Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku

Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku
Bersama Zen


__ADS_3

Malam ini aku memilih keluar bersama Zen sambil mengenang kota ini beberapa tahun lalu saat Zen masih duduk di sekolah dasar.


Keluarga Zen yang kami kunjungi pertama sangat terkejut dengan kedatangan kami, dan hal yang membuat mereka tidak menyangka adalah bahwa Zen datang melamarku ke kota S ini.


Walaupun sedikit agak aneh dan singkat mereka semua menerimaku dengan senang hati. Bahkan mereka akan melakukan lamaran resmi dua hari lagi.


Zen memelukku dengan erat. Udara pinggiran pantai menerpa dingin menembus kulit. Suasana tampak sedikit agak ramai. Orang-orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Sesekali ada yang saling bertegur sapa berbasa basi lalu melanjutkan kegiatannya.


"Terima kasih telah menerimaku sejauh ini" bisik Zen diantara deburan ombak dan angin yang berhembus.


"Aku juga berterima kasih kamu telah menunjukkan kesungguhan hatimu untuk hubungan kita. Aku harap aku selalu bisa membuatmu bahagia" aku tersenyum tanpa terlihat.


"Al, apakah kamu keberatan jika kita menikah secara tiba-tiba?"


Aku tersentak dan terdiam sejenak.


"Maksudmu?"


Zen tertawa kecil.


"Sesungguhnya kamu sangat memahami situasiku ini, Al. Aku lelaki normal yang terkadang tak bisa meredam keinginan ketika bersamamu" Zen menyandarkan kembali tubuhnya pada sandaran kursi taman yang tadi sempat membuatnya tegak duduk karena aku terkejut dengan kalimatnya.


Aku menarik nafas sedikit malu dan kesal dengan alasan lisannya.


"Jangan bercanda, Zen" kesahku pelan.


Zen tertawa


"Aku serius, Al. Kita menikah besok yaaa" pintanya tanpa embel-embel kalimat lain.


"Zen, kamu pikir menikah itu semudah apa yang kamu inginkan?"


"Al, aku mohon. Aku harap kamu mengerti keadaanku. Maksudku begini. Kita menikah secara agama terlebih dahulu. Hal ini agar hubungan antara kita halal dan tidak menimbulkan fitnah" Zen mulai berbicara dengan serius.


Aku berdebar hebat. Hatiku berdebar antara bahagia dan merasa aneh dengan keinginannya. Lalu apa kata orang tuaku nanti? apakah mereka bisa memahami alasan Zen untuk hal ini?


"Apakah hal itu tidak akan menjadikan mereka berpikiran negatif tentang kita, Zen?"


"Mana yang lebih kau utamakan pemikiran mereka atau kenyamanan kita?. Bukan hanya keamanan kita dan kenyamanan kita yang aku pikirkan dan menjadi alasan untuk semua itu, Al. Tapi yang lebih penting agar Allah ridho dengan apa yang kita lakukan"


Aku tentu saja tak terlalu pusing dengan apa kata orang tetapi aku juga harus lebih realistis menghadapi semua ini. Menikah bukanlah sebuah permainan yang tanpa perhitungan dan pertimbangan dengan sebaik-baiknya.


Aku mencubit lengan Zen dengan gemas.


"Kenyamanan apa maksudmu?"


Zen menangkap tanganku.


"Sungguh, hal paling ingin aku lakukan setiap dekat denganmu adalah menciummu sepuasku" ucap Zen dengan lantang.

__ADS_1


Tentu saja hal itu membuat aku melihat ke sekeliling kami. Beberapa orang yang dekat dengan kami hanya tersenyum melihat sejenak ke arah kami berdua.


"Jaga ucapanmu, Zen. Ini tempat umum" bisikku tepat di telinganya.


Zen tertawa pelan tanpa ekspresi malu sedikitpun.


"Jangan anggap remeh ucapanku tadi. Itu semua benar adanya" ucapnya masih sambil tertawa.


"Tapi tidak seharusnya kamu mengatakannya dengan lantang. Memangnya cuma kamu saja yang bisa merasakan hal itu?" sambutku sedikit kesal dengan tingkah tengilnya.


"Itu berarti kamu setuju dengan ideku. Nanti malam aku akan meminta izin Ayah untuk menikahkan kita besok pagi"


Aku terperangah menatap Zen yang semakin memaksakan kalimatnya.


"Zen..."


Zen menatapku dengan tatapan serius. Aku tak melihat aura bercanda atau main-main dari tatapannya.


"Ada hal penting yang harus kamu ketahui dari hubungan ini, Al. Kita tidak akan bisa menikah resmi sebelum usiaku mencapai batas usia menikah sesuai aturan pemerintah. Dan kamu tau itu usiaku sekarang baru berapa" Zen menarik napasnya dengan pelan.


