Kesemsem Guru Bahasa Arab

Kesemsem Guru Bahasa Arab
Traktiran


__ADS_3

Vita hanya diam dengan sesekali terisak. Hatinya teramat perih, bukan sekali dua kali ia merasakannya, tapi berkali-kali penolakan ustadz Dafi berkali-kali pula ia merasakan sakit.


"La, lo gak takut kena takzir udah marah-marahin ustadz Dafi tadi?" Ucap Vita setelah mereka sampai di parkiran sekolah.


"Ngapain takut, kita sama-sama makan nasi."


"Kalo kena takzir gimana?"


"Jalani aja, Vit," jawab Lala mengakhiri obrolan mereka dan segera menuju kelas.


Seperkian menit kemudian, Lala menghentikan langkahnya. Menarik tangan Vita dan menatapnya penuh keseriusan."Jangan bilang lo mau ngejar ustadz Dafi lagi setelah semua yang terjadi?"


"Mau gimana lagi, La, bukannya udah biasa gue dapet penolakan dari ustadz? Gue cinta La, mau gimana pun dia."


"Pokoknya gue gak terima kalo lo sampe nangis-nangis gara-gara dia. Gue bakal bacain lo yasin!"


*****


Ibu Rahma meradang setelah mendengar cerita Lala tentang penolakan yang ustadz Dafi lakukan hingga berkali-kali. Kini, Bu Rahma mewanti-wanti putrinya untuk tidak lagi mengejar ustadz Dafi.


Vita semakin kesusahan jika begini jalannya. Oh Tuhan, mengejar cinta ternyata tidak semudah mengambil air dari dalam bak mandi. Dan parahnya, Lala sebagai sahabat Vita malah berpihak pada Bu Rahma.


Vita melangkah gontai menuju perpustakaan, entah takdir atau kebetulan, ia malah harus bertemu ustadz Dafi.


Vita berusaha untuk tenang dan bersikap tidak perduli walaupun sebenarnya ia tidak tahan ingin menyapa. Namun mengingat kemarahan Ibunya semalam, nyalinya menciut. Vita mengalihkan pandangannya untuk tidak memfokuskan diri pada ustadz Dafi. Apa lagi sebentar lagi ia akan menghadapi ujian semester, Ibunya sudah pasti akan memenggal kepalanya jika sampai nilainya anjlok.


Vita tetap fokus pada jajaran buku di rak, ia mencari kamus yang tempo hari sempat gagal karena pertemuannya dengan ustadz Dafi. Hingga tanpa ia sadari ustadz Dafi sudah berada di sampingnya.


"Ehem.."


Vita tak menoleh, ia masih fokus memilah-milah kamus yang tepat. Hingga ia berhasil mendapatkan kamus bahasa arab yang dicarinya, Vita memutuskan untuk pergi tanpa perduli keberadaan ustadz Dafi.


Sesampainya di kelas, Lala memberondong banyak pertanyaan pada sahabatnya, mewanti-wanti supaya Vita tak lagi mencari dan menemui ustadz Dafi.

__ADS_1


"Awas aja kalo lo sampe nekat," ancam Lala.


Vita terdiam. Toh tadi bertemu karena gak sengaja, bukan aku yang menemuinya, pikir Vita.


*****


Tak seperti biasanya, Vita terlihat biasa saja bahkan disaat pelajaran bahasa arab. Terlebih lagi ada Lala yang selalu mengawasinya, dan bayangan mata Ibunya yang melotot tajam terus meneror.


Seperti biasa, sebelum pelajaran dimulai, ustadz Dafi mengabsen siswinya satu-persatu. Biasanya nama Vita yang lebih dulu di panggil, namun kali ini hanya dilewati. Sepanjang pelajaran berlangsung, sengaja Vita tak memandang ke arah depan.


Mau bagaimana lagi? Aku takut tidak bisa menahan diri untuk berkata aku mencintainya. Tapi ustadz, terimakasih atas kekecewaan ini.


"Vit, lo gak liat tadi ustadz Dafi ngeliatin lo mulu?" Ucap Lala setelah jam pelajaran selesai.


"Halah, lo cuma mau ngetes gue doang kan? Biar lo bisa marahin gue kalo ngejar-ngejar ustadz Dafi lagi."


"Ih kagak, gue seriusan!"


Vita memilih diam dan tak mempercayai ucapan sahabatnya. Rasanya masih begitu malas membahas soal seseorang yang sudah menghancurkan isi hatinya.


"Assalammualaikum."


"Waalaikumsalam." Mereka melanjutkan langkahnya menuju kantin.


"Lo mau pesen apa, Vit?" Ucap Lala hendak memesan makanan. Namun lagi-lagi mereka dikejutkan dengan hadirnya ustadz Dafi yang meminta bergabung di meja mereka.


Hening..


Tidak ada perbincangan di antara mereka, sementara Lala masih menunggu pesenan.


Seperkian menit kemudian, ustadz Dafi mengawali percakapan.


"Anty sakit?"

__ADS_1


"Tidak ustadz."


"Tumben diem, biasanya anty selalu cari saya."


"Tapi sekarang gak kan ustadz?"


"Anty masih marah sama saya?"


"Tadaaa dua es jeruk datang," belum sempat Vita menjawab pertanyaan ustadz Dafi, Lala menghampirinya dengan membawa dua es jeruk.


"Ustadz mau pesen apa, biar saya pesankan," ucap Lala menawarkan diri.


"Terimakasih. Tapi saya hanya ingin duduk saja."


Vita dan Lala menghabiskan makanannya, kini hanya tersisa mangkok kosong di atas meja. Lala beranjak hendak membayar pesanannya, namun dengan cepat ustadz Dafi melarangnya.


"Biar saya saja yang bayar!"


"Hah? Dalam rangka apa ustadz mau bayarin makanan kami?" Tanya Lala penasaran, sementara Vita masih terdiam dan mendengarkan perbincangan mereka.


"Anggap saja ini sebagai ucapan terimakasih saya untuk kalian."


Ustadz Dafi melangkah pergi setelah membayar semua pesanan Vita dan Lala. Vita beranjak dari duduknya berniat ingin mengejar ustadz Dafi. Namun sayangnya..


"Gak, Vit! Lo gak boleh ngejar ustadz Dafi lagi!"


"Tapikan dia udah luluh, La. Buktinya dia traktir kita makan."


"Ya elah Vit cuma traktir doang yang dia kasih, bukan hatinya!"


"Sampe kapan La? Gue bisa mati."


"Sampe ustadz Dafi bisa mikir gimana rasanya terabaikan!"

__ADS_1


Vita menghela nafasnya tak bersemangat. Lagi-lagi karena Lala ia harus menahan diri untuk mendekati ustadz Dafi.


❣️TBC❣️


__ADS_2