
Termangu dalam diam, membelakangi seseorang yang telah berhasil memporak-porandakan hati sekaligus pikirannya.
Mau bilang apa Vita tidak tahu, namun satu hal yang ingin ia dengar, sebuah penjelasan dari seseorang yang kini sudah sah menjadi suaminya.
"Dek..!"
Terasa aneh di telinga Vita saat mendengar sebutan adek dari bibir suaminya. Ia masih tak bergeming dengan posisi yang sama, berdiri membelakangi.
Jangankan menatapnya, berbicara dengannya Vita seolah tak sanggup. Susah payah ia melupakannya dengan berbagai cara hingga kini berhasil menyingkirkan seorang ustadz Dafi dari pikirannya.
Namun takdir seolah tak terima dengan apa yang terjadi sekarang. Sosok itu adalah suaminya, ustadz Dafi. Kenapa takdir harus meluluhkan hatinya ketika aku menyerah? Takdir mempersatukan kami ketika rasa itu perlahan memudar. Ya, setelah kejadian yang amat menyakitkan itu Vita benar-benar membulatkan tekadnya untuk melupakan sosok ustadz Dafi. Susah payah ia menyingkirkan nama dan wajah itu dari dalam hatinya, sakit dan hanya bisa menangis selalu terjadi setiap malam. Lalu sekarang? Kenapa harus dia?
"Boleh aku jelaskan semuanya dari awal?!" Ucap ustadz Dafi dengan hati-hati meminta izin kepada wanita yang baru saja ia nikahi beberapa jam yang lalu.
Vita tidak menjawab, ia hanya mengangguk kecil tanpa mengubah posisinya.
Flashback On
Setelah dimana hari ustadz Dafi mengatakan bahwa ia akan mengirimkan undangan pernikahan kepada Vita dalam waktu satu minggu, dari sanalah ustadz Dafi memutar otaknya untuk berpikir keras.
Ke esokan harinya, ustadz Dafi berpamitan pulang tanpa memberitahu Vita. Namun bukan pulang ke rumah orangtuanya, melainkan rumah Vita yang menjadi tujuan pertamanya.
"Assalammualaikum."
"Assalammualaikum."
Setelah beberapa kali ustadz Dafi mengucapkan salam sambil mengetuk pintu, barulah terdengar suara seorang pria yang menjawabnya dari dalam rumah. Ustadz Dafi tidak sendirian, ia meminta bantuan Lala untuk semua tujuannya kali ini. Karena Lala yang serba tau bagaimana keluarga Vita, termasuk Ibunya, karena itu ustadz Dafi melibatkannya dalam hal ini.
"Kamu..?"
"Saya Dafi, pak," Jawab ustadz Dafi.
"Kita harus ngobrol banyak Om, boleh kami masuk?" Tanya Lala kali ini. Pak Danu mengangguk dan mempersilahkan keduanya memasuki rumah.
Setelah mereka duduk,"Tante mana, om?"
__ADS_1
"Lagi angkat jemuran di belakang. Ada apa to, La kok kayaknya serius banget ini?"
"Ustadz, ngomonglah!"
"Mohon maaf jika kedatangan saya kemari menganggu keluarga bapak, saya hanya ingin memastikan, apakah benar ustadz Ilham akan mengkhitbah putri bapak?"
"Benar nak Dafi, kemungkinan besok beliau ke rumah."
"Pak, jujur, saya menaruh hati pada putri bapak. Saya tau saya banyak sekali kekurangan dan salah, tapi itu saya lakukan bukan karena saya membenci putri bapak. Saya hanya ingin beliau menjadi wanita yang terhormat yang menjaga marwahnya sebagai seorang wanita, bukan seseorang yang mengejar cinta seorang pria secara agresif. Namun saya akui, cara yang saya lakukan salah, mungkin terbilang sangat fatal. Tapi saya berjanji dengan bapak dan juga Ibu, saya tidak akan pernah membuat putri kalian menangis."
"Saya tetap tidak setuju!" Tiba-tiba suara cempreng begitu nyaring terdengar.
"Ustadz Ilham adalah pria baik-baik yang akan membuat anak saya bahagia, tidak sepertimu. Yah, pokoknya Ibu gak setuju!" Ucap Ibu Rahma yang baru saja muncul.
