Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku

Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku
Si Penguntit


__ADS_3

Bergegas aku meraih telepon genggam yang sejak tadi berdering. Aku merasa enggan untuk mengangkatnya karena aku sudah bisa pastikan apa yang akan dikatakan si penelpon.


"Almira, kalau tidak kau matikan handphonemu tunggu berdering sekali lagi aku akan banting yaaa...!" Ancam teman serumahku Fiona.


"Serius amat, Fi. Iya ntar aku angkat," jawabku dengan tertawa geli.


"Assalamualaikum... ." suara di seberang sudah bisa aku pastikan. Pastinya sedang cengengesan disana.


"Waalaikumsalam, Zen." balasku dengan suara pelan.


"Almira, bagaimana dengan permintaanku yang kemarin. Aku harap kamu tidak lupa, aku masih menunggu yaaa...!" ucap Zen dengan gaya remajanya. Aku menarik nafas pelan. Tidak pernah putus asa remaja ini mendekatiku.


"Zen, panggil saya dengan sebutan bu. Saya ulangi sekali lagi bu Almira. Bisa?" tegasku seperti biasa. Zen tertawa di sebrang. Entah bagaimana raut wajah tampannya saat menertawai ketegasanku yang serasa tidak ada artinya baginya.


"Itu hanya panggilan untukmu di sekolah. Jangan mengingatkanku terus masalah itu. Aku rasa kamu tahu apa jawabanku. Ingat, waktu yang kau janjikan tinggal seminggu lagi. Aku rasa kau harus ingat panggilan untukmu akan berubah dalam seminggu kedepan dariku." ucap Zen dengan ringan.


"Zen, bisakah kamu mengerti keadaan dan situasi saya saat ini?" aku masih mencoba mengalihkan kemauannya yang tak masuk akal.


"Hhhhhh...aku bukan anak SD lagi yaa. Kalau dulu aku cuma bisa diam dan mengagumimu tapi sekarang aku tidak ingin kehilangan orang yang aku sukai. Kamu pikir kota S dan kota B bukan takdir kebaikan bagi kita?" Zen terdengar mematikan suara musik yang tadi mengalun.


"Bertahun-tahun sejak aku pindah dari kota S, aku selalu bertekad akan kembali ke kota itu ketika aku telah dewasa. Tujuanku hanya satu, mengatakan apa yang aku rasakan untuk seorang guru bernama Almira Rasyad yang telah banyak mengisi hati seorang Zen kecil kala itu. Kau tidak melupakan kata-kataku kan?" ucap Zen panjang lebar. Lagi-lagi aku menarik napas atas kejujurannya. Aku tau Zen tidak akan pernah berhenti melakukan apapun untuk mendekatiku.


"Baiklah. Katakan apa yang kamu inginkan sekarang?" aku sedikit melunak mencoba memberi ruang untuk remaja usia 17 tahun itu berbahagia sejenak. Suara Zen tertawa renyah. Tuh...bahagia dia kan?...bisik hatiku geram.


"Besok hari Minggu. Aku ingin ke rumahmu!" katanya tanpa kata izin. Dasar anak remaja labil.


"Tidak bisa, Zen. Aku..."


"Malam ini," katanya tanpa embel-embel. Aku membelalakkan mataku. Anak ini benar-benar berani di luar perkiraan ku.


Fiona tersenyum mencibir dihadapanku. Nampaknya dia mulai gerah mendengar percakapanku dengan Zen.


"Baiklah. Hari Minggu pagi. Dimana?" tawarku akhirnya.


"Aku akan datang ke rumahmu. Share lokasinya besok pagi. Terima kasih." ucapnya dengan nada bahagia. Eh...masa iya merasa bahagia begitu?...hhhhhh, aku tertawa sendiri. Membalas salam sebelum menutup panggilan telepon.

__ADS_1


"Iiiih...dasar ABG tua labil." Cibir Fiona sambil melotot kearahku.


"Murid tengilmu itu yaaa...?"


"Namanya Zen Pratama" jawabku singkat mengingatkan namanya.


"Cerita dong, Al. Bagaimana masa kecil penggemar beratmu itu." Fiona tersenyum menaikkan alisnya menggoda.


Aku tertawa kecil.


"Harus ya aku mengingat masa mengajar kala dia di sekolah dasar?"


Wajah Fiona sumringah.


"Aku rasa dia akan berjodoh denganmu, Almira." Fiona tertawa.


Aku melemparnya dengan bantal sandaran sofa.


"Usia kami beda jauh, Fi. Jangan ngada-ngada deh. Kayak aku nggak laku aja." jawabku sewot.


"Eut...jangan salah, Al. Usia hanyalah hitungan angka. Kalau udah cinta semua itu akan menjadi kabur dan tak berarti."


"Ini realistis, Al. Coba kamu pikir selama ini kamu tidak pernah dekat atau menjalin hubungan dengan lelaki manapun." Fiona menatap wajahku dengan tanpa berkedip bagaikan seorang Polisi yang sedang menginterogasi pelaku kejahatan terselubung.


"Apa'an sih, Fi..." aku


"Aku penasaran jadinya dengan murid pemberanimu itu. Cerita dong..." Fiona tersenyum penuh harapan. Sahabatku yang satu ini memang terbaik namun terlalu ingin tau urusan orang. Tapi kebaikannya jangan diragukan lagi. Kami memang beda profesi.


Fiona seorang Manager Pemasaran di sebuah perusahaan asing di kota B. Kami bertemu saat sama2 menyelesaikan kuliah S2 di universitas yang sama tetapi jurusan yang beda.


