Kesemsem Guru Bahasa Arab

Kesemsem Guru Bahasa Arab
Persiapan


__ADS_3

Sepulang sekolah, Vita meminta Lala untuk menemaninya ke sebuah toko kue. Begitu semangat untuk segera sampai di tempat dan memilah-milah kue yang berukuran kecil. Vita rela menahan lapar, menyimpan uang jajannya selama beberapa hari ini demi bisa membelikan kue ulang tahun untuk ustadz kesayangannya.


"Lo mau pilih yang mana, Vit?"


"Yang paling kecil, duit gue cuma 50 rebu."


Lala menuju kasir memintanya mengambilkan kue yang paling kecil, namun sayangnya, harga kue di toko itu 70 ribu untuk ukuran terkecil.


"Gimana dong, La, gue cuma punya 50 ribu," jawab Vita dengan raut wajah sedih.


Keinginannya memberikan sang ustadz kejutan sepertinya akan musnah seketika. Bahkan untuk mengumpulkan uang lima puluh ribu saja ia rela menahan lapar demi bisa menyisihkan uang jajan yang diberikan Ibunya.


Lala terdiam sejenak..


"Lo tunggu sini, Vit! Mana duit lo siniin!" Lala meminta uang 50 ribuan dari tangan Vita dan segera menuju kasir.


Entah jurus apa yang Lala gunakan hingga Mbak-Mbak kasir mau memberinya kue terkecil di toko itu dengan membayar lima puluh ribu.


Vita tak berkedip melihat sahabatnya menenteng kue yang ia pilih. Bagaimana bisa Lala mendapatkan kue itu dengan uang 50 ribu?


"Yuk pulang!" Ucap Lala berjalan lebih dulu melewati Vita.

__ADS_1


Sesampainya di motor, Vita menanyakan tentang kue itu.


"Lo apain mbak kasirnya, La?"


"Gak diapa-apain."


"Kok bisa..


"Yang penting lo bisa kasih ustadz Dafi kejutan kan? Gak usah pikirin gimana caranya gue bujuk Mbak kasir." Vita pasrah dan memilih untuk tidak melanjutkan kalimatnya.


"Thanks La, lo emang sahabat terbaik gue."


Kalo bukan berkat Lala, rasanya gak mungkin aku bisa membawa pulang kue sebagai kejutan untuk ustadz. Ustadz tunggu aku ya!


Lala menginap di rumah Vita, karena malam nanti mereka berencana pergi ke rumah ustadz Dafi untuk memberinya kejutan. Beberapa hari lalu, mereka sempat membuntuti ustadz Dafi ketika hendak pulang. Dengan niat ingin mencari tahu keberadaan rumah ustadz pujaan hatinya.


Apalah dikata, Bu Rahma tidak memberikan izin anaknya untuk keluar malam, terlebih lagi pergi ke rumah laki-laki. Vita mengurung dirinya di kamar, ia menangis merasa frustasi dengan usahanya tidak berjalan mulus.


"Memangnya salah ya La, kalo gue ke rumah ustadz Dafi? Niat kita kan cuma mau kasih kejutan di hari ulang tahunnya."


"Menurut gue sih gak, Vit. Tapi pandangan orangtua jelas beda."

__ADS_1


Suara ketukan pintu terdengar, Lala membukakan pintu melihat Vita tak beranjak dari ranjangnya.


"Vita.."


"Ayah.." Vita beranjak dari ranjang memeluk sang Ayah sambil menangis.


"Coba ngertiin ibu kamu ndok, memang gak baik perempuan bertamu ke rumah laki-laki di tengah malem."


"Tapi kami gak ada niatan buat macem-macem Yah, cuma mau kasih ustadz Dafi kejutan, apa itu salah?"


"Niatnya gak salah ndok, yang salah itu waktunya."


"Om, Vita sudah bersusah payah nyiapin kejutan ini buat ustadz Dafi. Beli kue dari uang jajan, dia berhari-hari gak jajan loh, Om di sekolah. Tuh Om Rahmat bisa lihat badannya berkurang begini." Pak Rahma sontak saja melihat tubuh anaknya dari atas hingga bawah. Wkwkwkw ngibulin orangtua sekali-kali.


Lala masih sempet-sempetnya ngedrama di situasi yang salah. Kalo sampe Ayah malah makin gak ngizinin, awas aja gue timpuk lu pake batok kelapa.


Pak Rahmat menghela nafasnya kemudian berkata,"Ya sudah, tapi Ayah punya syarat. Kalian boleh ke rumah ustadz Dafi dengan syarat ke sananya habis shalat subuh dan Ayah yang akan antar kalian!"


"Tapi Ayah langsung pulangkan setelah kita sampai rumah ustadz Dafi?" Pak Rahmat mengangguk.


"Yess. Tapi Ibu.."

__ADS_1


"Ibumu biar jadi urusan Ayah."


❣️TBC❣️


__ADS_2