
Zen tak mampu membendung rasa bahagia di hatinya.
Tangannya meraih tubuhku dengan cepat dan memelukku erat.
"Terima kasih, Almira. Aku berjanji akan membuatmu bahagia. Aku akan memenuhi semua keinginanmu" Zen menopang kepalanya di bahuku. Aku merasakan napas Zen tersendat, aku rasa Zen menangis.
"Mengapa kau menangis? seharusnya aku yang menangis" protesku melihat mata Zen merah dan meneteskan air mata. Zen tersenyum memegang kedua pipiku dengan lembut.
"Kamu adalah impianku yang tertinggi. Aku bahagia dan tak menyangka kau membalas cintaku. Kamu adalah hadiah terindah di tahun terakhir sekolahku" ucapnya pasti.
"Aku merasa seperti orang tua untukmu" keluhku menatap mata Zen.
Zen tertawa kecil.
"Kamu tetap harus menghormatiku sebagai imammu walau usiaku lebih muda darimu"
"Iya...aku memang lebih tua darimu" ucapku kesal.
"Berhentilah menyebut usia ketika kita sedang berdua. Biarkan kita menikmati cknta kita dengan indah" ucap Zen mengelus lembut kepalaku.
"Setelah lulus, aku akan melamarmu. Sebelum itu aku akan mengajakmu bertemu keluargaku" Zen menatapku dengan tenang. Matanya yang memerah telah kembali normal walaupun masih terlihat bulu matanya basah karena air mata.
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu itu?" tanyaku mencari kesungguhan di matanya.
"Ya. Karena jika terlalu lama nanti kau akan bertambah tua dan akan sangat menyiksamu untuk melahirkan 6 orang anak untukku" ucap Zen ringan. Membuatku kesal sekaligus berdebar tak menentu.
"Zen...." aku meninju lengannya yang berotot.
Zen menangkap tanganku dan menciumnya dengan lembut.
"Sesungguhnya aku ingin menyentuh bibirmu, tapi tidak sekarang. Tunggu saat aku lulus" ucapnya tanpa malu-malu. Aku merasa panas dingin dengan kalimatnya yang tanpa saringan sedikitpun.
"Al, bolehkah aku bertanya tentang dirimu lebih pribadi lagi?" Zen melepaskan tanganku dan mulai menjalankan mobilnya dengan pelan.
"Boleh. Aku akan menjawabnya selama aku bisa dan wajar"
"Tapi berjanjilah jangan marah"
"Memangnya apa yang ingin kau tanyakan?"
"Apakah aku cinta pertamamu?"
Aku tersentak. Betapa malunya mengakui hal ini. Akan terbongkar bahwa memang aku tak pernah memiliki pacar hingga usia 27 tahun ini.
"Iya..." jawabku lesu.
"Aku bahagia, Al. Aku juga demikian. Kamu satu-satunya wanita yang aku cintai setelah ibuku"
"Benarkah?" aku terharu dengan kalimatnya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan sosok ibu adalah tumpuan bahagia dan nasehat terindah bagiku.
__ADS_1
"Iya. Bulan depan setelah ujian aku akan membawamu menemui ayah dan ibuku"
"Apakah mereka akan menerimaku, Zen?" suaraku terdengar lirih.
"Jangan takut. Mereka adalah orang yang mensupportku hingga mandiri seperti ini"
"Dan kapan kau akan membawaku menemui calon mertuaku" Zen tersenyum nakal.
"Tentunya setelah kau tidak sibuk dan kegiatan di kampusku tidak padat"
"Aku berjanji padamu, Almira. Aku akan lulus dengan nilai terbaik. Aku akan melanjutkan kuliah setelah kita menikah"
"Ujianmu akan mulai dua bulan lagi. Setelah itu pengumuman lulus. Apakah itu tidak terlalu cepat untuk kita?"
"Percayalah. Ini keputusan yang sama-sama menguntungkan untuk kita. Dan lagi tidak baik hubungan pacaran terlalu lama. Aku takut tidak bisa menahan diri" Zen demikian terbuka mengatakan semua hal. Aku merasa malu mendengarnya.
"Aku ingin segera punya anak" bisik Zen membuatku benar-benar malu dan berdebar tak karuan.
"Zen, malulah sedikit padaku" keluhku menghadapi sikap Zen yang terlalu terbuka.
"Kita makan siang dulu yaa...aku akan membawamu ke sebuah restauran binaan perusahaanku. Kau harus mulai mengetahui usaha apa saja yang suamimu ini lakukan untuk membahagiakan istrinya kelak" ucap Zen dengan tenang.
"Berapa perusahaan yang kamu pimpin, Zen?" aku mencoba mengetahui kehidupan Zen yang terlihat luar biasa di usia mudanya.
"Tidak banyak, aku memiliki perusahaan Suplier bahan kabel telkomunikasi yang pusatnya ada di kota B ini. Dan perusahaanku membuat beberapa anak cabang perusahaan di beberapa kota yang bergerak dalam beberapa usaha seperti kuliner dan travel"
"Selamat datang mas Zen" sapa petugas keamanan di pintu masuk restauran. Zen tersenyum dan menyalami petugas itu.
Sikapnya sungguh bersahabat dan tidak membedakan status.
"Calon istriku" ucap Zen ketika petugas itu melihatku. Aku melotot ke arah Zen yang di balas senyum manis.
