
Aku memarkir sepeda motor Beat kesayanganku di halaman luas sebuah SMA swasta yang bertaraf internasional di kota B. Di sebelah kanan parkir berderet beberapa mobil plat hitam dengan berbagai merk. Yah...namanya juga sekolah swasta bertaraf international, sudah pasti siswanya merupakan anak-anak orang kalangan menengah ke atas.
Aku merapikan jas kesayanganku, sekedar membunuh rasa gugupku pagi ini. Ini hari pertama aku mulai mengajar di sekolah menengah, karena sebelumnya aku hanya mengajar di sekolah dasar yang ada di kota kelahiranku.
Beda kota, beda suasana, beda juga gaya dan kondisi lingkungannya. Tapi aku tetaplah aku yang selalu merasa gugup dan gelisah di hari pertama di tempat yang baru. "Semangat, Almira. Kamu pasti bisa...," bisikku pelan sambil melangkah dengan ransel yang lumayan berat di punggungku. Hahahahhha...beginilah atribut seorang guru, tas ransel yang penuh dengan segala amunisi demi tercapainya misi pembelajaran.
"Assalamualaikum...permisiiii," aku mengetuk pintu yang bertuliskan office di ruangan pertama setelah memasuki bangunan besar dan megah. Beberapa kepala langsung melihat kearahku sambil menjawab salamku. "Mohon maaf bapak/ibu, saya Almira ingin bertemu dengan Kepala Sekolah," ucapku santun dari bibir pintu yang terbuka lebar. Mereka semua tersenyum, dan seorang guru wanita yang sudah berumur sekitar 50an dan nampak paling tua diantara mereka berdiri sambil menyambutku dengan ramah.
"Silahkan masuk bu Almira, kenalkan saya bu Tutik. Mari saya antarkan ke ruang Kepala Sekolah," tawarnya dengan menjabat tanganku dengan erat. Aku mengangguk senang.
"Terima kasih, bun." jawabku dengan ramah juga.
Lima belas menit berhadapan dengan Kepala Sekolah, beliau mengajakku untuk langsung menuju kelas yang akan diserahkannya pagi ini padaku. Pak Tatang berjalan disebelahku sambil menjelaskan beberapa hal tentang suasana dan kegiatan sekolah besar ini. Halaman yang luas, kelas yang bertingkat, suasana asri hijau dan berwarna. Indah...udaranya segar karena bunga-bunga sedang bermekaran tak kenal musim. Hhhhhhhh...bonafid.
"Assalamualaikum...selamat pagi semuanya," pak Tatang berdiri penuh wibawa setelah memasuki sebuah ruang kelas bertuliskan XII IPA 2. Serentak mereka menjawab dengan santun dan semangat. Aku kagum dengan cara pak Tatang berbicara, tak sedikitpun senyum kendor dari raut wajah tuanya yang terpancar berseri.
Aku sedikit gugup ketika pak Tatang mempersilahkan aku untuk berbicara memperkenalkan diri. Duh...berasa murid baru di sekolah.
Pak Tatang pamit meninggalkan aku di kelas yang terasa asing dan masih baru untukku. Semangat, Almira...bisikku dalam hati sambil meletakkan tas ranselku di kursi yang tersedia untuk guru.
Pertemuan pertama ini biasanya akan memberi kesan mendalam untuk selanjutnya. Aku mulai berdiri di depan kelas dan tersenyum. Aku membagikan kertas kecil yang sudah aku siapkan dari rumah untuk membuka kegiatan belajar di kelas. Tentunya akan sangat berbeda dengan mengajar di sekolah dasar yang telah bertahun-tahun aku lakoni.
Berhadapan dengan siswa remaja seperti ini butuh kemampuan ekstra dan kepercayaan diri yang kuat. Apalagi remaja di era digitalisasi.
__ADS_1
Empat puluh menit berlalu dengan lancar. Materi selesai dengan sempurna, bercanda namun serius benar-benar membuat waktu belajar serasa kurang. Aku meminta ketua kelas yang bernama Zen Pratama untuk mengumpulkan hasil refleksi belajar pagi ini dalam mata pelajaran yang telah aku berikan.
"Jangan lupa tipsnya, bu" celetuk seseorang siswa yang duduk diujung ruangan.
"Untuk...?" tanyaku sambil tersenyum dan merapikan peralatan belajar yang tadi kugunakan untuk menyampaikan materi.
Beberapa anak tertawa kecil.
"Tips nilai, bu. Biar tambah semangat belajarnya," jawab siswa dengan nama Bayu.
"Siap. Selama kita bisa saling mengisi, menerima dan memberi, semua pasti lancar" jawabku ringan. Kelas jadi agak ribut. Beberapa anak menanggapi dengan menggoda.
