Kesemsem Guru Bahasa Arab

Kesemsem Guru Bahasa Arab
Surat


__ADS_3

Bel pulang berbunyi, Vita dan Lala bergegas menuju parkiran. Kali ini pandangan Vita tidak hanya fokus ke jalanan, tapi sebuah toko yang menjual aneka pernak-pernik di sebrang jalan. Vita meminta Lala menghentikan sepeda motornya tepat di depan toko itu. Setelah motor berhenti, Vita langsung bergegas masuk ke dalam toko dengan di susul Lala setelah memarkirkan motornya.


Mereka melihat berbagai pernak-pernik di etalase toko. Namun belum ada yang menyita perhatiannya.


"Unik ya, Vit? Lucu lagi, harganya berapa ya?" Lala merasa gemas melihatnya.


"Mahal, La, duit gue kagak cukup."


"Vit, gue punya celengan kodok di rumah, kalo lo mau pake aja dulu!"


"Seriusan?" Vita berbinar seketika.


Lala mengangguk,"Tapi perlu kita selotip dulu, soalnya recehan semua."


Vita menepuk jidatnya, merasa ini adalah pekerjaan berat. Mending gak jadi deh. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah rak yang isinya adalah buku, undangan dan lain sebagainya.


"Vit.." Lala menaik-turunkan alisnya menunjukan sebuah plastik berisi kertas berwarna pink. Dengan cepat Vita mengambilnya, seketika itu senyumnya mengembang sempurna. Sekarang ia tahu cara paling mujarab menyatakan perasaan tanpa diketahui orang adalah mengiriminya sebuah surat. Pak Ustadz ganteng, tunggu surat cinta dariku ya?!


*****


Vita mengeluarkan kertas pink itu dari dalam plastik. Hatinya menggebu-gebu merasa tidak sabar ingin segera menorehkan isi hatinya di kertas itu dalam bentuk tulisan. Ia mengambil pulpen dengan tinta merah dan mulai menggoreskan kata-kata yang selalu tersimpan dalam hatinya. Rangkaian kata sudah siap untuk ia tuliskan di atasnya.


Dear USTADZ



DAFI yang

__ADS_1



Ganteng. Assalammualaikum..


Setelah ustadz membaca surat ini, mungkin hatiku akan merasa lega. Aku berusaha menahan malu untuk bisa mengirimimu sebuah surat tentang bagaimana hati dan perasaanku.


Maafkan aku yang sudah lancang karena mencintaimu, guruku. Tetapi ustadz, bukankah cinta butuh perjuangan? Dan izinkan aku untuk tetap berjuang mempertahankan perasaanku untuk mendapatkanmu.


Ustadz, tidak ada hati yang akan merasa baik-baik saja dikala cinta tak bersambut. Termasuk penolakan berkali-kali yang ustadz berikan. Tetapi aku tidak marah untuk itu, justru aku merasa perlu bekerja keras memperjuangkan cintaku.


Ustadz! Bukankah cinta juga harus ikhlas? Maka dari itu aku ikhlas untuk menunggu, menunggu sampai ustadz mau menerimaku. Meskipun itu harus ku pertanyakan setiap harinya. Untuk hari ini, hanya ini yang bisa kusampaikan melalui tulisan. Lain waktu kita sambung lagi.


Cukup sekian dan terima cinta



Tertanda



Vita merasa puas dengan surat yang sudah berhasil ia buat. Senyumnya kembali mengembang tak sabar menunggu hari esok.


Vita melipat kertas itu dengan rapi, supaya ustadz Dafi terkesima saat membukanya. Ia senyum-senyum sendiri membayangkan ekspresi ustadz Dafi saat membaca surat ini.


Tidak ingin terlambat untuk hari esok, Vita memutuskan untuk segera tidur.


****

__ADS_1


Hari yang paling menegangkan untuk Vita, ia harus berfikir keras bagaimana cara menyampaikan surat itu pada ustadz kesayangannya. Ia tak memiliki keberanian untuk memberinya secara langsung. Yang ada malah merasa ketakutan, takut surat itu berpindah pada tong sampah sebelum dibacanya.


"Gimana dong, Vit? Tu buku dikekepin terus di kelek" Lala juga kebingungan dengan cara apa ia membantu sahabatnya memberikan surat itu pada sang pujaan hati. Mereka berencana menyelipkan surat itu dalam buku diktat yang selalu ustadz Dafi bawa kemanapun ia pergi.


"Gue juga bingung, gimana ya?"


"Apa kita nekat aja ke mejanya?"


"Itu sih cari mati namanya."


Lala tertawa mendengarnya, ia bangkit dari duduknya menuju perpustakaan. Lala meminta Vita mengikutinya.


"Gue punya cara manjur bet dah," ucap Lala dengan yakin.


Rencananya itu sangat membuat orang penasaran, tapi sebisa mungkin Vita menahannya. Selain itu, Lala tak mau memberitahunya sebelum semuanya beres. Mereka berjalan menyusuri setiap koridor sekolah. Dari kejauhan terlihat ustadz Dafi baru saja keluar dari kantin. Saat mereka sudah dekat, Lala dengan sengaja mendorong Vita hingga membuatnya terjatuh menubruk ustadz Dafi. Sialan Lala! Skenario apaan ini?


"Anty tidak papa?"


Vita hanya menggeleng sebagai jawaban. Lala membantunya berdiri, sementara ustadz Dafi memunguti buku-bukunya yang berserakan. Mata Vita tertuju pada sebuah amplop pink miliknya yang tergeletak di dekat buku diktat milik ustadz Dafi. Ustadz Dafi membereskan semua barang miliknya terkecuali surat itu. Kemudian melangkah pergi.


"Ustadz!" Lala mengambil amplop berwarna pink itu dan memberikannya pada ustadz Dafi."Ini tertinggal."


"Tapi.."


"Saya melihatnya terjatuh dari buku diktat milik ustadz Dafi. Ini!"


Ustadz Dafi menerimanya kemudian kembali melangkah pergi. Vita dan Lala bertos ria akhirnya rencana mereka berhasil. Tinggal menunggu jawaban dari sang pujaan hati.

__ADS_1


"Besok lo harus traktir dua mangkok bakso, Vit!"


"Eleh, satu mangkok aja lo jarang abis." Sedetik kemudian, mereka dengan kompak tertawa.


__ADS_2