Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku

Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku
Bukan Cinta Biasa


__ADS_3

Bel di pintu berdering berkali-kali, yang akhirnya membuatku bangun dan gagal total menikmati waktu istirahat.


Seringai pemuda tampan dan berani berdiri gagah di pintu rumah sewa kami.


"Hei, sedang istirahat yaa?" ucapnya sambil tertawa.


"Sepagi ini?" ejekku sambil memberi jalan masuk ke ruangan tamu yang memang sudah tersedia di rumah ini.


Zen tertawa tanpa suara.


"Sendiri saja?" matanya menyapu ruangan sambil berdiri tak bergeming di depan pintu.


""Memangnya kamu bukan manusia sepertiku?" sindirku agak sinis. Zen tertawa acuh menanggapi sikap sinisku.


"Mau keluar atau di rumah saja?"


"Kamu mau masuk atau berdiri saja di situ?" aku masih menunggu sambil memegang daun pintu.


"Aku menunggu disini saja. Tidak lebih dari lima belas menit." Zen duduk di kursi teras. Tatapan tak ingin dibantah sangat terasa dari matanya. Aku mencibir dalam hati. Kalau saja dia bukan Zen apakah aku akan berani menolaknya?. Kenyataannya aku berpikir panjang untuk mengatakan tidak dan akhirnya aku harus takluk juga dengan keinginan remaja tampan ini.


Aku beranjak masuk untuk ganti pakaian dengan sedikit kesal.


Aku yakin Zen dibelakangku pasti tertawa penuh kemenangan. Tunggu saja...suatu saat aku akan membalas intimidasi ini. Aku tersenyum kecut tak berdaya.


Tak sampai dua puluh menit aku keluar siap mengikuti keinginan Zen di hari libur minggu ini. Teman serumahku mungkin masih molor di kamarnya dengan mimpinya.


"Wangi sekali!" sapa Zen sambil berdiri menyambutku. Duh...gengsi banget sih di puji ma anak murid sendiri. Rasanya harga diri dan wibawa sebagai gurunya tidak ada sedikitpun. Aku merasa seperti anak SMP sedang dirayu oleh remaja SMA.


"Jangan basa basi. Ayo jalan," ucapku ketus sambil menutup pintu rumah.


Zen tertawa spontan.


"Mengapa tingkahmu seperti ABG?" ucap Zen sambil tertawa kecil.


Aku menarik napas kesal yang kian tak karuan.


"Zen..." ucapku dengan tatapan kesal dan penuh oenekanan. Ingin rasanya aku pukul dengan tas yang ku pegang hingga mengenai seringai tampannya yang menggoda itu. Duh...kenapa aku tidak menolak saja ajakan anak ini.


"Cantik..." bisiknya spontan tepat di telinga kananku. Aku tertegun dan kaget tak terkira. Tiba-tiba detak jantungku berdetak tak beraturan. Bahkan tekanan darahku terasa meruah kemana-mana. Wajah Zen begitu dekat bahkan sampai bersentuhan dengan kulit leherku. Hembusan nafasnya meremangkan tengkukku.


Perasaan apa ini. Ah...tidak! Aku rasa ini hanya karena aku merasa harga diriku ditindas habis oleh Zen.


Aku terpaku melihat Zen tertawa penuh kemenangan melihat ekspresiku. Tuhan...jerit batinku sekerasnya. Mengapa harus bertemu dengan pemuda tengil dan berani seperti ini. Aku dapat menebak mengapa Zen melakukan semua ini.


"Heiiii...." Zen menarik lenganku sambil tersenyum. Matanya berbinar sambil menaik turunkan alisnya yang lebat dan indah. Mata indah agak kecoklatan itu benar-benar penuh daya tarik. Hmmmmm...aku akan mengadu nanti padaMu, Tuhan...bisikku menelan semua situasi pada diriku saat ini.


Aku mengikuti langkah Zen memasuki mobil. Duduk dengan tenang tanpa ingin bertanya apapun.


Mengapa jadi sekaku ini yaaa...bisikku dalam hati. Zen menjalankan mobilnya perlahan meninggalkan jalanan depan rumah yang ku sewa bersama sahabatku.


"Apakah kau masih menyukai lagu-lagu lama?" Zen bertanya tanpa melihatku. Hhhhhh...masih ingat rupanya anak ini dengan hal yang aku sukai.


"Lagu-lagu lama liriknya bagus, sederhana, penuh makna. Karena itu banyak yang suka lagu-lagu lama," jawabku sambil tertawa.


Zen menyalakan musik di dashboard mobilnya. Mengalun irama pop era 90an yang di cover oleh penyanyi-penyanyi baru di zaman milenial ini.


"Al..." Zen sekilas melihatku sambil konsentrasinya ke arah jalan raya yang lumayan ramai karena akhir pekan.


