
Pada akhirnya ustadz Dafi pun tahu, bahwa ustadz Ilham akan datang ke rumah Vita untuk mengkhitbahnya. Dua hari lagi, tentu saja ustadz Dafi tidak tinggal diam, ia akan berusaha menjelaskan semuanya pada Vita.
Ustadz Dafi menunggu Vita keluar dari dalam kelasnya, ia menunggu dengan posisi sedikit berjarak dari pintu. Beberapa saat setelahnya, Vita keluar dengan menenteng sebuah buku.
Mumpung suasana sepi, ustadz Dafi menghampiri Vita.
"Anty ikut saya sekarang!"
"Kalau saya tidak mau?"
"Tidak ada pilihan lain, Anty saya gendong!"
Mata Vita melotot tajam mendengar perkataan ustadz Dafi. Wajah dan tatapannya penuh keseriusan. Vita tahu, ia pasti akan mempertanyakan soal ustadz Ilham yang akan berkunjung ke rumah dua hari lagi. Dan inilah waktu untuk se you good bay dengan ustadz Dafi serta luka-lukanya.
"Katakan sekarang apa yang mau ustadz omongin sama saya! Saya gak punya banyak waktu buat ngobrol lama-lama, masih banyak tugas yang harus saya selesaikan," ucap Vita to the point.
"Apa maksud perkataan ustadz Ilham mau ke rumah dua hari lagi?"
"Apa urusannya sama ustadz? Saya rasa gak ada dan gak perlu juga ustadz tau soal itu."
"Jelas ada."
"Apa?"
__ADS_1
Ustadz Dafi terdiam, ia bingung harus menjelaskan bagaimana tentang ini kepada Vita.
"Gak bisa jawabkan? Udahlah ustadz, saya mau ngapain dan mau gimanapun juga gak ada hubungannya sama ustadz Dafi."
"Saya tidak rela."
Vita menghentikan langkahnya yang hendak pergi setelah mendengar kata-kata ustadz Dafi yang jelas menjadi sebuah pertanyaan dalam benaknya.
"Hah? Saya gak salah denger nih, ustadz gak rela? Atas dasar apa?"
"Vita, saya pria dewasa yang tidak bisa mengumbar masalah hati dan perasaan saya kepada siapapun yang bukan mahram saya. Tolong mengertilah!"
"Gimana saya mau ngerti kalo ustadz aja gak bisa jawab pertanyaan saya."
"Saya tidak bisa menjawabnya sekarang, tetapi setelah kamu tau apa yang akan saya lakukan, mungkin kamu bisa mengerti."
"Apa kamu yakin?" Ustadz Dafi memastikan lagi ucapan Vita, barangkali ia salah dengar atau ucapannya hanya sekedar bercanda.
"Sangat-sangat yakin!"
"Berarti sekarang kamu yang nolak saya."
"Tidak ada yang menolak tidak ada yang mengajak, ini real apa yang sudah saya alami sebelumnya. Jadi bersikap tidak perduli adalah diri saya yang sekarang."
__ADS_1
"Kamu marah setelah baca surat masa kecil saya dan Rania, kenapa tidak mengakui itu?"
"Apa gunanya? Toh saya sudah tidak perduli lagi."
"Rela saya menikah dengan perempuan lain?"
"Silahkan! Itu pilihan anda," jawab Vita mengalihkan pandangannya, walau hatinya terasa nyeri tetapi ia sembunyikan semua itu.
Ustadz Dafi menghela nafasnya dalam-dalam, ia cukup serba salah menghadapi wanita yang pura-pura acuh sebenarnya membutuhkan. Cukup sabar ustadz Dafi menghadapi Vita yang memang tengah marah padanya. Walaupun ustadz Dafi tau, Vita tidak akan berpaling darinya secepat itu, ia tetap memilih diam. Dan sekarang, bukan hanya jalur langit yang akan membantunya, tetapi usahanya sendiri yang akan menjelaskan semuanya pada Vita dan ke dua orangtuanya.
"Baiklah, saya beri kesempatan sekali lagi untuk menjawab. Rela melihat saya menikahi perempuan lain?" Tanya ustadz Dafi lagi.
"Kenapa harus bertanya dengan saya? Mau nikah sama siapa kek itu pilihan ustadz, saya gak ada hak buat melarang."
"Baiklah, saya berjanji, dalam satu minggu ke depan akan mengirimkan undangan pernikahan saya untukmu. Saya permisi dulu, assalammualaikum."
"Waalaikumsalam."
Vita terduduk lemas melihat kepergian ustadz Dafi. Satu minggu ke depan ustadz Dafi akan menikah, dia akan berstatus sebagai suami. Lalu aku? Aku tidak akan lagi bisa mengharapkannya, bahkan untuk berbicara seperti ini sangat tidak mungkin rasanya.
Vita menyembunyikan wajahnya di lipatan lutut, air matanya berurai. Mencintai seseorang yang tidak suka dengan kita rasanya sangat sakit. Kenapa hati harus berlabuh padanya? Tidak bisakah ia memilih?
Oh Tuhan..
__ADS_1
Aku benci manusia bernama Dafi, si pria egois yang tidak bisa menghargai perasaanku. Aku membencinya, sangat membencinya!
❣️TBC❣️