
Mbak Anwar telah menyelesaikan kegiatannya pada tubuhku. Sungguh terasa segar setelah melakukan pemijatan dan relaksasi.
"Terima kasih, mbak Anwar. Kenapa nggak melebarkan sayap ke ibu kota, mbak?" aku merapikan sofa yang tadi kugunakan untuk melakukan perawatan.
"Kota ini masih membutuhkanku dan aku cukup dengan itu" jawab mbak Anwar kemayu.
"Nggak ada niat untuk menikah, mbak?"
Mbak Anwar tertawa khas.
"Aku sendiri bingung. Aku akan menikahi wanita atau laki-laki"
Aku tertawa
"Mbak ngerasa laki-laki atau perempuan" kataku tak ingin bertanya.
"Laki-lakilah..." jawab mbak Anwar sambil tertawa nyaring. Temannya ikut tertawa dan langsung mendapatkan pukulan di lengannya.
Aku merasa lucu sekali.
"Besok pagi mbak Anwar kan yang datang kesini?" tanyaku memastikan.
"Iyalah, bu Dosen sayang. Calon suamimu itu tidak akan membayarku kalau tidak sampai selesai acaramu"
"Eh...bagaimana mbak bisa tau dengan Zen?" aku agak terkejut.
"Berondongmu itu yang mendukung usahaku sehingga berkembang dan berhasil seperti sekarang ini"
Aku terperangah.
Benar-benar tak percaya. Begitu banyak lini yang dimasuki oleh perusahaan Zen. Aku jadi sedikit penasaran seberapa besar aset dan kekayaan Zen Pratama. Jiak sebesar apa yang diceritakan orang-orang yang mengenalnya berarti dia termasuk deretan pengusaha muda di nusantara ini.
Aku bergidik membayangkan kalangan yang akan dihadapinya setelah resmi menyandang status istri dari seorang Zen.
"Mmmm...bengong deh. Suatu hari bu Dosen juga mesti jalan-jalan ke beberapa anak perusahaan ZP building and company" mbak Anwar merapikan alat-alat salonnya. Sambil tersenyum dia melemparkan setangkai bunga yang tadi teronggok di tas kecilnya.
"Bagus-bagus melayani berondong, Al. Jangan berkutat di kampus aja. Pergaulan pengusaha lebih mengerikan dari apa yang kamu kira" nasehatnya dengan gaya gemulai.
Aku tersenyum mengangguk.
"Sudah berapa lama mbak Anwar mengenal Zen?" tanyaku sambil berbaring. Aku tau tidak ada sesuatupun yang bisa aku kerjakan di dalam rumah ini hingga besok pagi.
Mbak Anwar dan asistennya tertegun sejenak.
"Kamu yaa...aku jadi curiga. Memangnya kamu belum pernah tau bagaimana kegiatan berondongmu itu selama ini?" mbak Anwar menaikkan alisnya.
Raut ingin tau terpancar jelas dari wajahnya.
"Kenapa muka mbak Anwar kepo begitu?" kataku sambil tertawa gundah.
"Jangan-jangan kamu dijodohkan ya?" mbak Anwar serius menatapku.
"Nggak ahh. Kami saling mencintai" aku membelakangi mbak Anwar dan asistennya. "Jangan kepo terlalu lama, mbak. Ntar malam nggak bisa tidur lagi" celetukku dingin.
"Hmmmm...makanya jangan duduk di kampus saja. Jalani juga kehidupan di luar kampus dan sekolah. Healing...healing" mbak Anwar benar-benar meledekku.
Mbak Anwar sudah ku kenal sejak ibu sering membawa jahitan ke toko konveksinya yang bersebelahan dengan salon. Dulu toko itu masih sederhana, tapi sekarang sudah megah. Kemarin aku lihat sudah bertingkat. Di bagian atas butik dan bagian bawahnya salon dan spa. Toko jahit dulu sudah berubah menjadi toko pakaian yang bermerk dan mahal.
Mbak Anwar memang luar biasa. Usahanya berkembang dengan pesat. Sebenarnya kalau dia normal sebagai laki-laki akan terlihat tampan dan sempurna. Wajahnya tampan, kulitnya putih, dan posturnya tinggi.
Aku tersenyum ketika mbak Anwar berpamitan tak ku gubris. Alhasil kotak tissu mengenai punggungku.
"Mbak Anwaaaar..." jeritku yang di balas dengan kata kemayunya.
"Bodoooo..."
Aku hanya bisa menghela nafas. Dasar manusia jadi-jadian, bisikku dalam hati.
@@@
__ADS_1
Pagi dini hari ketukan lembut di pintu kamarku terdengar. Beberapa suara dan langkah sudah mulai terdengar menandakan aktivitas pagi ini sudah akan mulai.
Aku bergegas mengarah ke pintu kamar.
"Nggak di kunci" sambutku masih dengan suara serak.
