Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku

Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Zen menarik botol air mineral yang masih aku pegang.


"Aku menunggu jawabanmu lima menit dari sekarang" ucap Zen meletakkan botol diatas meja. Zen mendekatkan tubuhnya tepat di sisiku secara langsung.


"Bagaimana mungkin aku menjawabmu dalam waktu lima menit" aku protes sambil menyeka keringat dingin dari pori-pori dahiku.


"Kau tak menjawabpun aku tetap memaksamu mengatakan iya" Zen menyodorkan tisu ke wajahku. Tiba-tiba aku merasa malu dengan sikap Zen.


Bagaimana mungkin pemuda dengan usia beranjak 18 tahun demikian dewasa menghadapi aku yang telah lebih tua sepuluh tahun darinya.


Ini pengalaman pertamaku bersama lawan jenis. Entahlah, baru kali ini aku merasakan debaran aneh yang nyaman dalam dadaku setiap bersama Zen. Tapi, lagi-lagi aku malu usiaku sepuluh tahun lebih tua darinya. Akhhhhh...mengapa harus begini. Bisikku dalam hati sedih.


"Mengapa kau diam saja?. Aku ingin kau mengatakan sesuatu tentang isi hatimu. Apakah kau keberatan dengan perilakuku?" Zen masih menggenggam sebelah tanganku.


"Tanganmu dingin sekali. Apakah kita harus mencari tempat yang lebih hangat agar kau tidak merasa dingin?" ada raut khawatir di wajahnya. Ahhh...benarkah dia khawatir atau hanya merasa tidak nyaman dengan kondisiku?...aku membatin lagi.


"Tidak. Aku...aku..." aku merasa tubuhku berat menopang beban tubuhku sendiri. Aku shock...aku malu....berbagai perasaan dan pikiran muncul silih berganti dalam kepalaku.


"Katakanlah" Zen menatapku dengan lembut. Mata yang bercahaya itu begitu kuat pancarannya. Aku melihat ribuan cinta dari tatapannya, bahkan genggaman tangannya.


"Mengapa kau mencintai aku?, aku rasa diluar sana banyak gadis yang lebih pantas mendapatkan cintamu itu, Zen" akhirnya keluar juga kalimatku dengan nada pelan dan sedih.


Zen menatapku tajam. Tangannya meraih wajahku dan mengarahkannya ke wajahnya.


"Lihatlah mataku dengan baik, Al. Apakah mencintaimu harus memiliki alasan dengan mengatakan hal tadi?" tatapn mata Zen begitu kuat seakan memberikan kekuatan cinta yang di milikinya. Aku membuang pandanganku.


"Aku mencintaimu sejak dulu. Kata cinta ini yang tak bisa ku katakan padamu 6 tahun yang lalu" Zen menyandarkan kepalanya di bahuku dengan pelan.


"Aku selalu teringat dengan sosok lembutmu sejak SD dulu. Terkenang kalimat galakmu ketika memarahi anak-anak yang membangkang dan nakal di sekolah dulu. Bahkan, aku selalu ingat bagaimana aku memelukmu saat hari guru" Zen memejamkan matanya. Mungkin dia mencoba mengenang apa yang terjadi kala itu.


Bibirnya tersenyum.


"Aku akan menikahimu ketika aku dewasa" ucapnya dengan suara bergetar.


Aku terharu. Aku ingin menangis. Aku...aku merasakan hatiku bercampur aduk entah bahagia, sedih, atau apapun namanya. Aku bingung memberi judul perasaanku saat ini.

__ADS_1


"Baiklah. Aku tidak memaksamu untuk menerima cintaku saat ini. 6 tahun aku bersabar, menunggu sehari lagipun aku masih bisa" Zen menyeringai. Ada nada resah dalam suaranya.


"Sepertinya kau yakin aku akan menerimamu?" sindirku gelisah. Duh...bibir dan hatiku mengapa bertolak belakang yaa...


"Harus. Kamu tidak punya pilihan. Hanya menerimaku dan mengatakan isi hatimu. Aku tau kau juga mencintaiku" ucap Zen sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Jangan sok tau" aku gelisah sendiri. Bagaimana dia tau aku juga sesungguhnya suka dan amat sangat bahagia dengan perlakuannya.


"Kau selalu mengikuti apa yang kuminta" bisiknya pelan di telinagku. Lagi jantungku berpacu dengan perlakuannya. Hembusan nafasnya menyapu tengkuk leherku.


Aku memastikan wajahku memerah bagai pencuri tertangkap basah. Sesungguhnya, aku tepat seperti yang dikatakan Zen. Sikap usil dan tak menyerahnya selama dua bulan terakhir ini benar-benar membuatku nyaman.


Dan lagi wanita mana yang tidak tertarik dengan fisik Zen Pratama. Belum lagi latar belakang kehidupannya yang bisa dikatakan mapan dan serba ada.


