Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku

Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku
Keyakinan Hati (Zen Pratama)


__ADS_3

Almira Rasyad...Zen menyebut nama gadis yang menjadi gurunya itu dengan senyum bahagia.


Tanpa ragu tangannya kirinya mengelus rambut guru cantiknya itu dengan lembut dan perlahan. Zen tidak ingin gadis pujaannya itu terbangun dari tidurnya.


Zen merasa sangat bahagia. Zen melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sengaja di pelankan. Dia tidak ingin secepatnya berpisah dengan Almira. 6 tahun memendam dan menginginkan sosok Almira untuk dapat menjadi pujaan hatinya bukanlah hal yang mudah.


Dalam ingatan Zen sejak usia 12 tahun hanyalah sosok Almira yang paling sempurna. Zen tak menyangka sedikitpun akan bertemu kembali dengan guru yang membuatnya jatuh cinta ketika kecil dulu. Sungguh sebuah takdir yang indah.


Keinginan hatinya sejak dulu adalah bertemu dengan Almira dan menyatakan apa yang dia rasakan sejak sekokah dasar dulu. Dan Zen bertekad untuk membuat Almira bahagia. Dari tekad itulah Zen tak menolak ketika ayahnya memperkenalkan bisnis sebagai pekerjaan sampingan.


"Modal laki-laki itu bukan hanya fisik yang sempurna, Zen. Tapi juga kekuatan dan kemauan kuat dalam usaha secara finansial" Ayah Zen memberi nasihat, kala itu Zen telah duduk di bangku sekolah menengah kelas 8.


"Ketika kamu sudah bisa berdiri diatas usahamu sendiri, kau tidak akan pernah takut menghadapi gelombang hidup yang tak menentu. Fokus pada tujuanmu. Jangan takut gagal selama masih ada kesempatan dan kesehatan" Ayahnya memberi motivasi yang sangat berharga.


"Apa cita-cita terbesar dalam hidupmu?" tanya ayahnya ketika proyek pertama dalam usaha suplier bahan dan peralatan telekomunikasi Zen diikutsertakan sebagai pekerja.


"Apakah ayah akan marah kalau aku katakan cita-citaku yang sesungguhny?" Zen bertanya tanpa melihat wajah ayahnya. Ayahnya tertawa sambil mengusap kepalanya.


"Cita-citamu adalah tanggung jawabmu. Mengarahkan dan membimbingmu adalah tanggung jawab ayah dan ibu. Apapun itu ayah sangat menghargainya" begitulah ucapan ayah Zen bijaksana dan terdengar sederhana di telinga Zen. Namun, di balik itu mempunyai makna yang sangat besar bagi Zen.


"Suatu saat aku akan menikahi guruku, yah" ucap Zen mantap dan pasti.


Ayah Zen tertawa kala itu. Ditatapnya wajah Zen yang masih duduk di kelas 2 SMP dengan tatapan heran dan agak lucu.


"Mana ada murid bercita-cita menikahi gurunya sendiri, Zen. Tapi jika Tuhan berkehendak kita manusia bisa apa. Tunjukkan jika kau layak untuk semua itu" ayah Zen tertawa menepuk bahu Zen dengan bijaksana.


Yaa...Zen selalu yakin kerja kerasnya selama ini memiliki tujuan hanya satu membahagiakan Almira dan menunjukkan kepada irang tuanya bahwa dia mampu bertanggungjawab penuh untuk pilihannya.


Zen kembali menatap wajah cantik yang sedang lelap di sebelahnya. Alis hitam dan alami bertengger indah menghiasi mata yang jika terbuka akan nampak lebar bagai bintang kejora. Hidung mungil dan mancung, serta bibir cantiknya yang penuh berisi.


Pipinya halus tanpa polesan make up atau entahlah. Yang terlihat benar-benar alami. Siapa akan menyangka gadis cantik ini telah berusia 27 tahun. Itu berarti 10 tahun diatasnya. Zen tersenyum menggelengkan kepalanya.


Tidak nampak raut menua di guratan wajahnya. Yang nampak adalah kecantikan alami yang patut dipuja banyak orang.