"Iya..." aku menatap wajahnya dari samping. Tampan...pujiku dalam hati. Rambut bergelombang, rahang yang kuat, hidung mancung, bibir yang sexy, dan bulu mata lentiknya benar-benar pahatan sempurna seorang Zen Pratama. Heeee...kenapa aku memujinya. Aku segera membuang pandangan ketika Zen menangkap tatapan mataku.


"Kamu mau ku ajak kemana hari ini?" Zen tertawa tanpa suara. Mungkin dia menangkap kegugupanku karena tertangkap matanya menatap wajahnya. Duh....

__ADS_1


"Terserah. Aku mengikuti kemana kau akan mengajakku," ucapku enggan berdebat. Huh...mana aku tau tempat-tempat indah dan bagus di kota B ini, meskipun aku sudah hampir 3 tahun tinggal di sini.


"Baiklah. Aku akan menunjukkan tempat yang roamantis untuk kita di kota ini." Zen tersenyum.


"Oya, bagaimana kau bisa sampai di kota ini?" aku ingin tau kisah hidup Zen kecil yang dulu setelah pindah dari kota S.


Zen tersenyum simpati dan manis.


"Ceritanya panjang. Setamat SD dulu aku pindah ke kota J. Aku menyelesaikan SMP disana. Dan tahun kemarin Papa pindah ke kota ini, sehingga kamipun ikut pindah. Tadinya aku akan sekolah di SMA yang direkomendasikan sekolah lama di kota ini, tetapi karena jaraknya jauh dari tempat Papa bertugas jadi pilihan terbaik adalah sekolah yang sekarang." Zen membelokkan mobilnya ke arah jalanan yang agak sepi dari kendaraan.


"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sekolah yang sama. Sekarang aku yang ingin tau, bukankah kau dulu mengajar di sekolah dasar? mengapa bisa beralih ke sekolah menengah?"


Aku tertawa pelan.


"Perjalanan panjang, Zen. Aku mendapat beasiswa S2 di kota ini, karena itu aku meninggalkan sekolah yang lama. Tadinya aku berpikir akan mencoba fokus menjadi dosen di salah satu PT kota ini, tetapi salah satu siswa non reguler di perguruan tinggi tempatku mengajar menawariku untuk mengisi formasi di sekolahmu. Karena salah satu guru memasuki masa pensiun. Tadinya aku menolak, tetapi karena beberapa pertimbangan akhirnya aku terima tawaran itu"


"Lalu...?" Zen masih ingin tau kisahku.


"Yaa...seperti yang kau lihat. Aku menjadi guru di sekolahmu."


"Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi di sekolah," Zen tersenyum.


Aku meliriknya sesaat. Mata kami bertemu karena saling melihat secara bersamaan. Dengan cepat aku membuang muka.


"Aku juga..." ucap Zen dengan pasti "Aku tidak menyangka sama sekali yang berdiri bersama Kepala Sekolah ketika itu adalah dirimu."


Zen terlihat tersenyum sumringah dan bahagia. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Hanya terlihat dari raut wajah bahagianya.


Zen menepikan mobilnya di sebuah tempat terbuka. Aku memutar pandangan ke sekitar. Sepertinya ini adalah wisata kuliner yang dikemas dengan apik. Suasana pantai dengan pasir putih yang terhampar indah. Di sisi kanannya deretan bukit menghijau yang sejuk dan indah di pandang mata.


Beberapa mobil terlihat parkir dengan teratur.


"Ayo, kita akan mengobrol sambil menikmati tempat ini." Zen membuka seatbeltnya. Dia merapikan rambutnya dengan tangannya dan memasang kaca mata hitam di wajahnya. Mengapa terlihat sangat tampan yaa...pujiku dalam hati.


Aku mengikuti langkah Zen yang memasuki area wisata itu. Sejenak Zen melihatku, dan berbalik meraih tanganku. Aku terkejut dengan sikapnya.


Duh...kembali detak jantungku tak karuan. Serasa melompat lompat tak terkendali. Aku belum pernah sedekat ini dengan pria manapun. Walau sesungguhnya usiaku memang sudah tidak muda lagi.


"Maaf..." bisik Zen pelan di belakang kepalaku. Zen menggenggam tanganku erat. Akupun bagai anak kecil mengikuti gerakannya. Aku tertegun. Kini tangan kami bergengaman dengan jari-jari yang saling memegang. Serasa remaja berpacaran saja yang sering aku liat ketika di mall ataupun tempat-tempat tertentu.


"Zen..." panggilku ragu.


"Tidak ada yang tau. Santai saja," ucapnya pelan seakan tau apa yang aku pikirkan.


"Zen..." panggilku lagi


"Mereka melihat kita seperti pasangan suami istri," ucap Zen ringan sambil tersenyum. Aku tertegun menatap Zen.


Kami masih berjalan sambil mencari tempat yang menurut Zen cocok.


"Jaga ucapanmu!" kataku kesal sambil menancapkan kukuku ke jemarinya yang masih menggenggam jemariku.


