KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN

KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN
Mengejar Cinta


__ADS_3

Arjuna sangat berterimakasih pada Bima. Arjuna tak mau tahu tujuan Bima membantu nya ungkap siapa orang tua Nakula Sadewa. Demi Arimbi juga hak Bima. Yang penting Bima telah beri solusi buat Arjuna memecahkan persoalan dia. Arjuna yang biasa bijak dan arti kini tampak seperti orang linglung tak punya akal sehat.


"Terima kasih kawan...aku sangat terbantu."


"Itulah gunanya punya adik ipar model aku. Doain aku jadian lagi sama Arimbi. Aku pasti akan lebih berguna lagi."


Baru saja mulut Bima terkatup barang dalam kantong baju menjerit. Suara nada dering lagu dangdut bergema dalam ruangan kerja Arjuna. Arjuna tak sangka kalau selera Bima sangat merakyat sampai nada dering dipasang lagu kesukaan dia.


Bima merogoh saku baju mengeluarkan barang mahal keluaran tahun terkini. Gawai di tangan kadang menunjukkan status sosial seseorang. Makin mahal benda kebutuhan seantero dunia maka sudah pasti orang itu akan dipandang tinggi. Semakin canggih teknologi sekarang hasilkan barang pinter kalahkan fungsi manusia.


"Halo...ya?" Bima seperti sudah tahu siapa yang menghubungi dia langsung berubah rona wajah mengarah agak cemberut.


"Katanya sudah selesai piket kok tidak pulang rumah? Ini sudah ada Tante Rumi dan Aniruda di rumah. Mama kan sudah bilang kalau hari ini Tante kamu itu akan datang berkunjung bersama anaknya."


"Aku sih sudah lepas piket tapi mendadak ada tugas lain. Ada seekor singa di kebun binatang sedang sakit gigi maka aku harus ke sana untuk mencabut giginya. Kurasa Mama tidak usah menunggu aku pulang. Mama ngobrol aja dengan tante Rumi. Aku masih banyak kerja. Maaf ya ma!" Bima segera menutup ponsel tanpa persetujuan dari mamanya.


Bima heran mamanya tidak bosan-bosan memperkenalkan wanita kepadanya padahal sudah berkali Bima bilang tidak pernah tertarik pada wanita manapun selain Arimbi. Mungkin mamanya sudah bosan mendengar alasan Bima menolak wanita maka tidak pernah menyerah untuk memperkenalkan wanita cantik kepada anaknya itu.


Arjuna bisa menduga apa yang telah dikatakan oleh mamanya karena Bima menolak dengan cara yang sangat tidak sopan. Sejak kapan dokter gigi Rumah sakit disuruh mencabut gigi harimau di kebun binatang. Sudah jelas itu hanya alasan Bima untuk menghindari kencan buta yang diatur oleh mamanya.


Bima menyimpan ponselnya dengan santai seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa. Bukan sekali dua kali kejadian ini terulang-ulang. Bima saja sudah bosan memberi alasan untuk menolak kencan yang diatur oleh mamanya itu.


"Apa kamu tidak durhaka bohongi mamamu?" Arjuna merasa iba kepada Mama Bima yang selalu kena bohong.


Bima mengedik bahu tanda tak punya pilihan lain selain berbohong. Sampai detik ini Bima tidak bisa menerima kehadiran gadis lain di dalam hatinya selain Arimbi.


"Kau sudah lihat bagaimana nasibku bila tidak segera mendapatkan Arimbi kembali. Kau tidak usah khawatir aku akan mengikuti jejakmu berselingkuh. Aku laki paling setia di bumi ini. Mungkin aku ini satu-satunya laki di permukaan bumi tidak akan menyimpang dari kisah cinta."


Arjuna sangat tidak senang Bima mengingatkan kesalahannya. Bima tidak mengetahui persis apa yang terjadi maka membuat opini sendiri. Di mata orang tetap saja Arjuna yang salah telah mengkhianati Srikandi. Jangankan orang lain berpikir begitu keluarganya sendiri juga menganggap Arjuna ini adalah seorang lelaki nakal.


