
Untuk hari ini, Vita membawa misi baru. Namun kali ini ia tak melibatkan Lala, karena misi kali ini hanya ingin menanyakan surat yang dikirimkannya kemarin.
Disaat jam istirahat dimulai, Vita pergi ke perpustakaan untuk mencari kamus bahasa arab. Hanya pelajaran itulah yang membuatnya payah untuk mengerti, sementara Lala pergi ke kantin seorang diri.
Entah ini keberuntungan atau sebuah kebetulan, saat Vita memilah-milah buku yang berjajar rapi di rak, ia melihat ustadz Dafi yang tengah membaca buku sambil berdiri.
"Ustadz Dafi.." gumamnya lirih.
Seperti mendengar suaranya, ustadz Dafi menoleh. Vita dibuat salah tingkah ditatap ustadz Dafi dari kejauhan. Vita melangkah mendekati ustadz Dafi. Bukannya apa, ustadz Dafi selalu menghindar disaat Vita mendekatinya. Sekitar jarak satu meter, ia menghentikan langkahnya.
"Assalammualaikum, ustadz."
"Waalaikumsalam," jawab ustadz Dafi tanpa menoleh dan masih fokus akan bukunya.
"Ustadz boleh saya tanya?"
"Silahkan!"
"Bagaimana dengan surat saya, apa ustadz sudah baca?"
Ustadz Dafi menutup bukunya, memandang sekilas ke arah Vita sebelum ia berpaling ke arah lain.
"Saya sangat berterima kasih sekali atas perasaan anty kepada saya. Tapi maaf, status anty adalah pelajar di tempat saya mengajar. Tidak baik rasanya jika guru dan murid saling berkirim surat. Bukan hanya dengan saya, tapi pada diri anty sendiri. Alangkah baiknya anty tetaplah fokus dengan sekolah tanpa memikirkan urusan hati."
__ADS_1
"Jadi ustadz nolak saya lagi?" Vita menghembuskan nafas kasarnya dengan rasa kecewa."Ya sudah ustadz, besok akan saya tanya lagi apakah ustadz sudah bisa menerima saya."
Sekali lagi, Vita meninggalkan perpustakaan dengan berjalan mundur. Hal ini ia lakukan supaya tidak saling menyakiti. Miris rasanya, dengan penolakan ustadz Dafi yang berkali-kali ia dapatkan. Apakah aku tidak pantas untukmu, ustadz? Apa aku kurang cantik?
Seolah sudah berteman baik dengan rasa kecewa, Vita terlihat biasa saja setelah mendapat penolakan kembali dari ustadz pujaan hatinya. Vita tidak ingin membiarkan celah patah hati masuk ke dalam jiwanya. Cukup memaklumi dengan sebuah rasa kecewa, dan berharap rasa itu tidak berlangsung lama. Harapannya hanya satu, luluhnya hati ustadz Dafi.
"Ditolak lagi, Vit?" Tanya Lala pada sahabatnya yang menghampirinya di kantin.
Vita menggeleng sambil tersenyum,"Gak ditolak, La, cuma belum diterima aja."
"Apa bedanya oncom?"
"Beda dong. Kalo di tolak artinya gue bakal nyerah, nah sekarangkan gue belum nyerah, berarti belum diterima,"jawab Vita dengan senyum walau hatinya terasa nyeri, baginya, cukup dia dan Tuhan yang tau.
"Sabar ya, Vit!" Lala tahu bagaimana perasaan sahabatnya yang sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana seseorang tidak merasakan kecewa kalau harapannya tidak pernah bisa ia gapai, bahkan sekedar untuk menyentuhnya.
****
Susah payah menekan rasa sakit atas penolakan berkali-kali, tapi nyatanya tidak pernah membuat Vita kapok untuk terus mengejar cinta ustadz Dafi. Mau bagaimana lagi, hidup harus tetap berjalan kan?
"Vita.."
Vita tersentak kaget mendengar teriakan Bu Yuli. Bu Yuli menatap Vita dengan lembut, tapi karena fikirannya sedang kacau, melihat bibir melengkung Bu Yuli seolah tengah mengucap kata 'Takzir'.
__ADS_1
"Tapikan saya gak salah bu, kok ditakzir?"
"Siapa yang mau takzir kamu, saya kesini cuma mau minta tolong, sepulang sekolah tolong kamu rapikan arsip-arsip di kantor!"
"Sendirian bu?"
"Sama Lala juga boleh," jawab Bu Yuli membuat Vita tersenyum mengangguk.
Sepulang sekolah, Vita dan Lala menuju kantor seperti yang di perintahkan Bu Yuli sebelumnya. Melihat banyaknya tumpukan map dan buku, Vita kebingungan harus memulainya darimana.
Seperkian menit kemudian, bak mendapat lampu kuning, Vita mendadak mendapat ide baru untuk rencana selanjutnya.
"La, lo cari arsip ustadz Dafi!"
"Buat apaan?"
"Gue pengen tau kapan ustadz Dafi ulang tahun."
Mendengar itu, Lala mengangguk. Hampir satu jam mereka berkutat dengan debu, dan akhirnya arsip milik ustadz Dafi ditemukan.
Vita membuka lembaran arsip ustadz Dafi yang tersusun rapi di sebuah map berwarna hijau. Dari arsip tadi, Vita akhirnya mengetahui tanggal ulang tahun ustadz Dafi. Keberuntungan memihak padanya, tanggal itu akan jatuh enam hari lagi.
Alangkah senangnya hatiku, aku akan memberinya kejutan dan ucapan selamat ulang tahun sebagai orang yang pertama.
__ADS_1
"Rencana lo apa, Vit?"
❣️TBC❣️