
Aku menghabiskan waktu hingga hampir maghrib bersama Ibra. Berbagai cerita kami saling berbagi hingga masalah bisnis yang di rintis Ibra. Bisnis Ibra berkibar sukses dari salon dan spa hingga restaurant. Pantaslah kehifupan mapan membuatnya bahagia dan terlihat tampil mewah.
Sesekali masih terlihat sikap bancinya ala wanita. Tapi, sesungguhnya dia terlihat berwibawa dan tegas di hadapan karyawannya.
"Ib, satu nih yang belum kamu ceritain ke aku" aku melihat Ibra dengan santai.
Ibra tersenyum.
"Aku sepertinya tau nih apa yang bakal kamu tanyakan" Ibra merapikan jasnya. Aku nyengir.
"Kalau kamu tau kasi jawabanlah. Biar aku nggak nanya-nanya lagi" sambungku acuh.
"Sebelum aku jawab apa yang ingin kamu ketahui tentang aku, aku nanya dulu nih ma kamu. Aku rasa kita nanti bisa sharing yaa." Ibra menatapku dengan tajam.
Aku mengangguk setuju.
"Siapa pacarmu?"
Aku menatap Ibra dengan tersenyum dan sedikit kaget.
"Harusnya kamu yang jawab aku lebih dulu. Dasar curang" aku melemparkan tissu ke arah Ibra. Ibra tertawa terbahak.
"Jawab saja, walaupun aku sebenarnya sudah tau"
__ADS_1
"Darimana kamu tau?" aku menatap Ibra bodoh.
"Al, bukankah sudah aku katakan aku ini menguntitmu sudah dari sebulan yang lalu. Jadi segala informasi tentangmu udah aku hafal" Ibra tersenyum penuh kemenangan.
Aku tertawa geli
"Tapi bukan berarti kamu juga tau hal-hal kecil tentang kehidupan pribadiku kan?"
"Eits...jangan salah, Say...aku tau siapa teman rumahmu dan kapan saja dia bersamamu. Bahkan aku hafal schedule kuliahmu dan SMAmu"
"Emmmm..." aku menatap wajah Ibra dengan tak berkedip. Rasa-rasanya aku menemukan jawaban atas pertanyaan tadi padanya.
"Apa'an sih, ngeliatin sampai segitunya" Ibra seperti merasa tertuduh atas sesuatu. Aku mengangguk-angguk melihat tingkah Ibra.
"Jangan bilang kalau laki-laki itu adalah kamu" tatapku penuh selidik. Wajah Ibra seketika berubah memerah, seperti pencuri tertangkap tangan.
"Aku yakin kamu tau apa dan siapa yang ku maksud. Kenapa harus kamu sembunyikan" ucapku tak suka dan masih penasaran akan kebenaran dugaanku pada Ibra.
Ibra tersenyum kecil dan melirik mengejekku.
"Hahahahhaa...memangnya seberapa yakin kamu dengan dugaanmu itu?" Ibra menggigit kentang gorengnya dengan tertawa kecil. Aku tersenyum menatapnya.
Aku perhatikan wajah tampannya, aku mencoba mencari kesamaan dengan laki-laki teman dekat Fiona. Fiona pernah mengatakan pacarnya adalah pengusaha dari kota S. Sedikit kemayu tetapi gagah dan sangat baik.
__ADS_1
"Mmmm...aku rasa dugaanku tidak salah. Pantas saja kamu hafal jadwalku, tau kapan aku diluar. Dan anehnya, mengapa baru sekarang kamu datang menemuiku?" aku memasang wajah kesal.
Ibra tertawa cuek.
"Yakin sekali" jawabnya masih dengan tawa.
"Emang sudah berapa tahun kita bersahabat, Ibra. Kamu masih saja merahasiakannya denganku. Apa perlu aku menelpon Fiona agar semua menjadi jelas?." aku mulai kesal dan mengancam Ibra.
"Pinter banget menganalisa. Iya aku minta maaf. Memang sengaja aku meminta Fiona tidak menceritakan apapun tentang aku padamu. Awalnya aku tidak tau, tapi ketika aku melihatmu mengantar Fiona ke depan rumah itu barulah aku bertanya dan bercerita pada Fiona tentang persahabatn kita"
Aku memukul bahu Ibra sedikit dengan tenaga. Ibra nyengir menahan sakit.
"Aku owner restaurant ini lho, Al. Jangan sampai harga diri dan wibawaku jatuh yaa gara-gara kamu berani memukulku" seringai Ibra sombong.
"Sombong, yaa...mau nih aku bongkar kejelekanmu di depan Fiona?" ancamku telak mematahkan kesombongan Ibra.
Ibra tertawa
"Issshhh...janganlah, Al. Itu masa lalu kita. Ehh, aku mau nanya nih kamu beneran serius dengan brondongmu itu?" Ibra mulai menjurus masalah pribadiku.
Aku tersenyum kecil dan meminum jus yang masih tersisa setengah di atas meja di depan kami.
"Rasanya di usiaku sekarang aku lebih pasrah, Ibra. Aku jalani saja" aku mengaduk jus di depanku.
__ADS_1
Aku sendiri masih selalu merasa ragu akan perbedaan usiaku.
Minggu depan adalah jadwal rencana berkunjung ke kampung halamanku untuk bertemu keluarga kecilku.