Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku

Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku
Bertemu Keluarga Zen


__ADS_3

Ujian kelulusan telah selesai seminggu yang lalu. Siswa kelas XII seluruhnya dikumpulkan di lapangan untuk menerima arahan dari Kepala Sekolah.


Pagi itu dari berbagai jurusan berkumpul di lapangan yang telah ditentukan. Pengumuman kelulusan akan diberikan dua minggu kemudian.


Tapi aku dan Zen berada di sini. Di pantai pertama kali Zen membawaku.


Aku sudah merasa resah sejak semalam. Pagi ini Zen menenangkanku sebelum bertemu dengan keluarganya.


Zen menggenggam erat tanganku yang telah berkeringat dan tak tau berada pada suhu berapa. Sungguh...aku merasa takut.


Aku takut ditolak, takut diperlakukan buruk, takut diminta untuk meninggalkan Zen. Aku jadi merasa horor sendiri.


"Kemarilah..." Zen menarikku dalam pelukannya. Zen memelukku erat. Akupun membalas pelukannya. Sungguh, aku tidak ingin kehilangan Zen. Aku tidak sanggup jauh darinya.


Zen seperti sumber kehidupan untukku.


"Apakah kau sudah merasa tenang?" tanya Zen dengan suara lembut.


Aku masih ragu. Aku semakin erat memeluk Zen.


"Aku takut..." lirihku benar-benar seperti orang yang hilang kepercayaan terhadap diri sendiri.


"Bolehkah aku menciummu?" Zen berbisik pelan memibta izin padaku.


Hatiku berdebar antara resah dan takut. Aku mengangguk pelan.


Perlahan Zen mengangkat wajahku dan mendekatkan wajahnya dengan lembut. Sebuah ciuman lembut di bibirku membuatku semakin tak berdaya.


"Percayalah. Kita akan baik-baik saja. Jangan lepaskan genggaman tanganmu agar kau yakin aku tidak akan pernah meninggalkanmu" bisik Zen meyakinkan.


Aku menarik napas mencoba menguasai rasa khawatir dalam hatiku ini.


"Baiklah. Apapun yang terjadi aku akan kuat" bisikku pelan.


Zen tertawa kecil.


"Kamu akan bertemu dengan keluargaku, Sayang. Bukan akan berperang. Mengapa setakut ini?" Zen merengkuh bahuku dan membawaku kembali ke mobilnya.


Aku hanya diam menyibukkan diri dengan berbagai perkiraan yang nantinya aku hadapi.


Zen tersenyum mengelus lembut pipiku.


"Setelah ini aku akan melamarmu. Apakah kau ingin menikah sederhana atau dengan pesta bertema sesuatu?"


"Aku terserah padamu saja. Aku tidak menginginkan yang lain selain bahagia bersamamu" aku menatap Zen dengan penuh cinta. Wajah tampan yang beberapa bulan ini selalu menemaniku baik di kampus maupun di kegiatan sekolah seakan menjadi bagian yang teramat penting dalam hidupku.


Zen membawa mobilnya memasuki perumahan elit dan mewah di kota B ini. Terlihat bangunan mewah dengan 3 lantai berdiri megah diantara bangunan lain di sebelahnya.


"Ayo. Kita sudah sampai" Zen mengulurkan tangannya sambil membuka pintu mobil.


Zen mengangguk meyakinkanku.


"Santailah. Kau akan bertemu keluarga suamimu" ucap Zen dengan senyum khasnya.


"Rasanya aku tidak sabar ingin menggigit bibirmu itu" Zen tertawa melihat ekspresiku yang resah.


"Zen, jangan menggodaku" pintaku mencubit lengannya pelan.


"Kamu tidak pernah menceritakan anggota keluargamu" lirihku karena tidak tau harus bagaimana menghadapi keluarga Zen.


"Mereka akan menjadi keluargamu juga. Kita akan segera menikah" ucap Zen membuka pintu utama yang tidak terkunci.


"Assalamualaikum..." aku dan Zen bersamaan mengucap salam. Sosok wanita berwajah Arab menjawab salam kami. Zen mencium tangannya takzim.


Aku mengikuti apa yang dilakukan Zen. Aku berpikir dia adalah ibu Zen.


