
Vita merasa bersalah karena kesalahpahamannya kepada ustadz Dafi yang mengira sudah memiliki calon pendamping. Vita berkenalan dengan Fitri, adik ustadz Dafi yang baru saja pulang dari studinya di kairo.
Vita menceritakan banyak hal tentang ustadz Dafi termasuk juga penolakannya.
"Ya ampun, Abang sudah buta mungkin, cantik gini kok ditolak," ucap Fitri.
Setelah berbincang-bincang cukup lama, Vita memutuskan untuk segera pulang. Sekarang tidak ada alasan untuk berhenti mengejar cintanya, hanya perlu selangkah lagi untuk bisa mendapatkan cinta ustadz Dafi, yaitu lewat jalur dalam. Ya, melalui keluarganya, Vita sangat yakin ustadz Dafi tidak akan menolak kali ini.
*****
Hari penentuan atas usahanya dalam belajar selama tiga tahun di seragam abu-abu ini terpampang di mading lembaran-lembaran nama-nama siswi yang lulus.
Semuanya berdesak-desakan untuk melihat nama masing-masing. Lala dan Vita bersusah payah untuk sampai di depan mading melihat nama mereka.
"Vit, gue lulus. Alhamdulilah ya Allah, gue lulus," sorak sorai Lala merasa bahagia melihat tulisan lulus di deretan namanya.
"Cariin nama gue, La!"
Lala mengangguk, dengan jari telunjuknya, ia menyusuri deretan tulisan di lembaran kertas.
"Vit, lo lulus nilai lo paling tinggi," Seru Lala.
"Seriusan? Coba gue lihat!" Vita melangkah lebih dekat untuk bisa meraba tulisan yang katanya lulus dengan nilai tertinggi.
"Alhamdulilah ya Allah, usaha gue gak sia-sia," Vita meneteskan air matanya. Usaha dan belajarnya tidak mengecewakan, hasilnya membuatnya sangat puas.
Ustadz, aku lulus! Statusku bukan lagi sebagai pelajar, semoga kali ini ustadz gak nolak.
*****
Ke dua orangtua Vita memintanya untuk melanjutkan kuliah, Vita sendiri masih bimbang untuk tetap melanjutkan sekolahnya atau tidak. Yang pasti, saat ini ia tengah menunggu seseorang yang berhasil mengusik hati dan pikirannya.
Vita semakin dekat dengan keluarga ustadz Dafi, terutama Umi Kulsum. Sementara Fitri, sekarang ia menggantikan ustadz Dafi sebagai guru mapel bahasa arab di sekolah Madrasah Aliyah As-Salam.
"Umi, kapan ustadz Dafi pulang?"
"InsyaAllah seminggu lagi, nak," jawabnya dengan senyum.
"Beneran, Umi?" Vita berbinar ketika Umi Kulsum mengangguk. Hatinya makin berbunga, ia merasa tidak sabar untuk bertemu dan mempertanyakan perasaan ustadz Dafi saat itu.
Rindu sekali..
__ADS_1
Sudah hampir dua bulan ustadz Dafi pergi, tetapi rasa rindu yang Vita rasakan sudah menggunung. Tidak bisa berkata-kata selain berbahagia menunggu kepulangannya.
Vita memutuskan untuk pulang mengingat waktu sudah sangat sore.
"Ini buat Ibumu, jangan lupa sampaikan salam Umi!" Umi Kulsum memberikan rantang kepada Vita untuk orangtuanya.
"Terimakasih banyak, Mi. Maaf merepotkan."
"Tidak sama sekali, besok-besok main lagi ya? Temenin Umi!"
Vita mengangguk,"InsyaAllah, Umi. Vita pamit pulang dulu, assalammualaikum."
"Waalaikumsalam."
Vita mengendarai motornya menyusuri jalan membentang. Setelah sesampainya di rumah, Vita melihat Lala tengah berjalan mondar-mandir di terasnya layaknya setrika rusak.
Belum juga ia turun dari motornya, Lala menghampirinya dengan segerombol pertanyaan.
"Lo darimana coba? Kenapa gak ngajakin gue? Jangan-jangan lo nemuin cowok baru ya? Atau lo ke suatu tempat yang gue gak tau?"
"Udah nanyanya?"
"Belom, lo belum jawab pertanyaan gue."
"Seriusan? Kan ustadz Dafi gak ada, kok lo sering banget ke sana?"
"Memangnya kenapa kalo gak ada ustadz Dafi? Toh ada Umi sama ustadzah Fitri kan?"