"Bapak senang mendengarnya. Cepat selesaikan sekolahmu" ucap petugas itu sambil tertawa.
Tampak bersahabat. Aku mulai menambah daftar jekagumanku pada sosok muda Zen Pratama.
Seorang laki-laki dan wanita dengan pakaian rapi menyambut kami di lobi restauran.
"Selamat datang, Mas Zen...tumben biasanya sendiri" sambut yang laki-laki dengan nama Andreas.
"Aku akan segera menikah setelah lulus" ucap Zen bangga. Pak Andreas tertawa dan wanita di sebelahnya terlihat tersenyum hambar. Sesekali matanya melirikku dan Zen dengan tatapan aneh.
"Syukurlah, kami ikut bahagia, mas. Semoga semuanya berjalan lancar" ucap Andreas dengan bahagia.
"Silahkan, mas...ruangannya sudah disiapkan"
"Terima kasih, pak Andre. Ohya, aku akan memesan makanan di dalam saja" Zen meraih tanganku dan mengajakku masuk. Ruangan yang telah disiapkan begitu rapi dan bersih. Mungkin ini sekelas ruang privacy atau VVIP yang biasa dipakai untuk meeting para pengusaha.
"Boleh aku memanggilmu sayang kalau kita sedang berdua?" Zen duduk berhadapan denganku.
__ADS_1
Aku tersenyum malu. Lagi-lagi Zen sangat terbuka padaku.
"Kaupun harus memanggilku dengan panggilan sayang. Agar cinta dan sayang yang kita punya akan terus berkembang dan bertambah"
"Mengapa jadi alay sih..." keluhku menghadapi sikap Zen.
"Atau ayah bunda saja seperti anak-anak muda yang sedang berpacaran di luaran sana?"
"Zen...jangan berlebihan. Ceritakan padaku diapa mereka tadi" aku mengalihkan sikap alay Zen yang memalukan.
"Pak Andreas itu adalah orang kepercayaan ayah. Dia manager restauran ini. Dan wanita di sebelahnya itu adalah kepala bagian produksi dan pemasaran restauran ini. Wanita itu bernama Airin. Dia masih single dan kabarnya belum punya pacar"
"Sampai sedetil itu kamu mengetahuinya?" selidikku. Ada rasa tak suka dengan status wanita cantik bernama Airin tadi.
Zen tertawa renyah.
"Setelah menikah kamu tidak boleh cemburu dengan karyawanku. Karena untukku kamu adalah segalanya. Yang harus kau ingat bahwa kamu adalah tujuan hidupku"
Aku merasa malu dengan sikapku. Bagaimana Zen dengan mudah mengetahui sijap kekanakanku ini.
"Almira, aku sungguh bahagia hari ini. Aku sangat mencintaimu. Apakah kau juga bahagia bersamaku?" Zen menatapku dengan serius.
"Aku juga mencintaimu, Zen" ucapku lirih "Maaf kalau ada sikapku yang tidak berkennan di hatimu. Mungkin aku perlu menyesuaikan diri dengan dunia kerjamu"
"Ya...akupun demikian. Hanya aku berharap kau percaya padaku. Kamu adalah segalanya bagiku"
Hari ini berjalan demikian sempurna. Zen sangat memperhatikan kenyamananku. Aku merasa sangat berarti dan bahagia bersamanya. Terkadang muncul sikap labil anak muda yang manja dan butuh perhatian. Terkadang dia menjadi orang yang penuh wibawa dan menjaga dirinya sebagai seorang pimpinan.
Sedikit demi sedikit aku mulai mengenal siapa Zen Pratama yang sesungguhnya.
Aku mengaguminya bukan tanpa alasan. Jija di sekolah sikapnya tak berbeda dengan pemuda sebayanya, bergurau, bermain basket, bahkan melakukan kegiatan sama seperti anak-anak SMA pada umumnya.
Namun, Zen memang memiliki nilai lebih yang patut dibanggakan. Banyak gadis-gadis di sekolah mengaguminya tapi tak satupun yang berhasil memikat hatinya. Sosok Zen benar-benar bersih dari hubungan asmara di sekolah.
Dia bergaul dan membaur dengan siapa saja sebagai teman, rekan, bahkan tutor sebaya. Semua dimatanya sama dan diperlakukan sama. Zen sangat menjaga pergaulan dan hubungan baik.
Dan aku bangga akan hal itu. Aku bangga menjadi orang yang dia cintai. Satu-satunya wanita setelah ibunya. Ahhh...Zen betapa sempurnanya dirimu.
Aku sangat mencintaimu apa adanya. Jika diizinkan aku ingin memberi kebahagiaan yang terbaik dalam hidupmu.
Jika Allah mengizinkan aku ikhlas memiliki anak yang banyak darimu asalkan engkau bahagia bersamaku.
Aku sadar belum sepenuhnya mengenal Zen. Dan apakah kekuarga Zen akan menerimaku dengan baik setelah mengetahui keadaanku, terutama usia yang terpaut cukup jauh.
"Jangan takut. Cukup kau tatap mataku dan katakan kau mencintaiku. Maka percayalah semua ketakutanmu itu akan dapat teratasi" ucap Zen waktu itu.
Akankah semudah itu perjalanan cintaku ini dengannya?
Ahhhh...Zen, aku benar-benar mencintaimu.
__ADS_1