
Setelah beberapa jam mendampingi ujian tesis mahasiswa pascasarjana, akhirnya selesai juga. Aku membereskan beberapa kertas yang sejak siang tadi aku gunakan dalam kegiatan.
"Jadwal minggu depan jangan sampai telat, Al" suara Doktor Juliansyah di sebelahku. Aku tertawa kecil melihat raut wajahnya. Kaca matanya yang tebal nampak lucu menutupi wajah kusutnya.
"Iya, pak. Maaf"
"Kata-kata itu terlalu sering bapak dengar. Apa kamu ndak bosan mengucapkan itu?"
"Kalau untuk bapak Doktor saya nggak pernah bosan, pak" ucapku sambil tersenyum.
Suara Doktor Juliansyah mendengus. Laki-laki berumur mendekati angka 60 itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Cepatlah menikah, agar kau menjadi dewasa dan paham bagaimana bertanggungjawab lebih baik" ucapnya sambil menatapku.
"Hhhhh...kalau bapak reinkarnasi akan aku tunggu" kataku menatap wajah tuanya yang makin kesal.
Beberapa dosen yang bersama kami tertawa kecil.
"Dasar Almira. Kamu pikir dunia ini skenario film" celetuk mbak Jihan.
"Aku punya cucu umur 10 tahun. Apa kamu mau nunggu dia, Al?" Doktor Juliansyah mengejekku.
Aku meraih jas almamater dan tas ranselku.
"Tunggu saja undanganku, Doktor. Selamat sore semuanya. Love you, mbak Jihan" pamitku sambil melangkah ke luar ruangan ujian yang besar dan megah di universitas B ini.
Aku tersenyum mendengar dengusan Doktor Juliansyah. Semua Dosen senior di Universitas B ini bagai keluarga kedua yang sangat luar biasa. Aku bahagia bersama mereka dalam memajukan pendidikan melalui salah satu fakultas yang aku bisa.
Sebagai salah satu dosen muda diantara mereka memang harus selalu siap menjadi bahan pembicaraan ketika berbincang, apalagi statusku yang masih sendiri di usia 27 tahun.
Aku tetap menanggapi positif dalam setiap hal, aku yakin jodohku telah Allah tentukan dengan cara yang Allah telah siapkan.
Semangat, Almira. Bisikku dalam hati sambil terus tersenyum. Menjalani hidup dengan apa adanya adalah cara terbaik untuk memotivasi diri tanpa perlu memikirkan hal-hal negatif.
Sedang apa Zen di luar kota yaa...aku menghembuskan udara dari mulutku. Ahhhh...terasa segar dalam rongga paru-paruku.
Setidaknya, aku mencoba untuk tidak memikirkan hal negatif di luar sana.
☆☆☆
"Bu Almira, itu ada undangan resepsi pernikahan anak Kepala Sekolah. Saya letakkan di atas meja ibu" pak Penjaga sekolah menyapaku di lorong menuju ruang guru pagi ini.
"Terima kasih, pak" jawabku sambil melanjutkan langkah.
Aku sengaja datang ke sekolah agak telat karena jam mengajarku di jam ke empat dan lima di kelas XI IPS 2. Hari ini jadwalku tidak padat hanya di SMA dan ada pertemuan silaturahmi wedding anniversary teman dosen di salah satu restauran di kota ini.
Suasana sekolah nampak tenang. Hal inilah yang paling aku suka dari sebuah sekolah. Tenang dan nyaman. Rekan-rekan pengajar dan warga sekolah sangat baik seperti keluarga besar. Anak-anak remaja bimbingankupun seperti teman yang sangat menghargai satu sama lain.
__ADS_1
Aku jadi sangat merindukan sosok Zen. Laki-laki muda yang sangat baik dan sangat membaur dengan apapun yang ada di sekitarnya. Muda dan berkharisma.
"Aku lebih tua darimu, Zen. Saat aku telah tidak seperti sekarang ini, apakah kau akan tetap setia di sampingku?" tanyaku kala berdua dengan Zen.
Zen tertawa tanpa beban.
"Kau ingin aku merayumu mengatakan hal yang menyenangkan hatimu atau hal yang membuat hatimu nyaman?" tanya Zen sambil memegang jemariku dalam genggamannya.
"Zen..." tegurku menatap matanya.
"Tua itu pasti, Sayang. Tapi sebuah kesetiaan adalah harga yang tak dapat ditukar dengan apapun. Aku tidak berjanji padamu, tapi aku akan pastikan laki-laki di depanmu ini akan selalu membuatmu bahagia" Zen tersenyum manis.
"Kau hanya perlu menanamkan rasa percaya itu dalam dirimu" sambungnya dengan rasa percaya diri yang tinggi.
Aku hanya bisa tersenyum kecil. Aku terharu. Pemuda berusia 18 tahun itu benar-benar sangat berbeda saat bersamaku dan saat bersama teman-teman sekelasnya.
Dia akan berubah menjadi seorang laki-laki dewasa ketika bersamaku ataupun bersama rekan kerjanya. Dan akan nampak sangat remaja saat bersama dengan teman-teman seusianya di sekolah.
Kagum????
Sudah pasti. Mendapatkan pemuda istimewa seperti Zen adalah sebuah keberuntungan.
Sikap tanggung jawab dan kepemimpinan sudah tampak pada sosoknya sejak kecil.
Sejak kecil???...ahhhhh, tak ku sangka sosok tampan kecil dulu yang selalu menempel dan menatapku dengan wajah lugunya kini menjelma menjadi sosok luar biasa.
Lagi-lagi aku tersenyum dan merasa bahagia bersama Zen.
