
Ibra menatapku dengan serius.
"Sudah berapa lama kamu mengenal pak Zen?"
Aku menatap Ibra sambil mengerutkan dahi. Merasa aneh dengan panggilannya.
"Pak..?" aku memperjelas sekaligus bertanya. Ibra tersenyum kecil.
"Dua usaha restaurantku di bawah binaan perusahaan ZP Holding Family. Aku mengenalnya kurang lebih 3 tahun belakangan ini. Dulu hanya namanya saja yang aku sering dengar. Tapi belakangan ini, dia turun langsung ke perusahaan binaan dan bahkan dia juga langsung bertemu dengan calon mitra kerjanya. Aku dengar dia totalitas beberapa tahun terakhir ini." Ibra membeberkan beberapa kerjasamanya dengan Zen Pratama.
Aku merasa semakin kagum dan bangga saja mendengar sepak terjang dan kebaikan Zen bersama mitra kerja usahanya.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, apakah kamu serius menjalani hubungan dengan Pak Zen?"
Aku tersenyum kecil.
"Aku tidak punya alasan untuk menolak dan bermain-main di usiakù seperti ini" jawabku dengan pasti. Ibra mengangguk.
"Kamu beruntung. Dan kamu tau, Al...banyak wanita kalangan atas yang berusaha mendekati dia. Bahkan kalau kau tidak percaya di kalangan pengusaha untuk mengembangkan usahanya biasanya mereka berusaha menjodohkan anak-anak perempauan mereka dengan CEO atau Owner perusahaan yang masih single seperti Zen"
Aku semakin serius dan tertarik dengan cerita Ibra tentang latar belakang dan kegiatan segala hal yang menyangkut Zen.
"Segitunya...?" tanyaku mendengar hal baru dalam dunia yang berbeda.
Ibra mengangguk
"Tapi selama tiga tahun aku mengenalnya dan bekerjasama dengannya belum pernah terbetik skandal cinta dalam karirnya. Dia lebih dikenal ramah dan dingin, dan sangat menjaga hubungan dengan perempuan"
'Jika kamu sudah mengenal keluarganya, aku yakin kamu akan dipilih menjadi pendamping hidupnya"
Ibra menggenggam punggung tanganku dengan hangat.
"Do'akanlah, Ib. Aku ingin semua lancar dan baik-baik saja. Aku sangat mencintai Zen. Walauoun aku sadar seoenuhnya begiti jauh perbedaan usia antara aku dan dia. Tapi dia sangat meyakinkan aku untuk tidak memikirkan terlalu rumit tentang hal itu" aku menatap Ibra dengan sedikit malu.
Ibra tertawa.
"Tenanglah. Kamu tau jika laki-laki sudah mengatakan hal itu, tentu dia sudah memikirkan baik dan buruknya keputusan itu, Al. Jalani saja dengan nawaitu" Ibra memberi support yang membuat hatiku semakin mantap melangkah dalam hubungan ini.
Menjelang pukul 3 aku dan Ibra berpamitan kembali ke tempat masing-masing. Banyak hal yang kami perbincangkan juga mengenai hubungan Ibra dan Fiona yang ternyata sudah bertunangan. Hmmmm...benar-benar hebat. Mereka berdua rapi menyembunyikannya dariku. Katanya sih, takut gagal.
"Nanti menjelang hari H kami pasti melibatkanmu, Al. Dan ingat kamu jangan menolak apapun yang kami minta"
Dan seperti biasa aku sering tidak dapat menahan gemesku pada Ibra jika sudah memasang mode memaksanya.
__ADS_1
@@@@
Rumah masih terlihat sepi, karena Fiona masih di kantornya sampai jam 4 atau 5 sore. Rutinitas yang terkadang melelahkan.
Tapi itulah hidup. Banyak kebutuhan yang harus di topang dengan bekerja keras. Karena hanya dengan itulah kami bisa menikmati dan membahagiakan orang-orang uang kami cintai.
Aku baru saja melepas penat ketika dering handphone menghalau kantukku.
Tanpa melihat siapa yang memanggil langsung saja aku geser tombol hijau di Whatssapp.
Aku terkejut wajah tampan dengan senyum manis menatapku di ujung sana.
"Assalamualaikum, Calon makmum..." sapanya lembut membuatku tersipu malu. Betapa rindunya aku pada sosok Zen.
"Waalaikumsalam, Calon Imam.... Apa kabar?, bagaimana pekerjaannya?"
Zen tersenyum menawan dan duduk di kursi dengan santai. Tangannya melepaskan dasi yang masih rapi di tubuh atletisnya.
