Kesemsem Guru Bahasa Arab

Kesemsem Guru Bahasa Arab
Wanita Bercadar


__ADS_3

Semenjak obrolan Vita dan ustadz Dafi di ruangannya, Vita benar-benar bertekad ingin berusaha mengubur dalam-dalam perasaannya. Menunggu itu membosankan, terlebih lagi penolakan yang selalu ia dapatkan, enggan rasanya kembali mengejar cinta yang tak pernah bisa ia miliki.


Vita berbaring dengan kepalanya yang bertumpu pada pangkuan sang Ibu.


"Bu, kalo pada akhirnya ustadz Dafi cinta sama Vita gimana? Apa Ibu masih gak merestui kami?"


"Healah ndok, jangan ngayal terlalu tinggi. Ibu rasa ndak mungkin terjadi. Sudah to, ini sudah malem tidur sana besok sekolah jangan sampe terlambat!"


Ternyata, mengubur perasaan ini adalah pilihan yang sangat tepat. Meskipun sulit rasanya, tapi akan jauh lebih sulit mendapatkan cinta ustadz Dafi.


Vita memutuskan untuk segera tidur di remangnya cahaya.


****


Vita memarkirkan motornya dengan rapi, sementara Lala sibuk membenahkan jilbabnya di kaca spion.


Pantulan ustadz Dafi terlihat di sana, namun kali ini ada yang berbeda. Ustadz Dafi memasuki halaman sekolah dengan menggandeng tangan wanita bercadar. Lala berusaha menutupinya supaya Vita tidak melihat pemandangan yang akan membuat hatinya terluka.


"Gue liat, La! Gak perlu dihalangin gitu," ucap Vita tiba-tiba.


"Lo gak papa?" Lala merasa khawatir dengan sahabatnya.


Vita mengangguk meski matanya tak cukup kuat menahan genangan air.


"Lo gak kejar ustadz Dafi? Kali ini gue janji gak bakal lapor ke tante Rahma."


Vita menggeleng tanpa bersuara, dadanya sesak sekali. Ternyata ini alasannya kenapa ustadz selalu nolak. Kenapa gak bilang terus terang kalo sudah punya calon?


Melihat seseorang yang dicintainya bersama wanita lain, hati siapapun tidak akan merasa baik-baik saja.


Ada sebilah pisau yang tertancap dan menggoresnya, rasa sakitnya menembus organ yang lain.


Matanya berkabut, runtuh juga air mengalir membasahi pipinya. Lala memeluk Vita memberikan sebuah ketenangan. Sebagaimana pun ia sembunyikan, tidak akan mampu menahan rasa sakit yang tak berdarah itu. Lukanya tidak terlihat, tapi sakitnya luar biasa.

__ADS_1


"Ustadz Dafi jahat, La." Ucap Vita sesenggukan di pelukan sahabatnya.


"Lo yang sabar ya, Vit. Ini saatnya lo harus kuat, saatnya lo tunjukin kalo lo itu bisa move on."


Tak bisa berkata-kata lagi, Lala mengajak Vita untuk segera memasuki kelas mengingat sebentar lagi jam belajar akan dimulai.


Ustadz Dafi memasuki kelas seperti biasanya, mengabsen satu persatu siswinya.


"Vita Amayra!"


Yang dipanggil tidak menjawab, ia hanya diam melamun seolah tak mendengar apapun kecuali bayangan ustadz Dafi yang bergandengan mesra dengan perempuan bercadar itu.


"Vita, woy..!"


"Eh, kenapa?" Vita mengusap air matanya yang jatuh tanpa permisi setelah ia tersadar dari lamunanya.


"Anty tidak dengar absenan dari saya!" Ustadz Dafi bertanya dengan suara yang menggelegar memenuhi ruangan.


"Maaf, ustadz."


Tak berkata apapun dan tidak ada bantahan, Vita berjalan keluar kelas. Ia duduk di bangku seorang diri.


Tak lama dari itu, seseorang menyodorkan air mineral pada Vita.


"Ini untukmu, pasti haus kan?"


Vita mengangkat wajahnya melihat siapa yang datang menghampiri. Vita menerima pemberiannya, dan mempersilahkan beliau untuk duduk di sampingnya.


"Kena takzir ya?" Tanyanya.


"Iya."


"Wajahmu pucat sekali, apa sedang sakit?"

__ADS_1


Vita menggeleng,"Tidak."


Hening beberapa saat...


Vita memberanikan diri untuk bertanya tentang hubungannya dengan ustadz Dafi.


"Ukhty murid baru ya?"


"Bukan. Hanya mampir saja sekalian nemenin seseorang," jawabnya sambil tersenyum.


"Pasti spesial ya? Sampe ditemenin segala."


"Iya, dia spesial untuk saya dan sangat berarti dalam hidup saya."


Deg...


Ayolah Vit, kenapa harus diperjelas lagi? Bukankah sudah jelas mereka itu sepasang kekasih? Mungkin gak akan lama lagi jadi suami istri. Sekarang kamu harus ngerti, kamu itu gak selevel dan sebanding dengan ukhty-ukhty ini, jelas saja ustadz Dafi lebih milih dia.


"Dek, ngapain disitu?" Tiba-tiba ustadz Dafi menghampiri.


"Ngobrollah, bosen di dalem terus."


"Laper?" Tanya ustadz Dafi padanya.


Wanita bercadar itu mengangguk.


"Ya udah kita ke kantin!"


Mereka melangkah pergi tanpa memperdulikan adanya Vita di sana. Rasanya semakin tak karuan, ingin rasanya pulang sekarang dan menangis, berteriak kenceng meluapkan segala isi hati yang sudah hancur.


"Anty boleh masuk sekarang! Tanyakan pada temen anty untuk pelajaran tadi," ucap ustadz Dafi dan berlalu pergi. Rupanya ia kembali menghampiri Vita setelah beberapa langkah menjauh.


Vita tidak menjawab dan tak bereaksi apapun. Jangankan untuk bicara, mengatur nafasnya saja ia sedikit kesulitan. Bagaimana tidak? Sesak dalam dadanya itu seperti ada yang menghimpit. Beginikah rasanya patah hati? Sudah ditolak, dibuat cemburu pula, sakitnya dobel-dobel.

__ADS_1


❣️TBC❣️


__ADS_2