Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku

Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku
Lamaran Zen


__ADS_3

Tak terasa waktu berlalu demikian cepat. Menjelang jam dua siang, Ayah tiba di rumah. Aku memeluk ayah yang hampir enam bulan tidak bertemu.


Ayahku hanya seorang petani dan pengusaha hasil pertanian. Ayahku merupakan distributor bahan-bahan pertanian. Tak heran, jika Ayah sering ke luar rumah tanpa terjadwal.


"Ayah senang kalian bisa datang. Apakah orang tua mu sudah tau kau datang ke kota ini?" Ayah tersenyum penuh wibawa.


Zen mengangguk tanpa suara.


Aku minta izin ke belakang membantu ibu untuk memberikan ruang ayah dan Zen untuk saling berbicara sesama lelaki.


"Almira izin ke belakang dulu, yah"


"Jangan lama-lama, Al" Zen dengan suara pelan melihat ke arahku sambil tersenyum. Aku tertawa melihat sikapnya.


Aku berpamitan pada ayah yang hanya tersenyum sambil melihat sikap Zen yang seperti anak kecil.


Aku menemani ibu yang sedang membersihkan beberapa tanaman ruangan yang indah dan nampak menggemaskan.


"Bagus sekali rak tanamannya, bu" sapaku saat telah berada di sebelah ibu. Ibuku tersenyum kecil.


"Tanaman itu juga butuh perawatan dan sentuhan pemiliknya, Al. Kita suka berarti harus merawatnya juga. Nanti kalau tidak dirawat tidak akan berbunga dan daunnya juga lama-lama akan layu dan mati" Ibu panjang lebar menasehatiku. Seperti biasa aku hanya suka menikmati keindahannya.


"Iya, bu. Tapi jangan lelah yaa...jaga kesehatan ibu juga" ucapku pelan. Aku lihat ibu tersenyum dan mengangguk ke arahku.


"Kamu yakin hubunganmu akan mulus dengan anak itu?" tanya ibu tiba-tiba.


"Namanya Zen, bu" protesku pelan.


Ibu menatapku sejenak.


"Iya, maksud ibu dengan Zen" ibu menarik napas seakan protes juga dengan nada bicaraku. Aku tersenyum kecil.


"Beri kami kesempatan, bu. Aku melihat Zen orangnya gigih, bertanggungjawab, dan dia juga menyayangiku"


"Masalahnya usia kalian berbeda terlalu jauh, Al. Dan masalah besarnya kamu yang jauh lebih tua dari dia" Ibu menghentikan kegiatannya dan duduk di kursi taman yang memang tersedia di belakang rumah kami.


Aku menunduk sambil memainkan jemariku.


"Almira tau, bu. Dan itu sudah kami bicarakan dengan Zen sebelumnya"


"Apakah sudah kamu pikirkan jauh ke depan sebelum kamu nanti menyesal" Ibu menatapku dengan tatapan orang tua yang merasa takut anaknya kecewa.


Aku sangat memahami itu.


Aku mendekati ibu dan menggenggam tangannya.


"InsyaAllah, Almira akan berusaha menerima segala bentuk konsekuensi dari keputusan kami, bu. Ibu, Ayah, dan yang lain do'akan Almira ya bu..."


Ibu tersenyum teduh.


"Selalu, Al. Ibu hanya tidak ingin kamu kecewa"


"Terima kasih, bu. Do'a ibu dan ayah serta yang lain adalah semangat yang kuat untuk kami" aku mencium tangan ibu. Ibu mengelus kepalaku dengan penuh kasih.


Ah...ibu engkaulah yang terbaik dalam hidupku. Kasih sayang kedua orang tua dan keluargaku terasa begitu melimpah. Sesekali kalau ibu marah memang sangat ganas, tapi ibu adalah wanita lembut dan baik hati.


Ibu tersenyum menatapku.


"Adikmu sudah memiliki kembar yang lucu, mungkin sebentar lagi akan lahir anak ketiga mereka"

__ADS_1


Aku terperanjat melihat ibu.


"Tapi adik tidak mengatakan apapun padaku. Bahkan Arya tidak bercerita tadi" aku sesikit geram pada adikku. Kabar sebahagia itu masak iya tidak memberitahu aku?.


Ibu tertawa geli melihat sikapku.


"Ibu bilang mungkin. Mengapa kamu tersinggung dan kelihatan marah?"


"Itu kan kabar bahagia, bu. Harusnya aku juga diberitahu. Nanti juga kalau lahiran Almira juga yang ngurusin babynya" aku sedikit mengomel.


Teringat ketika menunggu kelahiran Si kembar, adikku dan suaminya tidak berani memegangnya dan akhirnya aku harus mengambil cuti dari pekerjaan selama dua minggu.


Tapi amat menyenangkan mengurus bayi-bayi merah yang lucu.


"Kakak jangan marah, kalau kabar bahagia itu datang pasti aku kabari" tiba-tiba adikku memelukku dari belakang. Aku terperanjat sesaat.


Dengan senyum manisnya adikku ini mencium tanganku. Benar juga kata ibu tadi, kan baru mungkin...


Aku tertawa sendiri


"Kakak pikir kamu benar-benar sengaja tidak memberitahu"


"Tidaklah, kak...pastinya kakak adalah orng pertama yang aku beritahu" adikku mencium pipiku. Kebiasaan yang tak pernah berubah darinya sejak dulu.


Aku tersenyum dan mengangguk.


"Kapan kalian pindah rumah?" tanyaku pada adikku yang nampak kelihatan sedikit lebih gemuk dari biasanya.


