah keduanya cepat pulih.
"Apakah kalian baik saja?" guru itu berdiri di antara Nakula Sadewa yang berbaring di bed berbeda.
"Sangat baik Miss...maafkan kami telah membuatmu repot. Kami janji takkan ulangi kesalahan sama." Nakula lebih dewasa tak sungkan mengaku salah.
__ADS_1