Kesemsem Guru Bahasa Arab

Kesemsem Guru Bahasa Arab
Aku Sudah lelah, Ustadz


__ADS_3

Vita pergi membawa lukanya, rasa kecewa harus ia dapatkan lagi dan lagi untuk kesekian kalinya dari ustadz Dafi. Berharap ustadz Dafi mengejarnya dan menjelaskan sedetail mungkin isi dari surat cinta masa kecilnya dengan Rania. Tetapi apa yang pria itu lakukan? Melihat posisi terakhirnya ia masih berdiam diri di tempatnya. Bodoh! Memang bodoh. Kenapa harus berharap akan sesuatu yang sangat mustahil? Ternyata, mendapatkan cinta dari seseorang yang kita harapkan hanya seribu satu kejadiannya untuk balasan dengan rasa yang sama.


Vita kembali meneteskan air matanya, rasa nyeri dalam dadanya muncul. Kenapa rasanya sesakit ini? Ayolah Vita, jangan ge'er, karena sampai kapanpun, kamu hanya dianggap anak kecil yang belum dewasa dan belum pantas memikirkan masalah hati.


Manda yang berusaha mencari keberadaan Vita terus saja mengomel.


"Awas aja pokoknya dia harus jelasin semuanya! Aku yakin, ustadz Dafi sama Vita itu ada apa-apa," gumamnya bicara seorang diri sambil menoleh kesana-kemari mencari keberadaan Vita.


Sekitar hampir sepuluh menit Manda berkeliling, akhirnya ia menemukan Vita yang tengah menyendiri di dekat jemuran.


"Assalammualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Vita dengan lirih kemudian mengusap sisa-sisa air matanya yang masih menempel di pipi.


Manda duduk di sebelah Vita, menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Keyakinannya semakin kuat melihat Vita menangis tanpa kotak pemberian seseorang untuk ustadz Dafi. Sudah pasti Vita bertemu dengan ustadz Dafi dan memberikannya, pikir Manda.


"Vit, cerita deh biar legaan dikit. Dan gak usah pake bohong soal ustadz Dafi!" Ucap Manda meminta Vita untuk menceritakan secara jujur.


Di sanalah Vita menjelaskan semuanya secara rinci dari awal hingga akhir dan saat ini. Bayangan cinta di putih abu-abu nyatanya masih sama, tidak luntur sedikitpun, malah membuat Vita semakin bersemangat memantaskan diri untuk menjadi pendampingnya yang bernotabene sebagai ustadz.


"Vit, kamu pernah ngerasain gak? Terkadang apa yang kita pengen itu rasanya jauh banget, dan mustahil buat digapai. Tapi, semakin nafsu menguasai semakin sulit rasanya buat dimiliki. Mau tau gak caranya gimana biar mudah?"


"Apa?"


"Berserah kepada Allah sang maha pemilik, rayu Allah disepertiga malammu, berdoa meminta apa yang kamu pengen. Tapi perlu diingat juga, kamu ngelakuin itu semata-mata hanya karena Allah jangan sampai cintamu lebih besar kepada ciptaannya dari pada yang menciptakan."


"Rasanya aku lelah Man. Mau bagaimanapun aku berusaha, kalau ustadz Dafi tetep gak suka mau gimana? Hati gak bisa dipaksa Man."

__ADS_1


"Dicoba dulu gak ada salahnya, Vit. Semangat ya!"


*****


"Untuk apa kamu mengirim ini, Ran?" Tanya ustadz Dafi menunjukan lembaran kertas saat bertemu dengan Rania.


Setelah melihat kemarahan Vita saat membaca surat ala masa kecilnya dengan Rania, ustadz Dafi menelfon Uminya mempertanyakan keberadaan Rania. Tidak mungkin rasanya orang lain yang mengirimkan surat itu, terkecuali Rania sendiri.


Benar saja, Rania tengah ada di kota bandung berniat menyusul ustadz Dafi di pesantren. Karena masih ada urusan yang lain, Rania memberikan lebih dulu hadiahnya kepada teman masa kecilnya menitipkannya pada salah satu santriwati.


"Memangnha kenapa sih? Itukan kenangan masa kecil kita, Daf. Itu tulisan kamu masih acakadul tauk," ucap Rania terkekeh.


"Bukan itu permasalahannya, Rania."


"Vita? Karna Vita kan, Daf? Dafi, kamu gak bisa lihat aku yang selalu menemani kamu sampe sekarang. Kenapa harus Vita, Daf? Orang baru yang masih anak-anak belum mengerti masalah hati."


"Tapi aku gak mau, Daf, aku mau kamu titik!"


Ustadz Dafi beristigfar mengusap wajahnya dengan kasar. Jelas ia tidak menginginkan hal ini terjadi, persahabatan yang sudah terjalin sejak orok harus rusak hanya karena sebuah rasa.