Wanita itu tersenyum manis. Gurat kecantikan di wajahnya tidak sirna.


"Dia Almira, Khala. Orang yang aku ceritakan selama ini" ucap Zen dengan senyum.


Wanita itu tersenyum mengangguk.


"Bagaimana kabarmu, Almira?. Telingaku rasanya sudah sangat hapal dengan cerita Zen tentang dirimu. Kau cantik sekali" wanita itu menyambutku ramah dan mengajakku masuk ke ruang tengah yang lebih luas dan nampak mewah.


Ada beberapa orang disana.

__ADS_1


Salah satunya laki-laki dengan rambut yang agak memutih dan postur tubuh tinggi. Gagah persis seperti Zen. Hanya wajahnya seperti orang luar negeri.


"Ayah, ini Almira" Zen mencium tangan laki-laki yang disebutnya Ayah tadi. Mereka berpelukan hangat.


"Yek, tolong panggilkan yang lain. Katakan Zen sudah datang" ayah Zen memberi oerintah kepada salah satu laki-laki seperti Zen yang berdiri menyalami Zen sambil tertawa.


Aku menyalami ayah Zen. Wajah bulenya terlihat sangat ramah penuh senyum.


"Duduklah. Jangan sungkan" ayah Zen tersenyum ramah. Aku mengangguk hormat dan mendudukkan diriku di salah satu sofa yang paling dekat dengan tempatku berdiri.


Zen memberi isyarat akan masuk sebentar, aku mengangguk.


Tak berapa lama wanita cantik setengah baya tadi yang menyambut kami datang dengan dua orang yang membawa nampan makanan dan minuman. Wanita itu meminta dua orang tadi meletakkannya di meja sesuai dengan arahannya.


"Terima kasih, mbak" katanya ramah pada dua orang yang mungkin adalah asisten di rumah besar itu.


"Ayo, Almira...di cicipi kuenya. Ini teh daun mint bagus untuk kesehatan. Kau harus mencobanya" wanita itu menggeser cangkir teh ke hadapanku.


Aku mengangguk tersenyum.


"Aku bibinya Zen. Kau boleh memanggilku dengan panggilan seperti Zen. Namaku Fatmah" wanita cantik itu sangat pandai membuat suasana nyaman.


"Ini ayahnya Zen. Dia abangku. Jangan kaget, kami memang keturunan Arab Yordania. Tapi hanya ayahnya Zen yang berkulit putih, kalau kami yang 5 bersaudara semuanya coklat tapi manis" ujarnya sambil tertawa.


"Dia memang suka bergurau, nak" ayah Zen tertawa sambil menyeruput teh daun mintnya.


"Ayah sering mendengar Zen menceritakanmu tapi tidak pernah menyebut namamu. Ayah pikir dia memiliki karaktermu yang kuat dalam hidupnya" Ayah Zen menatapku dengan penuh wibawa. Aku melihat sejenak ke arah Khala Fatmah yang tersenyum membalas tatapanku.


"Santai saja, Almira. Khala dengar kamu juga dosen di Perguruan Tinggi M yaa?. Anak khala ada kuliah disitu sudah semester akhir sekarang" Khala Fatmah menimpali karena melihatku gelisah dan duduk diam tak bergerak sedikitpun.


"Siapa, dek?" ayah Zen melihat ke arah Khala Fatmah dengan kening berkerut. Khala Fatmah tertawa.


"Farhan dan Fahira, bang. Masak abang lupa" ucap Khala Fatmah sambil tertawa ringan.


"Ooh...kembar. Abang pikir sudah tamat dia" ayah Zen mengangguk anggukkan kepalanya.


"Almira, dicicipi kuenya. Ini buatan khala loh..." Khala Fatmah menyodorkan piring kue ke arahku. Aku mengucapkan terima kasih dan mencobanya.


"Sudah berapa lama bersama Zen?" Ayah Zen bersuara kembali. Kali ini auranya lebih serius. Aku sedikit canggung.


"Belum lama, ya..." ayah Zen tersenyum samar. "Apa kamu pernah menjadi guru Zen ketika sekolah dasar di kota S?"


Aku terkesiap. Berarti hal itu sama saja dengan menanyakan usiaku. Aku meremas tanganku yang mulai berkeringat.