Lala pada akhirnya mengerti maksud tujuan Vita. Sebenarnya menjalin silahturahmi karena ada maksud tujuan tertentu adalah hal yang salah. Tapi mau bagaimana lagi? Hidup harus tetap berjalan kan?
"Vit, lo yakin ustadz Dafi bakalan nerima lo setelah status lo bukan pelajar lagi?"
"Harus yakin dong, ustadz Dafi adalah jodoh gue, titik!"
"Pemaksaan takdir, lo."
"Usaha dulu kan gak salah."
Lala sendiri merasa tidak yakin dengan harapan Vita yang terlalu tinggi akan balasan cinta dari ustadz Dafi. Mengingat penolakan yang selama ini dia lakukan, pasti banyak alasan untuk itu selain usia dan status.
*****
__ADS_1
Pagi sekali, Vita meminta izin kepada Ibu dan Ayahnya untuk ikut menjemput ustadz Dafi ke bandara.
Perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, Vita hanya mampu membayangkan bahwa dirinya akan segera menjadi nyonya Dafi.
Mobil sudah sampai di parkiran bandara, Vita, Umi Kulsum serta Fitri berjalan menuju tempat menunggu kepulangan penumpang.
Sekitar lima belas menit menunggu, sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul. Vita memandang tak berkedip, ustadz Dafi terlihat pangling setelah dua bulan tak melihatnya. Ustadz Dafi menyalami Uminya, kemudian dilanjut dengan adiknya. Ia hanya melihat sekilas keberadaan Vita di sana, ustadz Dafi tidak menyapanya, tatapan dan ekpresinya tidak berubah, masih datar seperti dulu.
"Assalammualaikum, Umi."
Perempuan bercadar menghampiri Umi Kulsum dan menyalaminya.
"Waalaikumsalam. Ini Rania?"
"Na'am, Umi, masa lupa."
"Mana mungkin Umi lupa, dulu kamu sering main bareng sama Dafi, sering nangis kalo Dafi punya temen lain, apa lagi temennya perempuan. MasyaAllah kalo inget waktu kecil kalian, Umi rindu," ucapnya dengan semangat, memory tentang masa kecil mereka tiba-tiba memutar.
Deg...
Vita yang mendengar itu sontak saja hatinya terenyuh nyeri. Perempuan itu adalah teman masa kecil ustadz Dafi yang sangat akrab dengan keluarganya. Dan dia bersama ustadz Dafi? Apa itu artinya perempuan inilah calon sesungguhnya?
Seperti orang asing, Vita hanya menjadi pendengar diantara mereka yang saling mengobati rindu. Tidak ada yang mengajaknya bicara, bahkan ustadz Dafi menyapanya pun tidak.
Vita meminta izin untuk pergi ke toliet, namun saat hendak keluar, secara tidak sengaja tubuhnya bertubrukan dengan ustadz Dafi.
"Maaf, Ustad saya gak sengaja," ucap Vita.
Ustadz Dafi mengangguk,"Tidak apa-apa." Ia hendak kembali melanjutkan langkahnya, tetapi sedetik kemudian Vita memanggilnya.
"Pertanyaan yang sama seperti dua bulan lalu, ustadz. Apakah ustadz sudah mencintai saya?"
Ustadz Dafi terlihat menghela nafasnya dengan dalam."Sudah berapa kali saya bilang, usia anty masih terlalu muda untuk mengerti soal cinta. Dan status anty..
"Saya sudah lulus, ustadz. Status saya bukan pelajar lagi. Untuk usia, saya rasa cinta gak bisa di ukur dari usianya, tapi bagaimana tulusnya perasaan itu."
"Saya sangat berterimakasih sekali, tapi maaf..."
"Apa karena perempuan bernama Rania tadi?" Vita memangkas kalimat ustadz Dafi, matanya sudah berkabut merasa tidak tahan mendengar jawaban penolakan yang selalu ustadz Dafi berikan untuknya.
"Bisa jadi," jawaban singkat ustadz Dafi namun sangat begitu jelas maknanya untuk Vita.
__ADS_1
"Terima kasih untuk rasa sakit ini, ustadz. Terimakasih untuk penolakan yang berkali-kali ustadz berikan, terimakasih untuk semuanya. Semoga dengan terakhirnya kita bertemu di sini, saya bisa menata hati dengan baik sekaligus mengubur dalam-dalam perasaan saya. Saya hanya bisa bilang, semoga ustadz Dafi bahagia dengan pilihannya, saya permisi ustadz, assalamualaikum."
❣️TBC❣️