Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku

Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku
Aku Juga Mencintaimu


__ADS_3

Aku membuka gorden kecil di jendela depan ketika terdengar suara mobil mulai menjauh dari pekarangan rumah.


Aku benar-benar tak berdaya di hadapan Zen. Apakah aku juga mencintainya?...aku rasa iya. Aku tak pernah merasakan sebahagia ini bersama laki-laki lain. Ahhhh...sangat lucu sekali merasakan jatuh cinta di usia setua ini.


Aku menyapu pandangan ke seluruh ruangan. Rumah sepi, mungkin Fiona sedang keluar. Bukankah biasanya dia akan menginap di rumah temannya sampai hari Senin sore barulah dia akan kembali ke rumah.


Aku melihat dapur juga dalam keadaan rapi. Ahh...ada tulisan di tempel di pintu kulkas. Benar saja, Fiona keluar kota ada urusan katanya sampai 2 hari. Bakalan sepi rumah ini tanpa Fiona keluhku...


Aku masuk ke kamar dan membaringkan tubuhku di atas tempat tidur yang sangat empuk menurut ukuranku.


Aku coba membuka beberapa galeri foto di gawaiku. Aku tadi mengambil beberapa foto Zen di pantai.


Sangat tampan dan gagah. Aku memejamkan mata membayangkan dalam pelukan Zen. Ya...tadi Zen benar-benar memelukku. Dan itu untuk pertama kalinya aku dipeluk laki-laki. Dan kedua kalinya di peluk oleh Zen.


Bedanya dulu Zen kecil memelukku tanpa rasa karena dia adalah muridku yang pandai dan peduli pada siapapun. Tapi kini, Zen berubah menjadi laki-laki tampan dan tampak dewasa.


Yang terpenting adalah dia mencintaiku. Bahkan mencintaiku sejak dulu. Hembusan nafasnya yang membuatku resah, sentuhan tangannya yang membuatku salah tingkah...ahhh, Zen...aku menutup galeri foto di handphoneku.


Dia laki-laki yang sempurna. Tampan, tinggi, baik, mapan di usia muda, dan tatapan mata itu...tajam dan teduh. Tentunya banyak gadis-gadis muda sebayanya yang tergila-gila padanya.


Tidak mungkin pemuda setampan dan semapan Zen tidak memiliki pacar atau teman dekat wanita.


Sedangkan aku...


Aku berdiri di depan cermin dan mulai memperhatikan diriku sendiri. Hmmmmm...Almira, kau cantik, sederhana, dan pantas untuk dipuja. Aku tersenyum bangga mensyukuri diriku tanpa penyesalan sedikitpun.


Wajahbalami ini sulit untuk menyentuh salon dan tempat-tempat perawatan seperti gadis-gadis lain. Ini karena Ibu menanamkan dasar yang kuat untuk anak-anaknya.


"Wajah cantik itu akan nampak dari hati yang baik, nduk. Kalau hati baik pandai bersyukur wajahpun akan memancarkannya. Itu namanya inner beauty" kata Ibu berkali-kali setiap kami duduk bersama membahas masalah wanita dan pekerjaan.


"Jodoh itu akan datang sesuai yang Allah tentukan. Kamu ndak usah terbebani. Yang terpenting jaga diri baik-baik, insyaAllah yang datang nantipun baik. Percaya sama ibu" begitu kata Ibu memotivasiku ketika adikku menikah lebih dulu dua tahun yang lalu.


"Apa aku ibu carikan jodoh saja, agar ibu ndak malu aku belum menikah sementara Dek Hendra sudah mendahuluiku" pintaku kala itu sambil memeluk ibu yang sedang memasak di dapur.


"Apa kamu mau dijodohkan?" celetuk Bapak menimpali kalimatku.


Aku terdiam.


"Kalau kamu ikhlas di jodohkan akan bapak carikan. Tapi yaitu tanyakan pada dirimu dulu apa kamu mau?" bapak memberiku ruang untuk memikitkan kalimatku.


"Almira nggak tau, pak. Kalau menurut ibu bagaimana?" tanyaku menatap wajah ibu yang masih dalam pelukanku.


"Heh...kamu pikir ibu yang bakal njalani rumah tanggamu. Itu tanggung jawabmu" ibu memukul tanganku dengan lembut sambil tertawa.


"Maksud Almira kan ibu lebih tau tentang Almira" jawabku cengar cengir.


