
Aku diarahkan untuk keluar kamar setelah lantunan doa selesai dibacakan. Aku memeluk ibu dengan erat. Ibu mencium oipi kanan dan kiriku.
"Doa ibu selalu bersama anak-anak ibu. Jangan lupa pesan ibu untukmu" ibu mengangguk dan mengisyaratkan untuk keluar.
Adikku dan sepupuku mengantarkanku menuju ruangan dimana telah menanti seorang Zen yang telah sah menjadi suamiku beberapa saat yang lalu.
Hatiku berdegup kencang antara bahagia dan tak percaya semua berubah dalam sekejap.
Kami saling menyematkan cincin di jari masing-masing. Aku menyalami tangan suamiku dengan hati tak karuan. Dengan hidmat ku cium.
Zen tersenyum sangat manis.
Betapa tampannya pemuda yang menjadi suamiku kini. Semakin terlihat muda dan berkarisma.
"Kamu sangat cantik, Al" bisiknya sambil mencium dahiku dengan lembut. Ahhhhh...betapa lembutnya bibir itu menyentuh dahiku.
Aku tersenyum malu dan meremas tangannya yang masih ku genggam.
Setelah acara bersalaman dengan orang tua dan kerabat selesai, semuanya menikmati hidangan mewsh yang disajikan dengan sederhana di ruang tengah. Ada beberapa tetangga kami yang datang dan ikut berbahagia. Mereka menikmati hidangan sambil bercengkrama.
Suasana benar-benar penuh dengan kekeluargaan.
Aku dan Zen berbincang bersama seluruh keluarga. Kami lebih tepat menjadi pendengar dan sumber yang menjawab pertanyaan setiap kali salah satu dari kerabat yang ingin tau awal kedekatan kami. Bahkan, ada yang menanyakan kegiatan kerja kami.
Tepat pukul 11.15 rumah ayah sudah mulai sepi. Beberapa kerabat dekat sudah pamit pulang. Demikian pula ayah Zen dan Khala Fatmah beserta kerabat dekatnya sudah kembali ke rumah mereka. Ayah dan khala akan langsung kembali ke kota B hari ini juga.
Setelah sholat zduhur berjama'ah keluarga ayah dan ibu berpamitan. Beberapa tetangga dekat juga berpamitan kembali ke rumah mereka. Suasana rumah telah sedikit lengang, karena hanya kami yang tinggal. Ayah, Ibu, adikku, dan adik iparku serta si Kembar, dan dua orang pekerja yang membantu ayah dan ibu di rumah.
"Apakah kalian jadi kembali ke kota B hari ini?" Ibu bertanya sambil melihatku.
"Iya, bu. Pengumuman kelulusan SMA dua hari lagi. Besok Almira juga ada jadwal di kampus"
"Baiklah. Jam berapa pesawatnya?"
"Nanti malam, bu, sekitar jam 8"
"Ooh, ya sudah. Istirahat dulu, nanti setelah ashar kita bicara lagi" Ibu memberi isyarat kepadaku.
Aku tersenyum kecil dan mengangguk.
Aku melangkah ke kamarku. Melepaskan kebaya dan membersihkan diri kemudian melaksanakan sholat dzuhur.
Setelah semua sekesai aku membaringkan tubuhku yang terasa lelah dengan aktivitas hari ini. Aku memperhatikan cincin berlian putih yang melingkar di jari manisku. Indah...
Semoga pernikahan ini dijauhkan dari cobaan berat. Aamiin...aku tersenyum kecil.
Aku belum melihat Zen. Mungkin masih bersama ayah dan adik iparku di taman belakang rumah.
Ketukan di pintu mengagetkanku.
__ADS_1
"Assalamualaikum..." wajah tampan Zen muncul ketika pintu kamar ku buka.
"Waalaikumsalam..." jawabku dengan bahagia. Ada desiran aneh yang menyelinap dalam hatiku melihat wajah tampan Zen.
"Sayang, aku mandi dulu, ya" Zen mengelus pipiku dengan lembut. Aku mengangguk. Aku menyiapkan handuk dan pakaiannya, sementara Zen mandi.
Aku tersenyum kecil. Inilah aktivitasku setelah menyandang gelar istri. Seperti kata ibu istri adalah pelengkap dalam rumah tangga. Melayani segala kebutuhan suami dalam segala hal. Karena itu adalah bentuk ibadah terhadap suami. Ahhhh, ibu. Doakan aku bu agar aku bisa selalu sepertimu. Sabar, tenang, dan bersahaja dalam segala hal.
Pintu kamar mandi terbuka lebar. Muncul tubuh tinggi milik Zen yang kini telah sah menjadi suaminya.
Zen tersenyum manis melihat kearahku. Dan hal itu menambah ketampanannya berlipat di mataku.
Tubuhnya berbalut handuk, dengan rambut basah. Sangat menggoda.
"Apakah kau terpesona melihatku. Hmmm?" Zen tersenyum menatapku. Wajahnya begitu dekat denganku. Aku merasa berdebar tak menentu.