"Alhamdulillah, aku baik, sehat, dan selalu merindukanmu. Pekerjaan lancar. InsyaAllah besok aku bisa kembali ke kota B" Zen membaringkan tubuhnya "Apakah kamu tidak merindukanku?"
Aku tersenyum merona.
"Sangat..." jawabku singkat. Dan disambut tawa oleh Zen.
"Ngobrolin apa saja dengan Ibra?" Zen menatapku sambil tersenyum.
"Dari mana kamu tau aku bertemu Ibra?, memangnya kamu kenal dengan Ibra?" aku mengerutkan dahi heran.
"Sayang, walaupun aku tidak di sisimu tapi mataku selalu bersamamu. Terutama hatiku ini" Zen tertawa ringan.
"Hhhhh...bisa saja" jawabku sambil tertawa.
"Beneran nih, besok bisa balik ke kota B?. Apakah kamu mau aku jemput di bandara?" tawarku tak sabar bertemu Zen.
Zen tertawa manis. Duh...rindunya menatap langsung matanya dan mencium aroma parfumnya.
"Kalau kamu nggak ada jadwal kampus atau sekolah tentunya aku akan sangat senang di jemput oleh orang yang aku cintai. Dan taukah kamu, Al...itu akan menjadi hari pertamaku dalam bekerja di jemput oleh wanita cantik sepertimu"
"Aku tidak ada jadwal besok. Hanya malam mengisi kuliah online" aku berusaha tidak berbangga dengan kalimat Zen yang agak lebay.
"Ok. Penerbangan pagi sekitar jam 9 aku sudah di bandara. Kita langsung ke rumah Ayah, yaa?"
"Ayah sudah pulang?" tanyaku pada Zen.
__ADS_1
"Sudah. Ayah tadi pagi setelah rapat langsung pulang, larena ada urusan juga di kota yang tidak bisa diwakilkan"
Aku mengangguk.
"Apa khala Fatimah sudah kamu beri kabar kalau aku akan datang bersamamu besok"
"Mengapa harus?" Zen mengerutkan keningnya.
"Zen, jangan bercanda" rajukku melihat tingkah tengilnya. Zen langsung tertawa melihat raut wajahku.
"Nanti aku kabari. Sayang, apakah Ibra merayumu?" Zen tampak serius. Aku menatap mata tajam nan konyol di ujung sana.
"Jangan bercanda. Kamu sudah mengenal Ibra dengan baik. Bukankah kalian mitra kerja?"
Zen tiba-tiba tertawa
"Dasar Ibra tidak bisa menyembunyikan cerita. Tapi dia lelaki tulen lho, sayang"
"Maksudmu apa?" aku menatap Zen yang dengan santai membuka kancing krmejanya. Rambut di dada Zen menyeruak membuat hatik bergetar. Tampan sekali Zen bila seperti ini...aku menarik nafas panjang dan membaungnya dengan pelan. Ku tahan buncahan di dada yang bergetar melihat penampilannya.
Aku wanita normal juga kan, guys?...sungutku miris dalam hati.
"Maksudku, dia juga mencibtai wanita, sayang"
"Iya. Ternyata dia kekasih Fiona, teman serumahku. Tadi dia menceritakan semuanya padaku"
"Benarkah...?"
"Iya, bahkan dia bercerita tentang dirimu" aku tertawa melihat perubahan wajah Zen.
"Kejelekanku...?" tanya Zen dengan serius.
"Bukan. Justru dia bercerita bahwa kamu adalah laki-laki yang anti wanita" aku menekankan kalimatku.
Zen tertawa
"Itu semua karena sosok seorang guru SDku" ucap Zen dengan mata penuh cinta. Aku benar-benar merasa malu sekarang.
"Kau tau, Al. Guruku itulah yang membuat aku jatuh cinta dan tidak bisa berpaling. Dan kau lihat, takdir selalu menjadi hal yang terbaik di sisi Allah. Kamu akhirnya bisa aku temukan tanpa aku cari ke seluruh belahan dunia ini" Zen menatapku dengan sendu.
"Aku merindukanmu, Zen" ucapku lirih.
"Aku juga rindu padamu. Kau percaya kan, aku tidak pernah macam-macam. Itu semua karena Allah dan tujuan indahku"
__ADS_1
Aku tersenyum merasakan aura cinta Zen yang begitu besar.
"Aku cinta padamu, Al. Dan kamu adalah tujuan hidupku ini" Zen tersenyum manis.