
Seorang laki-laki muda berkaca mata hitam turun dari mobil silver di depanku. Berdiri berkacak pinggang dengan senyum menghias wajah tampannya.
Dari pakaiannya yang rapi dan penampilan maskulin sudah bisa ditebak pastilah laki-laki di depanku ini seorang pengusaha yang berduit.
"Hai, Almira Rasyad. Dosen muda yang berprestasi dan wisuda dengan cumlaude. Apa kabar?"
Aku mengernyitkan kening mencoba membongkar ingatanku siapa laki-laki di depanku yang sepertinya hafal siapa aku.
"Bapak sengaja ya ingin membuat orang lain celaka?" tatapku tajam sambil mencoba memperhatikan raut wajahnya.
Laki-laki itu tersenyum dingin.
"Sudah aku perkirakan sedetail mungkin. Kamu tidak akan celaka. Oh ya, sepertinya kamu melupakanku?" katanya dengan senyum mengejek.
Aku melepaskan helmku dan menurunkan standar motor kesayanganku. Aku masih belum mengingat siapa laki-laki maskulin ini.
"Al, kamu benar-benar melupakanku" cetusnya dengan ketus sambil mengibaskan tangannya di depan wajahku.
"Aku minta maaf untuk itu, kalau boleh kamu ingatkan dimana kita pernah bertemu" aku menyadari perubahan wajah kecewanya.
Laki-laki itu menarik nafas dan menyandarkan tubuhnya di pintu mobilnya.
"Aku Ibra teman SMAmu dulu. Lupa juga?, atau aku ingatkan juga bagaimana kau melemparku dengan bola basket sampai aku pingsan?"
Aku sontak tertawa dan mengingat semuanya. Aku berdiri dengan serius dan memperhatikan penampilan Ibra yang luar biasa berubah. Namanya Ibrahim Akbar Maulana. Biasa dipanggil Ibra, teman SMA beda jurusan tapi kalau ngumpul bareng.
"Tuh kan, sifat jelekmu tidak pernah hilang sejak dulu. Selalu tertawa seperti kuntilanak di depanku. Pantas saja sampai sekarang kamu nggak laku" ucapnya menohok.
Sontak aku menjambak rambutnya yang rapi dan terlihat halus. Ibra berteriak. Tuh kan...sifat ngondeknya menghilangkan status laki-lakinya.
"Galak amat, Al. Ilangin sifatmu itu biar cepet dapat jodoh" katanya sambil melepaskan tanganku dari rambutnya.
Aku tersenyum kecut tiap kali dia menyebut statusku, tapi aku sangat bahagia bertemu Ibra.
__ADS_1
"Kurangi mengejekku. Eh, darimana kamu tau kalau tadi itu aku?" aku ikut menyandarkan tibuh di pinggiran pintu mobil Ibra yang terlihat mahal dan mewah.
Ibra memperbaiki tatanan rambutnya. Aku tak dapat menahan tawa melihat sikapnya.
"Sejak kapan kamu jadi laki beneran?" tambahku membuat Ibra melotot.
"Aku sudah mengikutimu sejak dua minggu yang lalu. Awalnya nggak yakin itu kamu, tapi setelah beberapa kali mencari informasi dan menguntit aku jadi yakin kalau itu adalah kamu. Kamu kok bisa di kota ini, Al?" Ibra memasukkan tangannya ke saku celananya.
Aku tertawa.
"Cari tempat nongkrong yuk, aku akan ceritakan semua padamu. Tapi sebagai permintaan maaf karena kamu sudah membuatku hampir celaka hari ini kamu yang bayarin makan dan minumku" todongku tanpa basa basi. Ibra tertawa gagah.
Tampan juga Ibra kalau jadi lelaki sejati. Ibra tertawa kecil, dan mengangguk setuju.
"Aku tau tempat tongkrongan bagus di kota ini. Ikuti aku yaa...nggak baik juga kan kita ngobrol di pinggir jalan begini" ucap Ibra dengan gagah. Aku tersenyum setuju.
Aku mengikuti arah mobil Ibra berbelok ke arah sebuah resto yang luas dan mewah.
"Selamat datang mas Ibra. Silahkan ruangannya sudah disiapkan" ucapnya dengan sopan. Ibra tersenyum dan menyalami kedua orang itu dengan penuh wibawa.
"Terima kasih mas Arif dan mas Herdi. Semua lancar yaaa?" sapanya dengan elegan. Aku tersenyum memperhatikan Ibra tanpa berkedip.
Sungguh perubahan yang amat drastis pada diri seorang Ibra. Betapa akan sempurna hidup Ibra jika dia benar-benar bertaubat.
"Heh, aku tau apa yang ada di otakmu. Berhenti menggunjingku" bisik Ibra mengagetkanku.
Aku nyengir merasa ketahuan Ibra dapat menebak pikiran julidku. Kami dufuk di ruangan private yang nampak sudah disiapkan.
"Aku lihat kamu dihormati banget disini. Bahkan mereka semua menunduk hormat padamu. Jangan2 ini restaurant milikmu, ya?" aku meraih gelas juice yang tersedia di atas meja di depan kami.
Ibra tersenyum kecil. Gaya perempuannya muncul seketika.
"Iya benar, aku owner restaurant ini. Aku merintisnya sudah sejak 7 tahun yang lalu. Alhamdulillah sudah berkembang biak, Al. Sekarang aku sedang mencoba membuka cabang di kota R. Yah...kali aja dapat jodoh disana" Ibra tersenyum bangga. Aku mengangguk bangga dengan pencapaiannya.
__ADS_1
"Perasaanku dulu kamu sangat suka dengan hal yang berbau kecantikan, kenapa jadi punya bisnis restaurant?" aku menatap wajah Ibra yang tampan dan bersih.
"Tercapai, Al. Di Kota inj aku punya salon dan spa yang sudah terkenal dan banyak pelanggannya. Kapan-kapan datanglah merawat diri ke salonku. Gratis buatmu kapan kau mau" Ibra tertawa.
Aku tersenyum kecil.
"Beruntung nih ketemu kamu. Hei, nampaknya aku harus menanyakan ini padamu dengan jujur. Sudah punya pacar?"
Ibra tertawa pelan.
"Susah mencari yang benar-benar bisa dan mau kekuranganku, Al" ucapnya pelan...
Aku tersenyum keraih tangannya. Menepuk punggung tangannya dengan pelan.
"Kamu harus yakin kamu sekarang sudah nampak normal, Ibra. Tidak ada yang tau latar belakangmu yang lucu itu. Tapi kamu teryarik dengan wanita kan??"
Ibra mencibir
"Aku normal, Al"
"Pernah mencoba?" tanyaku umum banget. Ibra mengerutkan keningnya.
"Maksudmu?"
Aku tersenyum dan setengah berbisik
"Mencoba bercinta dengan wanita"
Sontak Ibra terperangah dan bersungut.
"Kamu tidak pernah berubah" Ibra menyeruput jus mangga di meja. Terlihat kesal di wajahnya. Aku tertawa geli.
Ketika sekolah dulu Ibra memang selalu menjadi hiburan bagi kelompok kami. Selain dia memang sangat baik dan sosial dia juga suka bercanda dan berpikiran luas.
__ADS_1