Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku

Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku
Hari Tanpamu disini


__ADS_3

Baru saja aku menyelesaikan pembelajaran di kelas XI IPA 2, bel istirahat telah berbunyi. Aku merapikan alat-alat pembelajaran yang tadi kugunakan untuk memberikan materi siswa.


Sebagian siswa telah berpamitan keluar ketika melihatku masih merapikan peralatanku.


Tiga anak perempuan masih duduk di tempatnya dan berdekatan. Sesekali berbisik ke arah temannya yang samar-samar aku bisa menangkap bahwa mereka akan mengatakan sesuatu kepadaku. Tapi, aku mencoba menunggu tanpa ingin bertanya.


Ketika aku bersiap melangkah keluar kelas salah seorang dari mereka menahan lenganku.


"Bu Almira, tunggu..."


Aku menghentikan langkahku. Berbalik dan menatap wajah cantiknya.


"Alona Putri..." aku mengeja papan nama di bajunya sambil tersenyum.


Alona menunduk sejenak dan menatapku tak berkedip.


"Nampaknya ada sesuatu yang penting ingin kalian bicarakan dengan ibu?" aku menatap kedua teman Alona yang memandang ke arahku juga. Mereka saling pandang sejenak tanpa suara.


"Baiklah. Kalian ingin bicara disini atau di ruangan lain?" aku memberikan tawaran. Aku melihat Alona menimbang dan mengangguk setuju.


"Di ruang UKS ya, bu" pintanya dengan cepat. Aku mengangguk.


"Lima belas menit" aku melangkah keluar kelas langsung menuju ruang UKS yang terletak diujung bangunan. Ruang itu memang agak lengang, kecuali saat-saat tertentu digunakan oleh siswa.


Aku meletakkan ranselku di kursi dan duduk dengan tenang walaupun tetap berpikir dan bertanya dalam hati apa yang ingin dibicarakan ooeh Alona dan teman-temannya.


"Assalamualaikum...permisi, bu" Alona dan teamn-temannya mengetuk pintu ruang UKS.


"Masuk..." aku mempersilahkan mereka masuk.


Alona duduk di kursi tepat di depanku setelah aku persilahkan. Dua temannya duduk agak jauh.


"Bu, sebelumnya Alona mohon maaf. Alona hanya ingin menanyakan tentang Zen"


Deg


Hatiku merasa tidak nyaman. Berbagai prasangka dan praduga mulai berseliweran di kepalaku. Wajah cantik Alona menunduk.


"Ibu tidak mengerti. Sebenarnya apa yang ingin kamu tanyakan tentang Zen?"


"Alona kekasih Zen, bu" celetuk salah sorang temannya yang duduk di dekat pintu. Aku menoleh, Dewi langsung membuang mukanya.

__ADS_1


"Maksudnya ini apa ya...?" aku menebak sesuatu yang tidak kuinginkan.


"Alona tidak ingin berlaku tidak sopan pada ibu. Jujur beberapa bulan terakhir ini sikap Zen berubah pada Alona, bu. Beberapa teman melihat kalau Zen dekat dengan ibu"


Aku menarik napas pelan.


"Ibu adalah salah satu guru pembimbing mata ujian nasional kelas XII. Dan siswa kelas XII bukan hanya Zen. Mengapa bisa kalian berprasangka yang tidak-tidak?" aku mencoba mengatasi hal kecil ini, walaupun sebenarnya banyak pertanyaan yang akan aku lontarkan pada Zen nanti jika kembali dari luar kota.


"Maaf, bu..." Alona terlihat gelisah. "Sebenarnya Alona pernah melihat ibu bersama Zen ketika itu. Tapi Alona tidak betani bertanya pada Zen"


Aku menatap wajah cantik seusia Zen di depanku dengan tajam.


"Ibu bertanya boleh kamu jawab dengan jujur?"


Alona menatapku kaget. Dua temannya ikut melihat kearahku.


"Kalian berdua juga harus jujur dan jangan membuat cerita yang berbau dongeng. Kalian paham maksud ibu kan?" tekanku dengan sedikit keras.


"Maksud ibu...?" Alona berdiri dari duduknya. Aku memandangnya dengan tersenyum. Jangan sampai harga diri dan wibawa seorang guru jatuh di deoan muridku sendiri.


"Tenanglah. Kamu bisa duduk dan menjawab pertanyaan ibu dengan tenang dan jujur tentunya" Aku menggeser tumpukan buku sedikit ke sebelah kanan meja. Aku serius.


"Apakah kamu punya hubungan spesial dengan Zen?


Satu menit berlalu tanpa suara.


"Hmmmm...baiklah. Ibu rasa diam kalian adalah jawaban yang menyatakan bahwa apa yang ibu tanyakan tidak benar adanya. Dan kamu naksir Zen tapi kalian tidak berpacaran. Jika begitu apa yang kalian tanyakan pada ibu tidak ada gunanya bukan?, belajarlah dengan baik. Jalan kalian masih panjang" aku memberi isyarat akan keluar dari ruangan.


