Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku

Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku
Hari Pengumuman Kelulusan


__ADS_3

Alarm di handphoneku berdering membangunkan nyenyak tidurku. Aku meraih gawaiku dan mematikan alarm. Jam 5.00 pagi. Aku melihat Zen masih lelap di sebelahku.


Wajah tampan itu tak berkurang sedikitpun walau sedang tidur. Sudah dua hari ini kebiasaan pertamaku ketika bangun tidur adalah memandangi wajah tampan suamiku Zen Pratama Ahmad Al Bukhari.


Bulu mata lentiknya sangat indah. Hidung mancungnya begitu sempurna terpahat dengan bibir seksi yang selalu merah segar.


Ahhhhh...bibir itu sangat penuh dengan kalimat manis dan menggairahkan. Apapun dibalik alasan Zen mencintaiku, aku tak pernah kurang untuk bersyukur. Mencintai laki-laki yang terpenting dalam hidupku yaitu suamiku sendiri.


Aku mendekatkan wajahku pada wajah suamiku yang masih terlihat lelap dalam tidurnya.


Pelan aku mengecup bibirnya yang selalu terlihat menggodaku.


"Aku mencintaimu, suamiku sayang" bisikku pelan.


"Aku juga mencintaimu, istriku sayang" tiba-giba Zen berbisik sambil langsung mendekap tubuhku yang tepat diatas tubuhnya.


"Sayang..." ucapku terkejut. Zen tertawa geli.


"Mau yaaa..." bisiknya tepat di telingaku.


Aku paham maksudnya. Namun aku mencoba mengingatkannya.


"Sayang...hari ini pengumaman kelulusanmu. Bukankah kalian ada even penting di sekolah?" ucapku pelan.


"Yaaaah..." ucap Zen dengan kecewa."Kenapa harus hari ini sih..." ucapnya lagi


Aku tertawa sambil memberikan ciuman pagi di bibirnya.


"Nanti malam di double, sayang" ujarku sedikit kacau.


"Benar, ya" wajah Zen berbinar.


"hhhhh...iya" aku meyakinkannya.


"Sesungguhnya aku menginginkanmu pagi ini, Sayang" bisiknya dengan nada kecewa.


Aku bangun dan menarik selimut yang menutupi tubuh telanjangnya.


"Kita tidak punya banyak waktu, sayang. Ayo janga kecewakan team kelasmu" aku memberinya semangat.


Zen bangun dan tersenyum kecil.


"Iya. Tapi janji yaaa...ntar malam double" ucapnya seperti anak kecil.


Aku tertawa mendorong tubuhnya ke arah kamar mandi.


"Takut amat"


"Aku mencintaimu, istriku sayang" ucapnya tertawa.


Aku merapikan tempat tidur, lalu beranjak keluar untuk menyiapkan sarapan sebelum berangkat ke sekolah.


Sejak kembali dari kota S aku langsung diboyong menempati sebuah rumah mewah minimalis berdua dengan Zen.


Aku hanya menyerahkan segala keperluan pada Zen. Zen telah mengurus semua dengan baik.


Setelah sarapan pagi, Zen berangkat terlebih dahulu karena akan ada persiapan bersama team kelasnya. Saat pengumuman kelulusan nanti mereka akan melakukan kegiatan bakti sosial di dalah satu tempat yang telah mereka pilih setelah survey bulan lalu.


Tentu hal itu dilakukan bukan tanpa alasan. Setiap sekolah memiliki peraturan sendiri dan bebas melakukan inovasi saat menjelang pengumuman kelulusan. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir aksi konvoi dan hal negatif lain yang tidak bermanfaat dan malah membahayakan orang banyak.

__ADS_1


Sehingga sekolah tempat ku mengajar membuat dan mewajibkan seluruh siswa siswi kelas XII yang akan menerima pengumuman untuk melakukan kegiatan sosial dan membuat laporan sebagai salah satu syarat menerima ijazah mereka nanti.


