Kesemsem Guru Bahasa Arab

Kesemsem Guru Bahasa Arab
Sebuah Janji


__ADS_3

Suaranya tidak asing, bahkan Vita sangat menghafalnya. Suara itu yang selalu ia rindukan untuk menyapanya.


Harus mengekspresikan bagaimana ia tak tahu, rasanya tidak bisa dijelaskan. Tiga bulan berlalu, nyatanya hati dan perasaannya tidak berubah. Vita masih berharap akan ustadz Dafi, namun kali ini dengan cara yang berbeda.


"Bagaimana kabar anty?"


"Ba-baik ustadz," jawab Vita dengan gugup.


"Alhamdulilah. Apa anty melanjutkan kuliah?"


"Iya."


"Dimana?"


"Haruskah ustadz tahu? Saya rasa itu gak perlu," jawab Vita membuat ustadz Dafi terdiam untuk beberapa saat.


"Tidak ingin pulang?"


"Kalau tidak kenapa?"


Ustadz Dafi terdengar menghela nafasnya dalam-dalam, seperti ingin mengatakan sesuatu namun ia bingung harus memulainya dari mana.


"Maafkan saya atas semuanya!"


"Gak ada yang perlu dimaafkan, ustadz gak ada salah apapun."


"Tapi saya...

__ADS_1


"Semuanya sudah berlalu, ustadz. Dan saya rasa gak perlu mengulang lagi dengan kesalahan yang sama."


"Kalau saya perlu, apa kamu mau kembali?"


"Atas dasar apa ustadz meminta saya untuk kembali? Apa ustadz gak puas melukai hati saya? Ustadz gak rela kalo saya bahagia?"


"Apa saya sejahat itu?"


"Menurut ustadz?"


"Saya hanya mau kamu mendewasakan diri lebih dulu sebelum memikirkan masalah hati. Karena ini menyangkut masa depan yang halnya bukan mainan."


"Ck, bahkan sampai sekarang pun ustadz masih belum paham bagaimana perasaan saya. Umur saya boleh muda, ustadz. Gadis yang belum lama lulus SMA. Tapi kalo masalah hati, saya tidak akan main-main!"


"Kalau begitu maukah anty kembali?"


"Saya akan pulang kalau ustadz yang memintanya, tetapi untuk berhenti mencintaimu, saya perlu merujuk surat keterangan tidak mampu. Assalammualaikum."


"Lo gak papa?" Lala menatap aneh sahabatnya. Vita menggeleng sebagai jawaban.


Melupakan cinta pertama bukanlah hal yang mudah, terlebih lagi ustadz Dafi justru mempertanyakan keberadaannya saat ini. Haruskah Vita kembali?


****


Di tempat berbeda, Umi Kulsum menghampiri anak sulungnya yang baru saja berbicara melalui telfon.


"Daf.."

__ADS_1


"Eh, umi."


Umi Kulsum tersenyum, ia duduk dengan tatapan menerawang jauh."Umi tahu apa yang kamu pikirkan sekarang, dan inilah saatnya kamu berusaha, Daf."


"Maksud Umi?"


Umi Kulsum kembali tersenyum,"Hati kamu!"


Ustadz Dafi terdiam, jelas seorang Ibu akan terlihat lebih peka dengan perasaan anak-anaknya.


"Dafi masih belum yakin, Mi. Banyak hal yang harus dipertimbangkan lagi sebelum memutuskan."


"Umi terserah kamu saja, umi hanya bisa kasih saran, jangan melawan takdir hanya karena tidak sesuai keinginan hati. Justru itu akan menjadi tugas utamamu sebagai seorang suami dan juga muslim yang baik. Paham maksud Umi?" Ustadz Dafi mengangguk.


****


"Daf, kamu inget janji kita sewaktu kecil dulu?" Tanya Rania.


"Janji?"


"Iya, kita punya janji untuk selalu bersama-sama sampai kapanpun, sampai kakek nenek."


"Iyakah?"


"Kamu lupa ya, Daf? Oke gak papa, biar aku ingetin lagi. Kita saling janji buat hidup sama-sama sampe kakek nenek. Terus sekarang kita sudah sama-sama dewasa Daf, memikirkan masa depan sudah waktunya, lalu apa rencanamu?"


"Rencana?"

__ADS_1


"Iya rencana Daf, menemui ke dua orangtuaku misalnya."


❣️TBC❣️


__ADS_2