"Ibu, lebih baik dengar dulu penjelasan nak Dafi. Ayah rasa apa yang dia lakukan justru baik buat anak kita ya meskipun caranya terbilang salah."
"Ayah ini gimana to, besok ustadz Ilham mau ke rumah. Gimana kita menjelaskan nanti, lagi pula anak kita sudah mulai menerima ustadz Ilham."
"Itu hanya dikata, Bu. Apa ibu tau bagaimana isi hatinya? Kan gak to? Ayah yakin bu, Vita mengambil keputusan ini karena terpaksa, dia gak mau mengecewakan kita Bu. Seperti yang kita tau, anak kita mencintai nak Dafi. Apa Ibu lupa kenapa Vita tiba-tiba minta mondok waktu itu?"
Ibu Rahma terdiam, seperti tengah mengingat-ngingat sesuatu. Vita memaksa Ibu dan Ayahnya untuk setuju memasukan dirinya ke pondok pesantren yang letaknya cukup jauh, meskipun sebenarnya ada pondok pesantren yang jaraknya lumayan dekat dari tempat tinggalnya.
Dafi mengangguk mantap,"InsyaAllah bu, saya berjanji akan membuat anak kalian bahagia. Ibu sama bapak cukup memberikan restu kepada saya untuk melangkah lebih jauh mendekati putri kalian. Saya akan meminang Vita satu minggu lagi!"
"Apa itu ndak terlalu cepat?" Tanya Pak Danu.
"Saya rasa tidak pak, lebih cepat lebih bagus. Saya harap kalian menyetujui dan merestui saya."
"Saya merestuinya, dengan syarat jangan pernah membuat putri saya menangis!" Ucap Pak Danu.
"Tapi Yah, gimana dengan ustadz Ilham? Ayah jangan maen restu-restu aja, pokoknya Ibu mau ngetes dulu."
"Saya siap melalukan apapun yang Ibu minta."
"Ibu jangan aneh-aneh!" Ucap Pak Danu.
__ADS_1
"Tan kalo gak mau punya mantu ganteng + sholeh kayak gini Mama juga pasti mau, mending buat Mama aja," ucap Lala terkekeh.
"Becanda ustadz, mana mungkin saya menikung calon sahabat saya," lanjutnya lagi.
"Apa kamu punya rumah sendiri? Mobil? Saham? Dan properti lainnya?" Tanya Ibu Rahma tiba-tiba.
"InyaAllah meskipun tidak mewah, tapi nyaman untuk di tempati."
Ibu Rahma mengangguk,"Saya merestui kalian! Tapi ingat, sekali saja kamu buat anak saya terluka lagi, dihari itu juga jangan harap bisa menemui putri saya!"
"InsyaAllah saya berjanji, bu."
"Uhuyyy asyik minggu depan makan enak," celoteh Lala membuat semuanya tersenyum.
"Tapi gak seru kalo langsung jujur, gimana kalo kita buat sandiwara Om sakit? Kan pasti Vita khawatir tuh terus pulang deh."
"Terserah kamu aja, La. Kamu yang paling deket dengan Vita," ucap pak Danu pasrah dengan rencana sahabat anaknya.
Flashback Off
"Ulah Lala rupanya," gumam Vita namun masih terdengar di telinga ustadz Dafi.
"Boleh aku tanya satu hal dek?"
Vita kembali mengangguk.
"Apa kamu marah karna aku menikahimu tanpa bilang terlebih dulu?"
"Apa ustadz pikir nikah itu lelocon? Saya jelas kecewa dengan kalian semua!"
"Maafkan aku! Perlu kita menikah ulang?"
Vita mendelik tajam, bersitatap dengan pria yang sudah sah menjadi suaminya. Tidak dipungkiri rasa rindu itu terbesit dalam dirinya. Wajah tampannya tidak berubah, bahkan sikap-sikap datarnya masih sama.
"Boleh juga," Vita terkekeh, ustadz Dafi merasa gemas, mengacak pucuk kepala Vita yang terbungkus dengan hijab lalu memeluknya.
__ADS_1
MasyaAllah, hangat..
❣️TBC❣️