"Assalamualaikum, Almira" suara lembut khala Fatmah muncul di pintu sambil tersenyum. Aku menyambutnya dengan mencium tangannya.
"Waalaikumsalam. Dengan siapa dan kapan khala datang?" tanyaku sambil mengedar pandangan ke ruang tengah yang berhadapan langsung dengan kamarku.
"Bersama abunya Zen. Tadi malam jam 10 kurang lebih. Beberapa keluarga nanti akan datang dari sini" Khala Fatmah meletakkan koper berukuran sedang di atas tempat tidurku.
"Maaf, Khala. Masih berantakan" ucapku malu.
"Tidak apa. Ini khala bawakan pakaian untuk Ijab Qabul. Zen yang meminta, kebetulan sudah di pesan. Nanti setelah kamu mandi bisa langsung kita coba"
Khala Fatmah membuka koper dan terlihat pakaian dalam plastik yang terlipat rapi berwarna merah muda keunguan. Ahhh...lembut sekali. Khala Fatmah mengangkat pakaian itu dan memamerkannya padaku.
"Kamu suka?" tanya khala Fatmah dengan mata berbinar.
"Cantik dan lembut, Khala. MasyaAllah...aku suka warnanya" kataku sambil menyentuhnya.
Bahannya halus dengan payet yang tertata rapi. Seperti kebaya modern dengan modifikasi tunik. Pasti harganya mahal. Aku mengagumi kebaya di tangan khala Fatmah.
"Mandilah dulu, Al. Setelah itu persiapan. Jam 4 nanti mbak Anwar akan datang" tiba-tiba ibu muncul di pintu bersama bi Amora.
Aku mengangguk dan tersenyum.
Aku meminta izin pada khala Fatmah d6an ibu untuk ke kamar mandi.
Aku bukan type orang suka berlama-lama di kamar mandi. Tak sampai dua puluh menit, aku sudah menyelesaikan kegiatan pribadiku. Sejenak aku menata diri dengan hal yang pantas, sambil menunggu adzan subuh berkumandang.
Disini aku menadahkan tangan, meminta segala kebahagiaan dari Sang Pencipta. Hari ini adalah hari bersejarahku untuk memulai langkah ke jenjang ibadah yang mulia. Aku meminta kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan secara fisik dan mental.
Aku meminta ridhoNya dalam setiap langkah dan keputusan yang kuambil.
Ramai suara di luar kamar sudah semakin santer. Jam di dinding kamar telah mengarah ke angka lima. Aku menarik nafas panjang. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang istri. Ahhhh...iya, semalam sahabatku Fiola dan tunangannya menelponku. Aku minta maaf karena acara ijab qabulnya mendadak dan tak sempat ada rencana untuk mengundang siapapun.
Pintu kamarku dibuka dam muncul beberapa orang, terlihat mbak Anwar paling akhir.
"Pagi, bu Dosen. Udah siap ni di make over?" tanyanya tanpa basa basi. Aku tertawa kecil.
"Kayak artis aja pakai istilah make over, mbak?" protesku pendek. Mbak Anwar melotot ke arahku sambil memberikan beberapa perintah kepada relan-rekannya yang lain untuk melakukan tugas sesuai yang dibutuhkan untuk kegiatan hari ini.
"Ok...hal pertama yang kamu lakukan sekarang adalah mencoba kebaya pengantin yang dibawa Mom Fatmah"
Mbak Anwar mulai melakukan aksinya. Kebaya yang ku coba beberapa kali di buka untuk di kecilkan pada bagian-bagian yang menurutnya harus pas di matanya. Lima belas menit kemudian.
"Sempurna" ucapnya puas.
"Sekarang kamu mau sarapan dulu atau langsung aku dandanin?" tanyanya sambil menyiapkan berbagai peralatan tata riasnya.
"Lanjut aja, mbak. Ntar aku sarapan sambil jalan. Lagipula masih terlalu pagi" aku mengambil tempat duduk sesuai arahan mbak Anwar.
"Kak, Ayah nanya apakah kakak mau langsung ijab qabul berdua atau kakak akan keluar setelah ijab qabul?" adikku bertanya dari pintu kamar yang terbuka.
"Setelah ijab qabul aja, dek"
"Baiklah, kak. Semangat yaaa calon pengantin"
"Hhhhh...iya" ucapku tertawa.
Tanganbterampil mbak Anwar dengan lembut mulai menata wajahku dan rambutku. Sesekali dia tersenyum dan menggoda dengan kalimat-kalimat lucunya.
"Kamu grogi, ya?" katanya sambil menyeka butiran keringat di dahiku.
"Iya, mbak. Aku tak menyangka semua serba dadakan" aku mencoba mengurai ketegangan dalam pikiranku.
Mbak Anwar tertawa
__ADS_1
"Rileks, Al. Semua akan berjalan dengan lancar. Jangan kalah sama adikmu. Setelah halal tancap gas yaa?" kelakar mbak Anwar sambil tertawa.