Rania sendiri merasa tidak terima sahabatnya lebih memilih perempuan baru dikenal yang masih bocah. Lalu apa gunanya hadirnya ia? Memperjelas hubungan mereka adalah salah satu tujuan Rania kembali ke indonesia.


"Rania jangan keras kepala!"


"Daf, apa kamu gak sadar kalau aku cinta sama kamu? Aku selalu respect sama kamu, Daf. Pengen jadi orang yang kamu utamain setelah Umi dan juga Fitri."


"Sahabat tidak akan menjadi cinta, Rania. Mau sampai kapanpun, aku dan kamu tidak akan bisa menjadi kita, terkecuali sahabat!" Tegas ustadz Dafi berlalu pergi tanpa mengucapkan salam.

__ADS_1


"Gak Daf, aku dan kamu harus jadi kita!" Teriak Rania melihat kepergian ustadz Dafi yang tak lagi memperdulikannya.


Ustadz Dafi merasa frustasi, satu sisi adalah cintanya, satu sisi yang lain adalah sahabatnya. Melihat Vita menangis ustadz Dafi merasa tidak tega, bahkan hatinya ikut merasakan nyeri. Kini ia mondar-mandir di dalam kamarnya mencoba mencari cara untuk bisa mengobrol dengan Vita.


Bukan lelaki gentle man jika Ustadz Dafi tak berani menemuinya secara langsung. Maka ia berniat dengan membulatkan tekadnya untuk meleburkan gengsi dan malunya menemui Vita secara langsung.


Ustadz Dafi mencari keberadaan Vita ke sana kemari, namun sudah hampir satu jam ia tak kunjung bertemu. Ustadz Dafi memutuskan untuk kembali ke kantor asatidz, ia akan membicarakan ini dengan Vita saat bertemu nanti.


Tiba-tiba saja, ia mendengar suara seseorang yang tidak asing saat langkahnya telah sampai di ambang pintu.


"Kapan ustadz akan ke rumah saya?"


"InsyaAllah dua hari lagi saya akan ke rumah kamu."


Ustadz Dafi mengucapkan salam dan dijawab oleh mereka. Ustadz Dafi mendadak penasaran dengan ucapan ustadz Ilham yang ingin ke rumah Vita dua hari lagi. Ada apa sebenarnya?


Vita yang tengah ditakzir ustadz Ilham tidak memperdulikan hadirnya ustadz Dafi di sana. Vita memfokuskan diri membereskan beberapa arsip yang berserakan dan berdebu. Para ustadz dan ustadzah yang melihat itu seketika meledek ustadz Ilham.


"Ayo ustadz gerak cepat, keburu dipepet orang."


"InsyaAllah dua hari lagi," jawab ustadz Ilham.


Manda yang sedari tadi diam seketika menyikut lengan Vita dan memonyong-monyongkan bibirnya untuk melihat bagaimana ekspresi ustadz dafi yang penuh dengan keterkejutan.


Vita melirik sekilas dengan wajah yang datar, kemudian memalingkan wajahnya kembali fokus menyelesaikan takziran dari ustadz Ilham karena ia dan Manda terlambat menyetor hafalan dengannya.


'Jangan pernah cari aku lagi, ustadz. Karena saat dua hari itu tiba, aku bukanlah Vita yang bertatus jomkar, jomblo karatan. Toh apa salahnya dengan ustadz Ilham? Dia tak kalah tampannya denganmu, bahkan sepertinya dia jauh lebih baik dan bisa menghargai perasaan seseorang. Tidak sepertimu, yang sangat sukit ditebak hatinya. Kadang egois, kadang manis, terus egois lagi. Ah entahlah, mungkin ini yang terbaik untuk kita, dua sejoli yang tak berjodoh, terhalang usia dan status, bahkan sekarang restu. Hubungan ini kalau sampai berlanjut pasti akan berat juga, Ibu benar-benar murka denganmu setelah kejadian malam itu. Malam yang paling bersejarah dalam hidupmu dan aku. Kejutan yang tak berharga itu terasa sia-sia dengan penolakanmu yang membuat usahaku berantakan. Tapi tak apalah, semua sudah berlalu, bahkan sampai saat ini aku tidak tau jampe apa yang Lala bacakan di depan mbak-mbak kasir sampai mau memberikan kue yang kuinginkan dengan uang 50ribu. Ustadz, semakin aku mengejarmu, semakin sulit dan jauh menggapaimu. Biarlah Allah yang menentukan takdir kita, aku tidak akan berusaha apapun untuk mengejarmu, karena aku sudah lelah' gumam Vita dalam hati.

__ADS_1


❣️TBC❣️


__ADS_2