
Satu minggu berlalu, kini Vita memfokuskan diri untuk ujiannya. Tentang ustadz Dafi untuk sementara ia lupakan demi bisa belajar dengan konsentrasi. Kabar terakhir yang ia dengar, ustadz Dafi pergi ke kairo dan memutuskan untuk berhenti mengajar. Sedikit tidak rela harus berpisah dengan orang yang selalu dipujanya, akan tetapi ini jalan yang terbaik dari pada harus melihat secara terang-terangan ustadz Dafi bersama wanita lain. Setidaknya, dengan begini Vita tidak tau menau tentang ustadz Dafi dan segala urusannya.
"Lo cepet banget dah ngerjainnya, emang segampang itu buat lo, Vit?" Ucap Lala di sela-sela langkahnya menuju parkiran.
"Gue kan anak pinter, lo lupa?"
"Iya, pinter ngedrama," ledek Lala tertawa.
Hari ini Vita membawa motor sendiri, Ibunya berpesan untuk mampir ke pasar membeli ikan sepulang sekolah. Meskipun membawa kendaraan masing-masing, Lala tetap ngekor kemanapun sahabatnya pergi.
Vita memilah-milah ikan yang masih segar, setelah mendapatkannya ia pun kembali ke parkiran. Tiba-tiba saja pandangannya tertuju pada perempuan yang tengah berdiri di parkiran sambil mengusap peluh dengan tangannya.
"Assamamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Dugaannya tidak salah, memang benar wanita itu adalah Ibunya ustadz Dafi yang sering beliau panggil dengan sebutan Umi.
"Uminya ustadz Dafi kan?" Tanya Vita pada akhirnya.
"Iya betul, adek kenal Dafi?"
Vita terdiam, ia justru malu menceritakan bagaimana nekatnya bertamu di waktu subuh demi memberikan kejutan untuk ustadz kesayangannya.
"Tunggu dulu, adek yang waktu itu subuh-subuh ke rumah kan?"
Vita mengangguk dengan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Saya Umi Kulsum, Ibunya Dafi," ucapnya tersenyum.
"Saya Vita, umi dan ini temen saya, Lala." Ucapnya, sementara Lala hanya mengangguk tersenyum.
"Umi nungguin siapa?"
"Umi nungguin Fitri, anak Umi juga."
"Gimana kalau Umi saya antar saja? Ini cuacanya makin panas, takutnya anak umi masih lama jemputnya." Ucap Vita menawarkan diri.
"Tidak merepotkan nak Vita memangnya?"
Vita menggeleng,"Gak sama sekali, Umi."
"Justru dia mah makin seneng, Umi. Itung-itung belajar jadi calon mantu," tambah Lala yang langsung mendapat pelototan tajam dari Vita.
"Jangan di dengerin, Umi. Anggap saja dia rumput yang bergoyang, keliatan tapi terabaikan hahaha."
Vita membonceng Umi Kulsum, sementara semua belanjaannya diserahkan ke Lala yang mendadak jadi tukang panggul.
Sekitar 20 menit perjalanan menuju ke rumah ustadz Dafi, akhirnya motor yang mereka kendarai berhenti tepat di pelataran rumahnya.
"Masuk dulu yuk, kalian pasti capek kan?" Pinta Umi Kulsum pada Vita dan Lala.
Ke duanya mengangguk, kemudian melangkah masuk ke dalam rumah mengikuti Umi Kulsum dari belakang. Vita melirik sebuah foto yang ditinggalkan pemiliknya. Rindu, jelas saja ia rindu, tetapi rasanya tidak mungkin ustadz Dafi juga merindukannya. Terlebih lagi dia adalah calon suami dari perempuan lain, sudah bukan haknya lagi untuk merinduinya. Vita menghela nafas dalam-dalam melihat foto ustadz Dafi yang terpajang di dinding.
"Boleh Umi bicara?" Tiba-tiba saja Vita dikejutkan dengan suara Umi Kulsum yang menghampirinya.
__ADS_1
Vita mengangguk.
"Apa Vita menyukai Dafi?" Tanyanya.
"Ustadz Dafi gak cerita ya, Mi? Kalo di sekolahnya itu ada murid yang ngejar-ngejar gurunya tanpa pantang menyerah, ditolak berulang kali juga masih tetep aja mau. Akhirnya ustadz Dafi bawa gandengan, baru deh tu bocah nyerah," sahut Lala yang sedari duduk bersantai menikmati es jeruk yang telah disajikan.
"Vita nyerah?" Tanya Umi lagi.
Vita menggeleng..
"Cuma lelah, Umi. Vita lelah karena penolakan ustadz. Tapi semakin gak mungkin, ustadz Dafi kan sekarang udah punya calon."
"Calon? Kok dia gak bilang ke Umi ya?"
"Iya, gadis itu bercadar, matanya cantik, sudah pasti wajahnya juga lebih cantik. Pantes aja sih ustadz Dafi pilih dia, dibandingin sama Vita mah jauh, gak ada apa-apanya."
"Jadi minggu lalu mukanya pucet itu karna cemburu?"
Suara seseorang tiba-tiba datang menghampiri mereka dan menyalami Umi Kulsum.
Vita terdiam, ia masih tidak mengerti dengan apa yang dilihatnya. Mungkinkah dia adik ustadz Dafi?
"Saya Fitri, adik ustadz Dafi," lanjutnya lagi.
Deg...
Ya Tuhan..
__ADS_1
Ternyata aku salah paham, aku salah mengira kalau ustadz Dafi sudah punya calon. Cemburu sama adik ipar? ck..ayolah Vita, lo masih warasss
❣️TBC❣️