"Pergilah! Aku ingin sendiri..." Arjuna mengusir Bima tanpa belas kasihan. Makin lama Bima duduk di situ makin pusing kepala Arjuna mendengar ocehan sahabatnya itu. Arjuna hanya ingin merenungi semua yang telah terjadi dalam hidupnya hanya karena terlalu lembut hati kepada wanita. Arjuna tidak pernah bisa kasar pada wanita walaupun Kunti telah berkali-kali melakukan kesalahan fatal.


"Oke...oke... secepatnya kamu bertindak sebelum kedahuluan oleh Srikandi." Bima berkata sambil melangkah keluar dari ruang kerja Arjuna.


Sebenarnya nasib mereka juga sama karena sama-sama kehilangan wanita yang dia cintai. Arjuna kehilangan Srikandi gara-gara terlalu memberi peluang kepada Kunti sedangkan Bima kehilangan Arimbi gara-gara Arjuna berselingkuh sehingga Arimbi memilih menemani Srikandi. Kemalangan Bima juga berasal dari satu kasus yang sama yakni kebodohan Arjuna.


Di dalam ruang rawat Nakula Sadewa masih terdapat keluarga Pandawa minus Arjuna. Pandu sangat kuatir melihat kondisi kedua cucunya yang tampak belum 100% pulih terutama Nakula. Nafas Nakula masih tersengal-sengal walau tidak parah. Denyut perutnya lebih kencang dari Sadewa yang lebih stabil. Sadewa telah aman karena semua tampak normal.

__ADS_1


Pandu mondar-mandir di dalam ruang rawat cucunya karena sedang memikirkan cara ampuh untuk menghindari Arjuna. Entah mengapa Pandu juga tidak rela Arjuna mengenal anaknya selama masih bersama Kunti. Pandu takut suatu saat Arjuna benar-benar menikahi Kunti dan membawa kedua anak ini ke dalam hidupnya pasti akan mendapat bencana dari wanita jahat itu.


"Aduh pa... jangan mondar-mandir seperti setrika! Kepala mama jadi ikut pusing!" Dewi Madri merasa terganggu oleh ulah Pandu bolak-balik berjalan di sekitar ruang rawat yang tidak lebar.


"Kita mesti pikir cara agar Arjuna tidak curiga kedua bocah ini adalah anaknya. Kalau kita membawa mereka keluar dari rumah sakit dan memindahkannya ke rumah sakit lain ini malah akan mendatangkan pertanyaan besar di kepala Arjuna. Apa yang harus kita katakan kepada anak itu?" Pandu mengetuk kepalanya sendiri dengan jari tangan seperti mengharap turunnya wangsit agar bisa berpikir lebih jernih.


"Bim punya ide... gimana kalau kita katakan kedua bocah ini adalah anak papa dari bini muda?" celetuk Arimbi langsung mendapat hadiah ketukan kepala oleh Papanya itu. Sungguh ide yang sangat buruk mencoreng nama baik Pandu Pandawa yang terkenal alim itu.


Dewi Madri tidak marah-marah tertawa geli mendengar ide anaknya itu. Satu ide yang sangat tidak masuk akal karena Arjuna pasti tidak percaya Papanya akan melakukan hal tidak terpuji.


"Begini saja... katakan saja ini anak saudara jauh papa. Orang tuanya sudah bertugas di luar negeri dan menitipkan keduanya pada kita untuk sementara. Mau percaya atau tidak terserah dia! Kita tidak boleh kalah gertak dari Arjuna." Dewi Madri memberi usul lain yang lebih sederhana.


"Aduh mamaku sayang... katanya tadi mas Juna mau tes DNA. Ini sudah pasti tidak bisa membohongi dia lagi. Mama pikir mas Juna itu besar karena makan kotoran sampai otaknya jadi busuk? Dia itu seorang dokter yang cukup terkenal punya otak encer. Tuh Sadewa mewarisi kepintaran mas Juna!" Arimbi menatap ke wajah Sadewa yang begitu damai dalam tidurnya.


