
Suasananya begitu asri, udaranya masih sejuk, tempatnya tak begitu ramai, tenang dan damai. Suara ayam jantan saling bersahutan, embun pagi menetes membasahi tanah yang kering.
Semburat berwarna orange muncul dari ufuk timur. Inilah matahari pertama sejak tiga bulan berlalu. Sejak penolakan yang terakhir kalinya ustadz Dafi berikan untuk jawaban tentang hati dan perasaan Vita.
Vita duduk seraya memainkan air yang terdapat beberapa ikan hias di dalamnya. Ia merindukan sosok Lala, sahabatnya yang sudah tiga bulan tak bertemu. Kabarnya, Lala tidak melanjutkan kuliah dan memilih bekerja sebagai kasir di salah satu minimarket. Sementara Vita, pada akhirnya memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya sebagai mahasiswi santri di pesantren Al-Azhar di kota bandung.
"Gue rindu lo, La," gumamnya.
"Assalammualaikum, afwan kak dipanggil Umi Hilda," ucap salah satu santri yang datang menghampiri Vita.
"Waalaikumsalam, terimakasih."
Vita menemui Umi Hilda di rumahnya, terlihat begitu ramai orang di sana.
Sekilas ia melihat sandal yang biasa Lala kenakaan saat ingin pergi kemanapun. Tapi rasanya tidak mungkin Lala kemari.
"Assalammualaikum."
"Waalaikumsalam.
"Ibu, Ayah!" Vita menyalami ke dua orangtuanya yang datang menjenguk, memeluk mereka secara bergantian.
Ini baru kali pertama Vita disambangi orangtuanya, selama ini, ia hanya berbicara melalui telfon milik Umi Hilda.
"Vita kangen kalian," ucapnya sambil menangis memeluk sang Ibu.
"Ibu juga ndok, gimana kabar kamu, sehat?"
Vita mengangguk,"Lala apa kabar Bu?" Vita turut serta menanyakan kabar sahabatnya.
Ibu Rahma tersenyum.
"Gue baik, Vit." Tiba-tiba Lala muncul dari balik pintu. Vita langsung bangkit dan berhambur memeluk sahabatnya. Lebih tepatnya banyak hal yang harus mereka bicarakan setelah tiga bulan berlalu.
"Gue kangen lo tauk."
"Gue juga, lo apa kabar di sini?"
"Seperti yang lo liat, gue baik-baik aja," jawab Vita tersenyum.
"Tapi gak dengan yang ini kan?" Lala menunjuk dadanya, ia tahu betul sahabatnya tidak mungkin bisa melupakan cinta pertamanya, sejauh apapun jarak di antara mereka.
__ADS_1
Mereka berbincang-bincang melepas rindu, Vita meminta izin kepada orangtuanya serta Umi Hilda untuk mengajak Lala keluar. Ada banyak hal yang ingin dibicarakan dengan sahabatnya.
Lala duduk di tepi kolam melihat ikan-ikan yang menghampirinya seolah tengah menyambut kedatangannya.
"Apa dulu yang mau lo tanyain?" Lala bertanya tanpa menatap sahabatnya.
"Apa ustadz Dafi sudah menikah?" Tanya Vita hati-hati. Takut Lala masih mewanti-wantinya untuk tidak lagi mengejar ustadz Dafi yang jelas menolaknya.
"Mungkin sudah.."
"Oh, sudah ya?"
"Kalo lo gak pergi menjauh kayak gini," lanjut Lala lagi.
"Maksud lo apaan? Kalo gue gak menjauh? Apaan dah, La gue gak ngerti."
Lala dengan hati-hati menghembuskan nafasnya dalam-dalam sebelum ia menceritakan semuanya.
Flashback On
Setelah penolakannya di bandara waktu itu, ustadz Dafi tidak lagi bertemu dengan Vita. Umi Kulsum menceritakan bagaimana baiknya gadis itu mau membantunya. Ustadz Dafi memutuskan untuk pergi ke rumah Vita meminta maaf atas semua perlakuannya.
"Untuk apa anda kemari? Apa tidak cukup kesedihan yang anda ciptakan di hidup putri saya?" Ibu Rahma meradang melihat ustadz Dafi mendatangi rumahnya. Vita pergi karenanya, karena hatinya yang dibuat terluka berkali-kali. Ibu Rahma merasa tidak terima, mengingat bagaimana susah payahnya Vita memberikan kejutan di hari ulang tahun ustadz Dafi kala itu. Namun dengan tega ustadz Dafi menolaknya.
"Assalammualaikum, apa benar ini rumah Lala?"
"Benar, saya Ibunya, ada apa Mas?"
"Apa Lalanya ada, Bu? Saya ada perlu sedikit dan ini sangat penting."
"Penting apa?"
"Saya guru Lala waktu beliau masih SMA, dan.."
"Oh, mau bicarakan soal ijazah ya Pak?"
Ustadz Dafi mengangguk, ia terpaksa berbohong demi bisa bertemu dengan sahabat Vita secara langsung.
"Mohon maaf pak, Lala sekarang sudah bekerja di minimarket yang gak begitu jauh dari sekolahnya dulu."
"Tidak apa-apa bu, biar saya sendiri yang kesana. Terimakasih bu, saya permisi, assalammualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
Tidak menunggu waktu lama, ustadz Dafi langsung pergi menuju tempat kerja Lala seperti yang ibunya katakan.
Memarkirkan motornya, kemudian melangkah masuk ke dalam minimarket.
"Ustadz Dafi," gumam Lala terkejut melihat ustadz Dafi yang sudah berdiri di depan kasir.
"Bisa kita bicara sebentar?"
Lala mengangguk, kemudian mengikuti langkah ustadz Dafi dari belakang.
"Ada apa tadz? Tumben nyari saya."
"Saya perlu informasi dari anty keberadaan Vita sekarang, apa anty tau?"
"Memangnya kenapa? Ustad mau matahin hatinya lagi? Sudah cukup ya tadz buat hati sahabat saya terluka, dan sekarang dia udah adem ayem nenangin diri di suatu tempat."
"Saya mohon! Beritahu saya dimana tempatnya."
"Gak puas nyakitin perasaan sahabat saya? Toh, bukannya ustadz mau nikah ya, kenapa masih nyari sahabat saya? Kalo cuma mau niat ngasih undangan doang mah mending gak usah tadz, Vita juga gak bakalan sanggup dateng."
Di sanalah ustadz Dafi mencurahkan semua isi hatinya yang sudah lama ia pendam dengan rapat.
Flashback Off
Lala menceritakan panjang lebar tentang ustadz Dafi pada sahabatnya. Obrolan mereka harus terjeda karena deringan ponsel Lala bersuara.
"Nih!" Lala menyodorkan ponselnya kepada Vita.
"Siapa, La?" Tanya Vita kebingungan.
"Ngomong aja, atau kalo lo gak nyaman gue bisa pergi dulu."
Vita menggeleng,"Gak perlu, lo disini aja."
"Hallo, assalammualaikum."
"Waalaikumsalam."
Deg...
__ADS_1
❣️TBC❣️