Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku

Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku
Kamu Istimewa


__ADS_3

Pukul 08.45 waktu setempat aku telah tiba di area kedatangan bandara kota B. Suasana ramai dan sibuk di pagi hari. Bandara Kota B merupakan salah satu bandara besar yang melayani penerbangan internasional.


Aku semenjak tinggal di kota ini, sudah beberapa kali melakukan penerbangan melalui bandara ini. Penataan bandara yang indah dan asri memnuat pengunjung mauoun pengguna bandara merasa nyaman.


Nampak petugas di berbagai tempat teratur melayani para pengguna jasa bandara. Seskali mereka tersenyum ramah dan memberikan petunjuk.


Lima belas menit lagi penerbangan Zen akan mendarat. Terdengar pengumuman dari mikrofone bandara menggema, membuat hatiku berdebar tak karuan.


Ini adalah kali pertama aku menjemput Zen dari luar kota. Biasanya, aku selalu menolak ketika Zen memintaku untuk menjemputnya.


"Romantis lho, Al...kalau menjemput pacar di bandara. Seperti di film-film remaja itu" ucap Zen ketika aku tanya mengapa harus melakukan itu.


Dan hari ini aku yang menawarkan diri untuk menjemputnya. Tidak salah kurasa menunjukkan perhatian padanya. Bukankah cinta itu saling memberi dan menerima?


Aku tersenyum kecil.


Cuaca pagi ini sangat cerah, orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing. Aku mengambil tempat duduk di ruang tunggu yang tidak terlalu ramai. Aku menunggu sambil memeriksa beberapa tugas yang dikirim oleh mahasiswa regulerku melalui aplikasi belajar.


Sesaat aku melihat jam di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul 09.15 menit. Aku memperhatikan orang-orang yang menjemput sudah mulai bergerak. Ah...seperti apa yaa moment penjemputan ini?...aku tertawa kecil membayangkan hal yang baru pertama kali aku lakukan.


Suara petugas bandara mengumumkan bahwa penerbangan yang digunakan Zen telah mendarat dengan selamat dan mengucapkan selamat jalan.


Aku bergegas melangkah ke dekat besi pembatas penjemput.


Diantara deretan penumpang aku melihat sisik gagah Zen bersama pak Bisma dan satu orang wanita di belakangnya.


Sesekali terjadi obrolan serius diantara mereka, bahkan tak segan aku lihat wanita di sebelah Zen menyentuh lengan Zen dengan sengaja.


Hmmmm...aku menenangkan diri dengan kuat. Aku percaya Zen bukanlah lelaki buaya.


Aku melambai saat Zen melihat keberadaanku.


Aku sangat bahagia melihat senyumnya. Zen meraih tubuhku ke dalam pelukannya, dan aku membalas pelukan Zen. Bahagia meruntuhkan rindu yang selama ini hanya bisa kupendam dalam hati.


Yah...aku merindukan Zen.


"Aku merindukanmu" bisik Zen lembut di telingaku.


"Akupun merindukanmu" jawabku bahagia.


"Kau semakin terlihat cantik, sayang. Sepertinya kau baik-baik saja tanpa aku" Zen memberikan ciuman di kepalaku.


"Nampaknya begitu tapi dalam hatiku hanya kamu yang tau"

__ADS_1


Zen tertawa lepas.


"Kenalkan, Al...ini Nona Maira. Anak teman bisnis ayah kebetulan bertemu di pintu tadi. Ternyata satu pesawat. Dia juga kenal baik dengan Ibra". Aku mengangguk menyalami wanita cantik yang tadi bersama Zen.


"Ini Almira, Nona Maira. Dia calon istriku" Zen merengkuh bahuku dengan erat.


Aku lihat Maira tersenyum kecut. Raut wajahnya agak berubah ketika Zen menyebutku calon istrinya.


Pak Bisma tersenyum dan menunduk memperbaiki kemejanya yang nampak rapi. Aku tersenyum.


"Selamat datang di kota B, nona Maira. Semoga urusan bisnis anda berjalan lancar"


Maira tersenyum kecil dan merapikan rambutnya yang tergerai di pundaknya. Cantik, tinggi, putih, dan nampak sangat elegan.


"Terima kasih" ucapnya dan langsung menatap ke arah Zen, "Kita akan bertemu lagi, Zen. Bukankah perusahaan kita memiliki kerja sama dalam jangka panjang?"


Zen menatapku dan mengangguk penuh wibawa.


"Bukan denganku, nona Maira. Tapi lebih tepatnya dengan perusahaan ayahku. Nanti nona akan lebih sering ertemu dengan pak Bisma dan ayah. Oh ya, terima kasih atas obrolannya. Kami izin pamit. Selamat dan semoga sukses"


Zen memutus percakapan dan menggenggam tanganku mengajak melangkah ke luar dari areal bandara kota B.


