Kesemsem Guru Bahasa Arab

Kesemsem Guru Bahasa Arab
Pengorbanan


__ADS_3

Bu Rahma tidak bisa lagi menawar setelah suaminya memberikan izin dengan syarat ia yang akan memastikan bahwa anaknya baik-baik saja sampai tujuan.


Vita sulit memejamkan mata saking bahagianya, ia terus membayangkan bagaimana ekspresi ustadz Dafi melihat kedatangannya, terutama kejutan yang sudah ia persiapkan dengan susah payah.


*****


Rintik suara hujan terdengar di atas atap rumah. Entah sejak kapan ia terlelap dan kini baru saja terjaga dari tidurnya. Melihat jam dinding kemudian beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. Waktu sudah memasuki subuh, setelah mandi dan berwudhu, Vita menunaikan shalat subuh sendirian.


"Lo udah shalat, Vit?"


"Udah dong."


"Gak bangunin gue."


"Lo tidur kek kebo mati, susah di bangunin."


"Sialan lu!" Vita terkekeh.

__ADS_1


Lala segera beranjak dari ranjang dan ke kamar mandi. Ia tak ingin terlambat dan mengecewakan sahabatnya yang ingin memberikan ustadz Dafi kejutan di rumahnya.


Singkat cerita mereka telah sampai di rumah ustadz Dafi. Pak Rahmat memilih pulang setelah mengantar anaknya sesuai perjanjian semalam. Vita mengeluarkan kue dari dalam plastik kemudian membuka tutup kotaknya. Sementara Lala menyalakan beberapa lilin dan menancapkannya di sudut-sudut kue.


Dengan perasaan yang tak karuan rasanya, Vita memberanikan diri mengetuk pintu. Ia berharap semoga ustadz Dafi yang membukakan pintu untuk mereka.


Keberuntungan memihak, setelah melihat sosok ustadz Dafi berdiri di depan pintu, Vita menyodorkan kue dengan lilin menyala di atasnya sambil bernyanyi.


Ustadz Dafi terbelalak terkejut dengan kedatangan mereka ke rumahnya.


Tak lama kemudian datanglah wanita paruh baya masih terlihat cantik menghampiri mereka.


"Daf, gak baik bersikap seperti itu kepada tamu," tegurnya.


"Tapi mereka itu hanya anak murid di tempat Dafi mengajar, Umi."


Sedetik kemudian Vita barulah mengerti bahwa wanita paruh baya itu adalah Ibunya ustadz Dafi. Ia tersenyum sendiri membayangkan ustadz Dafi akan memperkenalkannya sebagai calon mantu.

__ADS_1


"Hei, anty kenapa senyum-senyum? Sana pulang!"


"Kok ustadz nyuruh kami pulang sih? Harusnya ustadz itu berterima kasih sama kami karna udah kasih kejutan."


"Kalian tau gak ini jam berapa, hah? Bertamu gak tau waktu," ucapnya dengan kesal. Wajahnya merah padam menahan emosi.


Vita yang awalnya sangat bersemangat, tiba-tiba saja ia harus menahan sedihnya. Ia menunduk, menyembunyikan matanya yang sudah berkabut. Jika dirinya berlama-lama di sana, sudah pasti cairan itu akan mengalir dengan derasnya.


"Saya minta maaf, ustadz! Saya hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun," ucap Vita sambil menyodorkan kue.


Bukannya menerima dan di sambut dengan baik, ustadz Dafi justru menepisnya dengan cepat. Alhasil kue hasil jernih payah Vita menahan lapar berhari-hari di sekolah akhirnya jatuh ke tanah dengan posisi tertelungkup.


Melihat pengorbanannya sia-sia, tak dihargai, bahkan diabaikan, runtuh sudah air matanya. Vita melangkah mundur sambil menunduk supaya tidak ada yang melihat derasnya aliran air yang jatuh di pipinya.


"Saya minta maaf, ustad telah menganggu. Saya pamit! Mungkin ustadz belum bisa terima saya, tapi saya janji besok akan saya tanyakan lagi apa ustadz Dafi sudah mencintai saya?" Lirihnya sambil bersusah payah menahan tangis.


Lala yang melihat sahabatnya berjalan mundur, ia mendekati ustadz Dafi dan berteriak dengan lantang."Ustadz bener-bener keterlaluan, tidak bisakah sedikit menghargai pemberian orang? Kalau tidak suka orangnya setidaknya terima kuenya. Karena ustadz gak pernah tau pengorbanan apa yang Vita lakukan demi bisa mendapat kue itu. Dasar manusia gak punya hati!"

__ADS_1


❣️TBC❣️


__ADS_2