Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku

Ketika Cintamu Mengetuk Pintu Hatiku
Bersama Keluarga Al Bukhairi


__ADS_3

Ayah Zen tersenyum dan pamit meninggalkan ruang tamu yang tiba-tiba menjadi ramai. Beberapa anggota keluarga Zen datang menyalamiku.


Kehangatan terpancar dari cara mereka mengobrol dan bercanda.


Mereka adalah saudara sepupu Zen. Anak dari Khala Fatmah 2 orang, dari saudara yang lainnya ada 4 orang. Rata-rata mereka seusia Zen dan diatas Zen, karena ada yang sedang kuliah.


Katanya mereka sengaja datang karena Zen akan membawaku untuk dikenalkan kepada keluarganya.


Khala Fatmah juga menceritakan tentang ibunya Zen yang telah meninggal dua tahun yang lalu. Namun, Zen tak pernah merasa kekurangan kasih sayang karena keluarganya begitu harmonis dan saling mensupport.


Keluarga Al Bukhari semua memiliki usaha sendiri dan bergerak dalam berbagai bidang usaha sesuai kemampuan mereka. Dan yang terpenting mereka saling bahu membahu dalam segala hal.


Zen sangat di hormati dalam keluarganya. Meskipun usianya muda namun mereka semua bisa mengembangkan usaha karena bantuan Zen. Hebat sekali bukan??


Aura kepemimpinan Zen menurun dari ayahnya.


"Apakah kau akan berencana segera menikah dengan Zen, Almira?" Khala Fatmah bertanya ketika aku sedang membantunya menyiapkan makan siang.


Aku tersenyum samar.


"Aku ikut kemauan Zen saja, Khala. Dan lagi khala pasti sudah tau apa yang menjadi pertimbangan Zen dalam hal ini"


Khala Fatmah tersenyum kecil.


"Jangan menunda punya momongan setelah menikah nanti" bisiknya pelan di dekat telingaku. Aku mengangguk pelan dan malu.


"Jika ke kota S kau bisa mampir di rumah pamannya Zen. Keluarga Zen masih banyak yang berada di sana. Terutama dari keluarga ibunya"


"Iya, Khala. Minggu depan aku berencana menemui orang tuaku"


"Mengapa tidak kau kabari melalui telpon saja dulu" Khala Fatmah memberi saran. Aku mengangguk.


"Iya, Khala. Nanti segera aku menghubungi keluarga"


"Lebih cepat lebih baik, Almira. Kamu jangan takut. Perbedaan usia bukanlah halangan. Khala dan suami juga jauh banget bedanya" khala Fatmah tertawa sambil menata makanan di meja.


Aku tertegun. Tapi wajah khala Fatmah terluhat masih muda dan cantik. Walaupun postur tubuhnya agak subur. Tapi benar-benar cantik. Mungkin karena darah Timur tengah yang mengalir dalam tubuhnya.


"Benarkah..?" aku mencoba meyakinkan pendengaranku.


"Dulu, khala di jodohkan dengan Dadynya Fahira dan Raihan. Usia Dadynya Raihan kala itu sudah 35 tahun dan khala saat itu berumur 20 tahun. Dan saudara ipar khala menikah dengan suaminya berbeda 13 tahun lebih muda suaminya. Dan kita semua bahagia. Kebahagiaan itu bukan terletak dari usia, yang penting kita bisa mensyukuri dan menikmati semua itu dengan bersyukur"


"Apakah semua keluarga ini menikah dengan keturunan yang sama, khala?" aku penasaran.


"Tidak juga. Memang dalam keluarga sebaiknya menikah dengan yang satu keturunan walaupun marganya berbeda. Tapi itu dulu, sekarang tidak lagi. Walaupun beberapa orang tua tetap mempertahankan marga sebagai sebuah kebanggaan" khala Fatmah tertawa kecil.


"Apakah semua keluarga ini berfam Al Bukhari, khala?" aku makin penasaran.


"Tidak juga. Kita para wanita jika punya anak maka anak keturunan kita menggunakan marga atau fam ayahnya. Artinya menggunakan garis keturunan sang Ayah"


"Bagaimana jika wanitanya tidak menikah dengan keturunan Timur Tengah maksudnya menikah dengan orang Indonesia suku Jawa atau sebagainya?"


"Si wanita tetap bermarga ayahnya, tetapi anak-anak mereka mengikuti suku suami si wanita. Tapi itu bukanlah ukuran untuk zaman sekarang. Cinta lebih kuat. Walaupun memang ada beberapa hal yang tetap dipertahankan dalam sebuah keluarga"


"Keluarga yang luar biasa" ucapku menyelesaikan menata meja makan.


Khala Fatmah dan dua orang asisten yang bersama kami tersenyum ramah ke arahku.


Dua orang asisten itu berlalu meninggalkan kami berdua.