Aku tersenyum kecil.


"Yakin mau dengar ceritaku?" tanyaku ingin tau. Biasanya sih...kalau sudah cerita dengan Fiona ujung-ujungnya dia tidur. Serasa kita membacakan dongeng penghantar tidur untuknya.


"Serius, Al. Aku ingin tau," jawabnya sambil berbaring di sofa di depanku.

__ADS_1


Aku mencoba mengenang kisah sembilan tahun yang lalu di kota S. Ketika itu aku baru saja menyelesaikan kuliah S1 bidang pendidikan Bahasa dan Sastra indonesia. Kala itu lulus dengan nilai terbaik adalah sebuah peluang yang menguntungkan. Aku ditawari untuk mengajar di sebuah sekolah dasar swasta di kota S.


Setelah berkonsultasi dengan keluarga akhirnya aku menerima tawaran bekerja di sekolah dasar tersebut. Kala itu aku diminta mengampu kelas 6. Setiap selesai pembelajaran, selalu saja seorang siswaku bernama Zen Pratama mengikutiku. Jika aku sendiri tak segan dia datang mendekatiku dan bertanya berbagai hal menyangkut pelajaran. Bahkan, pernah sekali hanya demi mengikutiku sampai di rumah, akhirnya membuat Zen kebingungan untuk pulang.


Sehingga dia memberanikan diri mengakui perbuatannya dan meminta tolong untuk diantar pulang. Karena terlalu sering mengikutiku dan gerak gerikku sehingga Zen dulu sering kupanggil dengan sebutan "si Penguntit".


Zen kecil adalah murid pintar di kelas 6 kala itu. Setiap ada lomba Sains dia selalu menjadi wakil sekolah hingga ke tingkat nasional. Suatu ketika di acara peringatan hari guru, Zen Pratama memberiku seikat bunga mawar berwarna warni yang indah dan segar.


"Selamat hari guru, bu Almira," ucapnya sambil menyodorkan seikat bunga. Aku mengucapkan terima kasih dan menerima bunga yang indah itu dengan bahagia. Bagaimanapun kebahagiaan seorang guru itu tak ternilai dengan barang mahal. Terkadang hanya dengan sikap manis mereka saja sudah merupakan hadiah yang terindah, apalagi mereka berprestasi.


"Apa cita-cita dan keinginanamu kelak, Zen?" tanyaku kala itu. Wajah tampan Zen kecil tertawa kecil.


"Aku ingin menikah dengan bu Almira." jawabnya lantang yang langsung ditertawakan oleh teman-teman sekelasnya. Aku tersenyum mencoba menutupi rasa terkejutku.


"Siapapun boleh bercita-cita, tetapi harus tetap berusaha yaa..karena cita-cita itu tidak akan mudah untuk kita dapatkan jika tidak dengan tekad dan keyakinan besar," ucapku membuat anak-anak kelas 6 saat itu diam.


"Tapi, bu. Yang tadi Zen katakan itu kan tidak boleh," protes salah seorang teman perempuan di kelasnya.


"Guru adalah orang tua kedua untuk kita. Zen tidak boleh menikah dengan bu Almira." Yoga bersuara dengan keras. Aku tersenyum menengahi.


"Aku kan tidak mengatakan sekarang. Tapi kelak jika aku dewasa, maka aku akan menikah dengan bu Almira. Kan setiap orang boleh punya impian. Benar kan bu?" jawab Zen yang disambut sorakan oleh teman-temannya.


"Sudahlah. Ayo kita mulai menikmati kue buatan kalian. Selamat hari guru juga buat anak-anak ibu yang tercinta," aku menyudahi perdebatan panjang antar siswa. Wajah Zen tetap tersenyum datar.


Sejak itu, sangat terlihat sikap Zen yang begitu penurut dan membantu setiap ada kegiatan yang aku tangani. Zen selalu terdepan.


Bahkan Zen kecil tak segan-segan menawarkan bantuan dalam bentuk apapun padaku. Suatu ketika saat ujian sekolah telah selesai, Zen sempat kupanggil dan kuajak ngobrol.


"Zen, mau lanjut kemana?" tanyaku saat dia sudah duduk di kursi yang sudah aku siapkan di depan mejaku. Wajahnya sendu dan nampak tak bergairah.


"Aku ingin di sini saja, bu. Tapi kedua orang tuaku ingin aku belajar di kota lain. Katanya tidak baik berpisah tinggal dengan orang tua. Padahal aku tidak ingin berpisah dengan ibu," ucapnya jujur membuatku terharu. Aku menepuk pundaknya dengan lembut.


"Hei...semangat. Orang tuamu benar, belajar dibawah bimbingan dan perhatian kedua orang tua itu jauh lebih baik. Doa ibu akan selalu bersamamu," ucapku memberi semangat. Zen tersenyum kecil.


"Bolehkah aku memeluk ibu sekali ini?" pintanya dengan polos. Oooh...aku menjadi terharu. Betapa tidak Zen kecil yang pemberani dan tampan ini sangat membuat hatiku bahagia. Sayangnya masih anak sekolah dasar. Hhhhhh...aku tertawa kecil.

__ADS_1


Sebuah majalah mampir di pundakku membuatku terkejut. Wajah Fiona geram menatap tajam kearahku. Aku tertawa menyadari kesalahanku, terlena dalam kenangan sehingga melupakan Fiona.


🤣🤣🤣🤣


__ADS_2