Tekanan darah dalam tubuhku terasa memanas. Bahkan desah nafas Zen meremangkan bulu kudukku.
"Zen..." ucapku mendongak menatap wajahnya. Zen tertawa menangkup wajahku dengan lembut.
"Aku suamimu sekarang. Belajarlah untuk memanggilku dengan layak"
Zen mencium pipiku dengan hati-hati. Jantungku sudah melompat-lompat di sana. Tubuhkuoun terasa memanas. Tidak kupungkiri ini pertama kali aku mendapat sentuhan ciuman dari laki-laki. Apalagi sikap Zen yang lembut dan nampak berhati-hati.
"Memangnya namamu siapa?" aku mencoba menguasai debaran dalam dadaku yang tak berhenti.
"Jangan memancingku, Istriku sayang. Penerbangan kita beberapa jam lagi, ya" Zen menaik turunkan alisnya. Hmmm...aroma shampo dan sabun di tubuhnya membuatku nyaman. Sangat wajib aku bersyukur mendapatkan Zen sebagai seorang suami.
Eits...tunggu dulu. Bukankah tadi dia memintaku memanggilnya dengan sebutan yang layak???
"Iya...maaf. Tapi panggilan apa yang tepat untukmu, Zen?" ucapku dengan sengaja menggodanya.
"Aku tidak mau tau. Panggilan yang terbaik menurutmu" Zen beralih menyisir rambutnya yang masih basah. Merapikannya secara acak.
Tetap saja tampan, malah berlebihan.
"Sayang..." Zen mengenakan pakaiannya. "Apakah kau bahagia setelah hubungan kita disahkan?"
Aku menatap Zen sejenak.
"Sangat bahagia. Terimakasih telah memilihku untuk mendampingi perjuanganmu ke depan" aku menunduk menatap cincin di jari manisku. "Aku ingin kau banyak memberi waktu untuk keluarga setelah ini. Bantu aku untuk tetap menjalankan ibadahku dengan baik sebagai seorang istri untukmu"
Zen tersenyum. Zen menarik tanganku dan memelukku dengan erat. Beberapakali dia memberikan ciuman di kepalaku dan keningku.
"Aku yang berterima kasih padamu, Sayang. Mau menerimaku sebagai suami dengan segala kekuranganku" Zen mendongakkan wajahku mengarah pada wajah tampanny "Aku sangat mencintaimu, Sayang"
Dengan perlahan Zen menyentuh bibirku. Seketika tubuhku terasa seperti tak memiliki tulang belulang.
Dengan reflek aku mencengkram punggung Zen. Ciuman lembutnya memenuhi seluruh bibirku. Beberapa detik aku tak tau harus berbuat apa.
__ADS_1
Zen tiba-tiba menggigit bibirku yang mebuatku spontan berteriak terpotong karena dengan cepat Zen menutup bibirku dengan bibirnya.
Tiba-tiba ketukan di pintu menghentikan apa yang sedang kami lakukan.
Aku tersenyum malu melihat wajah Zen yang tak karuan.
Aku mendekat ke pintu kamar dan membukanya perlahan.
"Kak, di depan ada tamu yang mencari Abang Zen" adikku tersenyum melihat wajahku.
"Maaf mengganggu" bisiknya pelan
"Sudah kamu tanya siapa?" tanyaku lebih lanjut.
"Katanya rekan kerja. Katanya sih udah janjian. Sepertinya suami istri"
"Iya deh. Terima kasih ya. Tapi sudah disuruh masuk belum?"
"Sudah, kak
Mereka sedang duduk ditemani mas Arya di ruang tamu"
Aku mengangguk dan kembali ke kamar. Zen sedang merapikan koper bawaannya dengan memasukkan pakaian yang digunakan saat ijab qabul tadi pagi.
"Siapa, Sayang?" tanyanya dengan tersenyum.
"Adik. Katanya ada pasangan suami istri rekan kerjamu. Katanya sudah janjian"
Zen menghentikan kegiatannya dan langsung melihatku dengan berbinar.
"Ahhh...iya, aku lupa, sayang. Mereka adalah mitra usahaku. Ayo aku kenalkan padamu" Zen merapikan pakaiannya. Walau hanya menggunakan kaos dan celana yang longgar penampilan Zen tetap maskulin.
Siapa menyangka dia adalah anak yang baru tamat SMA. Aku tertawa kecil.
"Heh...menertawaiku, ya?" coleknya di daguku.
"Kamu tampan sekali, Sayang" balasku dengan senyum bangga.
Zen terbelalak melihatku.
"Hei...aku suka panggilan itu. Panggillah sekali lagi, rasanya kok berbeda yaaa?" Zen berdiri tegak di depanku.
Terus terang aku merasa lucu dengan tingkahnya. Sungguh, seperti anak baru gede yang baru mengenal cinta.
"Saaayang..." ucapku dengan penuh cinta.
Zen tertawa tanpa suara memamerkan gigi putihnya padaku. Dengan cepat dai mendekapku erat.
"Sungguh, aku sangat mencintaimu, Istriku sayang" ucapnya penuh makna.
__ADS_1