Kesemsem Guru Bahasa Arab

Kesemsem Guru Bahasa Arab
Adek?


__ADS_3

Pagi ini, Vita diminta Umi Hilda untuk menemaninya belanja di pasar. Kebutuhan di dapur umum sudah mulai menipis, rencananya Umi mau membeli banyak ikan untuk persediaan lauk para santri. Untuk sayuran sendiri, pesantren memiliki kebun sayuran yang cukup luas sehingga hasilnya bisa dimakan dan sebagian lagi di jual ke pasar.


"Kita naik apa, Mi?" Tanya Vita di sela-sela langkahnya yang mengikuti Umi Hilda dari belakang.


"Mobil Abah aja, mumpung beliau hari ini gak ada jadwal dakwah."


"Emangnya Umi bisa bawa mobil?" Tanya Vita diiringi candaan.


"Gak, Umi gak bisa bawa mobil. Itu dia supir kita kali ini," ucap Umi membuat Vita memfokuskan diri melihatnya.


Wajah Vita bersemu, buru-buru ia menundukkan kepalanya. Bersitatap dengan ustadz Dafi membuat irama jantungnya berdisko, ingin rasanya ia berjingkrak-jingkrak saat itu juga tapi keadaan tidak memungkinkan. Bisa-bisa aku diruqiah sama Abah.


Vita tersenyum melihat bagaimana tampannya ustadz Dafi dengan pakaiannya yang selalu cocok dengan tubuh dan juga wajahnya. Apapun warna dan model bajunya, dia selalu terlihat tampan.


"Mari, Umi!" Ustadz Dafi mempersilahkan Umi Hilda untuk segera memasuki mobil. Umi Hilda mengangguk, dan mendudukkan dirinya di kursi belakang kemudi begitupun dengan Vita yang duduk di sampingnya.


Di dalam mobil, sesekali Umi Hilda bertanya kepada ustadz Dafi. Mulai dari kapan menikah, bagaimana kabar Umi Kulsum serta Fitri, dan bagaimana ia selama di kairo?


Vita hanya menjadi pendengar keduanya yang saling bertukar cerita. Ustadz Dafi terlihat mencuri pandang melalui kaca spion yang ada di depannya. Sesekali mereka saling bersitatap, Vita memalingkan wajahnya ketika ustadz Dafi memergokinya tengah memandang.


Rasanya semakin tak karuan saat melihat senyum tipis ustadz Dafi.


Mobil berhenti di parkiran, umi Hilda bergegas turun, sedetik kemudian Umi Hilda meminta Vita mengambilkan dompetnya yang tertinggal di mobil. Vita kembali membuka pintu mobil berniat mengambil dompet Umi Hilda yang tertinggal. Melihat ustadz Dafi yang tak kunjung turun membuat Vita salah tingkah dibuatnya.


"Dek, boleh ya minta tolong beliin simcard?! Tempatnya ada di lorong sebelah kanan," ucap ustadz Dafi mengulurkan beberapa lembar uang kepada Vita.


Vita terbengong, sejak kapan aku menjadi adeknya? Selain hobi mengubah nama sesuka hati, ternyata ustadz Dafi juga sembarangan menganggap seseorang sebagai adeknya. Kemana panggilan Anty yang selalu ia tunjukan padaku? Apakah sekarang dia menganggapku adek? Kenapa gak panggil sayang, honey kek, darling kek atau cintaku atau apalah yang mesra dikit.

__ADS_1


"Ustadz panggil saya adek?"


Ustadz Dafi mengangguk,"Memangnya kenapa, tidak boleh ya?"


"Ustadz, aku ini calon masa depanmu, harusnya jangan adek dong, gak romantis banget jadi cowok."


Ustadz Dafi terkekeh, dia jadi lebih sering tersenyum mendengar gombalan Vita sekarang. Tidak seperti dulu, apa-apa takzir, apa-apa marah, ketus, judes, ah pokoknya gak enak dipandang.


"Sudah sana! Umi nungguin. Jangan lupa simcardnya!" Ucapnya lagi, Vita menerima uang dari tangan ustadz Dafi dan segera menyusul Umi Hilda yang sudah lebih dulu memasuki pasar.


Vita membantu memilih ikan yang masih segar. Kata Umi, hari ini mau mayor, jadi beli ikan rada banyak. Setelah mendapatkan apa yang dicari untuk kebutuhan pesantren, Vita meminta izin membeli sesuatu, namun lebih tepatnya simcard pesanan ustadz Dafi. Vita melangkah pergi menuju arah lorong sebelah kanan seperti yang ustadz Dafi bilang. Di sana terdapat sebuah konter yang sangat lengkap isinya.


Seperti biasa, kedatangan pelanggan disambut baik oleh mbak penjualnya. Vita kebingungan memilih simcard sesuai pesanan ustadz Dafi. Pasalnya ia langsung pergi dan tidak menanyakan simcard apa pesanannya. Vita melihat nomor yang sangat cantik dengan akhiran 2123. Kombinasi antara tanggal lahirnya dengan tanggal lahir ustadz Dafi.


"Mau yang ini ya Mbak," ucap Vita menunjukan kartu yang memiliki nomor cantik itu.


"Maaf, Vita lama ya Mi," ucapnya merasa tidak enak.


"Gak, Umi juga baru ke mobil."


Ustadz Dafi kembali melajukan mobilnya membentang jalanan. Hingga tak terasa mereka sudah sampai di pelataran pondok pesantren.


"Yang ini bawa ke dapur umum ya, sisanya mau Umi simpen di kulkas," ucap Umi Hilda menunjukan barang belanjaan.


"Biar Vita bantu, Umi."


"Gak usah, Umi masih bisa. Vita bawa aja ini ke dapur pondok ya!"

__ADS_1


"Na'am Umi."


"Daf, terima kasih ya sudah mau antar Umi ke pasar."


"Afwan, Umi."


Setelah melihat kepergian Umi Hilda, Ustadz Dafi meminta sesuatu yang ia titipkan kepada Vita.


"Dek, mana?"


"Apanya?"


"Yang tadi."


"Oh, iya lupa. Aku gak tau ustadz biasa pake simcard apa, aku beliin aja itu. Lihat deh ujung nomornya cantikan."


Ustadz Dafi langsung melihat angka yang berderet, namun lebih memfokuskan di empat digit angka paling akhir.


"Kombinasi tanggal lahir kita, cantikan ustadz?"


Ustadz Dafi tersenyum,"Iya cantik, kayak Adek."


Blush...


Wajah Vita bersemu, pipinya merah merona. Antara malu dan bahagia mendapat pujian dari ustadz kesayangannya. Tanpa memperdulikan ustadz Dafi lagi, Vita memilih segera pergi membawa belanjaannya ke dapur umum. Saking malunya, ia sampai lupa mengucapkan salam. Senyum ustadz Dafi mengembang memperhatikan Vita yang membelakanginya melangkah pergi.


Membuat gadis itu bersemu sepertinya adalah hobi baru. Entah bagaimana perasaannya saat ini, ustadz Dafi masih belum bisa memastikan. Ia ingin benar-benar memahaminya sendiri bagaimana hatinya gelisah memikirkan lawan jenisnya. Berlabuh pada siapa, ustadz Dafi masih mencarinya.

__ADS_1


__ADS_2