Kesemsem Guru Bahasa Arab

Kesemsem Guru Bahasa Arab
Vitamin Jantung


__ADS_3

Satu minggu setelah kepulangan orangtua serta sahabatnya, Vita kembali lagi menjalani aktifitasnya sebagai seorang santri. Namun ia sedikit tidak nyaman dikala bertemu dengan ustadz Ilham, di sisi lain Vita merasa bersalah karena telah menolaknya. Mau bagaimana lagi, hati tidak bisa ditarik ulur seperti tali. Vita hanya bisa berharap tidak ada yang merasa tersakiti karenanya.


Kantor para asatidz tidak biasanya seramai ini, Vita melangkah mendekatinya dengan menenteng dua rantang dari Umi Hilda. Tentunya tidak seorang diri, dengan ditemani Manda teman sekamarnya Vita menuju ruangan asatidz dan asatidzah menyampaikan amanah Umi Hilda.


"Kok ramai ya, Vit?"


"Mungkin ada yang sambang," jawab Vita tidak terlalu fokus.


Vita mengetuk pintu mengucapkan salam kemudian melangkah masuk memberikan dua rantang titipan Umi Hilda. Benar saja, kantor begitu ramai karena ada yang menyambangi, Vita tidak terlalu fokus bahkan ia selalu menunduk tak melihat siapa yang datang.


"Terimakasih, Vita," ucap salah satu ustadzah di sana.


Vita mengangguk,"Afwan, ustadzah. Saya permisi assalammualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Ehem!"


Vita menghentikan langkahnya setelah mendengar deheman seseorang. Suaranya tidak asing, khayalan atau nyata? Tapi rasanya tidak mungkin! Vita menggeleng cepat dan kembali melangkahkan kakinya keluar ruangan. Apa karena terlalu rindu? Ustadz, Vita kangen..


"Afwan, apa ini punya Anty," ucapnya menunjukan bros kerudung sebelum Vita benar-benar melangkah pergi.


Deg...


Vita membalikkan badan benar-benar menatap lawan bicaranya. Suara dan panggilan nama yang selalu Vita rindukan. Sosok itu saat ini berdiri tepat di depannya, jika saja ini bukanlah tempat ramai, aku akan memelukmu ustadz. Tidak perduli dengan takziran, yang penting aku bisa mengobati rindu yang sudah lama menggebu.

__ADS_1


"U-ustadz Dafi," Gumam Vita lirih, lirih sekali bahkan hampir tidak bersuara.


"Apa?" Tapi tidak dengan pendengaran ustadz Dafi, ia masih bisa mendengar lirihan itu.


"Terimakasih ustadz, ini memang punya saya," ucapnya meminta ustadz Dafi menjatuhkan bros kerudung itu di telapak tangannya. Ustadz Dafi tersenyum, banyak perubahan dari gadis petakilan ini di masa SMAnya. Biasanya Vita mengambil langsung dari tangannya, tetapi kali ini tidak. Tangannya benar-benar tidak mau disentuh, ia memilih mengulurkan tangannya menunggu ustadz Dafi memberikannya sendiri.


Ustadz Dafi menjatuhkan bros kerudung itu di telapak tangan Vita tanpa menyentuhnya, sang empunya menarik tangan Manda dan berlari pergi dengan terburu-buru. Ustad Dafi senyum-senyum sendiri melihatnya, tidak ada yang memperhatikan mereka dengan jeli terkecuali ustadz Ilham.


Ustadz Dafi kembali berbincang dengan yang lainnya, tetapi tidak dengan ustadz Ilham yang memandangnya tanpa ekskresi dari tempat duduknya.


"Vita, kamu kenapa sih? Kenal sama ustadz tadi?" Tanya Manda penasaran.


"Kok kamu tau kalau dia ustadz?"


"Ya nebak aja, dari pakaiannya dia gak jauh beda sama guru-guru di sini, berarti ustadz dong," jawabnya membuat Vita mengangguk.