Untuk tahun ini, mereka akan menerima pengumuman melalui perwakilan keluarga atau orang tua yang hadir di sekolah secara langsung.


@@@


Suasana sekolah menengah tempatku mengajar nampak ramai. Di halaman depan telah berjajar 3 bus pariwisata dan dua mobil plat hitam yang siap berangkat untuk melaksanakan tugas akhir sekolah yang diberikan.


Kepala Sekolah melepas rombongan pertama yang langsung menaiki bus dipandu oleh ketua team.


Tahun ini kelas XII terdiri atas 8 kelas dengan 3 jurusan yang berbeda. Siswa yang berangkat dengan teratur melangkah dan sesekali mereka berteriak random yang disambut oleh kelompok lain dengan bahagia.


Nampak team Zen meneriakkan yel-yel saat dilepaskan. Lalu mereka melangkah dengan tertib ke arah bus. Terakhir Zen tersenyum menatapku penuh arti. Dia melangkah dengan tampan ke arahku. Senyum manisnya itu tak berkurang sedikitpun.


Suamiku memang berbeda. Bisikku dalam hati dengan bahagia.


"Mohon doanya, bu. Semoga kegiatan kami lancar dan lulus dengan membanggakan" ucapnya dengan hormat dan sopan. Zen menyalami beberapa guru di sebelahku, lalu berdiri agak lama di depanku.


Zen mengulurkan tangannya dengan ragu aku membalasnya. Aku tertegun ketika Zen mencium tanganku. Tuh kan...terbalik nih. Masa iya suami yang cium tangan istri?...aku menyeringai kaku dan menarik tanganku secepatnya. Namun cengkraman tangan Zen lebih kuat.


Aku berdebar tak karuan ketika Zen menempelkan bibirnya di punggung tanganku.


"Misi kita belum selesai" bisiknya samar sambil menatapku dan mengangguk ke arah guru-guru lain yang sempat memperhatikan tingkah Zen.


Aku tersenyum kaku


"Semangat, Zen" ucapku dengan agak keras.


Zen tersenyum


"Terima kasih, bu" balasnya dan melangkah ke arah rombongannya.


Aku menarik nafas lega.


Mereka adalah teman-teman seangkatan Zen yang merasa cemburu padaku karena ddkat dengan Zen.


Ahhhh...bagaimanapun sekarang Zen adalah suamiku. Tenanh kan...bisik hatiku pelan dengan senyum.


Bus yang membawa siswa telah mulai berjalan meninggalkan halaman sekolah. Kepala Sekolah dan beberapa orang guru melangkah ke aula untuk memberi pengumuman dan penyerahan anak-anak mereka secara simbolis kembali kepada orang tuanya setelah kurang lebih tiga tahun menjadi peserta didik di sekolah yang megah dan bergengsi ini.


Aku kembali ke ruang guru bergabung dengan bebetapa guru yang masih duduk sambil bercengkrama. Pak Jo guru olahraga nampak sedang sibuk dengan komputer di depannya.


"Bu Almira, bisa minta tolong nanti jam 10 pengumuman lulusnya di share di grup kelasnya yaaa" pak Jo mengirim file ke nomor gawaiku.


"Baik, pak. Apakah ada pengumuman lain, pak yang perlu di share untuk informasi?"


"O iya, ada, bu. Ada beberapa siswa yang mendapat undangan di beberapa kampus ternama di kota dan luar kota. Nanti saya kirim filenya"


"Bagaimana dengan siswa yang daftar melalui jalur online sekolah, pak?" aku penasaran. Aku ingin tau apakah Zen juga turut mendaftar SMPTN secara online?


"Ada, bu. Oya, ada siswa juga yang daftar jalur prestasi. Kalau tidak salah siswa kelas ibu atas nama Zen Pratama lulus di UI dan beberapa yang lain di perguruan tinggi berbeda"


Aku terkejut bercampur bahagia.


Zen memang siswa berprestasi, baik itu akademik maupun non akademik.