Aku tertawa spontan
"Heh...aduuuuh, jangan keras-keras ketawanya. Dandanannya berantakan nanti" tegur mbak Anwar gemulai.
"Mbak, kenapa sih seneng banget dipanggil mbak Anwar kalau normal laki-laki" kataku membuatnya melotot. Persis seperti emak-emak marah. Aku tertawa kecil.
"Nanti kalau udah jadi laki beneran kamu panggil aku abang ya" katanya gemulai.
"Ishhhhh...nggaklah" jawabku spontan.
"Knapa?"
"Panggil bapaklah. Sesuai usia, pak" kataku yang disambut tawa tergelak mbak Anwar.
"Gelai..." katanya kemayu.
"Sudah selesai" mbak Anwar memutar memperhatikanku dengan detil rasanya seperti barang yang sedang di taksirnya.
Mbak Anwar menyuruh seorang rekannya untuk mengambil beberapa dokumentasi akhir pada tata rias wajahku.
"Terima kasih, mbak" ucapku pelan. Mbak Anwara tersenyum sambil merapikan seluruh peralatannya.
"Sama-sama, Al. Semoga bahagia yaa...cepat dapat momongan" ucapnya tulus. Aku mengaminkan.
"Al, setengah jam lagi ijab qabul akan dimulai" bi Amora muncul di pintu kamar. Aku tertegun. Sebentar lagi...bisik hatiku pelan.
Tak terasa dua jam berkutat dengan tata rias mbak Anwar. Aku melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 7.25 menit.
Kamarku sudah kembali rapi dan bersih. Bahkan beberapa ornamen khas pengantin sudah ditambahkan oleh rekan-rekan mbak Anwar.
Aku merasakan aura yang berbeda dari riasan kamarku sendiri.
Suara ramai di ruang tengah sedikit membuatku ingin tau apa yang terjadi. Bi Amora tersenyum.
"Pengantin laki-laki dan keluarganya sudah datang" bi Amora memberitahu. Aku tersenyim kecil. Hatiku berdebar tak menentu. Sejak kemarin aku tidak melihat Zen, juga tidak menerima telpon darinya. Kata Ibu tidak boleh berkomunikasi dalam bentuk apapun sampai ijab qabul dilaksanakan.
Entah itu sebuah tradisi atau memang keharusan aku enggan memikirkannya. Aku hanya menerima apa yang telah ibu dan ayah siapkan. Aku berpikir orang tua lebih tau apa yang terbaik, walaupun terkadang secara ilmiah itu tidak masuk akal.
Sekali lagi, kita harus menghormati tradisi dalam keluarga setinggi apapun ilmu dan status pendidikan kita. Pengalaman orang tua sangatlah berarti.
Adik, Ibu, dan beberapa kerabat dekat ayah dan ibu masuk menghampiriku sambil tersenyum.
"MasyaAllah cantiknya pengantin dadakan ibu" ucap ibu yang disambut tawa oleh adikku dan yang lain.
Ayah masuk melihatku. Pakaian ayah rapi dan religius. Betapa tampannya ayahku di usia yang tak lagi muda. Senyumnya merekah mempesona. Hmmmm pantas saja ibu tergila-gila pada ayah.
"MasyaAllah cantiknya anak ayah" Ayah memelukku dan mencium kepalaku. Aku merasa tersanjung dengan pujian ayah. Ayah tak pernah lupa untuk memuji kami anak-anaknya dalam hal apapun.
"Terima kasih, ayah" aku memeluk ayah dengan penuh kasih.
"Maharmu sudah kamu sepakati dengan Zen?" tanya ayah memastikan.
"Iya, yah" jawabku malu.
"Seperangkat alat sholat dan cincin berlian seberat 5 gram, ya?" ayah memastikan lagi.
"Iya, ayah" aku mengangguk.
"Baiklah. Ijab Qabul akan segera dimulai. Banyak berdoa semoga lancar" ucap ayah lebih kepada kami semua.
"Semangat, bang" bi Amora yang merupakan adik ayah tersenyum mengelus pundak ayah. Ibu tersenyum memberi semangat.
"Bismillahirrahmanirrahiim..." ucap ayah pelan lalu berjalan ke luar kamar.
Dari tirai kamarku aku bisa melihat semua kegiatan di ruang tengah. Suara doa dikumandangkan dan pak Penghulu memberi arahan sangat jelas dari tempatku duduk.
"Saya terima nikah dan kawinnya Almira Rasyad binti Abdullah Rasyad Rahman dengan mas kawin tersebut tunai" suara itu tampak jelas dan lancar yang disambut kata sah oleh beberapa orang.
__ADS_1
Aku yang tadi tegang mulai merasakan terharu. Aku telah menjadi tanggung jawab dari seorang laki-laki yang kini sah menjadi suamiku.
Zen Pratama