Benarkah selama ini Almira tidak pernah menjalin hubungan serius dengan teman laki-lakinya?. Zen berpikir keras. Tidak mungkin wanita secantik dan sebaik Almira tidak ada yang mendekati. Apa yang kurang darinya???


Pendidikan tinggi, wajah cantik, postur tubuh yang bagus, tinggi cukup untuk seorang wanita. Penampilan Almira sehari-hari sangat berwibawa, cantik, harum, dan tertata.


Ahhh...mungkin aku harus menanyakan hal itu padanya nanti. Zen tersenyum masam.


Tidak mungkin gadis sesempurna Almira selama ini hanya sendiri tanpa sentuhan laki-laki. Zen tersenyum semakin hambar membayangkan semua itu.


Remaja SMP saja bisa putus nyambung dan berganti-ganti pacar selama tiga tahun jika memiliki wajah secantik Almira. Zen semakin gelisah membayangkan semua itu.


Zen memarkir mobilnya tepat di halaman rumah yang di sewa Almira. Jam telah menunjukkan pukul 4 sore. Zen bingung, Almira masih nyenyak dalam tidurnya. Haruskah Zen membopongnya ke dalam rumah?...ahhh tidak...nanti pasti Almira akan memarahinya jika melakukan itu.


Tadi saja menggenggam tangannya dengan sengaja jarinya tergores kuku Almira dan mendapat tatapan tajam bagai mata elang. Zen bergidik sendiri.


Pantas saja tak ada lelaki yang berani mendekatinya. Mana mau laki-laki dengan gadis berwajah galak seperti Almira. Hhhhhh...Zen tertawa kecil dengan pemikirannya sendiri.


Zen memperhatikan jari tengahnya yang tergores kuku panjang Almira saat dengan sengaja Zen meremas jemarinya. Ditatapnya wajah cantik Almira yang masih tidur di kursi yang sudah agak di sandarkan.


Zen menarik napas panjang. Debaran hatinya begitu indah dan nikmat jika berada di sisi Almira. Belum pernah hatinya merasakan bahagia seperti saat ini. Zen merasa kekosongan hatinya penuh tanpa celah dengan rasa bahagia.


Tapi Almira belum menjawab bersedia menjadi kekasihnya, bahkan Zen akan melamarnya bila diminta. Ahhhh...tidak. Bukan bila diminta. Tapi Zen bertekad akan segera melamarnya setelah pengumuman kelulusan 3 bulan lagi.


Zen tau akan banyak rintangan yang akan dihadapinya demi mendapatkan Almira. Zen membutuhkan keyakinan Almira dan kesungguhan hatinya untuk menerima dirinya menjadi imam dalam hidupnya.


Materi bukanlah masalah besar bagi Zen. Zen telah memiliki usaha dan penghasilan sendiri, tentunya itu berkat semangat ayahnya dan kerja kerasnya yang terus mendapat dukungan dari keluarga tercintanya.

__ADS_1


Tiba-tiba Zen merasa sedih mengingat ibunya yang telah lebih dahulu pergi menghadap Illahi. Zen ingat betul saat itu ketika kelas 2 SMA, dan itu setahun yang lalu.


Ibunya telah terbaring sakit akibat keganasan kanker yang bersemayam dalam tubuhnya.


"Zen, istirahatlah. Bukankah besok kau akan ujian kenaikan kelas?, kegiatan di perusahaanmupun padat" ibu Zen mengelus kepala Zen saat itu.


Zen tersenyum manis. Ibunya yang masih terlihat cantik walaupun terbaring sakit dan lemah masih terlihat tegar menatapnya.


"Ibu tak perlu khawatir. Ujianku sudah selesai, bu. Urusan kantorpun ada paman Hendri yang membantu. Apakah ibu ingin tidur?" Zen lembut mengelus pergelangan tangan ibunya yang nampak kurus karena penyakit.


Ibunya tersenyum sangat manis.


"Mana ayahmu, Zen?" mata cantik ibunya menyapu ruangan perawatan yang ditempati ibunya malam itu.


"Sebentar lagi ayah datang, bu. Ayah menyelesaikan urusannya di kantor. Apakah ibu membutuhkan sesuatu?, biar Zen yang melakukannya" ucap Zen dengan hati-hati.