"Mmm...iya, Om. Dan saya nggak menyangka akan bertemu Zen di sekolah berbeda di kota ini" aku mulai merasa tidak nyaman. Khala Fatmah sibuk dengan camilannya. Aku tau dia pura-pura tidak mendengar percakapan kami.


"Apakah nak Almira tau bahwa Zen mengidolakan gurunya ketika itu?" ayah Zen berbicara to the point. Aku menunduk sedikit risih.


"Tidak tau, Om. Dan Zen menceritakan hal itu setelah kami bertemu di sekolah yang sekarang"


"Apakah menurutmu Zen bisa lulus dengan baik tahun ini?. Ayah ingin dia melanjutkan kuliah untuk bekal masa depannya"


Aku mulai gelisah. Hatiku serasa tak menentu.


"Zen siswa yang berprestasi, Om. Dia juga pandai secara akademik. Tidak ada catatan buruk dalam akademisnya. Saya yakin dia lulus dengan nilai terbaik" aku sedikit membuka hasil rapat kami dua hari yang lalu. Dan memang Zen unggul dalam akademik. Nilainya tertinggi untuk ujian sekolah dan nasional. Hanya tinggal menunggu jadwal pengumuman saja.


Aku melihat Om Ahmad Pratama Al Bukhairi tersenyum.


"Apa pendapatmu tentang Zen?" Om Ahmad menatapku. Matanya yang tajam ciri khas daratan Timur Tengah membuatku agak takut.


"Kau boleh mengatakan apa saja. Seperti apa Zen dalam pandanganmu. Bukankah kau juga guru Zen?"


Aku menggigit bibirku pelan.


Aku mendengar Khala Fatmah berbicara dalam bahasa Arab pada ayah Zen. Entah apa artinya.


"Saya mencintainya, Om" aku gugup. Aku tersedak sendiri ketika kalimat itu keluar dari bibirku. Sungguh...spontan. Aku benar-benar gugup.


Kedua orang setengah baya di depanku menatapku bersamaan. Raut kaget atau apalah namanya terpancar dari mata mereka. Tiba-tiba Khala Fatmah tertawa memecah ketegangan.


"Almira, mengapa tingkahmu seperti remaja belasan tahun. Ahhhh...khala yakin ini pasti akibat kau sering bersama Zen" tawa Khala Fatmah menohok tenggorokanku. Aku benar-benar malu tingkat akhir.


"Dek..." ayah Zen menegur khala Fatmah. Khala Fatmah langsung diam.


"Iya, maaf. Khala tinggal sebentar ke belakang ya, Almira" Khala Fatmah langsung bangun dari duduknya melenggang meninggalkanku hanya berdua dengan ayah Zen.

__ADS_1


"Ayah tau Zen mencintaimu sejak dulu. Selama 5 tahun terakhir ini dia selalu mengatakan hal yang sama. Suatu hari dia akan menikahi gurunya yang bernama Almira Rasyad" Ayah Zen menyesap teh daun mintnya lagi.


"Ayah tidak keberatan dengan hal itu. Selama ini Zen telah menunjukkan kemampuan dan tanggungjawabnya dengan mengurus dan mengembangkan beberapa usaha di usia muda. Bahkan ibunyapun sangat menyayanginya" terdengar suara berwibawa itu bergetar. Aku semakin merasa gelisah.


"Dulu Zenpun menceritakan sosok gurunya yang akan dinikahinya kelak. Bahkan, meminta ibunya untuk merestui niat dan cita-citanya" ayah Zen tersenyum samar. Raut wajahnya berubah sendu. Aku hanya diam sambil menebak apa maksud dari ucapan ayah Zen.


Zen tidak pernah sedikitpun menceritakan keluarganya selama ini.


Ayah Zen bangun dari duduknya. Melangkah ke sudut ruangan dan meraih salah satu bingkai foto yang terpajang rapi di atas lemari pajangan jati ukir sepanjang kira-kira dua meter.


Ayah Zen menyodorkan bingkai foto itu kepadaku. Dengan bergetar tanganku menerimanya. Aku masih bingung.


"Itu ibunya Zen. Cantik bukan?"