"Sudahlah. Jalani saja karirmu, nduk. Nanti jodohmu pasti akan datang pada waktu yang tepat" pangkas Ibu menguatkan hatiku.


"Ibu dan bapak memang yang terbaik" ucapku sambil memberikan keduanya ciuman di pipi kanan dan kiri. "Doakan pak, bu...nanti suami Almira adalah orang yang terbaik dan membanggakan bapak dan ibu"


"Aamiin..." bapak dan ibu bersamaan.


Hmmmmmm...aku tersenyum menatap wajah cantik di cermin. Semangat, Almira...jika Zen menjadi jodohmu, maka Allah akan mendekatkannya padamu sejauh apapun kau menghindarinya...bisikku penuh semangat.


Tapi...hari ini seharian dia bersama Zen. Bahkan Zen dengan leluasa menggenggam tangannya, menyentuh wajahnya, bahkan memeluknya. Aku memejamkan mata dan menarik napas panjang. Tapi yang aku rasakan adalah debar-debar bahagia. Ahhhh...Zen, semudah ini aku jatuh cinta.


Tapi semua itu aku tepis saat mengingat usiaku yang teramat jauh lebih besar dari Zen. Aku lebih tua darinya...bisikku lirih.


Zen sangat menjagaku. Tidak nampak perlakuannya membedakanku karena usia. Malah aku merasa bagai anak kecil di sebelahnya. Ahhh...apa yang harus aku katakan padanya esok??. Bagaimana jika sikap tengilnya ditunjukkannya di sekolah besok pagi?. Apa aku harus berpura-pura sakit agar tidak bertemu dengan Zen besok pagi di sekolah?.


Duh...kenapa aku ini?. Seperti bukan diriku saja.


Aku tersenyum menyadari kebodohanku. Biarlah esok akan menjadi seperti apa akan aku jalani saja.


☆☆☆


Aku membereskan analisis nilai harian dan membuat jurnal pembelajaran harian serta merapikannya di meja kerjaku.


Ad yang terasa hilang hari ini. Zen tidak masuk sekolah.


"Bu Almira, siswa atas nama Zen Pratama pagi ini tidak bisa hadir" terang pak Kepala Sekolah tadi pagi saat aku memasuki ruangan guru. Deg...hatiku tiba-tiba berdetak dan bertanya-tanya.


"Kalau boleh tau kenapa ya, pak. Saya ada jadwal PH hari ini untuk siswa kelas XII. Sekalian persiapan pembinaan menghadapi ujian dua bulan lagi" aku mencoba mencari tau.


"Semalam dia ke rumah bapak. Mengatakan bahwa salah satu perusahaannya di kota J memintanya rapat mendadak yang tidak bisa diwakili. Dia berjanji akan mengikuti segala kegiatan yang tertunda hari ini langsung dengan bu Almira" pak Kepala Sekolah menyodorkan surat berlogo sebuah perusahaan Travel di kota J.


Aku menerima surat tersebut tanpa membukanya. Setelah mengucapkan terima kasih aku kembali ke meja kerjaku.

__ADS_1


Beberapa kali aku melihat handphoneku, siapa tau pemuda tengil itu mengirimkan pesan kepadaku. Tapi tak ada satupun pesan masuk atas nama Zen.


Duh...mengapa aku merasa kecewa dan sedih yA...


Aku tiba-tiba merasa diabaikan dan tidak berarti. Hei...bukankah aku belum menyatakan menerimanya? lalu mengapa hatiku ini seperti bersedih. Sadarlah, Almira...


Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Kenapa, bu Almira?" suara pak Hamid mengagetkanku. Senyum pak Hamid mengejek menatapku. Tuh kan...aku ini baperan banget.


"Bu Almiraaa..." pak Hamid kali ini memanggilku lebih keras.


Aku tertegun dan melihat sekitar. Beberapa guru senior menertawaiku.


"Melamu aja, bu Almira?, sedang ada yang dipikirkan yaa?" bu Ainun tukang menggoda mulai dengan gayanya.


Semua mata serasa menatapku.


"Benarkah melamun?" timpal guru senior yang paling senang menggoda statusku. Mrs. Maria guru bahasa Inggris yang cantik dan paling heboh.


"Pak Hamid jangan dipercaya, Mrs. Aku sedang menyusun jurnal" timpalku membela diri. Tentu saja aku malu dengan situasi ini jika memang benar terlihat melamun.


"Tadi saya lihat bu Almira menggeleng-geleng terus" celoteh pak Hamid jujur.


