
Aku melirik Zen yang telah lelap di sebelahku setelah kami melaksanakan kewajiban suami istri. Lelaki tampan itu nampak tenang dan sangat mengagumkan. Pantas saja banyak wanita di luar sana yang menginginkannya.
Bukan hanya gadis tetapi wanita dewasapun akan sangat berminat melihat Zen yang tampan dan sempurna.
Di sekolah saja para gadis-gadis remaja itu banyak yang mengagumi Zen. Hanya saja Zen sangat hebat dalam menjaga pergaulannya.
Sungguh ciptaan Allah yang sempurna dan indah. Wajah tampan, hidung mancung, mata indah, bibir yang seksi, tinggi tubuh yang proporsional, dan pelengkapnya adalah dia seorang pengusaha muda yang tergolong sukses.
Aku mendekat dan mencium bibir Zen yang kini menjadi candu bagiku.
Tiba-tiba Zen mendekapku dan membalas ciumanku.
"Masih mau lagi?," ucapnya di telingaku ketika kami menghentikan ciuman yang sangat aku sukai itu.
Aku tertawa dan mencubit lengannya.
Zen tertawa lepas.
Aku beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari ini akan banyak kegiatan yang aku lakukan, terutama di kampus.
Setelah berdiskusi dengan Zen, akhirnya aku menyetujui untuk resign dari SMA bulan ini. Karena seluruh kegiatan semester akhir telah selesai. Hanya tinggal menyerahkan nilai siswa yang telah selesai aku kelola. Pagi ini aku akan ke sekolah untuk yang terakhir kali, sekalian berpamitan dengan para guru dan kepala sekolah disana.
Sungguh, sebuah perjalanan yang singkat. Kurang lebih enam bulan aku bergabung dengan sekolah menengah yang sangat luar biasa, dan disana juga aku menemukan masa depan rumah tanggaku. Laki-laki hebat yang kini menjadi suamiku.
Beberapa guru sempat menyayangkan keputusanku, tapi aku memberi pengertian dengan baik bahwa itu adalah komitmen bersama suami.
Dan hal yang lucu adalah ketika Kepala Sekolah mengumumkan aku telah menikah dengan Zen. Semua guru hampir tidak ada yang percaya. Walaupun aku merasa sedikit malu karena menikah dengan remaja belasan tahun tapi namanya juga jodoh.
Sungguh, akan menjadi kenangan indah mengenal mereka dan berada di antara mereka.
"Kapan kamu akan mengundang kami semua, Al?, " bu Tutik menghadangku ketika tau aku telah menikah.
"Doakan saja, bu. Zen kan masih delapan belas tahun. Mungkin butuh waktu untuk resepsi. InsyaAllah lewat rezeki dan acara yang lain kami akan mengundang bapak dan ibu keluarga sekolah ini." ucapku sambil tersenyum.
"Jangan lupakan kami, Al. Sering-seringlah berkunung ke sini. Jika ada kegiatan yang membutuhkanmu di sekolah ini, jangan ditolak yaaa, " pesan bapak Kepala Sekolah yang diangguki oleh guru-guru.
@@@
Tak terasa dua bulan lebih kami menjalani biduk rumah tangga. Semua berjalan dengan indah dan tanpa masalah yang berarti.
Zen melewati kesibukannya sebagai pemimpin perusahaan yang penuh dengan rutinitas. Sementara aku fokus sebagai dosen di kampus.
Sarapan pagi ini sudah selesai aku siapkan. Seperti biasa, aku selalu membuatkan bekal buat Zen di kantor.
Zen bukanlah seorang yang memilih makanan, tetapi sangat mengutamakan kebersihan. Sifat cerewetnya akan benar-benar muncul ketika melihat sebutir saja nasi yang warnanya beda pada makanannya.
Aku sangat menikmati setiap perubahan sikap Zen, untuk lebih memahami dia sesungguhnya.
Cinta dan kasih sayang Zen sangat berlimpah untukku, terkadang aku sering merasa risih dengan sikapnya ketika di luar rumah atau di tempat umum.
Dering telepon genggam Zen membuyarkan lamunan panjangku. Bergegas aku melihat nama pemanggil. Hanya muncul nomor tanpa nama.
Aku melihat ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.
__ADS_1
"Sayang, ada yang nelpon." Aku mengetuk pintu kamar mandi.
"Siapa?, " tanya Zen dari dalam kamar mandi.
"Nggak pakai nama, Sayang. Hanya nomor saja. Aku angkat atau aku abaikan?," pertanyaan yang selalu aku utarakan setiap ada yang menelpon dan Zen sedang tidak memegang gawainya.
"Angkat saja, Sayang. Kalau dari kantor atau klien bilang saja nanti akan aku hubungi kembali."
"Iya."
Telepon berdering lagi dengan nomor yang sama.
"Hai, Sayaaaaang. Kenapa lama mengangkat panggilanku?." Suara wanita yang manja dari seberang membuatku terkejut.
Pikiran dan hatiku secara langsung tak nyaman. Cemburu...itu kata pertama yang membuat tubuhku menegang.