"Panggillah Zen dan yang lain. Makan siang telah siap" khala Fatmah memberi isyarat padaku.


Aku mengangguk dan keluar ruang makan. Di ruang keluarga nampak Zen dan saudara-saudaranya berbincang, mereka sedang membicarakan masalah kurs. Ahhh...mungkin usaha yang sedang mereka tekuni. Aku tak ingin tahu lebih banyak masalah itu. Dan memang aku tidak akan mengerti masalah saham dan kurs...hhhhhhh.


Zen menatapku sambil tersenyum. Tidak nampak sedikitpun bahwa dia masih remaja SMA. Sangat dewasa dan berwibawa. Postur tubuhnya yang tinggi, sikapnya yang dewasa, sungguh membuat dirinya lain diantara yang ada. Aura pemimpin begitu kuat terpancar. Hmmmmm...beruntung tentunya aku mendapatkan cintanya.

__ADS_1


"Heh...senyum-senyum sendiri. Sini duduk" panggil Zen melihatku. Spontan yang lain tertawa meledek Zen.


"Makan siang sudah siap. Khala Fatmah menyuruhku memanggil kalian" aku sedikit gugup menghadapi keluarga Zen yang sangat akrab satu sama lain.


"Yek, panggilkan ayah" pinta Zen pada adik sepupunya yang laki-laki yang duduk di sebelahnya. Remaja laki-laki berumur sekitar 12 tahun itu bangun dan melangkah ke ruangan yang berbeda tanpa mengucapkan sepatah kata.


Sementara yang lain berdiri dan melangkah ke arah ruang makan yang bersebelahan dengan ruang keluarga.


Zen menarik tanganku duduk di sebelahnya.


"Apakah khala Fatmah menyukaimu?" tanyanya sambil berbisik.


Aku tersenyum kecil.


"Aku tidak tau. Tetapi dari tadi beliau banyak bercerita tentang keluarga ini"


"Apakah dia menceritakan keburukanku?" Zen berbisik lagi.


"Jangan berprasangka. Bibimu itu sangat baik"


"Hhhhh...aku tau. Aku hanya ingin tau apakah dia mendukung kita atau membongkar aibku padamu" Zen tertawa sambil menggodaku.


"Memangnya apa aibmu?" aku menatapnya penuh selidik. Zen tertawa dan bangun dari duduknya.


"Ayo...kita bergabung di ruang makan" ajaknya cepat.


"Aku rasa ada yang kamu sembunyikan dari aku"


"Sudahlah. Kita makan dulu. Ayo.." ajaknya seakan menghindari pertanyaanku.


"Zen..." aku menghentikan langkahnya.


"Aku mencintaimu..." ucap Zen sambil tersenyum dan menarik tanganku. Aku menarik nafas dalam. "Setelah menikah kau akan tau kejelekanku. Dan aku rasa itu tidaknakan merugikanmu sedikitpun" bisiknya pelan


"Kau berhutang padaku" ucapku cepat.


Tak ada perbincangan yang berat selama di meja makan. Semua makan dengan santai dan berbicara seadanya. Bahkan lebih kepada kegiatan perusahaan yang sedang mereka jalankan. Hanya sesekali ayah Zen bertanya kepadaku tentang kampus tempatku mengajar.


Seharian ini terasa sangat membahagiakan. Keluarga Zen benar-benar membuatku nyaman. Ketakutanku tak terbukti sama sekali. Ah Tuhan...aku tau itu semua karenaMu. Permudahlah segala sesuatu ke depannya, agar tak menjadi beban dan membebani siapapun. Aku tau karena hanya Engkaulah Sang pemilik hati manusia.


☆☆☆


Sekarang aku di sini. Dalam kamarku yang setia ku tempati hampir tiga tahun ini.


Sekarang di atas meja riasku, wajah Zen tersenyum indah dalam bingkai yang menemani keseharianku.


Terkadang muncul sikap remajanya. Terkadang dia begitu dewasa menghadapiku. Aku menikmati segala situasi bersamanya.


Sudah seminggu ini Zen ke luar kota bersama sekretarisnya. Katanya mengunjungi beberapa perusahaan yang akan bekerjasama dengan perusahaannya terutama di bidang suplier bahan dan alat telekomunikasi.


Seminggu ini juga Zen tak pernah menghubungiku. Ada rasa rindu yang tak bisa aku ceritakan padanya. Aku merindukan sikap tengil dan menggodanya saat kami bersama.


Apakah begitu sibuk dia disana sehingga tak sempat menghubungiku?. Apakah tidak mungkin akan ada wanita lain bersamanya saat ini?. Zen laki-laki yang sempurna secara fisik dan financial. Tampan dan menarik. Pasti banyak wanita yang menginginkannya.


Bukankah usahanya juga banyak bertemu dengan wanita-wanita muda pebisnis sepertinya?. Bahkan banyak dikalangan bisnis menjodohkan satu sama lain dengan alasan menguatkan usaha mereka.