"Cieeee, ibu. Apa kami boleh mengisi, bu?" siswa laki-laki yang duduk di sebelah Zen bersuara yang lsngsung disambut tertawa oleh yang lain. Aku tertawa kecil. Anak remaja...kelakuannya memang konyol. Begitulah saat masih sendiri menjadi guru untuk anak-anak remaja usia tujuh belasan.
Tanda istirahat berbunyi. Beberapa siswa telah mendahului keluar kelas bergerombol menuju kantin ataupun tempat yang membuat mereka nyaman untuk istirahat sejenak.
Aku benar-benar lupa. Hanya saja aku merasa sangat familiar melihatnya.
"Bu Almira Rasyad," sebutnya dengan lengkap. Aku terkesiap. Aku sejak tadi masuk kelas hanya memperkenalkan nama Almira tanpa nama belakang. Tapi Zen tau nama belakangku?.
Aku menatap wajah tampannya dengan penuh tanda tanya. Wajah bersih dengan hidung mancung, bibir yang sensual menurut ukuranku, mata indah, dan postur tubuh tinggi ideal. Tapi aku tidak tau siapa Zen sebenarnya.
"Kamu tau nama lengkap ibu?" selidikku penuh tanda tanya yang dalam. Bibir itu tersenyum menampakkan gigi putihnya. Uhhhh, sungguh ideal remaja ini. Pikiranku mulai mengagumi fisiknya.
__ADS_1
"Bahkan aku tau nama keluarga ibu. Asal ibu, kesukaan ibu, dan alamat rumah ibu," jawabnya dengan lancar tanpa reaksi apapun. Iihhh...aku baper jadinya. "Jangan baper, Almira...ingat kamu adalah seorang pendidik" bisik hatiku pelan.
"Benarkah?" aku tertawa demi mengatasi keterkejutanku. Ruang kelas telah kosong. Aku sedikit khawatir dengan keadaan yang kurang menguntungkan ini.
"Berarti kamu hebat. Semacam BIN yang memiliki data semua orang tanpa diketahui oleh pemilik data," aku memasukkan alat tulis ke ransel dan bersiap berjalan keluar ruangan.
Zen tertawa renyah dan berjalan mendahuluiku ke pintu kelas. Aku mengekor, jika terlihat dari depan Zen tentunya tubuhku yang hanya tinggi 155 ini tidak akan terlihat oleh tubuh atletisnya. Tiba-tiba Zen berhenti di pintu kelas dan itu membuatku hampir menabrak tubuhnya yang tinggi.
"Zen...", ucapku sedikit kaget. Tapi Zen lagi- lagi tertawa renyah seakan sengaja menggodaku.
"Cuma bu Almira kok yang saya hafal identitasnya" katanya sambil berjalan menuju arah yang berbeda denganku. Aku terdiam sejenak. Remaja ini benar-benar membuatku penasaran siapa sebenarnya dia.
"Bu Almira...", panggilnya ketika aku sudah mulai melangkah menuju ruang guru. Aku reflek menoleh. Zen tersenyum manis dan mengedipkan matanya lalu berbalik melanjutkan langkahnya. Aku terperangah...sungguh anak muda ini pemberani. Atau hanya kepadaku saja dia seperti ini?. Aku menghalau pikiran-pikiran konyol yang tiba-tiba berputar di kepalaku. Dasar anak remaja...batinku tertawa kecil.
Aku bergabung dan bercengkrama dengan beberapa orang guru yang sedang duduk sambil bersibuk ria dengan laptop dan lembaran-lembaran kertas di meja masing-masing.
"Bagaimana hari pertamamu di kelas tadi, Al?", tanya bu Tutik dengan ramah.
"Alhamdulillah, bun. Semua berjalan lancar. Siswa siswinya sangat kooperatif dan hebat" jawabku tersenyum.
"Nggak ada yang nggombalin ya bu Almira?," pak Arifin guru IPA yang berusia sekitar 40an tahun. Aku tertawa sambil menggeleng.
"Nanti akan ada, bu," celetuk guru PPKn yang masih muda mungkin sekitar 30an keatas. Cantik dan sudah bersuami memiliki anak 2.
__ADS_1
"Harus bisa mengatasi kalau hal itu terjadi. Tapi ndak usah khawatir, bu Almira. Kalau ada yang berlebihan serahkan ke guru BP tuh...", tunjuk pak Arifin dengan isyarat ke arah pak Septian yang bertubuh kekar dan berwajah agak garang.
Yang ditunjuk hanya tertawa kecil sambil mengangkat bahu. Aku tersenyum bahagia. Betapa indah suasana kantor penuh dengan kekeluargaan dan kebersamaan. Aku duduk sambil membuat beberapa catatan pembelajaran hari ini, sempat terpikir untuk mencari tau siapa Zen sebenarnya. Tapi aku bingung, haruskah aku bertanya kepada bagian administrasi?. Ahhh...besok saja pikirku.