Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku

Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku
Tak Pantas Untukmu...


__ADS_3

Ayah bercengkrama sejenak setelah memberi penjelasan tentang aku dan Zen. Tak berapa lama ayah pamit.


"Besok ajak Zen ke rumah. Ayah akan membicarakan sesuatu" pamit ayah ketika akan pulang.


"InsyaAllah, yah. Nanti siang Al sampaikan. Hati-hati di jalan, yah" ucapku sambil sedikit membungkuk hormat. Pak Tatang tersenyum dan melambaikan tangannya pada ayah.


Aku langsung berpamitan pada kepala sekolah untuk kembali ke ruang guru.


Hari ini tidak terlalu padat kegiatan, sedangkan di kampuspun aku belum ada jadwal.


Aku memilih pulang lebih awal dari sekolah, ketika Zen mengirim pesan dia sudah kembali dari kegiatannya.


"Ayah sudah bercerita kepada pak Tatang bahwa kita sudah menikah" kataku saat menyiapkan pakaian Zen seusai dari kamar mandi.


Zen menatapku sambil tertawa.


"Itu artinya ayah bahagia mempunyai menantu sepertimu, sayang" Zen mengeringkan rambutnya yang basah.


"Aamiin. Aku bahagia dong ya...semoga terus bisa membahagiakan orang-orang yang kita cintai"


"Tapi maaf ya, sayang. Untuk beberapa tahun ini kita belum bisa meresmikan pernikahan kita" Zen memberi ciuman lembut di pipiku.


"Tidak apa-apa. Yang terpenting bagiku dirimu selalu mencintaiku" ucapku sambil memperbaiki kaos yang di pakai Zen.


Zen tersenyum


"InsyaAllah. Selalu, kamu harus percaya itu padaku. Di hatiku ini sejak dulu, kini, dan nanti hanya kamu"


"Aamiin...itu selalu menjadi harapanku sejak bersama denganmu"


Zen memelukku erat dan memberikan ciuman di pipiku lagi.


"Kamu tau, sayang. Kalau kita selalu saling percaya dan komunikasi dalam hal apapun dalam hubungan ini, aku yakin semua akan baik-baik saja. Terima kasih telah menerimaku"


Aku membalas pelukan Zen.


"Oya, ayah tadi pesan untuk kita. Nanti sore ditunggu di rumah ayah. Katanya sih akan ada yang dibicarakan denganmu"


"Baiklah. Setelah sholat ashar kita kesana" Zen melangkah mengambil hand phonenya.


"Sayang, ada makanan apa siang ini?" Zen menatapku. Aku tersenyum kecil.


"Aku membuat spaghetti kesukaanmu. Kau pergilah ke ruang depan, nanti aku bawakan makan siangnya"


Zen tertawa kecil dan melangkah keluar kamar. Aku membereskan kamar sejenak lalu beranjak ke dapur.


Sejak pulang dari sekolah tadi aku memang belum istirahat sejenakpun. Kegiatan seperti ini mungkin akan bertambah untuk hari-hari selanjutnya.


Hmmmm...bagaimanapun harus aku nikmati setiap perubahan yang terjadi dalam hidupku. Bukankah menjadi istri dan melayani suami adalah ibadah tertinggi bagi seorang wanita?.


Ayah pernah berkata bahwa setinggi apapun pendidikan dan jabatan seorang wanita, ketika dia dalam rumah tangga tetaplah istri. Dan kewajiban istri itu tidak bisa digantikan dengan apapun dan siapapun. Karena nilai ibadahnya tinggi dan sempurna.


Bismillah...aku menjalani setiap kegiatan dalam keseharianku belakangan ini adalah sebuuab hal baru yang membahagiakan.

__ADS_1


Peliharalah kebahagiaan ini ya Allah...bisikku pelan.


Tak berselang lama spaghetti sederhana sudah siap. Aku merapikan dapur sesaat kemudian membawa makan siang untuk suamiku.


Lelaki tampan itu kulihat sedang sibuk dengan gawainya, sementara laptop terbuka di depannya dengan menampilkan grafik yang bergerak yang tidak ku pahami maknanya.


Zen tersenyum melihat kehadiranku, namun masih sibuk berbicara dengan seseorang. Mungkin saja rekan bisnisnya.


Aku meletakkan nampan makanan di meja sebelah Zen duduk, lalu mencoba menyuapinya karena aku melihat dia sangat sibuk dengan gawai dan catatan kecil di tangan sebelahnya.


Tanpa menolak atau bertanya aku mulai menyodorkan sesuap spaghetti dengan garpu yang sudah aku siapkan. Zen tertawa tanpa suara dan membuka mulutnya.


Setelah isi piring habis berpindah tempat ke perut Zen, aku menyodorkan air putih. Dan tak lupa memberikan ciuman di pipinya.


Zen melototkan matanya dan membalas ciumanku dengan gerakan bibirnya.


"Kalau sudah selesai aku tunggu di kamar, yaaa" bisikku pelan tidak ingin mengganggu kegiatannya.


Zen mengangguk.


Aku berlalu meninggalkan Zen.


@@@


Sore ini aku dan Zen sudah berada di rumah ayah. Aku bersama khala Fatmah duduk di taman depan. Susana sore ini begitu indah. Cuacanya sejuk dan segar dengan angin berhembus pelan.


Ayah dan Zen sedang berbicara di ruang kerja ayah. Sementara aku menunggu menghabiskan waktu bersama khala Fatmah.


"Bagaimana kehidupan setelah menikah, Al. Apakah Zen tidak merepotkanmu?" khala Fatmah tersenyum menatapku sambil menikmati secangkir teh daun mint kesukaannya.