Di usia beranjak 18 tahun, Zen telah memiliki usaha binaan di beberapa bidang di Indonesia. Zen termasuk dalam daftar pengusaha muda yang sukses.


Sosok yang sangat diidamkan oleh wanita manapun. Tampan, baik, kaya, dan penuh cinta. Tapi, bagaimana dengan usiaku??


Aku tak berani meneruskan menikmati debaran yang aku rasakan. Aku wanita dewasa dengan usia 27 tahun, sedangkan Zen beranjak 18 tahun. Apakah mungkin perbedaan yang begitu besar ini dapat diterima oleh banyak orang?, terutama oleh keluarganya.


Aku membuang nafasku yang terasa berat.


"Zen, apa yang kamu lakukan. Kita..."


"Ssst...jangan berisik. Aku sedang mentransfer kekuatan cintaku padamu" bisik Zen memeluk tubuhku dengan erat. Walaupun aku meronta Zen tetap tak bergeming.


Semenit...aku merasa pelukannya sangat hangat. Benarkah dia sedang mentransfer kekuatan cintanya???...ahhh...aku merasa nyaman dan bahagia. Biarlah itu saja yang bisa ku nikmati saat ini.


"Aku mencintaimu, Almira. Izinkan aku membuktikan apa yang kau sangsikan dalam hatimu padaku. Aku sunguh-sungguh mencintaimu" Zen menciumi rambutku, lebih tepatnya kepalaku.


Rasa bahagia tak terhingga sangat aku rasakan. Tapi bagaimana aku mengatakan kalau aku juga menyukainya??. Usiaku lebih tua...jeritku resah dan malu.


Sampai menjelang pukul 11 kami hanya hanyut dalam perasaan masing-masing. Ahhh...bukan kami tapi hanya aku. Sedari tadi Zen berbicara mengungkapkan isi hatinya tetapi aku tak mampu mengeluarkan isi hatiku sedikitpun. Aku malu...


"Sudah menjelang siang. Sinar matahari pantai tidak terlalu baik untuk kesehatan. Apakah kau ingin berpindah tempat atau aku antar pulang?" Zen menatapku dengan tatapan mata yang penuh dengan cinta.

__ADS_1


Dan itu membuat hatiku berdebar tak menentu. Aku tersenyum kecil. Kalau boleh jujur, aku ingin berlama-lama bersamanya. Heeei...Almira....batinku menjerit. Dasar tidak tau malu...makiku dalam hati untuk diriku.


"Kau cantik sekali kalau tersenyum" Zen mengulurkan tangannya mengelus pipiku. Duh...romantis sekali pemuda ini.


"Heiii...bicaralah. Jangan seperti ABG" Zen mencubit pipiku agak keras.


"Auww...sakit, Zen" aku protes karena terasa sakit.


Zen tertawa


"Benarkah?" ucapnya menggadaku. Kali ini tangannya mengelus rambutku dengan lembut. Aku diam saja menerima semua sikap manisnya. Ternyata, indah suasana dalam hati yang dipenuhi cinta. Pantas saja Fiona selalu senyum bahagia bila pulang dari jalan-jalan versama tunangannya.


"Ayo kita mencari tempat yang lain agar kau bisa menikmati ahir pekan ini dengan baik. Ohya, apakah besok kau akan memberikan ulangan harian seperti yang kau janjikan kemarin?" Zen meraih tanganku mengajak untuk meninggalkan pantai wisata yang indah itu.


"Iya. Karena itu merupakan agenda mingguanku" Aku membalas genggaman tangan Zen.


Zen tersenyum


"Aku tau kau mencintaiku" gumamnya dengan jelas.


Aku malu dan menarik tanganku. Tapi mana bisa semudah itu lepas dari Zen.


"Jangan sok tau. Aku belum mengatakan apapun padamu" aku mencoba mempertahankan egoku. Zen tertawa sambil memakai kaca mata hitamnya.


Tampan sekali dia


"Aku tau dari sikapmu dan gerak tubuhmu. Terutama tatapan matamu" ucapnyabtanpa melihatku.


Aku tertawa dalam diam. Zen memang pandai dan mengerti aku. Ahhh...mungkin...


"Suatu saat kau akan mengatakannya sendiri tanpa aku minta. Oh ya, apakah aku harus semesra ini padamu di sekolah mulai besok?" Zen menghentikan langkahnya.


Aku terperangah. Mana mungkin hal itu terjadi, apa kata warga sekolah nanti.


"Hahaahaaa...lihat kau nampak bingung. Tenanglah...di sekolah kau guruku. Tapi di sini..." Zen menunjuk dadanya "kau adalah kekasihku. Calon istriku dan calon ibu dari anak-anakku"

__ADS_1


Spontan aku mencubit lengannya. Aku kehabisan kata-kata. Eeh...lebih tepatnya tak menemukan kata-kata yang tepat untuk aku katakan pada Zen. Hari ini penuh dengan kejutan.


Zen tertawa tanpa beban.


__ADS_2