"Aduh...jangan keras-keras, Al!" bisiknya lirih.


Aku merasa sedikit puas membuang kekesalan hatiku.


Beberapa orang melihat ke arah kami berdua dan tersenyum. Aku merasa risih. Semoga tidak ada satupun orang yang mengenaliku di sini. Bagaimana jika ada siswaku yang menangkap kegiatanku hari ini bersama Zen?. Aku gugup...


Zen memilih tempat yang sangat bagus menurutku.


Gazebo yang kami duduki mengarah ke pantai dan berada di sudut bukit kecil yang dipenuhi tumbuhan miana yang beraneka warna. Sejuk, indah, dan romantis.

__ADS_1


"Mau makan apa, Al?" Zen menyodorkan daftar menu yang diantar oleh waitress ke tempat kami.


"Aku ikut kamu saja." Aku enggan memilih makanan. Bagiku apapun tak terlalu menjadi masalah.


"Serius??" Zen menatapku ragu.


"Iya. Aku tidak masalah makan apapun yang penting jangan nasi di pagi hari," ucapku cepat.


Zen tertawa. Dan memesan beberapa makanan ringan dan minuman dingin.


"Bagaimana pilihan tempatku, apakah kau menyukainya?" Zen menggeser duduknya ke sebelahku. Hatiku tiba-tiba merasa berdebar lagi. Bagaimanapun aku ini wanita dewasa, meskipun aku belum pernah menjalin hubungan dengan lelaki manapun.


"Tempat yang indah. Terus terang aku belum pernah ke luar seperti ini. Sudah hampir 3 tahun aku disini." Aku menyandarkan tubuhku menikmati suasan wisata pantai yang alami.


"Berterima kasihlah denganku," ucap Zen sambil tertawa kecil.


Aku tertawa.


"Mengapa harus?" aku menatap wajahnya sekilas.


"Karena, aku yakin hanya akulah yang akan membawamu ke luar," ucapnya sambil tertawa.


Spontan aku menoyor lengannya. Zen tertawa lepas.


"Apa kau tidak khawatir terlihat teman-teman sekolah berjalan bersamaku?"


"Kenapa khawatir?"


"Aku gurumu, Zen."


Zen tertawa kecil.


"Aku ingin bicara serius denganmu." Zen menatapku langsung. Aku melihat keseriusan di pancaran matanya yang kecoklatan. Mata yang indah...pujiku dalam hati.


"Bukankah sedari tadi kita juga bucara serius?" kataku sambil mencoba menghilangkan kegugupanku. Semoga Zen tidak menertawaiku.


"Bukan itu. Aku ingin membicarakan hal yang lain. Aku rasa itu adalah tujuanku mendekatimu selama ini." Zen mengaduk jus buah yang ada di depannya. Ahhh...mungkin dia juga merasakan kegugupan yang sama denganku.


Aku melihat seskali dia membasahi bibirnya. Mungkin dia sedang menyusun kalimat untuk merayuku seperti kebiasaannya dua bulan terakhir ini.


"Apakah kau masih ingat cita-citaku ketika kau bertanya di kelas 6 dulu?" tanya Zen menatap tajam ke mataku. Aku mengangguk.


"Ya, aku masih ingat," jawabku pendek. Aku tau, seluruh tubuhku benar-benar memasuki zona demam tak beraturan.


"Aku serius dengan cita-cita itu. Aku ingin mengatakannya sekarang, Al" ucap Zen pelan tapi pasti. Aku mencoba membuang pandangan ke arah deretan pohon miana di bukit yang terhampar di sebelah kami.


Zen meraih tanganku dalam genggamannya. Tentu saja aku kaget setengah mati.


"Zen, nanti dilihat orang." Aku berusaha menarik tanganku. Tapi genggaman Zen begitu kuat.


"Almira Rasyad, aku cinta padamu," bibir merah muda itu tegar mengucapkan kalimat dengan senyum mempesonanya.


Aku terbelalak. Jantungku seakan melompat dari tempatnya. Andai dia diluar mungkin aku akan pingsan seketika.


Keringat dingin mulai menyeruak dari pori-pori tubuhku, karena pacuan darah yang tiba-tiba pada jantungku.


"Aku berjanji akan membahagiakanmu, Al. Percayalah, cintaku ini bukan cinta biasa." Zen mencium jemariku yang masih dalam genggaman erat tangannya.


Sungguh, aku merasa berada di arena yang entah dimana. Aku merasa ini semua seperti mimpi. Seperti cerita-cerita dalam sinetron yang sering Fiona ceritakan padaku dengan menggebu.


"Hei...!" sebuah tepukan lembut di pipiku membuat aku sadar sesungguhnya aku dimana. Cepat aku meraih botol air mineral yang teronggok di meja.

__ADS_1


Zen tersenyum manis. Duh...Tuhan. Mengapa semakin manis saja terlihat senyumnya.


__ADS_2