"Syukurlah. Begitulah, Al. Kita harus bisa mengimbangi kegiatan suami dengan layanan yang terbaik" Khala Fatmah tersenyum manis. Wajah cantiknya benar-benar terlihat jelas walau sudah usia.


"Terima kasih, khala. Mohon doakan kami agar selalu istiqomah" pintaku.


Khala Fatmah tersenyum.


"Oya, apakah tidak ada rencana kamu mengurangi kegiatanmu agar segera dapat momongan"


Aku terdiam sejenak. Hal ini kemarin malam sempat Zen tanyakan padaku.


"InsyaAllah, khala. Zen sudah memberikan saran kemarin. Setelah kenaikan kelas di SMA itu, aku akan mengundurkan diri"


"Baguslah. Yang oenting setiap masalah dan keputusan kalian bicarakan bersama. Dan yang perlu kamu ketahui mungkin ke depannya kamu akan lebih banyak bersabar dengan kegiatan suamimu"


Aku menatap khala Fatmah dengan mengerutkan dahi.


"Maksud khala apa ya?"


"Suamimu akan totalitas dalam bisnisnya. Tentu saja kesibukan baru untuk kuliah juga akan menjadi prioritasnya. Kamu harus bisa membagi waktu dengan baik, mendampingi dan membantu suamimu. Itulah tugas istri yang sesungguhnya"


Aku mengangguk pelan.


"Pandai-pandai merawat diri untuk suami. Zen masih muda, akan banyak godaan yang menghadang biduk pernikahan kalian. Karena itu, khala berpesan jangan abaikan komunikasi sekecil apapun bersama dan terbuka"

__ADS_1


"Iya, khala. Al akan ingat pesan khala. Mohon nasehatnya khala" ucapku dengan penuh harap.


Khala Fatmah tentu lebih paham karakter Zen. Karena beliau selalu ada dalam keluarga Zen, terutama sejak ibunya Zen wafat.


Banyak wejangan dan obrolan yang bisa aku jadikan pembelajaran tentang rumah tangga terutama bagaimana menjadi istri seorang pengusaha muda seperti Zen. Khala Fatmah benar-benar banyak memberikan hal baru dalam hidupku.


Tiba-tiba dering handphoneku menghentikan percakapan kami. Aku melihat nomor tanpa nama di layar. Aku mengerutkan kening. Siapa yaaa...


"Mohon maaf, khala. Sebentar yaa...Al angkat telpon dulu" aku memibta izin pada Khala Fatmah yang di jawab dengan anggukan.


"Assalamualaikum..." sapaku sambil menunggu jawaban di seberang.


"Waalaikumsalam. Mohon maaf ini bu Almira, ya?" jawab sebuah sura wanita di seberang. Aku merasa tak mengenal suaranya.


"Iya benar. Ini siapa yaa?" tanyaku heran.


"Bu Almira, kenalkan Shinta rekan bisnis Zen Pratama" suara wanita itu agak sedikit kasar. Entah seperti apa wajahnya. Tapi jika mendengar dari status sosialnya sudah pasti wanita bernama Shinta ini cantik dan berpenampilan menarik.


"Senang mengenal anda, bu Shinta" jawabku datar dan sopan.


"Aku rasa, aku tidak perlu berbelit berbicara dengan ibu. Aku hanya ingin memberitahu bahwa aku dan Zen sudah menjalin hubungan dekat setahun belakangan ini" ucapnya dengan jelas dari seberang.


Aku terkejut. Hatiku merasa cemburu dan tak suka.


"Mohon maaf, apakah anda tau aku siapa?" tanyaku masih dengan suara yang terkontrol walaupun hatiku sudah mulai panas.


Mungkin saja ini salah paham...pikirku positif.


"Almira Rasyad yang sekarang sedang menjalin hubungan dengan Zen. Aku tahu siapa ibu" ucap wanita bernama Shinta diujung telpon.


"Boleh aku tahu, apa status hubunganmu dengan Zen jika anda mengatakan menjalin hubungan?" tanyaku lagi.


"Aku rasa ibu lebih paham maksudku" ucapnya singkat.


"Hubungan dekat itu banyak. Pacaran, teman dekat, rekan bisnis, dan masih banyak lagi" jawabku dengan santai.


"Kami pacaran, bu" jawabnya spontan.


Aku mendengarkan beberapa penjelasan dari wanita bernama Shinta dengan sabar.


"Baiklah, jadi hanya untuk itu kamu menelponku?" tanyaku setelah dia menjelaskan hubungan apa antara dia dengan Zen.


"Yups dan aku tidak ingin ibu terlalu dekat dengan Zen" ucapnya dengan sedikit penekanan.


Aku tertawa kecil.


"Baiklah, Shinta. Aku akan membicarakannya dengan Zen nanti. Dan tolong kau ingat kata-kataku ini bahwa Zen tidak pantas untukmu. Selamat sore" ucapku dan memutus telepon.


Aku menarik nafas dalam-dalam menenangkan hatiku.


Nampaknya batu sandungan itu mulai muncul tapi aku bukanlah gadis belia yang mudah tersulut emosi walau aku akui ada rasa cemburu dan tak suka di hati kecilku.


Dering telpon dengan nomor yang sama tampil lagi di layar hand phoneku. Sebanyak tiga kali berdering tanpa ingin aku menjawabnya lagi.

__ADS_1


Hmmmm...mari kita lihat nanti Shinta...bisikku dalam hati. Kau hanya belum tau siapa aku dan siapa Zen.


Aku tersenyum hambar.


__ADS_2