Biasanya Ayahnya dengan sabar memoleskan minyak herbal dengan aroma therapy di sekujur tubuh ibunya, agar ibunya dapat tidur dengan nyenyak.


Entah mengapa, Zen malam itu ingin sekali melakukan tugas ayahnya untuk ibunya tercinta. Ibunya yang sangat menyayanginya dalam segala suasana. Tak pernah sedikitpun ibunya membentak atau memarahinya walauoun Zen berbuat salah. Sederet nasihat yang biasanya akan terus keluar dari bibir cantik ibunya berjam-jam tanpa henti. Dan Zen harus mendengarkan semuanya sampai Sang Ibu berhenti dengan sendirinya.


Zen tersenyum lembut.


"Kelak carilah wanita sederhana yang baik untuk menemani hidupmu, Zen" pesan ibunya sambil tersenyum malam itu.


""Zen masih muda, bu. Calon menantu ibu mungkin sedang mencari Zen di luar sana. Mungkin dia sedang mencari alamat rumah kita" Zen berusaha menghibur ibunya.


Ibunya tertawa sampai terlihat giginya yang rapi dan putih. Ahhh...ibuku sayang. Betapa cantiknya kala tertawa. Zen terus memuji ibunya dan tersenyum.


"Mengapa kau tidak memberikan alamat rumah kita padanya, agar ibu bisa bertemu dan menitipkannya padamu. Ibu yakin dia pasti cantik dan baik hati"


Zen tertawa kecil. Kembali terlintas sosok Almira di pikirannya.


Ibunya tersenyum mengelus wajah Zen yang tampan.


"Kau benar-benar seperti ayahmu. Baiklah, ibu ingin tau seperti apa gadis udamanmu itu" pinta ibunya malam itu. Zen tersenyum dan menarik napas panjang.


"Tunggu..." tiba-tiba ayah Zen menghentikan saat Zen hendak mulai menggambarkan Almira dalam ingatannya.


"Ayah juga harus tau dan mendengar seperti apa gadis pujaanmu itu" Ayah Zen yang berdarah Arab itu duduk di sebelah tubuh sang Istri yang tersenyum melihat suaminya datang.


"Ibu harus tau, bahwa gadis itu selalu dibanggakannya bahkan dia berani memuji kecantikan dan kemandirian gadis itu di depanku" adu ayah Zen pada sang Istri. Ibu Zen menatap anaknya dengan tajam.


"Secantik apa dia untukmu Zen?" sang Ibu menatap anaknya dengan tatapan menyelidik.


Zen menatap ayahnya tak berdaya. Sang ayah hanya tertawa sambil mengangkat bahu.


"Zen..." panggil ibunya dengan lembut seakan bertanya kebenarannya.


"Baiklah. Akan aku ceritakan" Zen akhirnya menyerah dan membongkar semua keinginan hatinya dan menceritakan sosok Almira yang begitu sempurna di angannya.


Ibu dan Ayahnya saling pandang. Tak menyangka putranya demikian bertekad kuat untuk mewujudkan cita-citanya.


"Tapi, Zen. Mungkin saat kalian bertemu lagi nanti gurumu itu sudah menjadi istri orang dan memiliki 3 orang anak yang lucu. Sedangkan kau masih berusia 20 tahunan" ibunya tersenyum kecil.


Zen menarik napas gelisah kala itu.


Ayahnya menepuk lembut bahu Zen.


"Ayah tidak masalah perbedaan usia yang begitu jauh. Tapi apakah kau sanggup menghadapi kenyataan yang lain?"

__ADS_1


"Akan banyak rintangan yang kau hadapi, nak. Kaupun tidak tau apakah gurumu itu menyukaimu. Mungkin saja akan seperti yang ibumu katakan. Tapi ayah berpesan tetap semangat. Kalaupun jodoh anggap saja ini ujian untuk meraih cita-citamu itu" ayahnya memberi semangat.


Ibunya ketika itu hanya tersenyum tulus dan mengelus wajah Zen putra semata wayangnya.


"Jia bertemu kelak dengannya berbuatlah sopan dan baik. Bagaimanapun dia adalah gurumu. Jodoh adalah takdir Allah. Yang terbaik menurut kehendak Allah pasti terbaik untukmu. Kenalkan pada ibu nanti yaaa..." pinta ibunya tanpa memarahinya atau mengomelinya.