"Pak Hamiiiid..." aku seperti pencuri tertangkap basah.


"Bu Almira, besok malam ada pagelaran seni di aula bupati. Biasanya banyak para seniman dan pengusaha yang datang. Ayo gabung siapa tau dapat jodoh disana" ajak Mrs. Maria penuh semangat.


"Maaf, Mrs. cantik. InsyaAllah lain kali. Besok jadwal saya padat di kampus sampai jam 9 malam" tolakku dengan lembut.


Mrs. Mari agak cemberut.


"Kedepannya kurangilah jadwal pekerjaanmu agar ada waktu buat dirimu sendiri" nasehatnya dengan tersenyum teroaksa.


Aku tertawa.


"Siap, Mrs." aku tertawa membalasnya


Bu Hanifah menatapku sejenak.


"Bu Almira, apakah tidak tetarik dengan pernikahan yang melalui ta'aruf?" tanyanya hati-hati.


"Tidak, bun. Maaf. Doakan saja semoga jodoh saya segera menemukan alamat rumah saya" jawabku yang di balas kata aamiin oleh semua seniorku. Guru di sekolah ini memang sangat kompak dan penuh rasa kekeluargaan.


Bu Hanifah dan pak Kepala Sekolah adalah mahasiswa non reguler yang mengikuti kuliah di tempatku mengajar. Kebetulan aku dosen pembimbing desertasi mereka untuk jenjang S2 yang mereka tempuh.


Tapi aku salut di kampus dan di sekolah perlakuan mereka sangat berbeda. Mereka adalah keluarga yang sangat baik untukku yang sedang merantau di kota orang.


Jam pulang berdering tanpa terasa. Semua guru sudah berpamitan menunggalkan ruangan. Aku melirik ruang TU masih terbuka.


"Permisi..pak Rama" aku mengetuk pintu yang masih terbuka.


pak Rama menyembulkan kepalanya dari balik komputer besar di depannya.


"Iya, bu. Ada yang bisa saya bantu?" katanya sopan. Rama lebih muda 2 tahun di bawah usiaku. Sudah berkeluarga dan memiliki anak satu.


"Nitip print buat bimbingan besok pagi yaa. Takut lupa di rumah" pintaku menyodorkan flashdisk khusus untuk kegiatan dan tugas di sekolah selama aku mengajar.


"Siap, bu. Besok pagi sudah ada di meja ibu" katanya pasti.


"Terima kasih, pak Rama. Saya izin pulang duluan yaaa..." aku berbalik dan meraih tas ransel di meja dan melangkah keluar ruangan.


Jam sudah berada di pukul 14.15 menit. Aku berbelok sejenak ke musholla sekolah. Siapa tau aku telat sampai di rumah dan pastinya waktu sholatkupun akan amburadul.


Usai melaksanakan ibadah aku melangkah ke luar halaman sekolah. Biasanya akan ada taxi yang mangkal di ujung pangkalan taxi tidak jauh dari sekolah.


Sehingga aku tidak terlalu kesulitan untuk mencari transportasi. Terkadang guru-guru senior yang lain memberiku tumpangan untuk pulang.


Aku pernah berpikir untuk membeli sebuah mobil untuk menopang semua kegiatanku selama di kota ini, tapi ibu berpesan "Jangan membeli sesuati karena gengsi, Nduk. Belilah sesuatu itu sesuai dengan keperluanmu. Kalau itu lebih banyak nda bermanfaat bagimu lebih baik jangan"


Ibu memang benar. Jarak rumah yang ku sewa ke kampus bisa ku tempuh dengan berjalan kaki. Hanya ke sekolah ini yang membutuhkan transportasi, karena jaraknya lumayan ku tempuh dengan waktu 15 menit dengan kendaraan umum atau taxi.


Aku dikagetkan dengan klakson mobil berwarna silver yang berhenti tepat di depanku.


Wajah Zen muncul tertawa lebar setelah kaca mobil diturunkan.


Ada rasa lega ketika melihat wajahnya. Aku tersenyum kecil. Mungkin benar...aku merindukannya.

__ADS_1


"Ayo naik" Zen membukakan pintu mobilnya. Aku tertegun sejenak.


"Ayolah, sayang" Zen tertawa lepas setelah mengucapkan kata itu.


Aku duduk dan menutup pintu mobil dengan pelan.


"Tidak apa-apa di banting seperti kemarin" katanya tertawa. Aku tersipu malu menyadari sikapku yang kesal kemarin.


