Kesemsem Guru Bahasa Arab

Kesemsem Guru Bahasa Arab
Ustadz Ilham


__ADS_3

Dafi tidak menyangka Rania akan berfikir sejauh itu, mengharapkan dirinya untuk segera meminangnya. Padahal, ia sendiri masih belum memastikan hatinya berlabuh pada siapa.


Pernikahan bukan hal main-main, Dafi menginginkan ikrar suci itu terucap hanya satu kali seumur hidup.


Lalu bagaimana dengan Rania? Sahabat sedari kecil, susah senang mereka selalu bersama.


"Kok bengong?" Tanya Rania mendapati Dafi tak berucap sepatah katapun merespon ucapannya.


"Masih inget kan janji kita?" Lanjut Rania lagi.


"Ran, bukankah janji semasa kecil kita itu tidak sungguh-sungguh? Untuk apa memperjelasnya lagi, masa kanak-kanak dan dewasa itu berbeda Ran."


"Afwan Daf, koreksi kalau aku salah. Maksud kamu tidak ada niatan untuk melanjutkan janji yang kita buat dulu?"


Dafi mengangguk,"Maaf kalau sedikit mengecewakan."


"Bukan sedikit, Daf tapi banyak," gumam Rania masih terdengar di telinga Dafi.


"Maaf!"

__ADS_1


Wanita shalilah seperti Rania adalah keberuntungan bagi siapa yang berhasil meminangnya. Tetapi untuk Dafi, ia tidak bisa mencintai sahabat sendiri, memilih hubungan persahabatan mereka tetap terjalin meskipun jarang bertemu.


Rania merasa kecewa dengan Dafi yang melupakan janji masa kecil mereka. Namun lebih tepatnya Dafi menolak untuk meminangnya. Apa itu artinya Dafi mencintai gadis lain? Rania bertanya-tanya. Tidak mungkin hal ini terjadi karena kebetulan, sebuah penolakan bukanlah hal kebetulan yang tidak disengaja.


"Oke gak papa, Daf. Itu artinya kita bukan jodoh," ucap Rania tersenyum dengan keterpaksaan.


*****


Di pesantren tempat Vita menimba ilmu, ada seorang ustadz yang rupanya juga menaruh hati padanya. Dialah Ustadz Ilham, sang pemilik lesung pipi yang menjadi ciri khas senyumannya.


Mendengar kabar bahwa orangtua Vita datang menyambangi anaknya, ustadz Ilham gerak cepat menemui ke dua orang tua Vita dengan maksud meminta putri mereka.


"Kami selaku orangtua tidak bisa memutuskan, ustadz. Putri kami yang akan menjalani hidupnya, maka dia sendiri yang harus menentukan. Kami hanya perlu mengawasi dan selalu memberikan saran serta nasehat." Jawab Pak Danu, Ayah Vita.


Ibu Rahma mencubit paha suaminya hingga menimbulkan suara mengaduh."Kenapa Ayah harus nunggu apa kata Vita, pilihan kita adalah yang terbaik, Vita belum mengerti apapun." Bisik Ibu Rahma.


"Apa ustadz mau menerima kekurangan putri saya, baik buruknya putri saya?" Tambah bu Rahma kepada ustadz Ilham.


"InsyaAllah, Bu saya siap menerima dengan ikhlas dan legowo."

__ADS_1


"Tuh dengerin Yah, nyari calon suami untuk anaknya harusnya yang begini," celetuk Ibu Rahma seketika mendapat pelototan tajam dari suaminya.


"Calon suami?" Suara penuh keterkejutan mengambang di depan pintu.


Ke dua orangtua Vita meminta izin untuk menginap di pondok pesantren selama ia menyambangi anaknya. Namun hal tak disangka pun terjadi, ada ustadz yang sudah menghancurkan hati putrinya kini hadir ustadz yang lain yang sekiranya siap menjadi penyembuh luka.


Vita yang baru saja hendak masuk mendadak dikejutkan dengan kalimat Ibunya.


Ustadz Ilham? apa maksudnya ini?


"Ibu, Ayah, calon suami? Maksudnya apa?"


"Ndok, ustadz Ilham ini suka sama kamu. Niat beliau sudah bagus loh menemui Ibu sama Ayah buat mempertanyakan statusmu."


"Tapi Yah..


"Kenapa Vita? Apa kamu masih mengharapkan ustadz Dafi yang gak punya hati itu? Buka mata kamu, Vita!" Ibu Rahma mendadak meradang membicarakan ustadz Dafi.


❣️TBC❣️

__ADS_1


__ADS_2