Kesemsem Guru Bahasa Arab

Kesemsem Guru Bahasa Arab
Babu Cinta


__ADS_3

Bener-bener konyol, bisa-bisanya aku minum air kobokan saking terbawa emosi sampai tidak bisa membedakan yang mana kobokan yang mana air minum. Lala sampai tak berhenti tertawa mengingat kejadian itu. Benar-benar memalukan!


"Maafin gue, Vit."


"Puas lu?"


Lala terkikik lagi, buru-buru ia menutup mulutnya melihat tatapan Vita yang tak bersahabat. Selepas kejadian kemarin, Vita mempunyai misi baru untuk melancarkan aksinya mendekati ustadz idola.


"Ngemeng-ngemeng, apa rencana lo hari ini?"


"Ada deh, tapi lo cukup diem di kelas aja, La gak usah ngekor!" Ucap Vita.


Lala akhirnya setuju dengan catatan bahwa sahabatnya itu tidak membuat onar yang bisa membuatnya kena takzir.


Vita memutuskan untuk pergi menuju perpustakaan, langkahnya tampak ragu-ragu antara ingin masuk atau kembali ke kelas. Seseorang yang dicarinya belum terlihat batang hidungnya, biasanya di jam segini ustadz Dafi berada di kantin, setelahnya ia shalat di mushola. Otaknya mulai bereaksi setelah melihat beberapa guru yang keluar dari ruangannya untuk ke kantin.


Vita membulatkan tekad untuk pergi ke ruangan para guru. Ia sangat yakin bahwa ustadz Dafi masih berada di dalam sana. Sesampainya di depan pintu, Vita hampir saja bertubrukan dengan ustadz Dafi yang ingin keluar.


"Astagfirullah, selalu saja anty mengagetkan saya."


Vita terkekeh geli melihat ustadz Dafi menghapus-hapus dadanya. Matanya itu indahnya masyaAllah, melihat ekspresinya yang seperti itu, ustadz Dafi terlihat semakin tampan. Sorot matanya memukau dengan cambang tipis-tipis.


"Anty lihat apa?"


Vita tersentak kaget. Lamunannya buyar seketika, ia kembali memasang wajah lugu. Namun ustadz Dafi menatapnya dengan tatapan yang entahlah.


"Ustadz mau kemana?"


"Memangnya kenapa?"


"Ditanya kok malah balik nanya sih, ustadz"


"Saya mau ke kantin cari minum, memangnya kenapa?" Suaranya tajam bahkan sorot matanya juga. Sepertinya ustadz Dafi tampak emosi melihat kehadiran Vita.


Beliau bersiap hendak pergi menuju kantin, tetapi Vita justru mencegahnya. Ia menawarkan diri untuk memesankan minumannya dan membawa ke hadapannya, sementara ustadz Dafi tetap menunggu di tempat.


Jadi babu demi cinta tak apalah, demi mendapatkan hati sang guru idola Vita harus rela mengorbankan tenaganya. Dengan jurus seribu bayangan, Vita sudah berada di kantin dan memesan secangkir kopi panas.


Setelah minuman pesanan ustad Dafi berada di tangannya, Vita memutuskan ke tempat semula. Dilihat ustadz Dafi tidak ada di sana, tanpa basa-basi Vita langsung masuk menemui ustadz Dafi dan menyerahkan kopi yang sudah ia pesan tadi.


"Kok kopi?"

__ADS_1


"Iya, kan ustadz sukanya kopi."


"Siapa yang bilang?"


"Gak ada sih, tapi kemaren ustadz bawanya kopi dari kantin."


"Bukan buat saya! Itu untuk Pak Burhan."


Vita terbelalak, lagi-lagi harus pak Burhan, ada hubungan apa sih mereka?


"Terus ini gimana tadz?"


"Ya kasihkan aja ke pak Burhan, saya gak bisa minum kopi."


"Ustadz sih gak bilang."


"Anti gak nanya."


Ah bener juga, mengingat aku langsung pergi begitu saja ke kantin tanpa bertanya lebih dulu minuman kesukaan ustadz Dafi. Beginilah kalau raga pergi tapi hati tetap tinggal. Ambyarrr..


"Ya sudahlah ustadz, biar saya minum saja."


"Ustadz beneran gak mau? Enak loh, yakin gak mau, ntar nyesel loh."


Ustadz Dafi menggeleng, kemudian fokus kembali pada buku-bukunya.


"Ustadz"


"Hmm.."


"Saya boleh nanya gak?"


"Kalo saya bilang gak boleh gimana?"


"Ya jangan dong, ustadz."


Ustadz Dafi mengendikan bahunya dan kembali fokus akan kegiatannya. Vita memandangi indahnya ciptaan Tuhan yang satu ini, hingga beberapa menit mereka masih sibuk dengan aktifitas masing-masing.


"Anty masih di sini?"


"Memangnya saya mau kemana ustadz?"

__ADS_1


"Entah."


Bu Yasmin masuk setelah kembali dari kantin. Beliau merasa keheranan melihat Vita duduk di depan meja ustadz Dafi. Tidak banyak tanya dan ambil pusing, bu Yasmin duduk di tempatnya dan mengira bahwa Vita tengah di takzir.


Setelah hampir semua guru kembali ke kantor, bel masuk berbunyi.


"Ustadz saya ke kelas dulu ya?" Ucapnya hendak menarik tangan ustadz Dafi, dengan cepat ustadz Dafi menariknya.


"Kita bukan mahram!"


Vita mendengkus kesal. Ia berjalan keluar dengan membawa gelas kopi yang isinya sudah habis ia minum.


Namun baru beberapa langkah, ustadz Dafi memanggilnya.


"Tunggu! Kenapa anty sendirian? Mana temen yang biasanya bersama anty."


"Ustadz kenapa nanyain Lala? Yang suka sama ustadz itu saya, bukan Lala!"


Dada rasanya sesak sekali mendengar ustadz Dafi menanyakan Lala. Buru-buru Vita melangkah keluar ruangan. Tak dihiraukannya tatapan heran para guru yang melihatnya. Ada salah satu organ yang letaknya bersembunyi dibalik tulang rusuk terasa nyeri. Sebut saja hati.


Vita menuju kantin mengembalikan gelas sebelum ia kembali ke dalam kelas. Lala yang sudah duduk rapi mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Vita diam seribu bahasa. Ia memasukan buku-buku dari dalam laci ke dalam tasnya. Lala menahannya dengan cepat. Vita menunduk, ia tak kuat mengangkat wajahnya demi menyembunyikan kesedihan dari raut wajahnya.


Buliran bening itu lolos begitu saja, Lala merengkuh tubuh sahabatnya memberikan sebuah ketenangan.


"Lo kenapa, Vit? Cerita sama gue!"


Bibirnya kelu. Sesak yang dirasakan dalam dadanya tak mampu membuatnya bicara. Setelah sedikit tenang, baru ia menceritakan semuanya pada Lala.


"Ya Ampun Vit, lo cemburu lagi?"


"Namanya juga cinta, La."


"Itu sih bukan cinta, tapi labil."


"Udah ganti nama ya, La?"


"Au, ah. Gue ruqiah juga lu ntar lama-lama."


Melihat ekspresi Lala yang cemberut membuat Vita gemas dan mencubit pipi sahabatnya. Ternyata dia lebih jelek kalau merajuk wkwkw.


❣️TBC❣️

__ADS_1


__ADS_2