"Bu Hanifah..." aku tersenyum lebar "Ada kabar apa nih?" tanyaku melihat bu Hanifah tersenyum dan duduk dengan santai.
"Kabar baik selalu, bu Almira" jawabnya seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan.
"Alhamdulillah. Apa saya terlihat melamun tadi, bu?" tanyaku setengah berbisik. Aku malu seperti biasanya pasti bu Hanifah lah yang akan menegurku jika aku terlihat bengong dan kurang konsentrasi.
Bu Hanifah tertawa.
"Tidak..." katanya sambil memperbaiki letak jilbabnya. "Ada yang ingin ibu bicarakan" katanya mulai serius.
Aku tersenyum dan mengangguk.
"Silahkan, bu" aku tersenyum sopan.
"Tapi bu Almira jangan tersinggung ya..."
Aku mengerutkan alisku sedikit bingung dan merasa kurang nyaman.
"InsyaAllah tidak, bu. Silahkan. Saya siap mendengarkan"
__ADS_1
Bu Hanifah tersenyum kecil.
"Ada teman guru usianya 34 tahun. Masih sendiri, mapan, tampan, dan baik" bu Hanifah menggeser letak duduknya.
"Jika bu Almira berkenan dia mau berkenalan. Dia sedang mencari pendamping hidup atau istri. Ibu rasa mungkin bisa cocok dengan bu Almira. Tapi mohon maaf ini hanya penawaran saja ya bu...jangan tersinggung" bu Hanifah buru-buru menyentuh tanganku dan meminta maaf.
Aku tersenyum dan membalas genggaman tangannya. Meski merasa sedikit kurang nyaman tetapi aku harus bisa meredam rasa di hatiku ini. Hhhhhh...tiba-tiba aku merasa bagai barang tak laku saja. Haduhh...
"Kalau bu Almira merasa tidak nyaman mohon maaf bu" bu Hanifah terdiam.
"Tidak apa-apa, bu. Tidak masalah. Tapi saya mohon maaf juga, bu. Saya belum bisa karena ada beberapa hal yang masih harus saya lakukan. Ibu tidak keberatan, kan?" aku mencoba menolak secara halus.
Tidak ada seorangpun yang tau hubunganku dengan Zen kecuali keluarga kami dan Fiona sahabatku serumah. Tentunya aku harus menghargai usaha beberapa teman yang berniat baik padaku.
Bu Hanifah tersenyum. Ada sedikit gurat kecewa dan tak nyaman di wajahnya.
"Tidak apa-apa, bu. Hanya saran saya sebaiknya bu Almira pikirkan baik-baik. Kita tidak tau siapa jodoh kita, tetapi jika kita berusaha insyaAllah dimudahkan untuk itu"
"Iya, bu. Doakan saja ya, bu. Semoga Allah akan mudahkan jalan ke arah itu. Terima kasih buat sarannya" aku meraih tangan bu Hanifah.
Aku melangkah ke sebelahnya dan memeluk tubuhnya dengan penuh permohonan maaf yang tak bisa kuucapkan.
"Jangan marah ya, bun" ucapku sambil mencium pipinya.
Bu Hanifah tersenyum sambil menepuk-nepuk punggung lenganku.
"Tidak apa-apa. Nanti kalau bu Almira berubah pikiran dan sudah ada waktu luang kabari ya...siapa tau jodoh"
Hmmmmm...lagi-lagi ada nada penekanan di akhir kalimat itu.
Aku tertawa kecil dan mengangguk. Bu Hanifah pamit kembali ke meja kerjanya. Beberapa orang guru menyapa sambil tertawa.
Aku mengemasi barang-barang di meja kerjaku, menutup laptop dan merapikannya ke dalam tas ransel kesayanganku.
Tepat pukul 2.30 aku melangkah pulang meninggalkan ruang guru di SMA B. Bu Hanifah tak menyapa ketika kami berpapasan di tempat parkir. Ahhh...mungkin saja bu Hanifah sedang sibuk dengan HPnya tadi sehingga dia tidak melihatku...bisikku dalam hati memberi semangat.
Tapi sangat terasa perubahan itu dalam sepersekian menit berlalu. Semangat, Almira. Tetaplah tersenyum...esok semua akan membaik lagi. Aku tersenyum menyemangati diriku dan menjalankan motor matic kesayanganku ke luar menuju jalan raya ramai.
Kota B di siang hari jelang pulang kerja padat merayap. Biasanya di depan halte kurang lebih 100 meter dari sekolah, Zen akan menungguku. Sudah kurang lebih 4 bulan ini dia memanjakanku dengan cara seperti itu.
Menjemputku dengan mobilnya dan membiarkan motorku diantar oleh sopirnya ke rumah.
Dan pak Bram pasti akan selalu memberikan nasehat panjang ketika aku telah sampai di rumah saat dia menyerahkan kunci motor.
"Secepatnya menikah dengan Zen, nak Almira. Tidak baik berpacaran terlalu lama" itulah pesan pak Bram yang selalu dikemas dengan kalimat berbeda setiap hari.
Aku hanya bisa mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Pak Bram tak pernah tersenyum jika tidak ada hal yang lucu atau membuatnya benar-benar dituntut untuk hal itu.
__ADS_1
Pikiranku berkelana ke berbagai hal. Sebuah klakson panjang mengagetkanku. Mobil berwarna silver berhentik di deoanku dengan jarak yang membuat aku sontak mengerem sekuatnya sehingga bunyi ban yang tertahan dengan sengaja membuat guncangan pada motor maticku.
Ada rasa kesal dan kaget tak terkira yang membuat tubuhku terasa panas.