"Maaf..." aku melihat penampilan Zen sejenak. Kemeja rapi dengan dasi dan celana kain. Tidak tampak seperti anak SMA pada umumnya. Terlihat begitu tampan, berwibawa, dan dewasa.


"Mengapa kau terlihat tampan sekali?" keluhku lirih.


Zen menatapku seperti terkejut. Lalu dia tertawa bahagia.


Akupun terkesiap dengan ucapanku. Aduh...Almira, mengapa kenakan sekali sikapmu ini...bisikku dalam hati dengan rasa malu.


"Aku mencintaimu, Almira. Apapun yang kau katakan itu sangat berarti bagiku. Apakah kau suka cara berpakaianku?" Zen mengerucutkan bibirnya dan membentuk kecupan di udara. Sikap tengilnya mulai bermunvulan menggodaku.


"Kau tau, impianku yang paling tinggi adalah menikahimu" ucapnya tanpa basa basi. Bibir sexynya tersenyum penuh kemenangan.


"Aku tidak pernah memberi jawaban iya padamu" sungutku jesal. Meski dalam hati kecilku girang tiada terkira.


"Siapa yang memintamu untuk memberi jawaban?" tanya Zen melirikku sejenak. Aku merasa tidak dihargai lagi.


"Maksudmu?" aku menatapnya. Lebih tepat memutar tubuhku mengarah kepada Zen yang sedang fokus menyetir.


"Aku mengatakan aku tidak memintamu untuk memberi jawaban. Aku mengatakan padamu bahwa aku akan menikahimu"


"Tapi tetap saja kau harus meminta persetujuanku. Bukankah kau akan menikah denganku?"


"Iya. Kalau tidak denganmu lalu dengan siapa?"


"Ya denganku!" ucapku tanpa berpikir. Upss...aku tersadar dan menutup mulutku.


Zen tertawa penuh kemenangan. Dia selalu tau cara menjebakku. Gelar sarjana dan status dosen ku sungguh hancur berkeping-keping di hadapan Zen.


"Aku siap mengikuti bimbingan persiapan ujian padamu secara private" Zen melirikku sekilas.


"Bukankah kau seorang pimpinan beberapa perusahaan, aku rasa ujian hanyalah formalitas untuk orang sepertimu" aku mencoba mencari celah menjatuhkan harga dirinya.


"Terserah padamu. Kalau kau mau seperti itu, aku menurut saja" jawab Zen datar.


"Yang ujian kan kamu bukan aku" ucapku sedikit agak melunak.


"Yang memberikan bimbingan untuk mata pelajaran ujian siapa?" Zen bertanya lagi.


"Aku..."


"Apakah kamu mau punya suami yang tidak lulus SMA?" Zen bertanya dengan seringai nakal di bibirnya.


"Suami siapa?"


"Kamu. Kamu pikir siapa?"


"Ya aku..."


Aku lihat Zen tertawa lepas. Aku menarik napas malu. Berkali-kali aku menjebak diriku sendiri dalam situasi tidak menguntungkan. Aku benar-benar bodoh dengan perasaan ini. Ya...aku jatuh cinta padamu, Zen...bisikku lirih.


Aku menyerah pada egoku sendiri. Aku rasa tak ada salahnya mencoba menikmati semua ini dengan apa adanya. Cinta pertamaku...


"Zen, aku...aku rasa" aku gugup dan ragu untuk jujur pada Zen. Pastilah anak tengil ini akan menertawaiku...


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Zen tersenyum kecil. Raut wajah tampannya tetap bahagia dan tenang.


"Aku juga mencintaimu" ucapku sambil memejamkan mata.


Aku tersentak Zen mengerem mendadak, membuat tubuhku menabrak lengan Zen sebelumnya hampir menghantam dashboard mobil.


"Kamu kenapa?" tanyaku kaget menatap Zen yang melihatku tak berkedip.


"Cubit lenganku atau apapun yang bisa kau cubit" Zen masih tertegun menatapku.


"Kamu gila ya..." ucapku kesal karena masih terkejut dengan mobil yang tiba-tiba berhenti.


"Bisakah kamu mengulangi kalimat yang tadi kamu ucapkan?" pintanya dengan tatapan serius.


Aku gelagapan sendiri. Aku baru sadar ternyata Zen terkejut dengan kalimatku tadi.

__ADS_1


Ternyata dia memang ABG tak lebih labil sepertiku yang baru pertama jatuh cinta.


__ADS_2