"Mohon maaf, ini siapa ya?, " aku mencoba menetralkan situasi hatiku yang berubah.
"Lho, kamu siapa?, bukankah ini nomor telpon Zen?". Suara wanita itu sedikit meninggi.
Aku menarik nafas demi menetralkan perasaan yang gemuruh.
Pintu kamar mandi terbuka, Zen tersenyum sambil mengeringkan rambutnya.
"Siapa, Sayang?", tanya Zen sambil mendekat ke arahku yang duduk di sofa kamar tidur.
Aku enggan menjawab dan menyodorkan telepon genggamnya.
"Siapa?", kembali Zen bertanya dengan raut wajah berkerut karena melihat wajahku.
"Halo...", sapa Zen meloud speaker hand phonenya.
"Hai, Sayang. Siapa wanita yang mengangkat telponmu?". Suara wanita itu manja.
Zen tersenyum melihatku.
"Sinta..?" Zen menyebut sebuah nama.
"Iya, ini aku. Siapa wanita tadi?", tanyanya dengan suara sedikit lebih keras.
"Isteriku" jawab Zen santai sambil memberikan ciuman di pipiku.
"Isteri?, sejak kapan kamu menikah, perasaan usiamu masih belasan tahun, bego!". Suara wanita itu meninggi dan tak percaya.
"Kapan-kapan ada waktu aku mengundangmu dan yang lain untuk berkenalan dengan isteriku", ucap Zen santai sambil tertawa kecil .
Aku memberi isyarat untuk melepaskan tanganku, tapi Zen menggeleng.
"Kamu harus minta maaf, Sinta. Kamu telah membuat isteriku cemburu pagi ini".
"Dasar, halu. Masak iya baru tamat SMA seorang Zen menikah?. Bakalan jadi kabar heboh nih di grup". Sinta di seberang mengancam sambil tertawa.
"See you, Sinta. Akan aku jelaskan nanti". Zen menutup telponnya dan meletakkan di nakas sebelah tempat tidur.
__ADS_1
Zen memelukku dengan erat.
"Dia Sinta, mantan muridmu juga. Jangan cemburu, yaa." Pinta Zen dengan tulus.
"Rasanya aku terlalu banyak bertemu dengan wanita-wanita cantik di sekitarmu, Sayang", ucapku membalas kalimatnya.
Zen tertawa kecil
"Sebanyak apapun wanita di sekelilingku, tetap kamu yang paling cantik dan menarik", ucapnya lembut.
Zen mencium pipiku dengan amat lembut.
"Maafkan aku jika banyak membuat hatimu kesal. Aku sangat mencintaimu, Sayang". Bisik Zen sambil tersenyum manis.
Aku membalas senyum Zen dengan tulus. Sikap yang selalu membuatku luluh dalam setiap pergolakan cemburu yang terkadang datang di saat yang tidak tepat.
"Aku akan menjemputmu nanti setelah kerja", Zen merapikan kemejanya.
"Iya. Jangan lupa makan siangmu habiskan. Vitaminnya diminum", aku mengingatkan.
"Sayang, tolong nanti cekkan jadwal pendaftaran Perguruan Tinggi terdekat yaaa, siapa tau suamimu ini tidak lulus melalui jalur prestasi", ucap Zen lebih jauh.
"Iya, nanti aku informasikan dari kampus". Aku merapikan dasi yang telah melilit di lehernya.
"Aku akan menjemputmu nanti siang." Zen kembali memberi ciuman.
Aku sudah terbiasa dengan kelakuannya beberapa bulan ini. Dia menjadi laki-laki romantis dan penyayang untukku.
"Jaga hati dan mata di luar sana!", ucapku mengingatkan.
Zen tertawa kecil memamerkan ketampanannya yang sangat menarik hati siapapun.
"Iya, Sayang. Doakan selalu suamimu ini, agar selalu bisa dan kuat menjaga semuanya." Zen memelukku.
"Semua?, maksudmu apa?, " aku mengerutkan kening.
"Termasuk merindukanmu ..." Zen tertawa dan mendorongku ke sisi tempat tidur.
"Zen, nanti kita terlambat!" Aku mengerti apa yang dia inginkan jika sudah seromantis ini.
"Sebentar saja, Sayang." Ucapnya pelan.
Zen ******* bibirku dengan lembut.
"Sayang, berhenti. Nanti ayah terlalu lama menunggumu." Aku mengingatkan Zen.
Zen tertawa dan mendesah.
"Ahhhh, padahal pagi begini sangat romantis suasananya, Sayang." Zen merapikan kerah leher kemejanya.
Aku tertawa kecil.
"Aku yakin kamu juga menginginkannya kan, Sayang?" Zen melirikku dari cermin di depannya.
__ADS_1
Aku enggan menjawabnya, karena aku tahu akan menjadi panjang dan ujung-ujungnya Zen akan memberikan penjelasan panjang dan lebar.
"Aku tunggu di depan, Sayang." Zen meraih tas kerjanya dan melanglah ke luar kamar.