Aku mengangguk pada Maira dan melangkah mengikuti Zen yang tak melepaskan tanganku.


Nampaknya, apa yang dikatakan oleh Ibra sangat benar. Banyak wanita cantik pengusaha dan anak pengusaha yang berlomba mendapatkan perhatian pebisnis muda sekelas Zen yang tergolong sukses.


"Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi sebelum kita ke rumahku?" Zen memberikan penawaran setelah duduk di dalam mobil.


"Aku rasa tidak ada. Hari ini aku tidak punya jadwal apapun selain menjemputmu"


Zen tersenyum manis.


"Al, bagaimana kalau kita menikah secepatnya?"


Aku terkejut. Aku melihat pak Bisma diam seribu basa dan pak Sopir di sebelahnya juga tak memberi reaksi apapun.


Zen tertawa.


"Mereka mendukung keputusanku, Al. Dan kamu harus tau bahwa keberadaanmu sangat penting untukku" Zen seperti tau apa yang aku maksud. Aku menarik nafas dan menatap Zen dengan bahagia.


"Apapun yang menurutmu baik dan direstui Ayah serta orang tuaku, aku ikut saja. Tidak ada alasan aku untuk menolak atau menunda niat baikmu"


Zen tersenyum dan mengelus kepalaku. Fuh, benar-benar merasa anak kecil banget aku bersama Zen. Sikapnya begitu dewasa dan terarah.

__ADS_1


"Pak, nanti di depan berhenti sebentar yaa..." pinta Zen pada pak Sopir.


"Iya, mas. Nggak sekalian nanti mampir di toko kue langganan bu Fatmah, mas?"


"Hhhh, iya. Untung bapak ibgatkan. Kalau tidak pasti khala Fatmah ngomel berjam-jam" Zen tertawa.


"Sayang, nanti kalau kamu sudah menjadi istriku jangan galak-galak seperti khala Fatmah, yaaa" pibta Zen yang di sambut senyum oleh pak Bisma dan sopir.


Aku hanya bisa tersipu malu.


Zen memang terkadang to the point kalau bicara. Aku hanya memperhatikan setiap gerak gerik Zen turun dan berjalan ke toko tujuannya untuk membeli beberapa keperluannya di rumah. Bahkan, dia dengan telaten membeli kue kesukaan bibinya.


Aku semakin kagum saja padanya. Aku merasa sebuah keberuntungan yang tiada tara menjadi orang yang memiliki arti penting baginya. Tentunya aku merasa berarti untuk seorang Zen Pratama. Lalu bagaimana wanita-wanita cantik yang berada di sekeliling Zen, dan sering berinteraksi langsung dengan Zen.


"Hei, mengapa aku melihatmu seperti gundah?" Zen menatapku sambil menyodorkan potongan kue brownis kecil yang dihias dengan cantik seperti bunga.


"Mmm...tidak ada apa-apa. Apa aku terlihat gundah?" aku mencoba menetralkan perasaanku dan pikiranku.


"Semakin kau menyembunyikan pikiranmu semakin terlihat kegelisahanmu" ucap Zen dengan datar.


Aku tersenyum samar.


"Apa yang kau pikirkan?" Zen meraih kue yang masih belum aku buka dari bungkusnya. Zen dengan telaten membuka dan memberikannya padaku.


"Makan dulu kue nya. Aku pesan jhusus untukmu. Kamu tau tidak, aku menunggu ini dibentuk hanya dalam waktu 5 menit" Zen berbangga.


Aku masih mencoba melupakan pikiran-pikiran yang membuatku gelisah. Yah, aku harus menyampaikan ini pada Zrn.


"Zen, aku ingin bertanya tetapi kai jangan marah yaa?" pintaku akhirnya. Zen tersenyum tulus.


"Kau boleh bertanya apapun tentangku padaku atau apapun yang ingin kau ketahui"


"Berapa anyak wanita-wanita cantik di luar sana yang sekelas Maira ataupun lebihh dari Maira mendekatimu setiap hari, Zen?. Aku merasa tak ada qrtinya untukmu"


Zen menoleh ke arahku


"Almira, apakah kamu meragukan cinta dan kesetiaanku?"


"Tidak. Bukan itu, Zen. Aku hanya mengira-ngira pasti banyak wanita cantik seperti Maira mendekatimu"


Zen menatapku sambil tersenyum dan menggenggam tanganku.


"Jangan pernah membandingkan dirimu dengan wanita di luar sana, Al. Kamu istimewa. Karena itulah aku mengajakmu untuk segera menikah agar kau tidak memikirkan hal-hal yang tidak penting diantara hubungan kita" Zen mengelus kepalaku.

__ADS_1


__ADS_2