
Sesuai keinginan Vita, ustadz Dafi mengulang kalimat ijab kabulnya di depan sang istri. Kini mereka benar-benar telah sah menjadi sepasang suami istri. Entah harus menyebutnya keberuntungan ataukah sudah takdir, namun jodoh sudah digariskan sebelum mereka dilahirkan.
Lalu bagaimana dengan Rania? Apakah dia menerima dengan ikhlas teman masa kecilnya menikahi wanita lain? Sementara ia sendiri menaruh harapan pada sahabatnya dengan mimpi bisa menjadi istrinya.
Rania memilih kembali melanjutkan studinya di kairo. Memberikan kenangan masa kecil itu kepada Dafi, siapa sangka setelah hari itu Dafi membuat komitmen. Tidak ingin lagi membuat seseorang yang dicintainya menangis, komitmennya benar-benar telah Dafi buktikan dengan bertekad menikahi Vita dalam waktu yang cukup singkat.
"Boleh aku tanya sesuatu, ustadz?"
"Gak boleh! Karna kamu masih memanggilku ustadz," ucap ustadz Dafi pura-pura merajuk.
"Terus apa?"
"Dek, kita itu sudah menikah, status kita bukan lagi murid sama guru, tapi udah suami istri. Panggil yang lain!"
"Hubby?"
Melihat ustadz Dafi mengangguk sambil tersenyum tipis membuat Vita terkekeh kecil. Ternyata lucu juga muka ustadz Dafi kalau lagi malu.
"Sekarang mau tanya apa sayang?"
Bukannya menjawab, Vita malah salah tingkah mendapat tatapan mesra dari suaminya. Terlebih lagi ustadz Dafi memanggilnya dengan kata sayang, membuat wajah Vita menampilkan semburat berwarna pink kemerahan.
"Dih mesem-mesem, hubby nanya loh, sayang tadi mau tanya apa?"
__ADS_1
"Ya ngeliatnya jangan gitu," Vita menutupi wajahnya dengan tangan. Ustadz Dafi merasa gemas, menyingkirkan tangan yang berusaha menutupi wajah istrinya.
Wajah mereka benar-benar sangat dekat, hampir tidak ada jarak, ustadz Dafi menatapnya penuh cinta. Vita yang merasa salah tingkah tubuhnya mendadak terasa panas, dahinya mulai mengeluarkan keringat kecil. Vita mengalihkan pandangannya ke arah lain, tetapi bukanlah ustadz Dafi jika tidak bisa membuat Vita menatapnya.
Seperti terkena sihir, Vita tidak dapat menolak, bahkan ciuman kecil itu membuat tubuhnya merasakan gelinyar aneh. Memberikan sinyal bahwa ia menginginkan lebih dari ini.
"Ntar aja kalo pengen, sekarang masih siang," ucap ustadz Dafi tiba-tiba dengan memundurkan sedikit tubuhnya memberikan ruang kosong di tengah-tengah mereka.
Vita mendelik tajam, tak habis fikir dengan suaminya yang terlihat pendiam tapi ternyata blak-blakan.
"Aku sangat penasaran soal ini sedari lama, dari mana Hubby tau aku mondok di bandung?"
Ustadz Dafi tersenyum, dengan gaya coolnya ia berjalan mendekati jendela.
"Hubby tau..
"Bukan."
"Dari Lala?"
"Bukan juga."
"Terus tau dari mana?"
__ADS_1
"Gak sengaja denger waktu kalian ngobrol di dapur."
"Oh jadi Hubby nguping? Sejak kapan ustadz Dafi jadi kepooo?" Vita terkekeh.
"Sejak Hubby menyadari di dalam sini ada kamu," ucap ustadz Dafi sambil menunjuk dadanya sendiri.
Vita terdiam, karena ia justru sulit memahami ustadz Dafi terutama perasaannya.
"Hubby sadar bahwa itu cinta setelah kamu menjauh dek, hubby merasa sangat menyesal waktu itu. I'm sorry my mife.."
Vita mendekati posisi suaminya yang tengah berdiri di dekat jendela, menggenggam ke dua tangannya lalu berkata,"Allah membuat kita menjadi sepasang suami istri dengan caranya sendiri, yaitu membalikkan hati Hubby yang tadinya amat sangat dingin sama aku. Dan aku, caraku mengejarmu ternyata tidak membuahkan hasil. Berulang kali aku berusaha, hanya luka yang selalu aku dapatkan. Akhirnya aku menyerah, memilih menjauh darimu yang memang tidak menyukaiku waktu itu. Tetapi ternyata, dengan aku menjauhimu, itu membuat Allah mendekatkan kita hingga jadi seperti sekarang. Ternyata benar ya apa kata Umi, gak sepatutnya kita mencintai sesama manusia lebih besar dari pada mencintai sang pencipta. Mengharapkan cinta hambanya karena nafsu itu sama saja seperti menggenggam pasir. Semakin digenggam ia akan semakin terlepas."
"MasyaAllah, istri Hubby jadi lebih pinter ya sekarang," ucap ustadz Dafi mencubit kecil hidung istrinya.
"Menjadi istrimu adalah keinginanku, tetapi, mencari ridhonya Allah adalah tujuan bersama. Anna uhibbuka fillah jauzi, inilah ungkapan cinta dari anak SMA yang kesemsem sama guru bahasa arabnya."
Tidak ada yang mustahil jika Allah sudah berkehendak, karena IA mempunyai segala cara untuk menyatukannya. Mengejar dan menjauh, dua cara yang berbeda namun berakhir dengan tujuan yang sama, yaitu bersatu dalam sumpah pernikahan.
Sejatinya, usaha tidak akan selalu berjalan dengan mulus. Begitu sebaliknya, ketika kita mengabaikan, namun ia justru mendekat. Begitulah takdir jodoh dengan dasyatnya kekuatan do'a yang mampu membuat Allah luluh dan membalikkan hatinya.
❣️END❣️
Sejujurnya ini adalah kisah nyata yang terjadi sama temen sekolah dulu, ceritanya hampir mirip, namun sedikit ada yang aku lebih-lebihkan.
__ADS_1
Makasih banget buat kalian yang udah mampir baca, semoga suka dan selalu nantikan karya-karyaku selanjutnya. Tetep stay cun selalu di Noveltoon ya..
Babay...