Zen memeluk tubuh kurus ibunya. Merasakan hangat kasih sayangnya meski hanya terbaring lemah dengan infus dan beberapa alat bantu di tubuhnya.


"Apakah ibu merestuiku jika aku menikah dengannya kelak?" tanya Zen dengan hati-hati.


Ibunya tertawa penuh kasih sayang.


"Anak nakal. Masih kelas 2 SMA saja sudah memikirkan menikah. Dengan siapapun kau menikah ibu akan selalu merestuimu asalkan kau bahagia. Ibu sangat mencintaimu" ucap ibunya kala itu.


Zen merasakan panas di kedua belah matanya. Malam itu adalah malam terakhir percakapan hangatnya dengan Sang Ibu. Dan malam itu juga Ibu tercintanya pergi untuk selamanya.


"Ibu..." bisik Zen lirih.


"Zen...kau menangis?" sebuah suara lembut mengagetkan Zen yang hanyut dalam kenangannya.


"A..e...tidak" Zen gugup membuang pandangannya ke luar jendela mobil yang tertutup rapat.


Gadis cantik disebelahnya memperbaiki duduknya dan merapikan rambut hitamnya yang panjang.


"Mengapa tidak membangunkanku, Zen?. Apakah kau lama menungguiku tidur?, apakah aku mengigau ketika tidur tadi?" gadis itu panik dan terlihat wajhanya merah.


Zen gemas melihatnya. Lihatlah...apa yang aku lakukan Almira...bisiknya dalam hati penuh rencana konyol.


"Pertama aku kasihan melihatmu lelap. Mungkin kau lelah karena tidak pernah melihat dunia luar. Kedua aku ikhlas menungguimu karena aku banyak me dapatkan keuntungan dari itu" Zen tertawa kecil melihat wajah Almira wanita yang dicintainya itu membulatkan matanya dan terperangah kaget dengan ucapan Zen.


"A...ap...apa yang kamu lakukan padaku" bibur cantik itu memberengut penuh tatapan curiga dan tanpa senyum.


"Aku bilang banyak keuntungan" ucap Zen ringan. Dan itu membuat Almira semakin terlihat kesal. Matanya tajam menatap Zen.


Zen tertawa acuh dengan tatapan galak Almira.


"Dan ketiga...kau pengigau berat"


Spontan Almira mendaratkan tangannya mencubit lengan Zen dengan keras. Zen tertawa bahagia. Sakit tapi hatinya sangat bahagia dengan sentuhan Almira. Zen menangkap tangan lembut Almira dan menatapnya dengan tatapan bahagia.


"Mengapa aku jadi membayangkan kita seperti suami istri yang sedang mesra yaa...kau sedang merajuk pada suamimu ini" ucap Zen nakal dan menggoda.


Almira semakin kesal. Wajahnya memerah tak karuan. Ahhhhh...aku tau dia juga menyimpan rasa cinta untukku...batin Zen bahagia.


"Suami tengil. Sok tau" Almira menarik tangannya dan membuka pintu mobil lalu menutupnya dengan keras.


Zen menurunkan kacanya. Betapa cantik dan menggemaskannya Almira di matanya. Wanita yang sempurna...Zen mendesah.


"Selamat istirahat, Istriku. Suamimu akan pulang telat" teriak Zen membuat Almira makin melotot melihat ke arahnya dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa berkata apapun.


Zen tertawa bahagia.


Dan tawa Zen seketika tertahan saat tetangga sebelah rumah Almira menatapnya dengan penuh tanda tanya.


Zen tersenyum dan menjalankan mobilnya.


Cintanya tidak akan sia-sia dalam setia dan perjuangannya selama 6 tahun ini. Menikah di usia 18 tahun tidaklah buruk. Bukankah itu lebih baik daripada terjerumus dalam kemaksiatan di dunia zaman sekarang ini?


Zen tersenyum penuh keyakinan dan doa.

__ADS_1


Ayah...bisiknya dalam hati. Ya...berbicara dengan ayahnya adalah yang terbaik. Zenpun bersiul bahagia sambil melaju kembali ke rumahnya untuk bertemu Ayah yang terkasihnya.


__ADS_2