
Vita yang baru saja kembali setelah mengajak sahabatnya untuk berkeliling pondok pesantren dikejutkan dengan Ibunya yang membicarakan calon suami. Hal mengejutkan itu dengan adanya ustadz Ilham tengah berbincang dengan ke dua orangtuanya.
"Calon suami siapa Bu?" Vita melangkah masuk kemudian duduk di samping Ibunya.
"Kamu ndok."
"Siapa?" Tanyanya lagi merasa tidak enak hati dengan jawaban sang Ibu.
"Ustadz Ilham."
Deg..
Vita melirik sekilas ustadz Ilham yang sedari tadi diam semenjak ia datang. Maksudnya bagaimana ini, apakah Ibu menjodohkanku dengan ustadz Ilham?
"Afwan ustadz, bisa ustadz jelaskan!" Ucap Vita meminta penjelasan dengannya secara langsung.
"Vita, saya berniat ingin mengkhitbahmu, namun sebelum itu saya ingin memastikan izin dari ke dua orangtuamu lebih dulu. Jika engkau berkenan menerima saya, maka insyaAllah secepatnya saya akan datang ke rumah."
"Afwan ustadz, atas dasar apa ustadz ingin mengkhitbah saya? Status kita berbeda, saya hanya seorang santri yang masih perlu banyak belajar untuk mendalami ilmu agama sementara ustadz sendiri sudah sangat faham tentang itu."
__ADS_1
Ustadz Ilham tersenyum,"Saya tidak ingin mencari manusia yang sempurna, karena sesungguhnya tidak ada makhluk Allah yang sempurna terkecuali malaikat. Sebagai manusia, yang sudah faham ataupun yang belum, mereka sama-sama perlu belajar untuk lebih mendalami ilmu."
"Bagaimana kalau soal cinta, apa ustadz mencintai saya?"
Lagi-lagi ustadz Ilham tersenyum,"Cinta itu fitrah yang Allah berikan kepada hati hamba-hambanya. Dan mungkin karena itulah salah satunya alasan saya ingin meminangmu."
"Lalu bagaimana kalau saya tidak mencintai ustadz dan menolak khitbahan ustadz Ilham?"
"Vita!" Tegur Ibu Rahma.
"Ibu diam, ini hidup Vita Bu, Vita berhak menentukan!" Ucapnya.
"Tidak apa-apa Bu, saya siap menjawab semua pertanyaannya," jawab Ilham.
"Dan mohon maaf untuk jawaban saya ini ustadz, saya belum bisa menerima pinangan ustadz Ilham. Untuk alasannya saya tidak bisa menjelaskan. Saya permisi," Vita kembali melangkah pergi kemudian disusul oleh sahabatnya.
Vita menangis mengekspresikan suasana hatinya. Dadanya terasa nyeri membayangkan ustadz Dafi yang berkata demikian untuk melamarnya. Tetapi rasanya tidak akan mungkin, ustadz Dafi jelas akan menolak lagi seperti yang sebelumnya.
"Vit.."
__ADS_1
Vita berhambur memeluk Lala mencari sebuah ketenangan disana.
"Gue tau gimana perasaan lo sekarang, Vit. Lo masih ngarep cinta ustadz Dafi kan? Makanya lo nolak ustadz Ilham."
"Gue cinta ustadz Dafi, La. Tapi kenapa dia gak bisa nerima gue, gue bodoh ya La ngarepin terus-terusan orang yang jelas-jelas nolak gue berkali-kali."
"Iya, lo emang bodoh. Tapi gue gak nyalahin cinta lo ke ustadz Dafi sih, cuma lo nya aja yang gak bisa ngendaliin diri."
"Gue bimbang sekarang, La. Di satu sisi gue ngarep banget ustadz Dafi yang ngelamar gue, di sisi lain Ibu. Ibu gak bakal ngizinin gue buat ngejar-ngejar ustadz Dafi lagi."
"Ustadz Dafi perlu kerja keras keknya sekarang," gumam Lala.
"Kerja keras? Maksud lo?"
"Ya maksud gue kalo ustadz Dafi nerima lo kan dia perlu kerja keras buat dapetin restu tante Rahma."
"Iya lo bener. Tapi kapan waktu itu bakal terjadi, La? Jangankan mau perjuangin gue ke Ibu, lah ke gue aja dia nolak mulu."
"Yang sabar, Allah maha membolak-balikan hati manusia. Siapa tau ntar malem hati ustadz Dafi kebalik, besoknya nyusulin lo kesini, ya kan?"
__ADS_1
"Jangan buat gue ngehalu lagi lah," ucap Vita membuat Lala terkekeh.
❣️TBC❣️