Manda mengiyakan, ia pergi lebih dulu ke rumah Umi Hilda, sementara Vita menuju kamar mandi. Sesampainya di sana, Vita tidak benar-benar ingin membuang hajat, melainkan berjingkrak-jingkrak kegirangan atas apa yang ia lihat tadi. Ustad kesayangannya itu benar-benar hadir di hadapannya, dia makin ganteng setelah empat bulan tak bertemu. Aaaa pengen peluk..


Betapa bahagianya melihat ustadz Dafi berada di pondok pesantren tempat ia menimba ilmu. Namun kemudian rasa penasarannya muncul, dari mana ustadz Dafi tahu keberadaannya di pondok ini? Yang tahu Vita di sana hanya beberapa orang, termasuk Lala dan Umi Kulsum.


Vita bergelanyut dengan pertanyaannya, sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertanya dengan ustadz Dafi. Terlebih lagi lingkungan tinggal sekarang adalah pondok pesantren, sangat tidak mungkin ia bebas menemui ustadz Dafi dan bicara dengannya sesuka hati, mengingat larangan untuk para ukhty dan akhi berbicara hanya berdua tanpa kepentingan mendesak.


"Umi, di kantor tadi ramai sekali," ucap Manda yang tengah mencuci piring.


"Iya, anak santri Umi dulu sambang kesini. Dia itu anak paling pinter, dan lulusan S2 di kairo."

__ADS_1


"Oh gitu, tapi kok kamu kayak kenal gitu Vit sama itu ustadz," lagi-lagi Manda penasaran dan terus menanyakan hal itu pada Vita.


"Emang Vita kenal sama Dafi?" Tanya Umi Hilda yang rupanya ikut penasaran.


"Lihatnya juga baru, Umi," jawab Vita berbohong.


Bukan saatnya ia bercerita tentang ustadz Dafi yang pernah menjadi guru bahasa arab di kala ia masih SMA dulu. Bukan maksud Vita untuk berbohong, hanya saja masih perlu waktu untuk menceritakan segala detailnya.


"Oh namanya ustadz Dafi ya, Umi? Apa beliau asatidz baru di sini?"


"Rencananya sih gitu, tapi Umi belum bisa pastikan," jawab Umi Hilda.


Vita hanya menjadi pendengar antara Umi Hilda dan Manda, namun sesekali ia juga ikut menyahut. Ada rasa bahagia dalam hatinya jika saja benar ustadz Dafi akan menjadi asatidz baru di pondok pesantren ini. Namun hal mengkhawatirkan juga tengah Vita fikirkan, bagaimana dengan Ibu? Yang jelas menentangnya untuk tidak lagi mengejar ustadz Dafi bahkan memintanya untuk mempertimbangkan lagi niat ustadz Ilham yang ingin mengkhitbahnua.


****


Vita berjalan menyusuri koridor pondok dengan menenteng buku berniat ingin menemui ustadzah Mila yang sudah menunggunya untuk menyetor hafalan.


Tanpa sengaja Vita berpapasan dengan ustadz Dafi yang ingin pergi ke ruangan asatidz. Vita menunduk, meskipun suasana hatinya menjadi tak karuan antara bahagia dan malu.


"Belajar yang rajin," ucap ustadz Dafi membuat Vita mengangkat kepalanya. Ia menoleh kebelakang melihat sang pemilik suara berlalu pergi. Senyum Vita mengembang,"Ustadz!"


"Anna Uhibbuka, ustadz!"


Ustadz Dafi tersenyum kemudian mengangguk, Vita berjingkrak kegirangan setelah melihat ustadz Dafi kembali melangkah pergi. Ia tidak lagi marah atau menceramahinya ketika Vita menyatakan perasaan. Apa itu artinya ustadz Dafi udah cinta?

__ADS_1


Beruntung koridor tidak begitu ramai orang, di jam belajar seperti ini semua santri tengah menekuni pelajarannya di kelas masing-masing. Vita berlari merasa tidak tahan dengan hatinya yang tengah bahagia, semangat untuk belajar makin bertambah. Vitamin C nya sudah datang, penyemangat hidup, penyemangat hati, dan Vitamin jantung. Ustadz I Love you..


❣️TBC❣️


__ADS_2