Aku memperhatikan wajah wanita cantik berjilbab merah muda sedang tersenyum dalam pelukan ayah Zen muda. Zen berdiri di belakang mereka berdua sambil tersenyum. Senyum yang sama seperti ibunya.


"Sangat cantik, Om" ucapku jujur "cantik sekali" aku mengagumi wajah cantik di foto itu.


"Zen adalah putra kesayangannya. Putra tunggal keluarga ini. Sebelum dia pergi, dia telah memberi restu pada Zen untuk menikahi gurunya walaupun sebenarnya itu tidak pantas"


Deg...hatiku kembali menciut.


"Saya mohon maaf, Om" ucapku lirih. Aku tak berani mengangkat wajahku.


"Hmmm...tidak perlu meminta maaf. Ayah mengerti. Zen memiliki keteguhan hati. Apa yang telah menjadi pilihannya itulah tujuannya. Mungkin ini terlalu cepat ayah katakan padamu. Tapi bagi ayah, tidak ada salahnya ayah berbicara padamu tentang semua ini. Cepat atau lambat kau juga akan menjadi bagian dari keluarga ini"


Ada rasa lega dan bahagia dalam hatiku mendengarkan kalimat ayah Zen.


"Lalu ibu...?" tanyaku ingin tau mengapa kata 'pergi' menjadi ambigu untukku.


"Apakah Zen tidak pernah menceritakan keluarganya kepadamu?, lalu apa saja yang anak itu bicarakan saat bersama denganmu?" ayah Zen meperbaiki kaca matanya tanpa senyum.


Aku merasa sedang diinterogasi. Aku menjadi salah tingkah.


"Zen..." panggil Om Ahmad dengan agak keras.


Tak berapa lama Zen muncul sambil tersenyum. Rautnya sangat dewasa dan berwibawa, persis seperti sang Ayah.


"Sudah selesai, yah?" tanya Zen hati-hati sambil melihatku dengan tajam.


"Apanya yang selesai?" ayahnya balik bertanya.


Zen menggaruk kepalanya salah tingkah.


"Lalu mengapa ayah memanggilku?" suara Zen agak kesal melihat ayahnya yang hanya diam sambil kembali menuangkan teh dari poci yang tersedia ke gelas di depannya yang sudah kosong.


"Mengapa tidak kau ceritakan kepada Almira tentang keluargamu?"


"Apakah itu artinya ayah menyetujui pilihanku?" Zen balik bertanya. Aku melihat ayahnya tersenyum kecil.


"InsyaAllah. Tapi satu ayah ingatkan lanjutkan studimu. Tidak baik membiarkan istri memikul beban rumah tangga secara berlebihan"


Zen tertawa senang dan memeluk ayahnya sambil memberikan ciuman hangat di pipi sang ayah. Ahhh...keluarga yang luar biasa.


"Tapi, Om..." aku mencoba membuat jelas segala sesuatu. Aku tidak ingin usiaku menjadi penghalang dan beban masalah bagi keluarga yang hebat ini.


Ayah Zen dan Zen bersamaan menatapku. Dua sosok mirip itu seakan menjadi hakim untukku. Aku gugup sesaat.


"Aku...aku..." aku mengumpulkan kebetanianku. "Tapi usiaku lebih tua dari Zen" akhirnya terucap juga ganjalan di hatiku.


"Lalu...?" ayah Zen membuka kaca matanya.


Aku gelagapan sendiri. Ingin ku menjambak rambut Zen yang tidak berniat membantu kegugupanku sedikitpun.


"Apakah Om dan keluarga tidak keberatan?" aku menarik napas resah.


"Apakah Zen mempermasalahkannya?" ayah Zen balik bertanya. Aku jadi merasa seperti remaja bodoh. Aku menggeleng.


"Lalu mengapa kau mempermasalahkannya?. Jangan lama-lama berpacaran itu tidak baik. Sebaiknya segera kabari orang tuamu kami akan segera melamarmu. Ayah rasa Zen pun sudah bisa mempersiapkan segala sesuatunya"


Aku tak dapat melukiskan bahagia dalam hatiku ini.


Apa yang dikatakan Zen benar adanya. Keluarganya adalah surga di dunianya yang paling indah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2