Kira-kira bagaimana ekspresinya Zen mengetahui hal ini nanti yaaa...


"Al..." bu Ulfa guru PA menepuk pundakku lembut.

__ADS_1


"Sudah ada rencana untuk mengakhiri masa lajangkah?"


Aku tertawa kecil.


"Segera, bu. Tapi mungkin hanya acara sederhana di kampung"


Beberapa rekan guru menatapku dan tersenyum.


"Wah...diam-diam sudah punya calon nih" pak Jo nyeletuk. Aku tersenyum kecil.


"Dosen jugakah, bu Al?" tanya rekan guru yang lain. Aku menggeleng.


"Pengusaha ya, bu Al?" bu Ulfa duduk di sebelahku yang merupakan meja kerjanya.


"Iya, bu" jawabku jujur.


"Hei, di sekolah ini juga ada pengusaha muda yang terkenal. Dia siswa di kelas bu Almira. Siapa tau calonmu itu kenal juga dengan Zen" celetuk pak Jo penuh semangat.


Aku terperanjat.


"Sudah betapa lama kenal, bu Al?" bu Ulfa menatapku.


"Belum lama, bu" jawabku pendek.


"Nah, kesempatan tuh, bu Al. Coba tanyakan ke Zen siapa tau dia mengenalnya. Zen kan banyak relasi bisnisnya" pak Jo memberi semangat.


Aku tersenyum kecil dan samar. Dengan cepat aku membereskan beberapa berkas di meja kerjaku.


Sebenarnya aku tidak ingin merahasiakan hubunganku dengan Zen, tapi karena beberapa hal yang mesti kita jaga hingga waktu tertentu maka kami harus dengan baik menutup rapat rahasia ini.


Yah...setidaknya setelah masa sekolah Zen berakhir. Dan itu sebentar lagi.


Aku menarik napas panjang.


"Permisi..." pak Penjaga mengetuk pintu ruang guru. Serentak kami semua menoleh.


"Bu Almira, diminta datang ke ruangan aula oleh bapak Kepala Sekolah. Ada yang ingin dibicarakan" sambung pak Penjaga membuat aku heran.


"Apakah wali murid sudah bubar, pak?" tanyaku sedikit bingung.


"Sudah, bu. Sekitar lima belas menit yang lalu"


"Baiklah, pak. Terima kasih. Sekarang saya ke ruangan aula" aku bangun dari dudukku.


"Semangat, bu Al" beberapa rekan kerja memberi semangat padaku. Aku tersenyum dan melangkah dambil memperbaiki pakaianku.


Pintu ruangan aula masih terbuka lebar. Beberapa petugas kebersihan sekolah sedang membersihkan ruangan yang tadi digunakan untuk kegiatan pengumuman.


Aku tertegun ketika masuk ruang aula. Ada sosok yang sangat ku kenali duduk membelakangi pintu masuk aula.


"Assalamualaikum..." sapaku dengan hati berdebar.


Kedua orang tua yang saling berhadapan itu tersenyum membalas salamku. Aku mencium tangan mertuaku dengan sedikit gugup, karena diperhatikan oleh Kepala Sekolahku.


"Ayah..." sapaku pelan. Ayah Ahmad tersenyum lebar.


"Duduklah Al" pak Kepala Sekolah menunjuk kursi di sebelah ayah. Aku mengangguk dan duduk.


"Al, maaf sebelumnya. Pak Tatang ini teman ayah waktu sekolah dulu. Dan ayah sudah menceritakan hubungan kita apa. Ayah juga sudah menjelaskan semuanya" ayah tersenyum penuh wibawa.

__ADS_1


"Bapak senang mendengar kamu sudah resmi menjadi menantu di keluarga pak Ahmad, Al. Selamat, yaa. Harus banyak bersabar dan berbenah diri. Semoga rumah tanggamu bahagia selalu" pak Tatang tersenyum penuh kharisma.


Aku hanya bisa mengangguk.


__ADS_2