Sungguh malang nasib kedua bocah ini. Memiliki papi yang ganteng dan pintar tetapi tidak bisa diakui. Mereka bahkan mempertaruhkan nyawa mereka hanya untuk melihat Arjuna. Sekarang mereka sudah melihat sosok tapi mereka entah apa yang dipikirkan kedua anak itu.


"Ini salah itu salah... jadi kita harus bagaimana?" Dewi Madri bingung sendiri tak mendapat solusi tepat untuk menghindari Arjuna.


"Begini saja... untuk sementara kita biarkan keduanya di sini sampai malam. Kalau mereka sudah enak kan kita bawa pulang ke rumah dan istirahat di rumah saja."


"Ya ampun pak Pandu... tanpa izin dokter keduanya tidak bisa keluar rumah sakit kecuali kita minta surat rujukan pindah ke rumah sakit lain. Papa kok jadi aneh tidak ngerti peraturan?"


"Papa balik kantor dulu... sebentar lagi Papa masih ada meeting investor dari luar negeri. Setelahnya bapak akan segera balik ke sini untuk mencari solusi terbaik."


"Mama ikut ya! Mama mau pulang memasak bubur jahe untuk mereka. Mereka akan cepat pulih bila mendapat makanan hangat. Mama sudah hafal bagaimana cara menangani penyakit ini bila kumat. Sudah puluhan tahun Mama merawat Arjuna jadi sudah memahami seluk beluk penyakit ini. Mungkin setelah makan bubur mereka akan pulih kembali. Dan mereka bisa pulang ke rumah. Kalau pulang ke rumah jangan pulang ke rumah Srikandi tetapi pulang ke rumah kita agar kita bisa memantau mereka sampai benar-benar pulih."


Arimbi tidak memiliki jalan lain selain mengikuti perkataan kedua orang tuanya menjaga kedua bocah ini untuk sementara waktu. Semoga saja sampai malam keduanya telah stabil kembali dan bisa pulang.


"Iya..Cepat balik ya! Bim takut mas Juna tiba-tiba datang tanya ini itu."


Arimbi juga ngeri membayangkan kalau Arjuna datang mencercanya dengan berbagai pertanyaan. Apa yang bisa dia katakan bila ditanya dari mana asal kedua bocah ini. Apa Arimbi mau mengaku kalau butuh kedua bocah ini adalah anaknya seperti dia mengaku kepada Bima. Bukan tidak mungkin Arjuna akan marah besar bila Arimbi membuat pengakuan yang tidak masuk akal.


"Kami akan segera balik... kamu jangan tinggalkan mereka ya!" Dewi Madri mengambil tasnya bersiap mengikuti suaminya untuk pulang ke rumah memasak makanan hangat untuk kedua cucunya.


Pandu juga bersiap untuk kembali ke kantor melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Soal kesehatan Pandu tidak perlu khawatir lagi keduanya nampak stabil. Yang penting sesak Nakula telah normal maka mereka bisa pulang.


Arimbi ditinggal sendirian di dalam kamar perawatan Nakula Sadewa. Gadis ini menatap kasihan kepada kedua keponakannya yang sangat pengertian itu. Kedua anak itu sangat memahami perasaan Srikandi maka tidak pernah sekalipun mereka bertanya soal papi mereka. Kecil-kecil sudah memiliki jiwa lelaki sejati. Arimbi tentu saja bangga memiliki keponakan yang luar biasa ini.

__ADS_1


Arimbi ditinggal sendirian menjadi ngantuk. Gadis ini melemaskan badan di kursi mencoba memejamkan mata sambil menunggu kedua keponakannya bangun. Gadis ini tidak tahu kalau dari luar ada sepasang mata mengintip gadis yang mulai terlena mencari mimpi yang dia inginkan. Mata itu menetap Arimbi berulang kali dengan tatapan mata sayu.