"Sudah sejak enam bulan yang lalu, kak. Tapi tetap selalu ke tempat Mama. Apalagi kalau Mas Arya tugas dinas di luar kota"


"Jadi, namanya saja pindah rumah tapi seringnya bersama mama di sini" adikku tertawa ringan. Mama hanya tersenyum sumringah.


"Kak, kapan rencana menikah?" adikku menatapku penuh selidik. Aku sadar sejak dulu belum pernah memperkenalkan satu lelakipun kepada keluargaku. Bukan tidak ingin, tetapi memang karena tidak ada.


Aku tersenyum hambar mengingat semua itu.


Entahlah, sebenarnya dimana letak kekuranganku sebagai wanita. Aku normal, lembut menurut ukuranku, baik, dan cantik. Lumayan cantik maksudku...hhhhhhhhh.


Aku termasuk murid yang pintar dari Sekolah Dasar hingga kuliah. Hal itu terbukti dengan berbagai prestasi di sekolah yang kudapatkan. Bahkan pernah mengikuti lomba tingkat Provinsi untuk beberapa lomba Sastra dan Sains.


Tapi entahlah, semua itu tidak menjadikanku gadis yang di sukai banyak pemuda. Dan satu-satunya teman sekolah yang pernah menyatakan cinta padaku hanya Albert dan itupun aku tolak karena tidak ada perasaan apapun dalam diriku kala itu.


Ada beberapa teman kuliah mencoba mendekatiku, tetapi lagi-lagi aku tidak memiliki rasa ketertarikan yang kuat. Dalam pikiranku hanya bekerja dan belajar untuk masa depan yang lebih baik.


Aku menarik nafas dalam. Bahkan ketika telah terjun di dunia kerjapun aku belum pernah memiliki teman kencan. Sekalipun beberapa kali di comblangi oleh teman kerja.


Hingga akhirnya Tuhan membawaku bertemu dengan siswa sekolah dasarku yang dulu ku pikir sangat menyebalkan karena berwajah manis padaku dan selalu memberiku bunga.


"Heh..." adikku membuyarkan lamunan panjangku.


"Ditanya kok malah melamun. Ingat apa sih?"


"Pekerjaanlah apalagi" elakku sedikit merasa malu.


"Kerja aja dalam pikirannya. Tuh, kakak pikirkan laki-laki muda di depan yang sedang berhadapan dengan ayah" ucap adikku sambil tertawa.


"Biarpun dia lebih muda tapi dia setara Arya lho...jangan khawatir" ucapku bangga.


Adikku tertawa lebar.

__ADS_1


"Mungkin dia laki-laki yang kakak tunggu selama ini" celetuk adikku lagi.


Aku tertawa pelan.


"Mungkin. Kita tidak tau kan, siapa yang menjadi pendamping hidup kita. Kalaupun dia berjodoh dengan kakak, kamu harusnya bahagia lho...dia seperti adikmu tapi akan menjadi kakak iparmu" aku tertawa lepas.


Adikku cemberut. Mama nampak hanya senyum-senyum melihat interaksi kami berdua.


Dia bocil menggemaskan berada dalam pangkuan Mama.


Ketika kami sedang bersenda gurau ayah, Arya, dan Zen datang bersamaan.


"Ayah..." ucapku bangun dari kursi yang ku duduki dan memberikannnya pada Ayah.


Aku melihat Zen begitu santai di belakang Ayah. Sesekali dia tertawa bercanda dengan Arya.


"Zen melamarmu" ucap ayah sambil duduk dan menatapku.


Aku terkejut. Aku menatap ke arah Zen yang tersenyum mengangguk pelan.


"Ayah..." aku seakan menanti jawaban Ayah. Aku terkejut Zen secepat itu mengatakan tujuannya pada Ayahku.


Aku masih menunggu jawaban ayah dengan hati berdebar dan tak sabar.


Ayah dengan sabar meneguk teh yang di sodorkan mama.


"Ayah meminta persetujuanmu. Karena ayah dan mamamu ini hanya bisa merestui apa yang menjadi pilihan dan keputusanmu. Ayah percaya Zen tidak akan menyia-nyiakan dirimu kelak. Apalagi mendengar perjuangannya untuk mendapatkanmu"


Ayah tersenyum.


Aku merasa sangat bahagia dengan kalimat ayah. Aku merasa Tuhan demikian mudah memberikan jalan atas segala rencana yang kami susun bersama Zen.


Aku merasa bahagia betapa kedua orang tuaku tidak pernah membuat masalah yang ada menjadi sandungan dan masalah besar bagi kami.


Kekhawatiranku hilang seketika. Aku bahagia.


Zen nampak tersenyum tenang, veda sekali dengan raut wajah ketika kami tinggalkan tadi siang di ruang tengah.


Mungkin perbincangannya dengan ayah dan Arya membuat mereka menjadi akrab satu sama lain. Dan bagaimanapun Zen memang berbakat dalam melobi.


"Bagaimana, Al?" ayah kembali bertanya.


Aku melihat ke arah mama dan adikku. Mereka berdua tersenyum.


Aku mendekat ke arah ayah duduk. Aku raih tangannya yang nampak telah menua dengan keriput yang mulai terlihat.


Aku mencium tangan tua itu dengan penuh haru.


"Almira bersedia ayah. Terima kasih ayah telah menerima Zen menjadi bagian dari keluarga ini" ucapku pelan fan hati-hati.


Ayah mengelus rambutku dengan pelan.


Lalu mengelus pundakku lembut.


"Ayah tunggu lamaran resminya. Agar kita bisa menentukan langkah selanjutnya. Zen sudah menceritakan semuanya"


Aku mengangguk.


Senja yang terasa sangat khusus dan berarti untukku.

__ADS_1


__ADS_2