Ahhh...mengapa resah begini yaaa?. Aku masih mengerjakan sedikit lagi materi untuk pertemuan mata kuliah besok. Ketika tiba-tiba notifikasi pesan masuk di Whatssappku.


Tanpa menunggu lama aku meraih handphoneku dan melihat sebuah pesan dari Zen. Akhirnya, dia mengingatku juga. Dengan hati berdebar aku membuka pesannya.


"Assalamualaikum, bu Dosen...belum tidurkah?" pesan itu diberikan emoticon berkedip. Aku tersenyum bahagia.


Aku langsung mendial nomornya melalui panggilan video.


Tak menunggu lama, nampak wajah tampan sedang tersenyum disana. Rambutnya masih basah dan hanya menggunakan celana pendek rumah.

__ADS_1


"Sexy banget..." semprotku sedikit terkejut melihat tampilannya yang baru pertama kali dalam keadaan setengah terbuka.


Zen tertawa tanpa beban dan mengarahkan kamera gawainya ke dadanya. Duhhhh...


"Kamu suka nggak seperti ini?" zen ku lihat duduk di pinggir ranjang ruangan yang bercat putih dan nampak mewah. Seperti sebuah kamar hotel.


"Tidak..."aku gugup dan malu dengan pertanyaan Zen yang tanpa malu-malu.


"Benarkah...?" Zen menggodaku. "Mungkin aku harus bertanya pada mbak reseptionis tadi yaaa...pasti dia akan menjawab yang menyenangkan" ucap Zen acuh.


"Mengapa baru mengabari?" tanyaku mengalihkan tema pembicaraan. Karena jika aku turuti Zen akan terus menggodaku.


"Maaf, sayang. Urusannya agak banyak dan padat"


"Apakah minggu ini bisa kembali ke kota B?" aku ingin mengatakan bahwa aku merindukannya.


Zen tertawa manis.


"Kamu rindu ya..." Zen menatapku tanpa berkedip.


"Iya..."


"Hhhh...itu yang kusuka darimu. Jujur tanpa embel-embel. Aku juga merindukanmu. Aku rindu cubitanmu" Zen tertawa diujung sana.


Akupun tertawa kecil.


"Jika minggu depan kau belum bisa kembali aku akan pulang ke kota S menemui keluargaku"


"Mengapa tidak menungguku?, aku akan usahakan kegiatanku secepatnya selesai. Besok ayah akan menyusulku ke kota M. Jangan pergi sendiri. Kau harus menungguku"


"Aku izin hanya 3 hari, Zen. Kebetulan jadwal mengajar di kampus hanya untuk mahasiswa non reguler saja, sehingga bisa diganti dengan kegiatan online"


"Dengarkanlah kata-kataku, Almira. Tunggulah aku. Aku janji akan secepatnya kembali. Kau jangan khawatir, aku pasti menemanimu pulang" Zen duduk dengan tatapan serius.


"Aku lihat kau sibuk disana. Apakah tidak ada wanita yang memandangmu dan menginginkanmu disana?" aku sedikit cemburu dalam hal ini.


Zen tertawa


"Hanya kau yang tercantik di dunia ini setelah ibu. Jangan kotori pikiranmu dengan hal-hal yang akan membuat otakmu dan hatimu sakit. Kau tau...aku sangat mencintaimu, Almira"


Aku selalu terharu dengan kalimat ini. Zen selalu mengatakan hal ini jika aku mulai merajuk dan berpikiran yang bukan-bukan.


"Aku ingin memelukmu" ucapku dengan perasaan rindu yang membuncah.


"Tidurlah. Aku akan menemanimu" Zen menggeser tubuhnya.


Aku mematikan laptop dan berpindah ke tempat tidurku.


"Zen..." panggilku dengan lembut.


"iya..." Zen berbaring dan meletakkan gawainya tepat di wajahnya. Dada yang dipenuhi rambut itu terlihat menggodaku.


"Khala pernah berkata waktu itu, jika kita menikah aku tidak boleh menunda mempunyai momongan"


"Harus itu..." Zen tertawa ringan "Usiamu sudah 27 tahun. Kalau kita punya anak 6 maka kau mestinya melahirkan anak setiap tahun"


"Zen..." aku melotot.


Zen tertawa


"Aku ingin kita segera menikah, Al. Rasanya tidak sabar membayangkan semua itu kita lalui bersama"


"Aku berjanji akan membuatmu bahagia. Dan satu lagi, hanya engkau wanita tercantik di dunia ini. Sekarang tidurlah. Aku akan menyelesaikan beberapa laporan bersama pak Bima. Jaga diri baik-baik"


Zen mengerucutkan bibirnya membuat bentuk ciuman. Ahhh...semakin rindu saja padamu Zen...bisikku pelan.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2