Berjuta-juta kerinduan menumpuk di kelopak mata yang agak buram itu karena berembun. Lelaki itu Bima mencuri pandang terhadap Arimbi lewat pintu kamar. Bima sendiri tidak tahu seberapa banyak kerinduan telah dia tumpuk di dalam dada terhadap gadis ini. Masih adakah ruang untuk menyimpan kerinduan yang makin menyesak di dada.


Sepasang mata kecil perlahan terbuka melihat ke sekeliling lantas berhenti di depan pintu seakan dia menangkap bayangan di luar kamar. Sadewa telah duluan bangun menyadari ada seseorang sedang mengintip mereka di dalam. Sadewa tidak melihat dengan jelas siapa yang berada di luar kamar.


Orang itu tampaknya tidak bermaksud jahat karena tidak melakukan gerakan apapun selain hanya mengintip mereka. Sadewa yang sedikit masak turun dari tempat tidur berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang menjadi tukang intip itu.


Bima yang berdiri di pintu sangat kaget melihat sosok kecil itu tiba-tiba berjalan ke arah pintu. Belum sempat Bima kabur pintu telah terbuka menampakkan sosok yang baru sembuh dari sakit telah berdiri dengan tatapan heran ke arahnya.


"Om???? Om dokter juga?" tanya Sadewa seperti masih ingat Bima.


Bima agak malu ketahuan sedang mengintai anak-anak itu di dalam kamar. Untuk menjaga wibawanya Bima menurunkan badan agar sejajar dengan anak kecil itu. Bima memperlihatkan wajah yang ramah agar tidak menakuti Sadewa.


"Kamu masih ingat om?"


"Masih dong! Om yang mengejar kami waktu itu? Om bertugas di sini?" Sadewa berjalan keluar tidak memperlihatkan rasa takut kepada Bima. Sikapnya sangat tenang seperti sudah pernah kenal Bima sejak lama.


"Iya... bagaimana perasaanmu sekarang? Apa sudah enakan?"


"Alhamdulillah sudah om...ayok kita duduk di situ! Onty dan Nakula sedang tidur. Kita ngobrol di sana saja!" Sadewa bangku panjang yang bersandar di dinding sepanjang lorong rumah sakit.


Bima sangat salut pada sikap Sadewa yang seperti orang dewasa. Dia tidak memperlihatkan sikap bubuk maupun takut kepada orang yang baru dia kenal. Bahkan berani mengajak Bima ngobrol.


"Apa yang mau kamu katakan pada om?" Bima menggandeng Sadewa tahu anak ini baru pulih dari alergi berat. Bima harus bisa menjaga kondisi Sadewa agar tetap stabil karena dia juga seorang dokter walaupun bukan bidangnya merawat Sadewa.


Bima mendudukkan Sadewa lalu duduk sebelahan dengan bocah ini mau tahu mengapa dia ajak Bima ngobrol. Baru kali ini Bima jumpa bocah pemberani. Sikapnya tenang menghanyutkan bikin Bima gregetan.


"Om mantan pacar onty kami?" Sadewa bertanya langsung ke sasaran.


Bima gelagapan ditodong tanpa filter. Sadewa menyebut Arimbi onty berarti keduanya bukan anak Arimbi. Bima makin yakin kalau anak ini anak Arjuna. Kalau bukan anak keluarga dekat tak mungkin Sadewa memanggil Arimbi onty.


"Apa onty kalian cerita? Bukankah kalian anak Arimbi?"


Sadewa tertawa kecil perlihatkan dekik warisan Arjuna. Dua lubang kecil hiasi pipi bila tersenyum maupun tertawa. Ciri khas Arjuna telah ada penerus.


"Om mau anggap begitu juga boleh...tapi setahu kami onty belum pernah punya pacar. Kelihatannya dia masih sayang pada om. Aku beri saran kejarlah cinta om bila ada sayang."

__ADS_1


Bima melongo tak percaya yang bicara di depannya adalah bocah kecil masih bau kencur. Dia mengupas perasaan Arimbi mulus seolah memahami isi hati Arimbi.


__ADS_2