"Tunggu, bu. Aku tidak ingin ibu dekat dengan Zen" Alona spontan mengucapkan kalimatnya sambil menatapku. Aku menatapnya tajam dan mengerutkan keningku.


"Alona, jika pak Ahmad adalah guru bahasa Inggris di sekolah ini dan kamu juga menyukainya apakah kamu juga melarangnya mengajar siswi lain di sekolah ini?"


Alona diam. Dua orang temannya yang ku yakini sebagai pendukungnya juga diam menunduk dan tak berkata apapun. Beberapa detik hening.


"Baiklah. Ibu rasa ini sudah selesai. Kendalikan emosionalmu dan syukuri setiap kondisimu. Ibu yakin banyak lelaki tampan dan baik disini ataupun diluar sana yang ingin mendapatkanmu. Karena tak ada sedikitpun kekurangan padamu. Belajar dengan tekun, bukankah itu tujuanmu disekolahkan"


Aku mencoba memberi nasehat.


"Dan kalian. Jika kalian teman yang baik dan tulus, maka kalian harus saling mengingatkan dalam hal kebaikan. Jangan saling mendukung untuk hal-hal yang tidak penting"


"Maafkan kami, buk" Dewi menunduk dalam. Yola hanya tertunduk tanpa kata. Aku menarik nafas lega, walau tak kupungkiri ada resah di dalam sana yang nanti akan aku tanyakan pada Zen.

__ADS_1


"Ibu selalu siap jika kalian ingin curhat" aku tersenyum dan meninggalkan ruangan UKS. Ada terbesit rasa tak nyaman dalam hatiku.


Ini masalah Zen. Seorang Zen Pratama yang memiliki nilai sempurna secara fisik dan finansial bukan tidak mungkin menjadi incaran para wanita cantik.


Tapi beberapa bulan bersamanya aku rasa aman-aman saja. Tak pernah terlihat sikap genitnya. Yang ada hanya kelakuan ABGnya yang terkadang muncul dan menjadi hiburan tersendiri untukku.


Sikapnya sangat dewasa jika bersamaku dalam beberapa situasi. Apalagi jika beberapa bawahannya di perusahaan atau pak Bima mengajaknya berdiskusi sikapnya benar-benar profesional.


Ahhh...Zen, entah kejutan apalagi yang akan aku hadapi di luar sana tanpamu.


"Hayoo...senyum-senyum terus, bu Almira" goda salah seorang guru senior di sebelahku. Aku tertawa kecil tak menanggapi terlalu serius.


Aku pulang lebih awal hari ini dan langsung ke kampus karena ada jadwal bimbingan tesis untuk mahasiswa non reguler di fakultasku.


"Jangan telat, Almira. Karena akan hadir pak Rektor 3. Ingat itu!" begitu pesan Doktor Juliansyah dua jam yang lalu mengingatkan.


Aku merupakan dosen muda yang ikut serta dalam panitia penguji untuk mahasiswa yang melakukan tesis atau kegiatan akhir perkuliahan untuk pasca sarjana. Aku merasa senang dan sangat bahagia karena akan banyak ilmu yang kudapatkan dalam berbagai hal. Apalagi berkumpul dengan orang-orang hebat yang berpengaruh besar.


Dari sekolah hanya butuh waktu 25 menit tiba di kampus besar tempat aku mengajar. Buru-buru aku menuju ruanganku. Masih ada waktu tiga puluh menit untuk persiapan ke ruang ujian.


Aku meluruskan tubuh sejenak. Menghirup udara sejuk ruanganku sambil memjamkan mata.


Bayangan Zen tersenyum dengan gaya ABGnya melintas begitu saja.


"Aku merindukanmu, Almira" ucapnya tadi malam lewat video call.


"Apa yang sangat kamu rindukan dariku?" tanyaku tersenyum agak malu.


"Kamu itu selalu manja padaku. Ketika kita berdua, gerak tubuhmu senantiasa membuatku nyaman di sampingmu"


"Hmmm...kamu sedang merayuku yaa?"


"Aku tidak pandai merayumu. Kalau orang lain entahlah"


"Jangan katakan ada wanita cantik dan muda mendekatimu" ucapku ketus. Zen tertawa geli.


"Tidak ada yang mau denganku. Karena hanya dirimu yang tercantik di dunia ini" ucapnya sambil tersenyum menggoda.


"Almira Rasyad..." sebuah tepukan tangan di pundakku membuyarkan segala lamunan indahku. Mata bulat mbak Jihan rekan dosen yang menangani kegiatan tesis mahasiswa tak berkedip menatapku.


"Waktumu sudah lewat lima menit, nona. Doktor sudah menantimu" ucapnya ketus.

__ADS_1


Aku bergegas bangun dan merapikan pakaianku dan meraih segala keperluan ujian hari ini. Sambil tertawa kecil aku meninggalkan mbak Jihan yang masih mengomel di belakangku.


__ADS_2