Aku mengangguk memahami apa yang diutarakan Zen.


Hal itu juga semalam dibicarakan oleh ayah dan ibu padaku.


"Baiklah, Zen. Aku mengikuti apa yang terbaik saja. Ayah juga sudah mengatakan hal itu srmalam" aku menyapu pandangan ke sekitar. Suasana sudah terasa semakin malam.


"Marri kita pulang. Aku pikir kita harus segera menyelesaikan hal ini dan bukankah pengumuman kelulusan seminggu lagi?"


"Iya. Apa rencanamu setelahnya?" aku menatap Zen.


Rambut Zen bergerak lembut di tiup angin pantai yang sejuk.


"Menikahimu dan mulai fokus dengan perusahaan sambil melanjutkan kuliah" bibir Zen bergerak sambil tersenyum manis.


"Apakah kau akan melanjutkan kuliah di kota yang sama?" aku sedikit khawatir.


Zen tertawa pelan dan mengelus kepalaku lembut.


"Apa kamu pikir aku akan ke luar negeri?" tanya Zen sambil tersenyum datar.


Aku menggidikkan bahuku.


"Universitas tempatmu mengajar juga merupakan universitas terbaik di kota B. Aku akan melanjutkan di sana"


"Hmmm..." aku mengangguk.


Memang universitas tempatku mengajar adalah salah satu yang terbaik dan besar di kota B.


Tidak mudah seseorang bisa masuk dan menjadi mahasiswa di Universitas itu.

__ADS_1


"Ayo kita pulang. Aku ingin bicara dengan ayah secepatnya" Zen mengulurkan tangannya.


Aku menerima jemari Zen dan kami bangun kemudian melangkah bersama menuju mobil. Udara kota S jika malam begini sangatlah sejuk. Hal ini berbeda jauh dengan siang hari, matahari terasa sangat menyengat kulit.


@@@


Pagi hari kedua kami di kota S. Hari ini Ibu dan beberapa keluarga sibuk menyediakan keperluan untuk acara sederhana ijab qabul kami besok pagi. Nanti malam Papa Zen akan datang bersama Khala Fatmah, dengan penerbangan siang dari kota B.


Setelah berdebat panjang semalam akhirnya karena beberapa hal yang memang harus disegerakan, maka pernikahan akan dilaksanakan besok pagi secara sederhana. Setelah itu kami akan segera kembali ke kota B, karena ada rapat mendadak di perusahaan yang di kelola Zen.


Aku menyalami beberapa kerabat Ibu dan ayah yang datang membantu persiapan acara.


"Nggak usah ikut di dapur, Al. Persiapkan dirimu sebentar lagi mbak Anwar datang" bi Amora mencegahku mengambil pekerjaan dapur.


"Sebentar saja, bi. Suntuk di kamar terus. Aku bikin nasi goreng ya buat sarapan" pintaku pelan.


"Biar nanti bibi rumah yang bikinkan" jawab ibu menunjuk bibi yang biasa membantu segala keperluan di rumah.


Aku sedikit cemberut.


"Apa-apa di larang. Memang harus begitu ya kalau mau menikah" protesku yang di sambut tawa saudara-saudara ayah dan ibu.


"Harus..." jawab bi Amora yang paling muda, modis, dan sexy. Dia adik ayahku yang paling kecil. Usianya lebih tua dua tahun dariku, dan sudah memiliki 3 orang anak yang sudah besar.


Bi Amora mendorong tubuhku kembali ke kamarku.


"Tuh, mbak Anwar sudah sampai" katanya tertawa ketika mendengar suara gaduh di depan.


Owner Cantik Salon and Spa di kota S yang paling besar itu sudah ramai di depan. Namanya Anwar. Cantik dan tampan. Aslinya laki-laki tapi tubuhnya lemah gemulai. Sehingga banyak orang memanggilnya mbak Anwar.


Aku hanya bisa menarik nafas. Aku sempat celingukan sebentar.


"Nyari Zen ya?" ucap bi Amora dengan tertawa.


Aku mengangguk.


"Keluar dengan Arya. Katanya mau menbeli mahar ala kadarnya"


Hmmmm...aku tersenyum kecil. Semalam Zen sempat bertanya mahar apa yang aku minta darinya.


"Mau minta mahar apa, Al?" tanyanya dengan lembut.


Aku tersenyum kecil menatap Zen.


"Seikhlasmu saja. Aku hanya ingin kamu setia dan mencintaiku selamanya" ucapku mantap.


Zen tertawa datar.


"InsyaAllah. Aku tidak akan membuatmu kecewa, Al. Percayalah!"

__ADS_1


__ADS_2