Kesemsem Guru Bahasa Arab

Kesemsem Guru Bahasa Arab
Mulai Lelah


__ADS_3

Minggu depan, adalah waktu final untuk para siswi Madrasah Aliyah As-Salam untuk menentukan siapa yang lulus dan siapa yang tertinggal. Mereka akan melaksanakan ujian semester pada awal minggu.


Setelah kejadian memalukan seminggu yang lalu di rumah ustadz Dafi, perlahan-lahan Vita menghindar. Ia tidak pernah lagi mencari-cari ustadz Dafi untuk sekedar menyapanya. Terlebih lagi Lala yang selalu mengawasinya untuk tidak lagi mengejar ustadz Dafi yang jelas-jelas menolaknya.


"Gue bakal laporin ke tante Rahma kalo sampe lo nekat!" Begitulah ancaman Lala padanya.


Padahal, hatinya teramat tersiksa menahan rindu. Rindu ingin berbicara dengannya, rindu ingin menatapnya, bahkan dengan konyol ia juga merindukan kemarahannya.


"Lo udah siap buat ujian minggu depan, Vit?" Tanya Lala di sela-sela langkah mereka yang ingin menuju kelas.


"Udah dong, gue udah siap banget."


Dari kejauhan seseorang berlarian memanggil Vita.


Nafasnya ngos-ngosan membuat ia sedikit sulit berbicara, terlebih lagi badannya super bom-bom.


"Kenapa Tun?"


"Kamu dipanggil ustadz Dafi."


"Hah, seriusan?"


"Masa iya aku boong, sono gih samperin!"

__ADS_1


Vita menatap Lala, yang ditatap menghendikkan bahunya tanda tak tahu apapun.


Vita meminta Lala untuk lebih dulu menuju kelas bersama Atun, sementara ia akan memenuhi panggilan ustadz Dafi di ruangannya.


Sedikit gugup, Vita mengetuk pintu meminta izin untuk masuk ke dalam.


"Kenapa, Vita?" Tanya Pak Burhan.


"Maaf pak, saya diminta ustadz Dafi menemuinya."


Pak Burhan mengangguk,"Tunggu saja di mejanya, beliau ke toilet." Vita mengangguk, berjalan menuju meja ustadz Dafi yang terhalang dengan lemari, kemudian duduk menunggu sang pemilik nama Muhamad Dafi itu muncul.


Sekitar dua menit Vita menunggu, akhirnya ustadz Dafi muncul dengan suara dehemannya.


"Bahkan saya rela menunggu selama mungkin sampai ustadz bener-bener siap." Jawab Vita lirih namun masih terdengar di telinga ustadz Dafi.


Ustadz Dafi terkekeh, kemudian ia duduk berhadapan dengan gadis yang selalu mengejarnya itu.


"To the point aja, kenapa ustadz memanggil saya?"


"Waktu itu, sempet saya lihat anty ke perpustakaan nyari kamus bahasa arab, bagian mananya pelajaran saya yang membuat anty kesulitan?"


Belum sempat Vita menjawab, ustadz Dafi kembali melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"Ternyata gigih sekali usaha anty untuk membuat hati saya luluh."


"Namanya juga cinta," jawabnya sambil menunduk malu.


"Benarkah cinta?"


Vita mengangguk.


"Tapi anty itu masih terlalu muda untuk mengerti cinta. Mungkin anty hanya mengerti katanya, tapi tidak dengan arti dan maknanya."


"Maksud ustadz?"


"Vita, saya sangat menghargai perasaan kamu kepada saya. Tapi sekali lagi perasaan yang kamu rasakan terhadap saya itu bukan cinta yang sesungguhnya. Cinta punya arti tersendiri yang maknanya sangat dalam, bukan cinta seperti yang selalu kamu tunjukan kepada saya," jelas ustadz Dafi.


Ini kali pertama ustadz memanggilku dengan namaku sendiri. Tetapi rasanya tidak adil dengan apa yang aku rasakan di dalam sini. Menurutku, cinta tetaplah cinta, tidak bisa dibeda-bedakan hanya karena menunjukan cara yang berbeda. Aku mencintaimu sungguhan, bukan sebuah kebetulan atas ketampananmu. Kau benar, ustadz, mungkin aku belum mengerti makna dan arti cinta yang sebenarnya, tetapi bukankah itu perlu penjelasan?


Vita tersenyum kecut memandang wajah pria yang selalu menolaknya itu."Saya tidak pernah menyesal dengan apa yang saya rasakan sekarang ini, tidak perduli tanggapan ustadz seperti apa. Saya hanya berpikir, ustadz belum bisa menerima saya makanya ustadz ngomong gitu. Keabaian saya, diamnya saya, bukan berarti saya membenci dan melupakan perasaan saya. Semoga ustadz tidak pernah menyesal! Dan maafkan atas semua perasaan saya yang membuat ustadz tidak nyaman, saya permisi assalammualaikum."


"Waalaikumsalam."


Vita bergegas keluar dari ruangan guru, namun ia tak langsung menuju kelas, melainkan ia pergi ke kolam ikan yang berada di belakang sekolah.


Vita menumpahkan air matanya di sana, sesak rasanya mendengar ketidakpercayaan ustadz Dafi akan perasaannya. Apakah cinta tulus itu di ukur dari usia seseorang? Melihat usiaku yang masih belasan tahun, apa ustadz berfikir cintaku hanya main-main? Perasaan cuma sesaat? Asal ustadz tahu, baru pertama kalinya aku merasakan cinta yang luar biasa gejolaknya. Ustadz, sampai kapan aku harus bertahan untuk cinta yang tidak pernah terbalaskan? Aku mulai lelah..

__ADS_1


❣️TBC❣️


__ADS_2