Kesemsem Guru Bahasa Arab

Kesemsem Guru Bahasa Arab
Penasaran


__ADS_3

"Buat apa ngarepin orang yang gak bisa menghargai. Lah wong kayak gitu kok bisa kamu suka sih ndok-ndok," celoteh Ibu Rahma.


"Ibu, yang mau nikah nanti kan Vita, yang mau menjalaninya ya Vita, mbok yo meneng ae to ndak usah ikut campur soal pilihan anaknya," sahut Pak Danu menasehati istrinya.


"Tapi Ibu ndak suka sama ustadz Dafi-Dafi itu Yah, lah wong dia itu gak bisa menghargai anak kita loh, malah nolak terus. Harga diri loh Yah taruhannya, anak kita perempuan."


Kejadian di malam ulang tahun ustadz Dafi dulu benar-benar membuat Ibu Rahma murka tanpa bisa mentoleransi kesalahan fatal yang sudah ustadz Dafi perbuat kepada anaknya.


Sebagai Ibu, ia tidak terima anak perempuannya harus menjadi pengemis cinta laki-laki yang jelas menolaknya, bahkan sekedar menghargaipun tidak.


Vita yang tengah diceramahi Ibunya hanya terdiam menunduk dengan di temani Lala di sampingnya.


"Mending kamu pikirkan lagi niat ustadz Ilham kemaren, sepertinya dia itu anak baik, dari tutur kata dan bahasanya juga sopan, pinter menghargai orang. Yo ndak kayak si ustadz Dafi-Dafi itu," lanjut Bu Rahma lagi.


"Ibu kenapa harus paksa Vita, ini masa depan Vita Bu, Vita mau tentuin pilihan Vita sendiri. Vita mohon bu!"


"Halah, sekarang itu kamu belum ngerti apa-apa ndok, ndak ngerti gimana menilai orang, nanti juga kamu paham lama-lama. Pikirin lagi apa kata Ibu," Ibu Rahma melangkah masuk ke dalam kamarnya.


"Ayah.." Vita mendekati Ayahnya, ia memeluknya dengan uraian air mata. Ini hidupnya, masa depannya, Vita tidak ingin orang lain mencampuri pilihannya, termasuk orangtuanya sendiri.


"Ayah akan nasehati Ibu kamu pelan-pelan, kamu sabar. Jangan pikirin apa kata Ibu, sudah sana kalian kembali ke pondok!"


Vita mengangguk, ia berlalu pergi bersama Lala menuju kamarnya.

__ADS_1


****


Suasana berbeda terjadi di kediaman ustadz Dafi, Rania yang tengah membantu Umi Kulsum memasak tiba-tiba saja mempertanyakan perempuan yang dulu pernah ikut menjemput kepulangan ustadz Dafi di bandara.


"Siapa Mi? Kenapa Rania gak pernah lagi lihat dia?" Tanya Rania dengan tangan yang tengah mengiris bawang.


"Oh dia itu murid Dafi waktu masih ngajar."


"Deket banget ya sama Umi."


"Iya, dia gadis yang baik bahkan sering menolong Umi."


"Oh ya? Sekarang dia kemana Umi, mau dong Rania kenalan biar deket juga."


Rania mengangguk-angguk.


"Apa dia calon istri Dafi, Umi?" Tanya Rania hati-hati.


Umi Kulsum terdiam untuk beberapa saat, sebenarnya Umi sangat ingin Vita menjadi menantunya, tetapi Dafi masih belum bisa meyakinkan diri.


"Umi.."


"Astagfirullah."

__ADS_1


"Ya Allah, Umi ngelamun?"


"Maaf-maaf, mendadak Umi kepikiran sesuatu."


"Umi belum menjawab pertanyaan Rania, apa gadis itu calon istri Dafi?"


"Iya."


Seseorang datang menghampiri mereka di dapur. Mengambil air minum dingin di kulkas kemudian menuangkannya ke dalam gelas.


"Kamu kenal juga Fit?" Tanya Rania.


Fitri mengangguk,"Na'am, kami kenal baik."


"Siapa namanya?" Tanya Rania penasaran.


Fitri terkekeh,"Kamu gak akan cemburu kan?"


"Cemburu sih mungkin, tapi ya sudahlah," ucap Rania meringis menunjukan deretan giginya.


Umi Kulsum yang tengah memasak mendengarkan obrolan Fitri dan Rania di meja makan. Dafi bimbang dengan hatinya untuk memilih antara Rania dan Vita, Umi Kulsum tahu itu, tetapi hatinya mempunyai firasat lain yang kebanyakan dirasakan oleh para Ibu kepada anaknya.


'Jika begini, mau tidak mau Dafi harus tahu yang sebenarnya,' gumam Umi Kulsum dalam hati.

__ADS_1


❣️TBC❣️


__ADS_2